
"Mengapa kamu membawaku, Ban Xia?"
Suara Shen Yuan Zi bertanya datar. Meskipun begitu—kerutan tak nyaman terpasang di wajahnya yang menawan.
Di bawah pohon cedar yang menjulang tinggi dengan gemerisik dahan dan hembusan angin malam yang menusuk kulit, sosok Ban Xia yang mengenakan pakaian misteriusnya perlahan mengeluarkan suara lugas untuk menjawab.
"Sesuai perintah, saya melaksanakan tugas dengan menyesuaikan semua tindakan saya untuk anda lakukan." Ban Xia menjelaskan dengan sopan, meskipun yang berdiri di depannya saat ini adalah Shen Yuan Zi yang tak menakutkan, dia tetaplah seorang bawahan yang penuh hormat. "Target berada di sekitar. Anda akan mengambil beberapa pendekatan."
Shen Yuan Zi menurunkan pandangan, tidak berniat mengatakan apapun. Namun, Ban Xia sekali lagi berbicara: "Target akan segera mendatangi anda. Saya sudah menebarkan sedikit aura iblis milik saya untuk dapat di deteksi olehnya."
Setelah mengatakan itu, Ban Xia dengan cepat pamit kemudian berbalik pergi.
Shen Yuan Zi berdiri kosong di bawah pohon cedar dan memandangi Ban Xia yang menghilang di kegelapan malam, bibirnya tanpa sadar terjepit erat. Dia ragu untuk ini.
••••••••••••••••••••
"Namun, apakah anda sendirian di tempat seperti ini saat tengah malam?"
Melontarkan pertanyaan serius, pandangan Xiu Qixuan mengetat dan bergerak meneliti sekitarnya dengan cermat.
Gadis itu tidak langsung menyadari bahwa ada situasi yang janggal pada sosok lawan bicaranya.
Mata Shen Yuan Zi memerah terguncang dalam, keringat dingin membanjiri tubuhnya yang gemetar penuh penderitaan seolah-olah gempa hanya sedang terjadi padanya. Ritme napasnya sekarang tak beraturan, jantungnya memompa begitu cepat, Shen Yuan Zi merasa tercekik oleh tangan tak kasat mata. Ini menyakitkan!
Dia memandang ranting panjang yang berisi ikan bakar dalam genggaman Xiu Qixuan itu dengan ketakutan. Dia berusaha menggerakan kedua kakinya untuk berlari menjauh, namun, tidak ada yang terjadi ketika seluruh anggota tubuhnya melemas tak bisa dia rasakan.
"Urgh!" Shen Yuan Zi terjatuh meringkuk dengan matanya yang menjerat terpejam dan kedua tangan dia gunakan untuk mencengkeram erat telinga juga kepalanya kala ingatan tak menyenangkan perlahan mengalir seperti kepingan kolase yang seketika menenggelamkannya ke dasar lautan penderitaan.
Bug!
Bug!
Bug!
"Sakit..., ini menyakitiku, kumohon ayah!"
Tubuh anak kecil yang begitu mungil di penuhi oleh noda merah darah. Ini menyedihkan kala melihat gigi anak itu tertancap dalam di bibirnya membuat luka robek kala dia berusaha menahan raungan tangis.
Dia tidak boleh merengek! Dia tidak boleh menangis!
Karena jika itu terjadi, penderitaan ini akan berlangsung lebih lama.
Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. Tubuhnya penuh oleh bekas luka kering yang di tambal oleh luka baru.
"Mengapa aku tidak memiliki kekuatan surgawi tetapi malah memiliki bajingan bodoh sepertimu?!!" Teriakan di penuhi gema amarah yang menakutkan dari sosok berjubah naga itu terdengar berdengung keras.
Jari-jemari anak itu gemetar terangkat untuk menggapai kemustahilan. Dia menatap sendu sosok sang ayah itu dengan penuh permohonan menyedihkan yang di balut oleh rasa putus asa.
"A—,aku ti-dak a-kan n-akal...," Suaranya yang tampak tercekat melemah, perlahan dia kehilangan seluruh indra perasa tubuhnya. "K-kumohon, ayah...."
Rasa sakit ini sudah tidak asing lagi untuk dia rasakan. Dia yang saat itu tidak tahu apa arti kekejaman. Yang hanya dia tahu adalah semua ini menyakitinya.
Sebuah papan panjang dengan sudut keras yang tebal itu seperti duri runcing yang tajam dan selalu mengoyak daging juga tulangnya.
Sosok petugas yang mengangkat papan dan menghunuskan cambuk berduri padanya juga sangat akrab untuk memberinya rasa derita.
