
Wangi dupa menyerbak harum di dalam ruangan, temaramnya lilin dengan cahaya bulan musim gugur menerangi ruangan kecil yang menyesakan ini.
Terlihat sosok kecantikan yang mengerut sinis, dia begitu menakutkan membuat para bawahannya bergetar ngeri.
Sudut ekor matanya melirik kearah mereka yang menunduk takut. 'Krakk,' Jari-jari lentik yang mengepal erat itu meninju sisi badan meja, kekuatannya begitu besar sehingga menimbulkan bekas retakan.
"Heh, kalian membuat mataku terbuka dan memiliki pandangan baru yang lebih luas. Betapa salutnya!" Suaranya datar dengan smirk miring yang menekan.
"Bukan itu maksud kami, Nona. Hanya saja Ketua Huan akan menghukum Divisi Rubah jika melalaikan tugas." Salah satu dari orang berpakaian hitam itu menjawab dengan lugas dan masuk akal.
"Taoli..." Panggilnya dengan menarik napas panjang karena kelelahan.
"Hadir," Jawab Xiao Taoli dengan cepat.
"Singkirkan orang-orang ini," Perintahnya dengan tajam.
"Baik," Jawab Xiao Taoli dengan cepat menggiring beberapa orang itu untuk keluar ruangan.
"Kami pamit, Nona. Mohon pengertiannya." Sebelum pergi para bawahan itu masih sempat untuk memberi salam hormat diiringi sirat bujukan yang khas agar sang nona lebih mempertimbangkannya.
Xiu Qixuan memijat pelipisnya yang pening, dia merasa hal-hal rumit ini membuat wajahnya menjadi keriput dan menua dalam sekejap mata.
"Nona, tidak seharusnya kau terlalu keras pada mereka." Ucap Xiao Rou dengan pengertian memijat bahu sang majikan agar mendapatkan ketenangan kembali.
"Xiao Rou, kau tidak mengerti." Balas Xiu Qixuan dengan memejamkan kelopak matanya.
Xiu Huanran, pria itu, memiliki banyak tipu muslihat di dalam lengan bajunya. Awalnya Xiu Qixuan tidak mengerti maksud pria itu, tetapi dengan kejadian yang dia temui siang tadi di Ibukota Hanzhou membuatnya dapat mengetahui jelas pikiran sang kakak kedua.
Mengapa juga harus Divisi Rubahnya yang dikirim ke Xia Utara, padahal Divisi Ular lebih mampu untuk menyelinap dalam pemerintahan dan meracuni musuh dengan tepat.
Orang Divisi Rubah memang lebih lincah dalam mengejar dan memburu musuh, tetapi tetap saja terasa janggal. Karena mereka baru menyelesaikan tugas disalah satu kota kecil dan langsung diperintahkan untuk bergegas ke Xia Utara, sedangkan Divisi lainnya terlihat menganggur. Bukankah sangat jelas bahwa Xiu Huanran ingin menunjuk sesuatu yang selama ini dia sembunyikan kepada sang adik.
Tangan Xiu Qixuan mengepal sangat erat dengan giginya yang menggertak tajam. Gadis itu terlihat sangat kesal dan marah saat kilasan ingatan yang merancang kejadian sebelumnya.
Xiu Qixuan, dia memilih untuk berlari menghindari sepasang wanita tua dan balita kecil itu. Entah mengapa hatinya menjadi gelisah dan tidak nyaman saat balita tampan itu menangis memanggilnya. Tetapi, dia harus pergi, keterikatan seperti ini membuatnya kacau. Dia harus memperjelasnya sendiri dengan menemui Xiu Huanran.
Tetapi keegoisannya membuat orang Divisi Rubah mengutarkan ketidaksetujuan. Mereka baru datang dan belum menyelesaikan misi. Bagaimana bisa kembali kepusat begitu saja? Mereka tidak akan memiliki muka lagi jika hal itu terjadi. Menyerahkan misi kepada Divisi Ular tanpa persetujuan Ketua Huan, hal itu jelas akan menunjukan ketidakmampuan.
Kelopak mata Xiu Qixuan tiba-tiba terbuka lebar, dia segera menegakan tubuhnya dan terburu-buru mengambil kuas untuk menulis sesuatu di lembaran kertas. Hal ini mengejutkan Xiao Rou yang sedang memijat bahunya, gadis pelayan itu memandang punggung majikannya dengan keheranan.
Selama beberapa saat Xiu Qixuan mencatat dan sesekali melihat gulungan dokumen berisi informasi terbaru mengenai misi mereka.
'Tukk,' Dia menaruh kuas dan segera mengangkat pandangannya untuk menatap Xiao Rou dengan serius. "Xiao Rou, urutan dalam kertas ini adalah tahap penyelesaian yang harus dilakukan Divisi Rubah. Selama aku tidak ada—berikan ini kepada Xiao Taoli." Perintahnya dengan ketegasan yang suram. Tangannya terulur untuk memberikan kertas minyak itu kepada gadis pelayan kepercayaannya.
"Nona—," Terjeda Xiao Rou.
"Selidiki latar belakang para menteri peringkat 1-3, buronan itu memiliki koneksi luas dengan para menteri terkemuka di Kekaisaran Xia Utara." Lanjutnya kemudian segera beranjak dan memakai jubah panjang untuk menyelimuti tubuhnya.
"Aku pergi sebentar untuk menyelesaikan akun dengan Er'ge." Dia tidak memperdulikan lagi raut wajah Xiao Rou yang mengutarkan ketidaksetujuan mendalam.
Setelah mengatakan itu Xiu Qixuan melangkah dengan raut wajah kelam yang dapat menusuk jantung.
'Wooshh. Brakk..' Tiba-tiba angin berhembus kencang dan pintu terbuka lebar. Dari balik celah pintu sosok familiar yang berwibawa terlihat begitu mempesona saat dia berjalan menggunakan ilmu peringan tubuh untuk memasuki ruangan.
Tampilannya begitu menawan dan kuat, pancaran seorang pendekar hebat menguar dari dalam tubuhnya.
Xiu Qixuan memandanginya dengan tajam dan sinis. "Cepat jelaskan!" Perintah gadis itu dengan otoritas yang menekan.
"Humph, Bukankah kau ini terlalu cerdas? Tidak menyangka dapat begitu cepat untuk mengetahui niat asliku." Ucapnya tajam diiringi dengusan kekesalan, entah itu adalah sebuah pujian atau cercaan.
"Er'ge..." Xiu Qixuan menatapnya dengan sirat kelelahan yang sendu. Gadis ini tidak ingin bermain, dia terlihat lebih dewasa dari yang seharusnya.
Xiu Huanran menarik napas panjang sebelum akhirnya pria itu melambaikan tangan untuk memperintahkan Xiao Rou menyingkir keluar karena ini adalah pembicaraan yang serius.
Pada saat ini, kedua kakak beradik itu terduduk dan saling bertatapan intens. Seolah sedang mencoba untuk menelusuri kedalam pikiran masing-masing.
Hening. Lengang.
Mereka jatuh kedalam kesunyian yang memberat. Situasi seperti ini membuat pancaran ketidaknyamanan tercetak jelas.
Xiu Huanran yang lebih dahulu memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka, pria itu mengambil suatu benda dari saku lengan bajunya. Kemudian menunjukan benda tersebut kepada Xiu Qixuan agar gadis itu dapat melihatnya sendiri.
"Lihatlah," Perintah Xiu Huanran dengan datar.
Itu adalah gulungan dokumen, kemungkinan di dalamnya tertulis penjelasan yang di inginkan Xiu Qixuan. Juga disisi lain terdapat sebuah kotak kayu berukuran kecil, jika dibuka terlihat beberapa lembar surat usang. Tangan Xiu Qixuan terulur penuh keraguan untuk mengambil kedua benda itu kedalam genggamannya.
Selama beberapa saat, matanya terfokus membaca satu persatu huruf yang terukir di dalam gulungan maupun lembaran surat.
Kekehan ironi penuh ejekan terdengar jelas dari kaitan bibir mungilnya. Matanya bergetar hebat dan memiliki kabut samar tetapi sangat tajam.
Perlahan pandangannya terangkat untuk menatap Xiu Huanran yang bersandar dikursi dengan mata terpejam seperti tidak sanggup untuk menjelaskan.
'Brakk..' Xiu Qixuan membanting gulungan dokumen itu keatas meja dengan menggeram penuh amarah kekesalan yang tak tertahankan.
Kelopak mata Xiu Huanran terbuka, dia segera menegakkan tubuhnya kemudian menghela napas panjang saat melihat ekspresi wajah sang adik yang penuh emosi mendalam.
"Kau sudah mengetahui aib memalukan ini dari awal, kan?" Tanya Xiu Qixuan dengan dingin yang tenang. Tetapi, kekacauan emosi tidak dapat disembunyikan dari pancaran kedua bola mata indahnya.
"Ya, Xuan'er jangan seperti ini. Kami dapat menerimanya. Tetapi—," Terjeda Xiu Huanran.
"Kami?" Sergah Xiu Qixuan dengan cepat.
"Kami.. Ayah dan Dage juga mengetahui hal ini." Jawab Xiu Huanran dengan menunduk lesuh.
"Aku hanya ingin ka—," Terjeda Xiu Huanran karena suara tawa nyaring Xiu Qixuan terdengar memenuhi ruangan.
Gadis itu tertawa penuh ironi ejekan. Seolah-olah dia menemukan sesuatu hal yang sangat lucu untuk diketahui.
Dia tertawa begitu keras sampai merasa sesak dan airmata perlahan mengalir dari sudut matanya. Tetapi, dia tidak sedikitpun berniat untuk menghentikan tawanya yang terdengar memilukan penuh ringisan.
Qiaofeng, kamu yang sudah tidak ada saja dapat memperumitku. Begitu bodoh, sampai aku tidak tahu harus menangis atau tertawa.
•••••••••••
karena gabisa milih antara nangis atau tertawa, jdi dua²nya aja dah. #Qixuan.