Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Mencari & Menemani



Semburat keemasan dari cahaya matahari berpendar hangat menyinari kehidupan diwilayah Nanbao, sorak kemeriahan terdengar sangat nyaring.


Hari ini ditetapkan sebagai hari libur nasional karena masa perayaan satu hari jalannya pemerintahan dibawah pimpinan Kepala Suku yang baru dan juga perayaan pernikahan paling megah dan mewah antara Kepala Suku dengan Putri Petinggi Zhai.


Para rakyat atau penduduk biasa akan merayakan kegembiraan dipusat ibukota Nanjing dengan cara bersorak sebagai tanda penghormatan. Sedangkan, pejabat atau bangsawan berkedudukan tinggi akan datang merayakan dan juga menyaksikan langsung prosesi pernikahan diaula besar pusat pemerintahan.


Terlihat seorang pria tampan berjalan tergesa diantara para pelayan ataupun pengawal yang berlalu-lalang sibuk bekerja, pria tampan itu seperti sedang mencari seseorang.


"Kemana dia? Menghilang begitu saja," Gumamnya dengan mendengus kesal.


Sima Junke sedang mencari keberadaan Xiu Qixuan yang sudah menghilang sejak matahari belum terbit dari ufuk timur. Pria itu terbangun lebih lambat dari yang seharusnya, dukun yang mengobati luka pukulan akibat pertarungannya dengan Xiu Huanran semalam memberikannya obat pereda nyeri sampai membuatnya merasa nyaman dan jatuh terlelap dengan sangat pulas karena begitu kelelahan.


Dia terus berjalan dan mencari, dia bertanya pada para pelayan tetapi mereka tidak berguna, jawaban mereka selalu berbeda dan saat ditelusuri keberadaan Xiu Qixuan juga tidak terlihat.


Sampai tiba Sima Junke menelusuri daerah terpencil disayap barat, dia menghela napas panjang dengan keringat mengalir deras karena matahari yang perlahan naik.


"Kau sedang apa disini? Terbangun begitu lambat, dasar pemalas." Cibir seseorang dengan suara yang sangat familiar dari arah samping kanannya.


Sima Junke mengalihkan pandangan dan mengunci penglihatan tajamnya kearah Xiu Qixuan yang perlahan-lahan muncul.


Gadis itu mengenakan jenis pakaian dan riasan wanita bangsawan Suku Nanbao untuk menghadiri acara sakral, itu membuatnya terkesan sangat berbeda.


Biasanya Xiu Qixuan memiliki fitur lembut dan halus seperti kelopak bunga nan indah, tetapi saat ini fitur itu menonjolkan kedewasaan yang terkesan menawan dan sedikit menggairahkan.



Cahaya keemasaan dari sinar matahari membuatnya semakin berkilau menawan.


Suara gemerincing nyaring dari setiap aksesoris yang menggantung ditubuhnya terdengar berirama seiring langkah kakinya yang semakin mendekat.


"Kenapa kau diam saja? Ayo, kita harus segera ke aula besar, aku tidak sabar ingin melihat kemeriahan." Ucap Xiu Qixuan dengan tidak sabar dan matanya yang berbinar indah.


Sima Junke masih tertegun dan tak bereaksi, hanya terdiam memandangi Xiu Qixuan seperti sedang terpesona dengan keindahan yang begitu menawan didepannya. Hal itu sontak membuat Xiu Qixuan mendengus geli dan mencubit hidung Sima Junke agar pria ini kembali kedalam kesadaran penuh.


Sima Junke sedikit meringis dan mengusap hidungnya, tanpa basa-basi lagi Xiu Qixuan menarik tangan Sima Junke agar segera bergegas dan mengoceh, "Kau begitu lambat, aku tidak ingin telat untuk melihat ritual pernikahan dalam tradisi Nanbao."


Senyum penuh arti terlihat diwajah tampan Sima Junke kemudian pria itu berucap, "Kau sangat ingin mengetahuinya agar tidak terkejut lagi saat menikah denganku nanti." dengan penuh percaya diri.


Xiu Qixuan yang mendengar itu melirikan mata tajam dan balas mencibir, "Siapa juga yang ingin menikah denganmu,"


Sontak hal itu membuat Sima Junke terkekeh kecil dan balas berbisik menggoda ditelinga Xiu Qixuan, "Bukankah, kau sedang mengandung penerusku?"


"A Jun!" Sentaknya dengan bersemu malu.


"Kau tahu hal itu hanya sedang berperan," Lanjutnya kemudian berjalan lebih dulu untuk menyembunyikan perasaan yang begitu menggelitik malu.


Sima Junke tertawa senang karena berhasil menggodanya, kemudian pria itu melangkah cepat untuk menyusulnya.


"Kau tadi pergi kemana? Aku mencarimu sampai mati kelelahan," Tanya Sima Junke dengan keluhan melirikan sudut matanya kearah Xiu Qixuan yang berada disampingnya dan masih memalingkan wajah malu.


