Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Arus Hati & Gelombang Takdir



Sima Junke memandang sosok ramping yang tampak rapuh seperti dapat mudah dihancurkan namun kenyataannya sosok itu mampu membawa kekuatan yang tak dapat dijelaskan.


Ada riak samar dipandangannya saat menatap sosok itu, kemudian dirinya berucap dengan suara rendah yang begitu menggelitik indra pendengaran, "Kamu tidak boleh mengambil resiko berbahaya lainnya dan mempertaruhkan hidupmu sendiri, baik?"


'Blush,' Xiu Qixuan memalingkan wajahnya, hatinya begitu gemetar saat mendengar perkataan dan bertatapan dengan Sima Junke.


"Ekhm.. Bisakah kau terfokus dengan pembicaraan yang lebih serius?" Ucap Xiu Qixuan berdeham canggung. Entah mengapa saat ini dia merasakan sangat canggung padahal biasanya dia akan sangat tidak tahu malu.


"Tetapi bagaimana dengan lukamu? Jishēng Jì—," Ucap Sima Junke ingin membantah tetapi terjeda karena Xiu Qixuan memotong ucapannya.


"Aku tidak akan mati semudah itu, kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Sergah Xiu Qixuan memandang dalam kearah Sima Junke berusaha meyakinkan bahwa dirinya sangat baik.


Menghela napas panjang Sima Junke tak dapat memaksa gadis ini akan pendapat dan kehendaknya.


Xiu Qixuan dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan karena inilah yang ingin dia diskusikan sejak awal.


"Tuoba Lie, dia terhubung dengan organisasi gelap itu." Ucap Xiu Qixuan membuat pernyataan dengan yakin.


Gadis itu tidak menjelaskan keterikatan seperti apa yang dimiliki oleh Tuoba Lie dengan organisasi gelap itu, karena dia belum menyelidiki lebih dalam, ini hanya asumsi belakang dan kesimpulan yang dia dapatkan dari interaksinya tadi dengan Tuoba Lie.


Sima Junke manautkan alisnya dan berucap, "Apa yang membuatmu begitu yakin?"


Xiu Qixuan menjelaskan semua kesimpulan yang dirinya dapat dari interaksi sekilasnya dengan Tuoba Lie, pejabat itu memang terlihat sangat mencurigakan dengan kecepatan dan ketepatan informasi yang dia terima bahkan pandangan tersembunyi yang menyiratkan sesuatu hal lain.


Sima Junke memasang indra pendengaran sebaik mungkin untuk mendengarkan perkataan yang dilontarkan Xiu Qixuan. Pria itu sedikit menerawang untuk mengaitkan semua penjelasan yang disimpulkan.


"Perkataanmu sangat masuk akal, tetapi satu hal yang aku pertanyakan. Kalau memang benar Tuoba Lie memiliki keterikatan dengan organisasi gelap itu, apakah nenekku mengetahuinya?" Ucap Sima Junke dengan pandangan bergetar menatap Xiu Qixuan.


Pria itu gelisah, karena kalau sang nenek berencana membunuh gadis ini tentu Sima Junke sekali lagi mengulangi kejadian dimana dia akan bertentangan secara terbuka dengan sang nenek.


Xiu Qixuan memasang senyum manis yang menenangkan, gadis itu dapat mengetahui walaupun Sima Junke bertentangan pendapat ataupun hal lainnya dengan sang nenek tetapi pria ini memiliki hati hangat yang sebenarnya sangat menyayangi nenek dan kakeknya.


"Aku tidak yakin akan itu, tetapi nenekmu sangat cerdas untuk memahami bahwa membunuhku tidak akan menguntungkan Nanbao." Jawab Xiu Qixuan


"Kalau diriku tewas, Nanbao akan menderita kerugian besar karena Kemiliteran Xiu yang dibawah pimpinan Ayahku akan datang membalas dendam."


"Walaupun berusaha menyembunyikan berita mengenai diriku yang tewas, itu tidak mudah karena kakak keduaku akan memulai perdagangan diwilayah Nanbao, dia akan dengan cepat mengetahui kabar tersebut." Lanjut Xiu Qixuan dengan penjabaran yang rasional membuat Sima Junke termenung untuk meresapi semua perkataannya.


"Kalau begitu kemungkinan besar yang terjadi adalah nenekku tidak mengetahui tindakan Tuoba Lie," Gumam Sima Junke dengan pelan.


Bukankah Tuoba Lie begitu munafik, dia adalah orang yang berdiri disisi Nyonya Tua dan menjadi penyokong terkuat sang Nyonya Tua. Tetapi dia dengan sangat berani mengambil tindakan besar dan tersembunyi dari pandangan Nyonya Tua.


