Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kegemparan Negara?



Waktu perburuan hampir habis. Peserta dengan rombongan mereka dapat kembali menuju tempat perkemahan untuk mengumpulkan dan menyerahkan hasil buruan. Yang tiba pertama adalah Pangeran Kelima, Shen Zongshun. kedua adalah Pangeran Ketujuh, Shen Ruan Ye. Dan ketiga adalah Pangeran Pertama Shen Minwei yang di dampingi oleh Ajudannya.


Sampai hasil buruan dari ketiga Pangeran telah selesai di hitung dan hendak di umumkan. Empat rombongan peserta lain tidak kunjung terlihat. Shen Yuan Zi, Shen Wanqi, Shen Kaicheng dan Xiu Qixuan. Entah apa yang membuat mereka tertahan.


Setengah jam pun berlalu. Membuat Pangeran Pertama yang berada diatas kursi roda membuka suara.



"Fuhuang. Daripada menunggu dengan cemas, bukankah lebih baik memanggil orang untuk melihat keadaan." Dia berkata dengan bijaksana.


Karena semua orang mulai cemas. Kaisar menggangguk setuju, dan segera mengangkat kelima jarinya untuk memberi isyarat perintah.


"Lapor!!!"


Namun, tiba-tiba dari pintu berlari seorang prajurit dengan tubuh penuh luka. Dia berlutut membanting diri ketanah dan berkata: "Lapor Yang Mulia Kaisar. Pangeran Ketiga mendapat serangan di tengah jalan dan kelompok itu—mereka..." tergagap. "....Membawa Pangeran Ketiga yang terluka."


Brakk!!!


"Siapa yang berani?!" Wajah Kaisar memerah. Merajut alisnya dengan suram. Dia memukul meja sampai membuat retakan.


Semua orang terkejut dan menunduk dalam diam dengan perasaan berat yang mencekik. Meskipun Pangeran Ketiga tidak mendapat kasih sayang Kaisar tapi siapa yang memiliki nyali untuk benar-benar menyerang keturunan langsung kekaisaran.


"Bagaimana dengan putraku? Shen Wanqi, Pangeran Kesembilan di mana dia?" Permaisuri beranjak dengan cemas menanyakan. Dia sejenak kehilangan kesabaran dan memperlihatkan sifat pilih-kasih yang seharusnya tak boleh dimiliki oleh ibu kekaisaran.


Prajurit itu hanya diam. Wajahnya tersirat kebingungan. Seperti ini tidak ada di dalam skenario yang dia ketahui. Seharusnya semua orang kecuali satu yang dijadikan kambing hitam berkumpul ketika dia melaporkan Pangeran Ketiga yang diserang.


"Permaisuri..." Saat Kaisar hendak menegur. Itu terjeda dengan kedatangan kembali seseorang. Tapi berbeda dari sebelumnya, orang ini berpenampilan rapih dan menghadap sesuai etiket. Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan postur tubuh kokoh dan kulit sedikit gelap yang kasar.


"Lapor Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri." Dia adalah kepala prajurit yang berpatroli sepanjang arena perburuan. Dia orang lurus dan bersih. Melakukan tugas dengan semestinya tanpa berpihak. Karena setiap orang yang bekerja dipihak Istana memiliki tuan mereka tersendiri.


"Ada bekas sisa serangan dekat jurang kematian di barat daya. Saya sudah memeriksa mayat mereka satu persatu dan itu adalah kelompok penyerang tak dikenal."


Kepala Prajurit mengangkat lirikan tajam ke samping, dalam intimidasi menatap sosok prajurit kecil penuh luka yang sebelumnya melapor. "Kami memang menemukan rombongan Pangeran Ketiga sejauh lima ratus meter dari tempat kejadian."


Dia tidak menjelaskan lebih detail ketika menemukan sesuatu janggal masih dalam penyelidikan. Itu membuat prajurit kecil di sampingnya berkeringat dingin.


"Namun kemungkinan besar seseorang selain Pangeran Ketiga juga ikut terjatuh dari atas tebing, Yang Mulia. Dan ini yang saya temukan." Ujarnya dengan memberikan benda yang terbungkus sapu tangan pada Kasim kecil untuk dibuka. Itu berisi giok camar dan kipas tangan yang mencolok mata.


Tiba-tiba suara Permaisuri yang tercekat histeris, "Yang Mulia! Liontin giok itu miliki Wanqi! Qi'er, dia—...."


Pangeran pertama ikut membuka suara menyembunyikan kekhawatiran namun lebih tenang dan halus didengar. "Fuhuang, adik kedelapan selalu memiliki benda ditangannya. Anda harus mengirim lebih banyak orang untuk pencarian." Kipas tangan emas yang mencolok mata itu, begitu menonjol dan menggambar kepemilikan sang Pangeran Delapan yang bersifat norak.


Kedua benda yang ditemukan dekat jurang kematian tersebut milik sang pangeran.


Seperti tersambar guntur yang begitu kuat. Wajah orang-orang retak karena terkejut. Jurang kematiaan di barat daya adalah tempat menyeramkan. Tidak ada yang berhasil selamat jika terjatuh di sana. Itu juga tempat yang tidak tersentuh oleh manusia. Karena tidak ada jalan selain memanjat tebing untuk keluar. Seperti terperangkap sampai menunggu kematian.


Mengapa ada dua kabar penyerangan yang berbeda secara bersamaan? Jadi, bagaimana kronologis sebenarnya?


Tiga orang keturunan Kaisar Shen dalam bahaya, itu cukup menggoyahkan dan membuat gempar Negara.