"Nenek?" Tanya Sima Junke dengan mengerutkan kening bingung seakan sedang berpikir siapa nenek yang dimaksud oleh Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan mengangguk dan berucap, "Nenekmu, Aisin Fei. Jangan bilang kau melupakannya, kau juga belum mengunjunginya, bukan?"


Sima Junke tertegun dan sekejap langkahnya terhenti, membuat Xiu Qixuan ikut memberhentikan langkah dan menolehkan wajah untuk menatapnya.


"Sejak kapan kau dekat dengannya?" Tanya Sima Junke dengan menatap dalam kedua bola mata Xiu Qixuan seolah menelusuri kedalaman itu.


Senyum lembut terpasang diwajah cantiknya kemudian dia menyodorkan secarik kertas untuk dilihat Sima Junke dan seketika cerita demi cerita mengalir dari bibir mungilnya menjadi penjelasan yang menggetarkan hati lawan bicaranya.


"Dan belakangan ini aku menjenguknya karena dia terlihat sangat kesepian, lihatlah kemeriahan diluar sana tetap berjalan walaupun tanpa kehadirannya." Ucapnya diakhir penjelasan.


Perlahan Sima Junke mengkokohkan hati untuk melihat secarik kertas yang tertuang tulisan mendiang Sima Xiahou:


'Ketenangan dan kedamaian akan kembali, ancaman luar dan dalam akan musnah. Begitu menyenangkan melihat anak-anak tumbuh tanpa membawa dendam dan menderita konflik berkepanjangan.'


Xiu Qixuan melihat pandangan itu bergetar hebat seperti berusaha memendam sesuatu yang membuncah keluar, Sima Junke pasti sangat terkejut mengetahui sang nenek begitu kejam dan tertutupi oleh dendam.


Lengan mungilnya perlahan mengulur untuk menggengam dan mengelus lembut lengan Sima Junke dengan jari lentiknya kemudian dia berucap, "Ada banyak kejanggalan, kau harus menelusurinya lebih dulu. Aku akan menemanimu," dengan senyum lembut nan menenangkan.


Sima Junke melipat kertas itu dan menyimpannya kemudian dengan perlahan dia mendongakkan wajah untuk balas menatap dan tersenyum seakan semuanya memang baik-baik saja.


"Baik, kau harus tepati janjimu. Kalau kau berani menghilang dan meninggalkanku, aku akan mencarimu sampai keujung dunia." Ucap Sima Junke dengan tegas dan tersenyum meyakinkan, dia balas mengaitkan jarinya ke jari lentik Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan terkekeh kecil dan berucap, "Kau mencariku diwilayah Nanbao saja kelelahan sampai mati apalagi mencariku keujung dunia," dengan ledekan dan cibiran tidak percaya.


"Jangan meremehkanku," Balas Sima Junke dengan kesal tetapi Xiu Qixuan tidak menanggapi dan malah menariknya untuk melanjutkan langkah yang sebelumnya terhenti.


"Xuan'er," Panggil Sima Junke


'En,' Jawab Xiu Qixuan singkat.


"Aku ingin mengunjungi nenek, kau akan menemaniku, kan?" Tanya Sima Junke


Xiu Qixuan hanya meliriknya dengan sudut ekor mata dan menjawab, "Tentu, setelah acara perjamuan pernikahan kita akan mengunjunginya."


Kemudian seketika hening diantara mereka berdua karena mereka disibukan oleh pikiran masing-masing. Hanya ada suara langkah kaki mereka yang berirama terdengar nyaring.


"A Jun," Panggil Xiu Qixuan memecah keheningan.


"Kakek baru saja pergi, tetapi Aisin Tianyi melangsungkan pernikahan dengan begitu cepat. Aku merasa itu sangat tidak pantas, saat di Shen—kami memiliki waktu berduka setidaknya tiga tahun setelah kerabat kembali kelangit." Lanjut Xiu Qixuan dengan memasang wajah tidak nyaman dan penuh kehati-hatian.


Sima Junke yang mendengar itu tersenyum tipis dan semakin menggegam erat lengan Xiu Qixuan kemudian dia menjawab dengan ringan, "Di Nanbao tidak memiliki waktu berduka selama itu, saat penghormatan sudah diberikan dan acara pemakaman sudah diberlangsungkan, kami tidak diperkenakan untuk menunjukan kesedihan karena itu dapat menghambat jalan seseorang untuk sampai dipemberhentian selanjutnya."


Xiu Qixuan menarik senyum dan mengangguk mengerti, dia mengetahui dari sorot mata Sima Junke sebenarnya memendam banyak kesedihan karena sejak pria itu terbangun dari tidur panjang, dia hanya berperilaku seakan semuanya baik-baik saja. Xiu Qixuan tidak dapat memaksanya, dia hanya dapat bersikap sebagai pendukung agar pria ini tetap melangkah untuk hidup.


••••••••••••