Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Tidak Ingin Menyakiti Siapapun



Seorang gadis cantik melangkah dengan lesuh dan menunduk menyembunyikan wajah. Bibirnya bergetar menahan isak tangis dan kedua matanya memerah mencoba menampung air mata yang terus keluar.


Bukan dia yang disakiti tetapi perasaannya lebih emosional dari seseorang yang ia sakiti.


Gadis itu merasa sangat bersalah dan ketakutan, ia takut kehilangan seseorang penting yang selama satu tahun ini menjaganya dan takut hatinya menjadi lembut.


Takut dengan segala hal rumit yang akan menerpanya dimasa depan. Takut pikirannya menjadi tidak objektif karena terhalang oleh kabut perasaan.


Melewati keramaian orang untuk menuju kedai yang sebelumnya ia datangi.


Sebisa mungkin ia menghalau segala perasaannya agar mendapatkan kembali ketenangan yang dia miliki. Tetapi, tidak bisa. Ji Gui membuat perasaannya sedikit terguncang.


Sesampainya dikedai, dia melihat seorang pria tampan sedang menyantap makanan dengan tenang karena tidak ada seorang pun kecuali dirinya yang berani mengganggu ketenangan pria itu.



Pria itu mendongakkan wajah untuk melihat seseorang yang sedang berdiri dihadapannya, kemudian dengan cepat pria tampan itu menaruh piring diatas meja kudapan saat melihat keadaan menyedihkan gadis didepannya.


"Qixuan, ada apa? Seseorang menyakitimu? Kau baik-baik saja?" Tanya Sima Junke dengan sangat panik berdiri menghampiri gadis didepannya kemudian dia memastikan keadaan gadis itu dengan pandangannya memeriksa secara menyeluruh.


Setetes air mata berusaha ditahan tetapi pada akhirnya mengalir deras.


"Huahh, hiks. A Jun, aku—"Tangisnya berusaha menjelaskan sesuatu tetapi tercekat ditenggorokan.


Tentu saja itu membuat Sima Junke mengaruk kening kebingungan, pria itu tidak tahu harus bagaimana menghibur seorang gadis yang sedang menangis.


Sima Junke tiba-tiba meraih bahu Xiu Qixuan dan menarik kearahnya, gerakannya cukup mengejutkan tetapi tangis tidak kunjung berhenti dari gadis cantik yang sekarang berada dipelukannya ini.



Mengulurkan tangan dan mengelus lembut rambut Xiu Qixuan yang terjuntai panjang, kemudian dia menggumamkan berulangkali kalimat menenangkan. "Tidak apa, semua baik-baik saja."


Xiu Qixuan tetap terisak menangis tetapi tidak meraung seperti sebelumnya, gadis itu juga tidak membalas pelukan Sima Junke, ia hanya fokus berusaha menetralkan rasa emosional yang menerjang hatinya.


"Hikshiks, A Jun." Panggil Xiu Qixuan ditengah tangisan yang tidak kunjung mereda.


"Iya, aku disini." Balas Sima Junke dengan suara beratnya yang menggelitik indra pendengaran.


"Aku—aku sangat takut." Ucap Xiu Qixuan terbata-bata seiring isakannya yang sedikit mereda.


"Jangan takut, tidak apa-apa. Aku disini." Ucap Sima Junke dengan lembut tetapi kalau orang lain yang melihat ekspresi wajahnya—akan bergetar ketakutan karena pria itu sudah menggelap marah seperti ingin membunuh seseorang, dirinya mengira sesuatu hal buruk terjadi pada gadis didekapannya.


"Aku—aku benar-benar tidak ingin menyakiti siapapun. Tetapi," Lanjut Xiu Qixuan tercekat.


"Syuutt, semua baik-baik saja. Kau tidak menyakiti siapapun," Ucap Sima Junke terus berusaha menenangkan dengan mengelus lembut kepala Xiu Qixuan dan tidak membiarkan gadis itu berbicara lagi.


Selama beberapa saat isakan tangis Xiu Qixuan mengecil kemudian gadis itu dengan cepat melepaskan pelukan Sima Junke dan menjauh dari pria itu.


Xiu Qixuan mengusap kasar kedua pipi bulatnya untuk menghapus sisa airmata yang sebelumnya mengalir deras.


Sima Junke mengerutkan kening kebingungan, kemudian senyum tipis terpasang diwajah tampannya. Bukankah, gadis ini terlalu cepat berubah-ubah?


Sudut mata Xiu Qixuan melihat banyak makanan yang dihidangkan berada diatas meja kudapan.


