
Terdapat duri di dalam setiap ucapan yang di lontarkan oleh Xiu Qixuan. Duri yang kembali mengoyak lukanya,—luka yang telah membusuk terlalu lama.
Mata Xiu Qixuan terjerat oleh bayangan kebencian yang mengerikan, kuku jarinya terkepal melukai kulit telapak tangannya; "Satu hal yang kupelajari, ayah." Ia berkerut melanjutkan dingin, "Terus berdiam diri saja atau menjadi kuat sampai tidak bisa tersentuh."
Wajah Xiu Haocun bergetar sedih dan cemas; "Tidak, Xuan'er..." Ia menggelengkan kepala dengan cepat bergegas menghampiri Xiu Qixuan dan mencengkeram lembut kedua sisi bahunya.
Xiu Haocun dapat mengerti dengan jelas, awan hitam yang menyelimuti Xiu Qixuan adalah sebuah kebencian yang meluapkan ambisi untuk membalas dendam.
"Ayah, aku harap kamu mengerti." Xiu Qixuan berbisik rendah. "Aku bersumpah akan membuat orang itu menebus semua dosa dan penderitaan yang dia berikan dengan kepala sebagai gantinya." Suaranya membentuk variabel menggila yang begitu dingin menusuk kulit secara arogan.
Seketika, pemandangan di depan Xiu Haocun bergetar. Kemarahan dan kecemasannya membuat penglihatannya tumpul.
"Cukup, Xuan'er!" gertaknya
"Tidak, ayah!" Xiu Qixuan balas berteriak dengan emosi menggebu. "Kamu tidak mengerti. Shen Zhenning yang kamu anggap sebagai saudara itu telah melakukan begitu banyak dosa. Dia lebih menjijikan daripada binatang sekalipun—"
"Hentikan, kubilang cukup!"
Keheningan berlangsung sejenak. Keduanya sama-sama terbalut oleh kekalutan emosi. Ketegangan semakin pekat di dalam ruangan tersebut.
Napas Xiu Qixuan tersenggal, ia mengertakkan giginya dan berkata tegas; "Aku akan pergi ke Ibukota. Saat dekrit kekaisaran tiba untukku memasuki istana. Jadi, ayah... Kumohon jangan menghalangiku."
Mendengar perkataannya, Xiu Haocun menjadi lebih terbelalak marah; "Xiu Qixuan, kuperingatkan. Dunia tidak semudah itu ditaklukan hanya karena kau pintar dan beruntung. Cepat kembali ke kamarmu dan patuhlah!" Dia meninggikan suaranya untuk berkata keras kemudian berbalik memunggungi Xiu Qixuan dengan dingin.
Wajah Xiu Qixuan muram, dia mengepalkan tangan dan menatap punggung lebar sang ayah. Bibirnya yang gemetar sedikit mengatup rendah; "Kalau sudah waktunya, seekor burung juga harus meninggalkan sarangnya. Dunia yang menakutkan juga akan melahapku sampai habis jika hanya terus berdiam."
Kemudian dia berbalik, langkahnya terhenti ketika sampai di ambang pintu untuk kembali berkata; "Tenangkanlah dirimu, ayah. Kita akan membicarakannya lagi nanti. Soal ibu dan saudariku, Qiaofeng..."
Pintu di belakang punggung Xiu Haocun ditutup dengan bunyi gedebuk.
Menyisakan Xiu Haocun yang sama sekali tidak bergeming, tenggelam dalam pikirannya yang terkejut.
Xiu Qixuan berjalan dengan wajah mengeras suram, matanya berkilat tajam seolah-olah ingin menebas orang. Para pelayan yang sedang berlalu-lalang di sekitar koridor menjadi menggigil ketakutan untuk menyapanya dan memilih untuk segera menyingkir.
"*Saat itu aku tidak sengaja membaca surat yang berperan sebagai perantara komunikasi Yang Mulia Kaisar dengan suamiku, Xiu Hongyi*."
"*Yang Mulia Kaisar membuat kesepakatan dengan suamiku,— pengkhianatan berdarah di gerbang Kota Hu. Kekalahan perangan sampai kematian adalah salah satu cara mereka untuk menggoyahkan kekuatan atau menghilangkan Haocun*."
"*Yang Mulia Kaisar berjanji akan mempromosikan jabatan kepada suamiku, Xiu Hongyi. Tapi, pada akhirnya dia tidak berbelas kasih. Haocun kembali, rencana mereka tidak berjalan lancar dan suamiku segera di bungkam oleh racun yang di berikannya*."