"Menyembunyikan niat lain dibalik lengan bajunya, kejahatan seperti itu tidak lagi dapat ditolerir." Geram Sima Junke mengepalkan tangannya erat, dia mengkhawatirkan sang nenek karena Tuoba Lie adalah serigala yang tersembunyi.


"Kita akan mengetahuinya nanti, sekarang yang harus dilakukan adalah menyelidiknya. Dimulai dari Zhai XinXin," Ucap Xiu Qixuan tersenyum seolah memendam niat jahat.


Sebuah suara diluar ruangan mengintrupsi pembicaraan mereka, "Tuan Muda, pengawal pendamping Tuan Muda Besar datang menghadap untuk memberikan tonik kesehatan kepada Nona Xiu agar dapat mempercepat penyembuhan luka." Ucap Kangjian dari arah luar ruangan mengumumkan kedatangan pengawal pendamping Aisin Tianyi.


"Persilakan masuk," Ucap Xiu Qixuan yang menjawab karena melihat Sima Junke mendengus tak berniat menanggapi.


"Baik," Balas Kangjian melangkah kembali menuju pintu utama untuk mempersilakan masuk pengawal pendamping Aisin Tianyi.


"Seharusnya kau tak perlu mempersilakannya masuk, biarkan saja Kangjian yang menerima barangnya." Dengus Sima Junke tak suka.


"Kau tidak mendengar perkataan Kangjian? Dia ingin menghadap bukan hanya mengantar." Jawab Xiu Qixuan dengan lugas dan masuk akal.


Sima Junke masih mengerutkan wajah tak suka, kemudian dia beranjak memposisikan dirinya disamping Xiu Qixuan, seperti anjing penjaga yang begitu protektif kepada sang majikan.


Setelah beberapa saat Kangjian memasuki ruangan bersama dengan seorang pria muda yang terlihat sangat gagah dan tangguh karena memiliki bekas luka panjang diatas alisnya.


"Du Hui menghadap Tuan Muda dan Nona Xiu," Ucap Du Hui pengawal pendamping milik Aisin Tianyi. Dia membungkuk memberi hormat dengan postur khas Nanbao.


"Bangunlah," Perintah Xiu Qixuan dengan lembut penuh wibawa.


Du Hui beranjak menegakkan tubuhnya kemudian berucap, "Tuan -ku secara khusus bergegas menyiapkan tonik kesehatan yang langka untuk Nona Xiu, karena ia mengkhawatirkan luka Nona Xiu yang sebelumnya kembali terbuka."


"Mohon untuk menerimanya, Nona." Lanjut Du Hui sedikit membungkuk dan menyodorkan kotak kayu berukuran sedang kearah Xiu Qixuan.


Saat Xiu Qixuan beranjak ingin menerimanya, dia tertahan karena Kangjian yang sedang ditatap tajam oleh Sima Junke langsung bergegas lebih dulu mengambil dan menyimpan kotak kayu itu.


Xiu Qixuan hanya dapat tersenyum sungkan dan berucap, "Barang sudah kuterima, Tuan Muda Besar begitu perhatian. Sampaikan rasa terima kasihku padanya."


Du Hui memang memasang wajah datar dan sangat kaku, tetapi saat Kangjian menghalangi Xiu Qixuan untuk menerima barang pemberian majikannya, sirat kekesalan yang terpendam menjadi terpancar keluar dikedua bola matanya.


"Nona sungkan. Kalau begitu hamba pamit." Ucap Du Hui membungkuk hormat kemudian berbalik pergi.


Setelah Du Hui melangkah keluar dari pintu ruang tengah, dengan segera Sima Junke memposisikan diri didepan Xiu Qixuan kemudian dia berlutut dan melihat bercak darah dirok pakaian yang dikenakan gadis itu.


Kangjian yang masih berdiri disisi ruangan terkejut melihat tindakan majikannya yang berlutut dibawah kaki seorang gadis.


Tidak jauh berbeda dengan Xiu Qixuan yang juga tertegun dengan mata indahnya yang mengerjap tak mengerti.


"Kangjian!" Panggil Sima Junke dengan keras.


"Hadir," Jawab Kangjian dengan cepat.


"Bawakan air dan kain kasa untuk menyeka dan membalut luka," Perintah Sima Junke


Kangjian dengan cepat bergegas untuk membawakan hal yang diminta majikannya itu.


Xiu Qixuan hanya masih terdiam melihat semua yang mereka lakukan, otaknya menjadi berhenti berfungsi karena terfokus untuk mengendalikan perasaannya.


