Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Chuntao 145 Tahun



'Duar... Duar...'


Warna-warni kemeriahan langit malam yang dihiasi oleh ledakan kembang api mempesona penglihatan.


Kerumunan orang berdesakan dengan lengkungan senyuman tawa yang tidak kunjung lepas diwajah masing-masing.


Diantara kerumunan itu, hanya terdapat satu orang yang tidak benar-benar menikmatinya. Dilihat dari matanya yang tajam menelusuri sekitar seolah-olah sedang memastikan sesuatu.


Tepat disebelahnya, seorang gadis berpakaian pelayan terlihat berseri-seri menyaksikan pertunjukan kembang api yang memancar dialun-alun kota.


Entah apa yang berada dipikirannya. Ia menarik keras tangan gadis pelayan pendampingnya dan dengan cepat melesak masuk keantara banyak orang di kerumunan.


"Nona, ada apa?" Tanya Xiao Leng terkejut dan terseok mengikuti langkah sang nona yang menarik erat lengannya. Ia sedikit meringis karena sentakan demi sentakan dibahunya yang terasa perih akibat berbenturan dengan banyak orang.


"...." Sang nona tidak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya. Raut diwajah cantik itu begitu datar, tetapi, pancaran matanya berkedut kencang.


Mereka berhenti disalah satu ujung jalan yang gelap dan sepi. "Pakailah." Sebuah jubah yang terbuat dari bulu rubah hutan dilemparkan tepat kearah Xiao Leng.


"Kau lengah, Xiao Leng." Suaranya mengalir tenang dan damai. Tetapi, itu merupakan sebuah teguran seorang pemimpin yang menusuk sang bawahan.


Seperti kembali tersadar oleh akal sehat yang seharusnya dimiliki. Xiao Leng berwajah pias dengan kerutan rasa bersalah.


'Brukk..' Tubuhnya meluruh jatuh untuk berlutut. "Mohon hukuman bagi kelalaian saya, Ketua." Ucapnya bergetar.


Panggilannya berubah karena pada saat ini, ia berhadapan dengan sang majikan yang berdiri diposisi nyata sebagai Ketua Qi Qi dari Divisi Rubah. Bukan sebagai seorang Nona Pengajar.


Xiu Qixuan melirik sekilas kearah Xiao Leng, "Bangunlah." Perintahnya.


Xiao Leng dengan patuh berdiri. Wajahnya masih menunduk tidak berani menatap langsung karena tertutupi oleh rasa malu dan juga rasa bersalah.


"Untuk kali ini aku tidak mempermasalahkan keteledoranmu." Ucapnya santai namun tajam.


"Ya?" Terkejut Xiao Leng mendongakkan sebagian wajah dengan kerutan bingung. 'Masa semudah ini?', Batinnya.


Pasalnya, sebagai bawahan yang memiliki keterampilan diakui handal. Keteledoran seperti ini adalah hal memalukan.


Xiu Qixuan menariknya pergi dengan memasuki kerumunan orang untuk mengecoh mata-mata yang mengikuti mereka.


Tanpa dipastikan lagipun, Xiu Qixuan sudah mampu menebak dalang yang mengirim mata-mata tersebut. Siapa lagi kalau bukan Kaisar Xia Qian Che yang memang selalu mewaspadainya.


Pada saat ini, tujuan Xiu Qixuan adalah untuk membuat pertemuan rahasia dengan para anggota Divisi Rubahnya yang tersebar di Ibukota. Ia ingin memberikan perintah terbaru pada rencana akhir mereka.


Seluruh orang dalam Kediaman Qi adalah bawahan yang ditempatkan oleh Xia Qian Che, mereka tidak dapat dipercaya. Tidak mudah untuk menyusup keluar, jika sudah memasuki kediaman.


Maka dari itu ditengah perjalanan, Xiu Qixuan sengaja mengecoh sang kusir dengan alasan kekanakan yang cukup masuk akal bagi seorang gadis muda ingin bermain dialun-alun kota.


Tetapi, tentu saja tidak akan semudah itu melepaskan pengawasan. Dilihat dari kejadian sebelumnya dimana mata-mata tersebut masih mengikuti. Malah bertambah lebih banyak lagi diantara kerumunan orang.


Segera Xiu Qixuan membalut tubuhnya dengan jubah hitam kemudian menutup sebagian wajahnya dengan tudung kepala.


"Namun kau sendirilah yang akan membereskan para serangga itu, Xiao Leng." Ucapnya dengan melirik datar.


Mendengar perkataan tersebut, Xiao Leng tersenyum penuh semangat. "Ya, saya mengerti." Balasnya dengan tangan terkepal erat.


Itu adalah kesempatannya untuk memperbaiki kesalahan. Sebelumnya Ia kehilangan rasa waspada sampai tidak menyadari keberadaan mata-mata tersebut.


"Baiklah, sekarang cepatlah pakai terlebih dahulu jubahmu dan ikuti aku." Perintahnya.


********


'Cring..Cring..'


Dua gadis asing perlahan melangkah masuk dari balik celah pintu yang terbuka. Mereka terlihat misterius dengan jubah berbulu kebesaran yang sengaja dipakai untuk menutupi identitas.


"Selamat datang pelanggan terhormat." Sapaan ramah penjaga toko yang sedang bertugas untuk melayani permintaan.


'Takk...' Sebuah koin emas di letakannya tepat di hadapan sang penjaga toko. Kalau lebih diamati lagi, dalam badan koin emas itu terdapat gambar kepala rubah yang berwajah angkuh.


"Chuntao 145 tahun." Itu adalah suara Xiao Leng yang menunjukan sedikit kode otoritas.


Disampingnya, berdiri Xiu Qixuan yang menunggu datar tanpa melakukan apapun.


Wajah penjaga toko berubah, ia terlihat tegang penuh kehati-hatian. "Arak Chuntao berusia 145 tahun sedang kosong. Apakah Anda ingin melihat jenis lain di gudang kami?" Ucapnya menjawab kode rahasia dari petinggi mereka.


"Ya, bawa kami." Balas Xiao Leng.


Penjaga toko tersebut segera mengarahkan mereka berjalan melewati koridor ruangan menuju gudang belakang.


Sesampainya di dalam gudang yang tersusun banyak botol arak yang menguarkan aroma memabukan. Dilihat darimanapun, itu masih gudang biasa tanpa keistimewaan tertentu.


Tetapi, ketika penjaga toko tersebut dengan sengaja memecahkan salah satu botol arak tepat diatas lubang antara celah kecil disudut lantai, 'Crack...' tiba-tiba lantai itu terbuka menampilkan sebuah tangga menuju bawah tanah.


Perlahan mereka melangkah menuruni anak tangga dibawah cahaya yang samar. Semakin turun kedalam, cahaya lebih terlihat menyala terang dengan udara yang mengambang dingin.


Menampilkan sebuah ruangan bersantai dengan bantalan kursi. Diujung ruangan terdapat penghangat ruangan yang belum menyala.


"Hamba menyapa hormat, Ketua Qi." Penjaga toko tersebut segera membentuk kepalan tangan didepan dada dan kemudian sedikit membungkuk.


"Ya, tegapkanlah tubuhmu." Jawab Xiu Qixuan dengan membuka tudung jubahnya.


"Hey, kau! mengapa penghangat belum dinyalakan? Ketua akan mati membeku disini." Sentak Xiao Leng dengan tiba-tiba.


Penjaga toko tersebut terkejut dengan gelisah berucap, "Maafkan saya, Ketua. Saya akan segera menyiapkan semua keperluan agar Anda beristirahat dengan nyaman."


Xiu Qixuan melambaikan tangan membentuk isyarat perintah, "Tidak perlu. Nyalakan saja penghangat ruangannya dan pergi kabari Komandan Xiao Taoli untuk segera menemuiku." Ucapnya.


"Baik." Jawab penjaga toko tersebut. Segera setelah penghangat ruangan dinyalakan, Ia bergegas pergi.


Xiu Qixuan menghempaskan dirinya diatas bantalan kursi. 'Haa...' Helaan napas terdengar dari celah bibirnya dengan matanya yang terpejam erat.


Disisi lain, Xiao Leng memandangi wajahnya dengan tatapan sayu yang sedih.


Entah mengapa Xiao Leng selalu dapat merasakan bahwa sang nona seperti tercekik oleh suatu tangan yang tak kasat mata.


Bahkan bernapas seperti kebanyakan orang -pun terlihat kesulitan dan kesakitan. Seperti ikan yang tidak dapat bernapas di daratan.


Dia memancarkan kelelahan yang sendu, bukan hanya tubuh melainkan juga jiwa.


"Ada apa? Mengapa melihatku seperti itu?" Sebuah suara mengejutkannya. Itu adalah Xiu Qixuan yang perlahan membuka kelopak matanya, memperlihatkan bola mutiara hitam yang cemerlang tajam.


"Tidak ada. