Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Generasi Ketiga, Xiu Yuheng.



Di koridor dengan lentera merah menggantung tinggi, mata Xiu Qixuan sangat cerah, sehingga orang tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Ini sudah waktunya jam malam tetapi untuk hari ini Kediaman Xiu pecah oleh pancaran kebahagiaan. Dimulai dari kegelisahan menunggu hingga bersemangat melihat.


Yao Yunmei melahirkan seminggu lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Kepanikan terjadi diantara para pelayan yang bertugas di Manor Hui. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama saat tabib datang untuk membantu prosesi melahirkan semuanya kembali kondusif.


Para pelayan berlalu-lalang dari dalam ruangan dengan membawa cawan besar berisi air yang memerah darah, mereka bergegas cepat menggantinya dengan cawan berisi air hangat yang bersih.


Suara kesakitan Yao Yunmei terdengar keras, di dalam sana Nyonya Muda itu sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk sang buah hati. Membuat yang mendengarnya ikut meringis ngilu.


Xiu Qixuan berdiri disudut koridor dengan ketenangan menyaksikan semua itu. Dibelakang tubuhnya, Xiao Rou berdiri dengan menundukkan wajah, ketidaknyamanan terpancar dari gadis pelayan itu.


"Xiao Rou, kau dapat kembali. Tidak perlu memaksakan diri untuk menemaniku." Suara jernih dan tenang milik Xiu Qixuan mengalun merdu.


"Nubi, baik-baik saja. Terimakasih atas perhatiannya, Nona." Jawab Xiao Rou dengan kesopanan yang sungkan.


Xiu Qixuan tidak menjawab dan hanya menatap lurus kearah depan. Gadis ini bukankah terlalu kejam kepada diri sendiri jika merubah sikap dengan sangat tiba-tiba dan langsung membuat batasan dengan semua orang.


Sejak kepulangannya, Xiu Qixuan menjadi lebih pendiam dan penyendiri. Bahkan pancaran yang dikeluarkan gadis itu menekan mereka semua yang ingin mendekat. Kesungkanan dan rasa hormat yang terbentuk dikalangan para pelayan menjadi lebih besar kepadanya.


Sedangkan untuk Xiao Rou dan Xiao Taoli masih berinteraksi dekat dengan Xiu Qixuan tetapi terasa sangat berbeda seperti terdapat selaput tak kasat mata yang membatasi mereka.


Tiba-tiba, suara nyaring tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan membuat semua orang menghelakan napas lega.


Beberapa saat kemudian, tabib wanita keluar ruangan bersama dengan Xiu Jierui yang tersenyum sumringah.


Jubah yang dikenakan Xiu Qixuan berkibar tertiup angin saat gadis itu dengan langkah berirama yang elegan mendekat.


"Nona Besar Xiu," Suara sang tabib wanita menyapa hormat saat Xiu Qixuan berdiri dihadapannya.


"Tabib Lin," Balas Xiu Qixuan dengan sedikit menunduk dan tersenyum tipis.


"Xuan'er, mengapa kemari? Ini tidak bagus untukmu." Ucap Xiu Jierui dengan mendengus tajam.


Hari ini sang ayahanda Xiu Haocun berada dikamp militer untuk pelatihan pasukan baru, Sedangkan Xiu Huanran terlalu sibuk berkeliaran dengan organisasinya. Hanya Xiu Qixuan yang penuh semangat malah hadir disini, padahal sudah diperingatkan bahwa ini adalah suatu hal yang tidak boleh gadis itu saksikan sendiri.


Xiu Qixuan menatapnya dan tersenyum tenang menjawab, "Dage, mengapa kamu hari ini begitu kaku? Aku hanya ingin melihat rupa keponakan kecil yang kuhadirkan diantara kalian." Suaranya begitu ringan dan tenang, mengungkit perannya dalam pembuatan sang keponakan kecil. Hal itu tentu saja membuat Xiu Jierui terbelalak malu dan mempelototinya dengan sangat tajam.


"Baiklah, baiklah. Kau bisa masuk, lihatlah sampai puas dan jangan kembali lagi." Dengus Xiu Jierui merenggut penuh kekalahan.


Xiu Qixuan hanya balas terkekeh kecil. Kemudian, Xiu Jierui harus mengantar Tabib Lin dengan sopan sampai kedepan gerbang utama kediaman. Menjadikan tersisa Xiu Qixuan yang ditemani oleh Xiao Rou yang perlahan melangkah untuk memasuki ruangan.


Dari balik tirai penutup terlihat Yao Yunmei yang bersandar kelelahan dipilar ranjang dengan menggendong sosok bayi mungil ditangannya.


Yao Yunmei menolehkan wajahnya saat mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Dengan melengkungkan senyum penuh kebahagiaan dia berucap, "Xuan'er, mendekatlah."


Xiu Qixuan mendekat kesisi ranjang dan para pelayan disekitar Yao Yunmei segera menyingkir untuk memberi ruang.


Sosok bayi mungil nan tampan dengan tubuhnya yang masih memerah terlihat menggemaskan dalam gendongan sang ibunda. Xiu Qixuan memandanginya dengan penuh kasih.