Setelah Kangjian membawakan dan memberikan sebaskom air dan kain kasa kepada Sima Junke. Dia diusir pergi oleh majikannya itu.


Kemudian Sima Junke dengan cepat berlutut dan menyingkap rok yang dikenakan Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan tersentak kaget kemudian menghindar, "Apa yang kau lakukan?!" Ucapnya


"Diam, aku ingin membersihkan dan mengganti kain yang membalut lukamu." Perintah Sima Junke dengan tegas tak ingin dibantah.


"Tidak perlu, kita dapat memanggil pelayan untuk melakukannya." Balas Xiu Qixuan dengan ekspresi khawatir terpampang nyata diwajah cantiknya.


"Aku tidak melakukan hal lain yang lebih, kenapa kau begitu takut? apa yang kau pikirkan?" Ucap Sima Junke dengan menaikan sudut alisnya.


"Atau kau ingin aku melakukan sesuatu yang lebih padamu?" Lanjut Sima Junke berniat menggoda Xiu Qixuan.


"Aku tidak," Bantah Xiu Qixuan memalingkan wajahnya yang merona malu.


Saat perhatian gadis itu berhasil teralihkan, dengan cepat Sima Junke meraih kaki Xiu Qixuan yang terluka kemudian membuka sepatu yang dikenakan gadis itu.


Xiu Qixuan tak dapat menghindar, dia terdiam membiarkan Sima Junke memperlakukannya begitu lembut.


Dengan perlahan penuh kelembutan pria itu menyeka untuk membersihkan luka yang tampak mengeluarkan sedikit darah. dan setelah selesai ia sangat berhati-hati membalut luka dikaki Xiu Qixuan.



Tangan Xiu Qixuan mengepal erat, gadis itu tidak dapat lagi menahan perasaannya yang membuncah hebat. Sima Junke begitu berbeda.


Sebelumnya Ji Gui memperlakukannya dengan begitu sopan dan kaku, tidak pernah gurunya itu bertindak sangat terbuka dan hangat seperti Sima Junke yang menunjukan ketulusan dan perhatian.


Sima Junke begitu terbuka dan sedikit membara yang terkesan agresif untuk menunjukan perhatian dan niat hatinya. Pria itu juga dapat memabukkan siapapun yang menerima tindakan penuh kelembutannya.


Pandangan Xiu Qixuan begitu sendu menatap kearah Sima Junke, batin gadis itu sedang berperang.


Langit membuatnya terlihat begitu konyol.


Begitu konyol saat melihat dirinya begitu keras kepala akan cinta. Begitu konyol saat dia begitu angkuh menepis semua perasaan yang hadir. Begitu konyol karena berpikir tak ingin terluka.


Tanpa disadari, takdir membuat gelombang seperti ini untuk melatihnya. Takdir menuliskan bayangan dalam hidupnya dengan secara tak terduga seperti mimpi.


Manusia tidak akan iri bahwa bulan kesepian dilangit dengan masih dapat bersinar terang. Tetapi, apakah seorang manusia yang kesepian mampu bersinar terang layaknya bulan?


Terlalu banyak kebingungan akan cinta, Terlalu banyak kekecewaan dalam hidup, Terlalu banyak ketakutan untuk melangkah.


Mereka yang gigih juga akhirnya akan mengikuti angin yang bertiup, jadi mengapa tidak membiarkan saja angin membawanya? Lagipula bagaimana dirinya dapat mengetahui kemana harus pergi tanpa hati?


Hatinya tertinggal, hatinya tercuri, dan hatinya mencinta.


•••••••••••••


Author kmrn lupa jelasin lebih detail.


寄生棘


Jìshēng jí


Semacam tumbuhan parasit yang hidup, saat masuk kedalam tubuh dia akan menyerang sistem saraf jantung dan otak. Membuat koma atau kematian. Jadi luka Xuan terbuka kembali karena Jishēng Jì masih hidup didalam tubuhnya. Dia akan mengatasinya dengan cara menggunakan aura kehidupan untuk mengeluarkannya. Jadi itu bukan sejenis racun yang gais.


Xuan semangat! yaampun sangat puitis, sudah tersentuh dengan kebucinan A Jun ternyata😂 sampai kebingungan author untuk buat judul di bab ini.


yang nungguin adegan 💋 (u knows) mohon bersabar tidak boleh sembarangan, Xuan harus yakin dulu sm perasaannya wkwk.


Kayanya Ji Gui sudah tercium bau-bau menjadi sadboy, tetapi tenang aja author ga sejahat itu karena Ji Gui ganteng dan sopan😂