Seketika, gadis itu mendudukan dirinya tepat dibelakang meja kudapan dan menyantap berbagai jenis makanan dengan mulut yang mengembung penuh. Begitu rakus!


Mendudukan dirinya juga dihadapan Xiu Qixuan, ia tidak ingin bertanya mengenai hal yang sebelumnya terjadi kepada gadis ini. Dia akan mencari tahunya sendiri, tentu saja lewat Kangjian yang akan ia perintahkan untuk menyelidiki.


Sima Junke menopang dagu dengan tangannya, ia malah sibuk memandangi tampang menggemaskan Xiu Qixuan yang sedang memakan dengan rakus seperti babi kecil karena wajahnya memerah dan pipi bulat yang mengembung.


"Kenapa? kau mau?" Tanya Xiu Qixuan menawarkan makanan dengan suara serak sehabis menangis.


Sima Junke menjawab dengan menggelengkan wajah.


"Humph, baguslah kalau tidak." Ucap Xiu Qixuan dengan tak perduli melanjutkan kegiatan menyantap makanannya kembali.


Sima Junke masih memandangi Xiu Qixuan, membuat gadis itu risih dan kesal akan tindakan pria tampan itu.


Mengangkat wajah untuk menatap tajam Sima Junke. Kemudian Xiu Qixuan berucap tajam, "Bisakah menyembunyikan pandanganmu dengan tidak menatapku? Aku belum membuat perhitungan denganmu karena kamu berani mengambil kebebasan denganku."


Ucapannya itu menyiratkan Sima Junke sudah bertindak seenaknya mengambil kesempatan pada dirinya yaitu ciuman dan pelukan yang dilakukan sebelumnya.


Xiu Qixuan tidak boleh terlalu dekat lagi dengan seorang pria karena ia tidak ingin kehilangan kendali akan perasaannya.


Mendengar itu Sima Junke tersentak kaget dan merasakan masam dihatinya, dia jelas merasakan perbedaan gadis itu—seakan Xiu Qixuan menjadi lebih jauh dan lebih dingin padanya.


*******


Sepanjang perjalanan kembali mereka saling terdiam, sampai akhirnya mereka berada diruangan pribadi milik masing-masing.


Xiu Qixuan terlalu lelah untuk berpikir dan melakukan aktivitas lain, gadis itu langsung jatuh tertidur diruangan yang menjadi kamar pribadinya selama tinggal di Nanbao.



Ruangan dengan design interior semi klasik, berbeda dari Shen yang memakai kayu sebagai pilar tembok bangunan. Nanbao memilih menggunakan batu ataupun tanah liat dengan banyak hiasan merah dan emas yang mencolok mata.


Xiu Qixuan jatuh terlelap dengan cepat diatas ranjang, gadis itu terlihat sangat kelelahan karena mendengkur ditidurnya. Memang manusiawi yaitu sehabis menangis menjadi merasakan kantuk. Bukankah begitu?


Sementara diruangan pribadi milik Sima Junke, ekspresi pria itu terlihat datar dengan pikirannya yang menerawang entah kemana. Tepat disisinya, berdiri Kangjian—terdiam ia tidak berani berucap apapun karena mengetahui suasana hati Tuan Muda nya sangat buruk.


"Kau tidak menemukan suatu hal yang mencurigakan?" Tanya Sima Junke dengan tajam


"Tidak ada yang aneh, selain Nona Xiu tidak pergi ke kios manapun untuk mengambil barang. Kita tidak dapat mengetahui kemana sebelumnya Nona Xiu pergi," Jawab Kangjian dengan lugas menundukan wajah. Merasa lalai karena tugas yang diberikan tidak diselesaikan dengan hasil baik yang dapat memuaskan Tuan Muda.


Sima Junke menghela napas panjang dengan tangan yang mengepal erat.


"Kau boleh pergi," Ucap Sima Junke


Kangjian memberi hormat kemudian melangkah pergi, keluar dari ruangan pribadi majikannya dengan langkah cepat.


'Prang,' Suara gelas pecah memekak telinga.


Kangjian bergidik ngeri, dia mengetahui sifat Sima Junke kalau sedang murka tak terkendali seperti saat ini.


Tuan Muda sangat murka karena ada yang mengganggu Nona Xiu kemudian menyebabkan Nona Xiu memasang kewaspadaan dan menjaga jarak dengan Tuan Muda.


Pengaruh keberadaan Nona Xiu sangat besar membuat Kangjian harus lebih berhati-hati agar tidak menyinggung Nona Xiu.


•••••••••••••