Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sepasang Domba Dihari Tua



Maaf gaiss ada kesalahan teknis ini ku -up ulang. yang sebelumnya kehapus plus jg awalnya eror disistem:(


•••••••••••••••


Semakin banyak terdengar suara teriakan, dentingan pedang dan darah yang mengalir memenuhi arena pertarungan. Sima Junke dengan kepayahan berusaha menembus pertahanan milik Tuoba Lie. Orang-orang ini kejam dan tepat, tidak memberikan ruang bagi musuh untuk merespon.


Disaat yang bersamaan ekspresi Sima Hong berat, karena berusaha melindungi Aisin Fei dengan satu tangan dan melawan mereka dengan tangannya yang lain.


Namun, pada saat ini, mereka benar-benar tidak bisa berpikir lagi untuk bagaimana mengalahkan Tuoba Lie. Yang paling penting sekarang adalah mempertahankan hidup.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Sima Junke yang membuat Aisin Fei menolehkan wajah untuk melihat keadaan cucunya. Dalam sekejap, ujung pedang telah menusuk punggung Sima Junke. Dengan suara 'pfssh', pedang panjang itu menembus tubuhnya, menembus bahu kirinya.


"A Jun!" Aisin Fei tidak dapat menahan untuk bersuara, cucunya terluka.


Kangjian yang mendengar suara majikannya, dengan cepat bergegas dan memotong pembunuh dengan satu pukulan, melindungi Sima Junke dengan susah payah.


"Hati-hati!" Teriak Sima Hong karena Aisin Fei disibukkan dengan adegan yang menakjubkan di sana, tetapi mengabaikan pembunuh yang tidak jauh di belakangnya.


Para pembunuh itu jelas tidak memiliki perasaan lembut dan belas kasih, dan mengangkat pedang panjang mereka dan mengayunkannya. Adegan itu sangat menakutkan. Pada saat bahaya yang semakin mendekat, Sima Hong melemparkan dirinya untuk melindungi Aisin Fei, menarik sang istri kedalam pelukan dengan ketat melindungi.


Cahaya yang menyilaukan mendekat berasal dari mata pedang tajam seorang pembunuh.


Pedang itu melewati bahu dan menembus dada dari belakang tubuh Sima Hong. Di mata Aisin Fei ini adalah teror yang tiada banding. Darah dari tubuh suaminya menetes deras ke tanah. Tubuh Aisin Fei bergetar, darah hangat memancar dari luka Sima Hong.


Tetapi ditengah rasa sakitnya dan terasa seperti kulit dan daging terkoyak, Sima Hong mengeluarkan seluruh kekuatan terakhir yang dia miliki untuk menebas dan mendorong pembunuh yang ingin menyakiti istrinya.


"A Hong!" Teriak Aisin Fei terbelak tidak percaya saat melihat Sima Hong dengan kaku jatuh ke tanah dalam gerakan lambat.


Darah menyembur keluar dari luka dan secara bertahap mewarnai jubah Sima Hong sampai seluruh tubuhnya basah oleh darah.


Aisin Fei bergegas dengan gemetar membawa tubuh Sima Hong kedalam dekapannya.


"A Hong," Panggil Aisin Fei dengan sedikit tersedak karena airmata yang sudah mengalir tanpa permisi.


Sima Hong membuka matanya, tetapi dia melihat wajah sang istri berlinangan air mata. Dengan perlahan, dia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Aisin Fei.


Tangannya berlumuran darah, Sima Hong menyadari bahwa darah itu miliknya. Sangat miris bahwa kematiannya terjadi disaat dia tidak rela karena masih memiliki kekhawatirkan mengenai keselamatan sang istri.


"A Fei -ku masih sama cantiknya." Ucap Sima Hong dengan tersenyum lembut menatap Aisin Fei.


"Istriku, tidakkah kau mengingat saat pertama kali kita berkencan, aku memberikanmu hadiah yaitu sepasang domba. Kau mengeluh karena tindakanku tidak manis dan romantis—," Ucap Sima Hong tersendat oleh napasnya yang semakin menipis.


Sepasang domba yang masih Sima Hong rawat dengan cinta dihari tua -nya, tetapi Aisin Fei tidak mengetahui itu karena domba itu pernah ditolak dan dibiarkan begitu saja oleh Aisin Fei.


"Diam, jangan bicara lagi." Ucap Aisin Fei dengan terisak menangis, hatinya begitu pahit dan sakit saat melihat keadaan Sima Hong.


"Jangan menangis, jangan menangis... Aku akan diam dan tidak akan mengganggu-mu lagi dengan ocehanku, baik?" Gumam Sima Hong dengan pelan meraba wajah sang istri.


Sima Hong tersenyum tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab, napasnya semakin tersendat dan menghilang, dengan perlahan kedua matanya tertutup dan tangannya meluruh jatuh.


Aisin Fei membeku sejenak sebelum meraung dengan menggila mengguncang keras tubuh Sima Hong, "A Hong, jawab aku! Aku tidak mengizinkanmu pergi, A Hong kau melupakan janjimu untuk selalu bersamaku. A Hong suamiku..." Air matanya terus berjatuhan seperti hujan, jumbai sutra yang tergantung di jepit rambutnya bergoyang dengan suara tangisannya yang tertekan.


Sima Junke dan Aisin Tianyi yang teratih kepayahan masih berjuang dengan beberapa pengawal Nanbao yang tersisa. Mereka semua sudah menderita luka ringan tetapi para pembunuh ini masih sama banyaknya, gerakan mereka semakin melambat karena kelelahan.


Sima Junke terjatuh dan terguling ditanah saat para pembunuh menyerang dan menendangnya dengan gerakan liar tetapi tegas. 'Uhukk,' Dia mengeluarkan seteguk darah, matanya berkaca-kaca dan dadanya sesak saat mendengar tangisan dan raungan sang nenek. Sima Junke seperti sudah dapat mengetahui apa yang sedang terjadi.


Dengan tubuh yang bergetar hebat Sima Junke berusaha beranjak untuk melanjutkan pertarungan, dia begitu kepayahan seolah gerak otot dan organ tubuhnya tersumbat. Darah sudah merembes dari punggungnya yang terluka.


Para pembunuh ini tidak memberinya kesempatan, mereka memukulnya dan menendangnya kembali.


Sima Junke meringkuk jatuh ketanah, tidak ada lagi seorang yang dapat menolongnya, karena Kangjian dan Aisin Tianyi sudah jatuh lebih dulu dan sisanya juga kepayahan untuk bertahan hidup dari serangan.


Tuoba Lie yang sejak tadi mengamati memasang seringai keji, dia terlebih dahulu menghampiri Sima Junke yang terbaring ditanah.


"Tuan Muda Sima, aku mengetahui bahwa kaulah yang membongkar lebih awal rencanaku. Aku mengakui bahwa kau cerdas tetapi tidak cukup cerdas untuk memperdayaku," Ucap Tuoba Lie dengan menempatkan ujung pedangnya dibawah dagu Sima Junke dan mengentaknya perlahan keatas agar Sima Junke mendongak untuk menatapnya.


Sima Junke menatap tajam Tuoba Lie, kebencian dan kemarahan menyerbak keluar dari teriakannya, "Tuoba Lie kau memiliki hati seperti serigala dan paru-paru seperti anjing!(1)"


Ucapan Sima Junke malah semakin membuat Tuoba Lie senang dan tertarik, dengan terkekeh licik Tuoba Lie berucap, "Oh, kau benar. Kau cukup menarik, bagaimana dengan menempatkanmu disisiku saja?"


Dengan menempatkan Sima Junke disisinya sebagai bawahan akan membuat sumber siksaan dan penderitaan bagi Sima Junke seumur hidup. Begitu kejam!


"Cuihh, dalam mimpimu!" Balas Sima Junke berdecih dan meludahi Tuoba Lie.


"Kurang ajar! Baiklah, kalau itu mau -mu." Sentak Tuoba Lie dengan amarah mengangkat pedangnya dan mengarahkan untuk menebas leher Sima Junke.


Sima Junke menutup kedua matanya saat pedang itu semakin mendekat, dengan kepasrahan dan ketidakrelaan luar biasa karena sekujur tubuhnya terasa terkoyak menyebabkan dia tidak dapat membalas ataupun menghindar.


Ditengah jurang maut yang mendekatinya sesosok gadis cantik terbayang dibenaknya, "Xuan'er, maaf." Gumamnya pelan nyaris berbisik, air mengalir dari sudut matanya.


'Tukk,' Sebuah batu kecil yang dilempar dengan kekuatan dan keakuratan membuat arah pedang menjadi menyamping dan terhenti, mata pedang itu gagal memotong leher Sima Junke.


"Siapa yang berani?!" Teriak Tuoba Lie dengan suram mengangkat pandangannya.


"Pejabat Tuoba, lama tidak bertemu." Sebuah suara mengalun lembut dan halus, jernih dan dalam layaknya sumur yang memiliki kedalaman yang tidak dapat diprediksi.



Sosok kecantikan ramping dan elegan perlahan-lahan muncul. Dia memiliki pedang panjang yang mengeluarkan cahaya indah dilengannya, dia berjalan maju sambil tersenyum. Keagungan tersirat dibalik langkah tegasnya, menyebabkan semua orang kehilangan sebagian jiwa mereka. Seperti jarum yang disembunyikan dalam benang sutera, lembut namun berbahaya.


•••••••••••••


Hati seperti serigala dan paru-paru seperti anjing: Kejam dan jahat