Perlahan kesadarannya menipis di renggut oleh kesakitan yang tak berujung. Dia masih bisa mendengar suara sang ayah berbicara ketus memerintah.
"Seret keluar..., Kunci dia di istana dingin! Jangan sampai aku melihatnya lagi!"
Seperti sebongkah daging tak berharga di atas talenan yang membusuk. Dia di tinggalkan begitu saja sampai kering, oleh orang yang masih dia sebut ayah.
"Dia bukan manusia. Dia adalah serigala dan anjing."
"Lihat rambutnya itu seperti monster pemakan jiwa!"
"Bodoh. Jangan di sentuh, dia pembawa bencana!
Para pelayan yang di perintah untuk mengurusnya malah melontarkan cacian juga makian. Secara fisik dia terluka, secara mental dia kacau.
Jauh didalam dirinya sudah kering dan hancur berkeping-keping sehingga ujungnya bahkan tidak dapat terlihat. Karena itu yang dia inginkan hanyalah menghilang.
".....lia, Yang Mulia!!" Xiu Qixuan bersuara cemas, memanggil berulang kali dengan wajahnya di lingkupi oleh perasaan bingung dan khawatir. Dia berjongkok di hadapan Shen Yuan Zi dengan tangannya yang terangkat ragu untuk menyentuh bahu kurus yang tampak gemetar itu. "Apa yang salah? Masa anda takut ikan?" Xiu Qixuan berbicara seorang diri, dia mengangkat dan memutar-mutar tusukan ikan bakar yang sempat dipakai untuk di hunuskan pada sosok Shen Yuan Zi. "Memang ini senjata yang menakutkan, ya?" Gumamnya dengan bodoh.
"Urgh! Kumohon, ini sakit...," Shen Yuan Zi bergumam. Dia semakin meringkuk ketika merasakan sentuhan. Seperti berusaha untuk bersembunyi lagi di dalam cangkang yang membuatnya merasa aman. Dia mencicit berusaha memanggil kegelapan di dalam diri yang bisa melindunginya "Mo—," Terjeda.
Greb...
"Hngh, Tidak apa-apa. Tidak apa-apa...," Xiu Qixuan merengkuh tubuh yang gemetar dan menepuk-nepuk punggung kurus itu dengan lembut. Dia terus-menerus membisikkan kalimat menenangkan di telinga Shen Yuan Zi. "Aku bukan ingin memukulmu. Tidak apa-apa. Jangan takut...,"
Tubuh Shen Yuan Zi menegang oleh kehangatan yang asing. Tapi, perasaan nyaman yang melingkupinya secara alami bergulir membuat ketegangan tubuhnya perlahan berkurang.
Ketakutan yang tumpah ruah ini berangsur-angsur menyusut hilang hanya dengan satu uluran tangan yang merengkuhnya dalam bisikan hangat.
Merasakan hela napas lembut bagai angin musim semi dan suara detak jantung kecil. Masing-masing dari mereka sekarang membisu, membiarkan buaian bulan yang menatap mereka dari langit itu bekerja menghisap semua kegelisahan yang ada.
Detik berikutnya, ketika merasa lawan bicaranya sudah lebih tenang, secara perlahan Xiu Qixuan menarik tubuhnya menjauh. Dia sedikit mengambil jarak untuk menatap sedih pada sosok Shen Yuan Zi yang kosong.
Xiu Qixuan menyadari. Dia mengerti. Sikap dan gesture pertahanan yang berkali-kali terlihat kala merasakan sentuhan. Semua itu, mungkin karena rasa trauma Shen Yuan Zi akan kekerasan yang sudah di alami sejak belum mengerti apapun.
Dia memang tidak mengetahui bagaimana penderitaan itu berlangsung. Dan, berapa lama siksaan itu terjadi. Tapi, Xiu Qixuan tidak bisa untuk tidak merasa emosional.
Shen Yuan Zi terlihat sangat kesepian dan rentan. Kelahiran bayi setengah dewa dan manusia memang sesuatu yang mustahil dan keberadaan Shen Yuan Zi sendiri sudah di benci oleh dunia. Tapi, memang apa salahnya? memang dalam kondisi penuh luka menyedihkan ini—dia masih bisa menghancurkan dunia?
Hidupnya sudah lebih menderita di bandingkan yang lain sampai terasa dia tidak bisa membuka mata karena kekerasan dan pengucilan mental sejak kecil. Meskipun masih hidup, rasanya sudah seperti mati.
••••••••••••••••••