
"Apa maksudmu, ayah?" Pikiran yang tak terhitung jumlahnya berputar di benak Xiu Qixuan. Dia dapat merasakan gelombang tidak nyaman ketika Xiu Haocun yang tiba-tiba datang itu berbicara secara ambigu.
Mata Xiu Haocun segera berpaling kearahnya. Pria paruh baya ini menanggapi dengan wajah mencibir arogan; "Memangnya apalagi selain mengundang dia untukmu." Kemudian setelah itu Xiu Haocun bergerak cepat menyeret serta Mo Ji Gui untuk memasuki kediaman. "Ayo, bocah Ji—ikut aku ke ruang baca. Banyak yang harus kita bicarakan." Nadanya terkesan terburu-buru tanpa kesabaran.
Melihat kelakuan aneh tersebut, mata Xiu Qixuan melebar. Dia mendengus. Ini terlalu kekanakan. Jelas bahwa Xiu Haocun berniat memberikan tangan Xiu Qixuan kepada Mo Ji Gui(1). Ternyata dia tetap begitu gigih melarang putrinya pergi ke ibukota.
Mo Ji Gui yang tiba-tiba terseret hanya bisa pasrah dengan ekspresi kaku mengikuti intruksi sang jenderal.
Sebelum benar-benar pergi, Mo Ji Gui sempat menoleh sekali lagi tersenyum dengan matanya yang bijaksana terhubung seolah-olah memberi kepastian bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak Xiu Qixuan inginkan.
Anehnya di sini, Xiu Qixuan sepenuhnya mempercayai Mo Ji Gui. Dia tidak menyusul mereka ke ruang baca, alih-alih itu dia lebih memilih pergi untuk menidurkan Xiu Yuheng keatas ranjang yang nyaman.
**Ruang Baca Kepala Keluarga Xiu**.
Pada saat ini, kedua pria yang berbeda generasi tersebut sedang terlihat duduk bersebrangan di depan papan catur. Secara bergantian jari-jari mereka mengotak-atik potongan bidak hitam dan putih yang tersebar membentuk kepungan dan serangan.
Di luar ruangan, warna langit berangsur-angsur menjadi lebih gelap menandakan matahari yang perlahan sepenuhnya terbenam di ujung cakrawala. Tanah bebatuan lembab oleh genangan air sehabis hujan di sore hari. Dan, angin berhembus untuk mencuri masuk melalui celah jendela.
Suara gemerisik bara api yang terbakar di atas tungku penghangat menjadi latar belakang mereka.
Setelah menukar beberapa putaran permainan. Xiu Haocun segera mengangkat suaranya pada inti pembicaraan; "Apa pendapatmu tentang putriku?"
Mendengar pertanyaan yang sudah sejak awal dapat dia prediksi, ekspresi wajah Mo Ji Gui tetap tenang.
Sudut mulut Mo Ji Gui terangkat memasang senyuman dan menjawab secara gamblang berpura-pura tidak mengerti; "Xuan'er adalah murid yang cerdas."
Untuk beberapa alasan, wajah Xiu Haocun tampak keruh mendengar jawaban tanpa minat dari Mo Ji Gui yang acuh tak acuh.
"Mo Ji Gui, aku mengundangmu datang kesini hari ini adalah untuk memberitahumu. Menikahlah dengan putriku." Suaranya tampak serius tanpa pertimbangan apapun lagi.
Untuk sesaat Mo Ji Gui kehilangan ekspresi dan tetap diam.
"Istana Kekaisaran Shen bukan tempat baginya untuk datang." Xiu Haocun kembali berkata dengan getaran kuat, ia melanjutkan. "Tempat itu, bukan tempat dimana anak-anak yang tidak memiliki cakar dapat menjaga dirinya sendiri untuk bertahan. Aku tidak bisa membiarkan putriku berada di antara kawanan serigala dan anjing yang akan berebut kuasa atas takhta." Nadanya yang marah sedikit menggeram tampak kehilangan daya.
Mata Mo Ji Gui yang sedikit terkulai memindai dengan tulus; "Jenderal sangat berdedikasi. Tapi, aku tidak mengira bahwa anda kehilangan kepercayaan diri dan berkarat dalam memberi perlindungan." Dia tersenyum masam kemudian dengan agak menyesal mengatakan pahit. "Sungguh imbalan kebahagiaan seumur hidup melalui ikatan pernikahan adalah hal yang juga saya inginkan, karena saya juga memberikan hati saya utuh padanya."