Mata tajam Kaisar seperti mencabik-cabik Kasim Teng yang menunduk gemetar di sebelahnya. Baru kali ini bawahannya itu teledor melakukan kesalahan dalam bertugas.


•••••••••••••••••••••


Satu Jam Sebelumnya...


Matahari bersembunyi di balik awan. Hembusan angin membentur pepohonan. Langit menjadi gelap keabuan bersiap memuntahkan gumpalan air hujan.


Dari atas pelana. Rambut seperti benang perak itu berayun mengikuti arah hembusan angin. Dia dingin tanpa ekspresi. Seperti patung yang memiliki pahatan sempurna.



Angin berhembus lebih kencang seperti dapat menerbangkan orang. Tanah rerumputan basah berubah menjadi jalan bebatuan yang licin penuh lumut. Kuda yang ditungganginya meringkik tak nyaman.


Shen Yuan Zi manusia yang penakut. Kebodohan dan trauma yang menggerogoti. Namun, dia tahu dia tidak akan mati begitu saja di sini. Karena jika dia dalam bahaya, dia hanya perlu bersembunyi dan sosok iblis parasit yang tertidur di dalam tubuhnya akan muncul membinasahkan semua.


Tapi..., kali ini berbeda. Dia tidak ingin bersembunyi. Tidak ingin menghilang. Tidak ingin tertidur dalam kegelapan. Ada yang ingin dia perjuangkan. Melihat wajah cantik tetapi kuat yang sekali lagi berbicara padanya.


Shen Yuan Zi tiba-tiba mengangkat matanya, "Berhenti!" Suaranya mencekam memerintah.


Rombongan yang mengikutinya terkejut. Namun, satu dari mereka berkata ketus tanpa sopan santun; "Yang Mulia Pangeran, anda mungkin tidak tahu. Tapi kita harus kembali ke tenda perkemahan ketika waktu perburuan sudah hampir selesai."


Walaupun sedikit bergetar Shen Yuan Zi menstabilkan suaranya dan berbicara lebih keras: "Memangnya ini jalan ke tenda perkemahan? Kalian membodohiku 'kan."


Setelah dia berbicara semuanya hening.


Udara mengepul di sekitar mereka. Sepersekian-detik membuat kabut mencekam. Dan bunyi gedebuk dari tubuh yang membentur tanah terjadi bergantian.


Shen Yuan Zi tercekat menarik napasnya dengan kejadian cepat yang tiba-tiba.


Ketika kabut berangsur-angsur hilang dan penglihatan kembali jernih, rombongan prajurit yang bersamanya sudah terkapar dingin seperti orang mati.


Hanya tersisa satu sosok yang berdiri kokoh. Itu adalah prajurit yang sempat pagi tadi masuk ke dalam tenda miliknya dan menjatuhkan bingkisan permen buah juga pesan dari seseorang.


Suara tapak kaki kuda menarik perhatiannya.


Diatas kuda dan jalan bebatuan licin, wanita cantik itu mengendarai kuda dengan kecepatan seperti cheetah. Menakutkan untuk dilihat namun begitu menakjubkan ketika tanah mengepul seiring kedatangannya.


Hembusan angin meniup gulungan rambut yang seperti sutra, itu berayun dengan lembut. Mata jernihnya menatap lurus dari atas kuda tanpa takut.


Menarik tali kekang kuda, dia berhenti. Dan berkata pada sosok prajurit yang berdiri kokoh seakan sudah menunggu.


"Oh.., Xiao Tao. Kamu melakukan pekerjaan yang bagus." Dia melompat dari atas pelana dan menghampiri pria berpakaian prajurit itu dengan reflek jari-jemari lentiknya terulur sebentar mengusap kasar pucuk kepala sang bawahan.


Percikan keirian tercetak di wajah Shen Yuan Zi. Jantung yang berdetak seperti tersengat tak nyaman menyaksikan semua itu.


"Tentu saja." Xiao Tao menimpali sombong.


Pakaian berburu membalut tubuh kecil wanita itu dengan keren. Tapi, entah mengapa dia tetap manis ketika menghitung.


"1..,2..,3..,4..,5..,6..,7..,8..," Langkahnya memutar dan mulai menghitung tubuh para prajurit yang terkapar di tanah.


Dia mengangkat matanya dan serius berkata pada Xiao Tao, "Jumlahnya sesuai dugaanku."


"Prediksi yang tepat Nona. Mereka semua prajurit baru yang tidak mengerti peta wilayah. Hanya satu prajurit yang kompeten dalam rombongan ini, namun ditengah jalan dia meminta kami meninggalkannya karena alasan kakinya kram dan menyerahkan penjagaan Sang Pangeran." Xiao Tao menjelaskan.


Senyum tipis terbentuk seperti seringai di wajah cantiknya. Itu adalah Xiu Qixuan. "Yaa.., seekor anjing kecil yang diberi makan oleh Kaisar." Simpulnya.


Menyadari sepasang mata elang yang sejak tadi tertuju padanya. Xiu Qixuan segera menoleh dan ekspresi nya menjadi lebih lembut. Dia menatap Shen Yuan Zi yang masih berada diatas pelana dengan manis namun tidak menyembunyikan guratan mengasihani di wajahnya.


Kaisar menargetkan Shen Yuan Zi. Entah alasan apa yang membuatnya begitu tega. Bahkan seekor harimau tidak memakan anaknya.


Mengisi kekosongan peserta di perburuan itu omong kosong. Kaisar ingin menumbalkan orang sebagai kambing hitam jika sesuatu terjadi pada Pangeran Ketiga yang sudah ada dalam skenarionya.


•••••••••••••••••••••