Percakapan dengan Chu Yu terus terputar dalam benaknya yang sedang tidak bisa berpikir jernih.
Setiap kata membuatnya merasa seperti ditarik kedalam jurang kebencian tanpa dasar.
Shen Zhenning, entah bagaimana nama itu membuatnya muak sampai mati.
Dia marah pada Dewi Nuwa yang bersikap seenaknya pada hidupnya. Dia marah pada Dewi Yinxi yang dengan bodoh terombang-ambing oleh perasaan yang bernama cinta. Tapi dia lebih marah pada Shen Zhenning, badebah itulah yang mengawali semua penderitaannya dan membentuk kekacauan di sekitarnya.
Xiu Qixuan melangkah menuju Manor Xing, ia tidak berniat kembali ke aula leluhur. Penjaga pintu segera membuka pintu manor ketika melihat kedatangannya.
Tepat sekali, Xiao Rou yang berjalan keluar dari ambang pintu menuju teras. "Nona, anda kembali!" Ia segera berlari menghampirinya.
'En...' Xiu Qixuan hanya berdeham datar sembari terus berjalan memasuki ruangan tempat tinggalnya.
Tapi, dia tetap melangkah menuju belakang bilik yang membatasi ruang tamu dengan kursi tempatnya bersantai.
Xiu Qixuan berkedip ekspresif tanpa sadar berseru; "Yunmei jiejie! Ouh, sih imutku. Yuheng kecil, datang."
Di depan sana terlihat Yao Yunmei dengan putra kecilnya—Xiu Yuheng, mereka duduk di atas kursi dengan Yao Yunmei yang terus berceloteh riang mengajak sang anak bermain.

Yao Yunmei mengangkat pandangannya, dan tersenyum senang; "Gadis nakal, kau masih mengenal jalan pulang ternyata. Padahal kalau kau tidak kembali juga, aku ingin meratakan manor ini."
Xiu Qixuan terkekeh kecil dan mendengus membentuk seringai keluhan; "Humph, kakak ipar yang tidak datang membantuku keluar dari aula leluhur—ada urusan apa sekarang berlari kemari menemuiku?"
Yao Yunmei tidak mengubah ekspresinya. Profilnya yang anggun memberi kesan natural saat dia menjawab ringan; "Aku adalah menantu yang berbudi luhur. Bagaimana bisa aku melawan keputusan yang sudah di buat oleh ayah mertuaku. Lagipula, pembuat onar sepertimu ini harus merasakan hukuman tegas di aula leluhur."
Xiu Qixuan berdecak lidah, dan menepuk tangan sembari menggelengkan wajahnya berpura-pura kagum. "Wah, wah. Yunmei jiejie layak dijadikan panutan untuk para wanita yang akan segera menikah."
"...." Sejenak, Yao Yunmei terdiam. Matanya tenggelam menatap Xiu Qixuan yang sudah terduduk di sebelahnya dengan hangat memangku dan mengajak Xiu Yuheng bermain.
Tiba-tiba, Yao Yunmei menarik napas tajam sebelum akhirnya bertanya; "Jadi, bagaimana denganmu? Apakah aku juga menjadi panutanmu untuk segera menikah?"
"Tidak." Xiu Qixuan menjawab dengan cepat tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pipi tembam Xiu Yuheng.
Mata Yao Yunmei membawa jejak kegelisahan dan sedikit menyelidik, mengawasinya dan kemudian menghela napas.
"Kamu pasti sudah mendengarnya mengenai pemilihan permaisuri pangeran." kata Yao Yunmei dengan nada yang dangkal.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk pergi ke Ibukota." Xiu Qixuan menjawab datar tanpa perubahan ekspresi apapun.
"Apa?!" Mendengar perkataannya, Yao Yunmei terkejut. "Bukankah ayah mertua berkata tidak mengizinkanmu? Itulah sebabnya dia menjagamu di dalam aula leluhur." Dia bereaksi berlebihan, memuntahkan banyak pertanyaan dengan mencondongkan tubuhnya kearah Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, berkata; "Kami bertengkar."
Yao Yunmei diam mengamati raut wajah muram Xiu Qixuan dengan cermat, wanita satu anak itu keheranan.
Tiba-tiba, Xiu Qixuan mengangkat wajahnya mantap dan menyeringai penuh kilau percaya diri; "Tapi, Yunmei jiejie tenang saja. Aku tidak akan menikah. Aku akan berusaha untuk kalah dalam kompetisi. Aku datang kesana karena ingin memastikan kotoran yang menjijikan sebelum membuangnya."
•••••••••••••••••