"Itu janji yang kami miliki. Itu janji yang tanpa sengaja sungguh-sunguh saya buat untuknya..." Jari-jari tangan Mo Ji Gui tanpa sadar terkepal, matanya tampak terkondensasi oleh jeratan yang tegas menatap kearah Xiu Haocun. Nada bicaranya sedikit melambat dan mantap dia lanjut berkata; "... Karena saya memilih untuk mempercayai Xuan'er. Tanpa izinnya, saya tidak akan terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang dia miliki. Sebelum dia mengatur bagian terakhir. Saya hanya akan menjadi pendukung setia yang selalu hadir."
Mendengar suaranya yang menusuk kuat, benak Xiu Haocun tampak berkecamuk. Pria paruh baya itu langsung terdiam kehilangan kata-kata untuk berbicara.
Apakah cara dia salah untuk melindungi putrinya? Apakah dia sungguh tidak benar-benar memahami putrinya? Ketakutan terus-menerus mengoyak untuk menyiksa batinnya, dia selalu berusaha keras untuk menjaga hal-hal yang tersisa dari Wen Liu.
Dia ingat saat melihat Xiu Qixuan untuk pertama kalinya. Saat itu, dia langsung menyadari bahwa gadis itu adalah bagian lain yang di bawa pergi oleh Wen Liu ketika menghilang dari Daratan Ca Li.
Dia tahu bahwa gadis itu adalah putrinya yang lain. Itu sangat menyedihkan ketika dia tidak dapat mengatakan apapun. Itu sangat menyiksa ketika dia harus terus berpura-pura, ketika dia harus mencari diam-diam keberadaan Qiaofeng yang ternyata sudah tiada.
Mo Ji Gui segera bangkit, dia pamit untuk membiarkan Xiu Haocun yang sedang merenung. Ada kebijaksanaan langka di wajah mudanya yang tumpul. "Kalau begitu saya akan pamit. Mohon Jenderal Besar kembali mempertimbangkan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Xuan'er." Sudut mulutnya terangkat lembut.
Keesokan harinya...
Jamuan untuk para utusan yang datang dari ibukota sudah disiapkan dengan tepat di Kediaman Xiu pada malam hari, ketika Xiu Qixuan datang ke aula utama, Xiu Haocun sudah menunggu diatas tempat duduk yang lebih tinggi menunjukan statusnya sebagai kepala keluarga.
Kasim Teng dan Min Boming sang pelukis juga terlihat di baris kedua dari samping kiri. Sedangkan, Yao Yunmei dan Xiu Jierui berada di baris terdepan dari samping kanan.
"Xuan'er, cepat datang kesini dan duduk!" Yao Yunmei melambaikan tangan dengan mulutnya yang terbuka memberi intruksi.
Xiu Qixuan dengan cepat melangkah, dia menyapa terlebih dahulu semua orang dan memberi hormat. Tetapi, ketika tiba giliran Kasim Teng—pria paruh baya itu malah mengungkit kesalahannya yang datang sedikit lebih lambat.
"Nona Besar, tidak perlu sungkan. Bawahan ini mengerti bahwa para gadis akan terlambat untuk mempersiapkan diri mereka."
Kata-katanya yang mencibir seperti memiliki makna lain yang sebenarnya berduri. Dia berkata seolah-olah Xiu Qixuan seperti gadis lain yang begitu berambisi untuk ingin tampil baik agar memikat pria berstatus tinggi.
"Ini mengejutkanku ketika Kasim Teng ternyata begitu memahami para gadis. Aku bertanya-tanya bagaimana mungkin—apakah itu karena bagian bawahmu yang berubah." Secara alami Xiu Qixuan berkata dengan tajam. Dia menyeringai dingin.
Kalimatnya jelas merujuk pada kemampuan reproduksi pria yang sudah tidak berfungsi lagi ketika menjadi kasim.
Beberapa pelayan kediaman terkikik geli dengan tertahan menutup mulut mereka ketika mendengar perkataan berani sang nona yang memukul wajah kasim.
Xiu Qixuan memasang ekspresi kemenangan. Melihat Kasim Teng yang merengut gelap menahan malu.
"Xuan'er, kemari sekarang atau—" Yao Yunmei berkata dengan memelototinya penuh ancaman.
Segera setelah melihat keganasan kakak iparnya, Xiu Qixuan bergegas cepat untuk menemukan tempat duduk dan berperilaku lebih tenang mempertahankan martabatnya.
••••••••••••••
N/T: Hm, hm, hm. trnyta ayah Haocun tahu sejak awal kalo Xuan itu bukan Qiaofeng. nnti bakal ada penjelasannya diakhir konflik ayah dan anak ini. stay tune🤗
klepek-klepek sama Mo Ji Gui ga sih di part ini😜
(1). Memberikan tangan: Menjodohkan/ menawarkan sang putri kepada pria untuk menikah.