Yao Yunmei melahirkan seorang putra penerus generasi ketiga Keluarga Jenderal Xiu. Dengan ini posisinya sebagai Nyonya sudah mengakar kokoh di dalam keluarga.


"Heng'er memberi salam kepada bibi." Ucap Yao Yunmei dengan suara mengerut yang sengaja dibuat-buat meniru anak kecil, seolah itu mewakili sang bayi untuk memberi sapaan kepada Xiu Qixuan.


Senyum melengkung samar diwajah cantik gadis itu, "Siapa namanya?" Tanya Xiu Qixuan dengan tangan mengulur untuk mengusap pipi lembut sang bayi mungil.


"Xiu Yuheng." Jawab Yao Yunmei menundukan wajah untuk menatap lembut buah hatinya. Pancaran kebahagiaan seakan dapat menutupi wajahnya yang pucat pasi dan kelelahan.


Tubuh Xiu Qixuan seketika menegang dan gadis itu dengan cepat menarik tangannya dari pipi lembut sosok bayi kecil.


"Kau terlalu banyak berpikir, aku baik-baik saja." Jawab Xiu Qixuan dengan tegas tak ingin topik ini berlanjut.


Yao Yunmei mengangguk mengerti dan tidak ingin memaksa kemudian ibu muda itu berucap, "Gendonglah, Heng'er ingin mengenal bibinya." dengan tangan sedikit mengulur memperlihatkan sosok bayi tampan yang mengerjap tenang.


Xiu Qixuan mengangguk dan dengan kelembutan membawa bayi tampan itu kedalam dekapannya. Awalnya sang momo disudut ruangan ingin melarangnya, tetapi Yao Yunmei menatap tajam untuk memperingati agar tidak mengganggu mereka.


Xiu Qixuan sangat telaten dan penuh keluwesan dalam menggendong bayi, membuat orang yang melihatnya penuh keheranan. Padahal Yao Yunmei saja harus diajarkan oleh para momo dan masih kaku dalam menggendong bayinya. Tetapi Nona Besar Xiu yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar mengapa begitu berbeda?


•••••••••••


Seminggu Kemudian.


Bunga-bunga bermekaran indah membawa keharuman yang memabukan indra penciuman. Dibawah atap pavillun taman Kediaman Xiu, sosok kecantikan yang terlihat kesepian berdiri menikmati keindahan yang dibawakan oleh alam kepadanya.


Minggu pertama dalam musim semi berlalu sangat cepat. Xiu Qixuan termenung dalam, dia terlihat sangat kepayahan untuk merancang suatu jalan agar dapat cepat menyelesaikan semua ini.


Informasi yang diberikan oleh Dewi Yinxi mungkin membantu sedikit dalam penunjuk arah dan keputusan yang akan dibuatnya.


Gadis itu merasakan seperti sudah melupakan suatu hal yang sangat penting, dia berusaha keras untuk mengingat semua detail kejadian tetapi tetap saja tidak menemukan kejelasan dari kejanggalan dalam hatinya. Malah kepedihan yang dia temukan jika mengulik kenangan buruk itu.


Menarik napas panjang berusaha untuk menguraikan kegundahan dalam diri. Kemudian Xiu Qixuan berbalik, 'Brukk..' tubuhnya membentur sosok kurus yang ternyata adalah Xiao Rou.


Xiao Rou meringis karena terpelanting jatuh oleh benturan keras yang ditimbulkan dari kekuatan internal tubuh Xiu Qixuan. "Xuanxuan, kau kuat sekali!" Celetuk Xiao Rou dengan reflek yang tidak sopan.


Xiu Qixuan tidak menghiraukannya karena melirik benda yang keluar dari saku Xiao Rou.


Sedangkan, Xiao Rou buru-buru menepuk keras mulutnya sendiri dan mengerut penuh penyesalan karena mengira Xiu Qixuan marah.


Perlahan tubuh Xiu Qixuan berjalan menghampiri kemudian berjongkok dihadapan Xiao Rou, gadis ini begitu tenang tetapi mengeluarkan tekanan yang sangat besar.


Xiao Rou menutup kedua matanya dengan tubuh gemetar ketakutan, mengira Xiu Qixuan ingin memukul untuk melampiaskan amarah.


Tangan Xiu Qixuan terulur untuk mengambil benda yang menyembul keluar dari dalam lengan saku baju Xiao Rou. Itu adalah sebuah buku catatan kecil yang di dalamnya berisi banyak detail gambar benda ataupun manusia yang tergurat indah seperti dilukis oleh seorang perancang hebat.


Senyuman mengembang diwajah cantik Xiu Qixuan, dia seperti menemukan rencana dalam ide baru.


'Pukk.' Xiu Qixuan menepuk lembut pucuk kepala Xiao Rou, dia tersenyum berseri-seri.


Xiao Rou membuka kelopak matanya dan menatap sang nona dengan raut wajah penuh keheranan.


"Xiao Rou, mari kita kejar impianmu bersama!" Sebuah pernyataan tercetus dari bibir mungil Xiu Qixuan.


•••••••••••••


nubi: hanya digunakan oleh pelayan wanita untuk menyebut diri mereka sendiri.


momo: ibu pengasuh/pelayan wanita tua yang sudah senior.



Xiu Jierui, Yao Yunmei & bayi tampan, Xiu Yuheng.