
Udara tampak berhenti, atmosfer kesunyian yang tertekan menjadi semakin kuat. Ratusan pasang mata yang hadir berusaha menyembunyikan tatapan mereka yang menghunus tajam kearah sosok balita tampan yang memeluk erat kaki jenjang milik sang Tabib Dewa.
Pikiran Xiu Qixuan berubah menjadi kabur. Jantungnya mulai berdetak dengan gugup yang seolah dapat keluar kapan saja dari dalam tenggorokan. Dia hanya perlu beberapa detik untuk mendapatkan ketenangannya kembali dan segera menarik napas panjang untuk menguraikan perasaan tercekat.
Dengan lembut Xiu Qixuan mengulurkan tangan rampingnya, dia meraih tubuh Xia Zhiwen dan membuat celah diantara mereka untuknya melangkah mundur.
"Hamba menyapa Yang Mulia Pangeran Mahkota." Ucap Xiu Qixuan dengan sungkan membuat postur hormat yang tepat.
Begitu pandai, kemajuan pengendalian dirinya sudah sangat meningkat dalam menghadapi situasi tak terduga.
Seolah tidak mengetahui adanya suatu kesalahan yang dilontarkan sang Pangeran Kecil. Xiu Qixuan lebih memilih untuk mengabaikan dengan mengedepankan etiket yang seharusnya.
"Xiao Wen!" Suara penuh peringatan yang tajam menggema dingin membuat suatu tekanan kuat.
Xia Zhiwen, balita tampan itu mengangkat pandangannya dengan polos menarik-narik lengan baju Xiu Qixuan. "Muhuo, jangan pergi lagi. Lihatlah, Fuhuang memarahiku!" Ucapnya membuat pengaduan.
Alis Xiu Qixuan terangkat lembut dengan getaran samar menundukan wajah untuk menatap Xia Zhiwen yang menarik lengan bajunya.
"Jin Momo." Panggil Xia Qian Che dengan dingin menolehkan wajah kebelakang untuk memberikan isyarat perintah.
"Ya, Yang Mulia." Itu adalah Bibi Jin, dia menjadi perawat basah yang mengasuh kedua kembar naga dan phoenix ini. Statusnya begitu tinggi dimata Kaisar yang membuat orang lain akan memberikan kesungkanan yang khusus padanya.
Sejak pertemuan dengan Xiu Qixuan dipusat Ibukota Hanzhou, Xia Zhiwen menjadi begitu keras kepala dengan mengira bahwa semua orang yang memakai tudung penutup wajah adalah Muhou -nya. Ini bukanlah pertama kali dia bertindak semberono dan salah mengenali orang. Xia Qian Che sebagai seorang ayah tentu saja menjadi geram menahan perasaan cemas dan khawatir mengenai kondisi kejiwaan putranya.
Jin Momo bergegas cepat untuk menghampiri dan meraih tubuh Xia Zhiwen dengan lembut berbisik ditelinga balita tampan itu. "Fuhuang anda sudah marah. Yang Mulia Kecil, tolong menjaga sikap. Jika tidak hukumannya adalah tambahan jam belajar."
Hanya dalam beberapa patah kata dari Jin Momo—cengkeraman erat Xia Zhiwen di lengan baju Xiu Qixuan perlahan melonggar, kerutan tidak suka yang menggemaskan terpancar diwajah mungilnya.
"Tetapi ini adalah Muhou, aku tidak akan salah mengenalinya lagi!" Suara imutnya terdengar begitu kukuh untuk meyakinkan tetapi berakhir pasrah membiarkan Jin Momo menariknya untuk menjauh.
Jin Momo menegapkan tubuh kemudian segera memasang postur hormat dan berlalu pergi membawa Xia Zhiwen kehadapan sang Kaisar yang masih berdiri untuk menunggu agar putranya kembali kedalam rombongan.
Mereka yang hadir dalam perjamuan tergagap samar dan segera kembali menundukan wajah.
Xia Qian Che masih mengenakan pakaian pengadilan seorang Kaisar yang bersulam ekor dan kaki naga dengan rambutnya yang tergulung setengah dihiasi oleh mahkota giok emas menunjukan kekuasaannya yang tak tertandingi.
Dengan membawa kedua anak kesayangannya, dia berjalan mendekati Ibu Suri Ning yang terduduk tenang. Seorang Kaisar tidak perlu memberikan hormat kepada Ibu Suri.
Xia Qian Che hanya perlu menyapa, "Ibu Suri." Ucapnya kemudian berbalik dan melambaikan lengan baju kearah orang-orang yang membungkuk untuk berkata, "Semua bangkit!"
"Ya, Terimakasih Yang Mulia." Serentak semua orang yang hadir kembali berdiri tegak.
Disisi lain, Xia Zhiwen dan Xia Zhishu berlarian untuk menghampiri sang nenek dengan keceriaan yang polos. Di dalam kehangatan pangkuan Ibu Suri Ning, mereka mengadukan banyak keluhan akan sikap sang ayah. Mengoceh sembarang tanpa sedikitpun kelelahan karena terus berbicara. Begitu aktif dan menggemaskan!
Xia Qian Che memusatkan perhatian kepada Xiu Qixuan yang sedang menundukan kepala, gadis itu jatuh termenung memikirkan perhitungan dalam perencanaan.
Dengan langkah ringan yang tegas, Xia Qian Che berjalan menghampiri Xiu Qixuan karena mengira gadis itu masih terganggu dengan sikap sembrono putranya.
"Nona Qi." Panggilnya.
Xiu Qixuan yang sedang jatuh termenung menjadi meloncat kaget, 'Brakk' roknya tersangkut dimeja kudapan sedangkan tubuhnya terhuyung mundur menabrak kursi.
Dengan tergagap Xiu Qixuan memegangi tudung penutup wajahnya agar tidak terjatuh, ia meringis dalam hati karena kecerobohan ini.
Setelah kembali berdiri kokoh, Xiu Qixuan perlahan membuat busur hormat dengan gemetar gugup berkata, "Menyapa Yang Mulia Kaisar!"
Mata Xia Qian Che menyembunyikan senyuman geli yang samar tetapi dia dengan cepat berdeham keras dan berkata, "Bangkitlah!"
"Terimakasih, Yang Mulia." Ucap Xiu Qixuan kemudian perlahan bergerak anggun untuk menegapkan tubuhnya.
Bibirnya perlahan mengait keatas dengan kemegahan Xia Qian Che berucap, "Nona Qi, Pangeran Mahkota bersikap sembrono dengan menyinggungmu. Zhen, akan berusaha untuk menggantikan ketidaknyamaanmu."
"Tidak perlu, Yang Mulia!" Suaranya mengalun lembut penuh pengertian menggagaskan isi pikiran. "Pangeran Mahkota masih dalam tahap pembelajaran untuk mengenali orang, ini bukanlah suatu hal yang besar." Lanjutnya.
Xia Qian Che menatapnya dengan penuh arti kemudian mengangguk samar, "Nona Qi, begitu bijaksana." Ucapnya. Entah apa yang berada di dalam pikiran Kaisar Muda ini.
"Putraku itu sudah beberapa kali salah mengenali orang, begitu merindukan Muhuo -nya sampai menjadi keras kepala." Lanjutnya dengan dengusan kesepian yang mengambang samar ketika dirinya perlahan berbicara.
Xiu Qixuan menarik napas dalam-dalam kemudian berkata tenang, "Orang dewasa harus memberikan pengertian dan arahan yang baik. Bersikap lembut dengan perlahan daripada tergesa dan tajam karena dapat menanamkan sifat keras yang kasar."
Penjabarannya begitu lugas dan tidak congkak untuk menonjolkan diri. Sikapnya selalu transparan menghindar dari masalah.
Tetapi jelas diperkataannya barusan terdapat sirat mencibir yang tertuju kepada Xia Qian Che.
Kedua alis Xia Qian Che yang membentuk lengkungan tajam itu mengerut dengan matanya yang menyipit.
Dari balik tudung penutup wajahnya Xiu Qixuan terpejam erat dengan sudut bibirnya yang berkedut. Ia sedang merutuk penuh penyesalan karena terlalu reflek mengeluarkan cibiran tajam. Bagaimana jika Xia Qian Che mengeluarkan lava amarah dari mulutnya yang memang sudah pedas itu?
Tiba-tiba suara tawa mengalun untuk mengisi kekosongan, Xia Qian Che tidak dapat menahan humor karena melihat subjek yang begitu berani mencibirnya langsung.
"Nona Qi, Zhen harap kamu tidak menyesal!" Ucapnya dengan ambigu kemudian berlalu pergi menuju singgahsana yang disediakan.
"Hah?" Xiu Qixuan sedikit tertegun. Dengan dahinya yang membuat kerutan, ia memandangi punggung Xia Qian Che yang berjalan menjauh.
Tanpa disadari sejak tadi banyak pasang mata penuh kecemburuan yang tertuju padanya. Mengapa Nona Qi terlihat begitu leluasa untuk berinteraksi dengan Kaisar?
Salah satu yang paling tajam menghunuskan tatapan adalah Nona Besar dari kediaman Menteri Badan Pengawas Ning. Dia jelas adalah sepupu Xia Qian Che tetapi keobsesian untuk memiliki tercetak jelas dari raut wajahnya.
Dipertengahan acara perjamuan formal yang masih belum dimulai, para tamu kembali di biarkan bebas berkeliaran di taman bunga. Para wanita berpengaruh dengan status berkumpul membuat kelompok sosial kelas atas untuk pergi bersama mengagumi keindahan bunga. Sementara pria memilih berjalan santai bermain catur di iringi pembahasaan kesastraan yang berat.
Xiu Qixuan adalah orang terakhir yang berjalan keluar dari dalam Paviliun. ia berjalan ringan menelusuri kegiatan bermain yang dilakukan para Menteri Kekaisaran.
Wajah-wajah tua dengan keangkuhan yang menyembunyikan niat aslinya membuat Xiu Qixuan mendengus muak. Semua orang yang terikat oleh istana akan sangat mengerikan dalam memainkan intrik kejam.
Xiao Leng yang sebelumnya menghilang untuk berbaur dengan para pelayan terlihat bergegas menghampirinya kemudian dia berbisik pelan, "Menteri Pajak dan Ekonomi Kekaisaran tidak hadir diperjamuan. Bermarga Niao yang adalah bangsawan peringkat kedua."
'En,' Jawab Xiu Qixuan dengan acuh tak acuh mengangguk pelan sembari memegang dahan bunga persik yang jatuh berguguran. Dia membuat reaksi tenang untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Kemudian dia menolehkan wajah kepada Xiao Leng memberikan suatu isyarat khusus.
•••••••••••
Dalam minggu ini author usahakan crazy up -nya, hri ini satu bab dlu:)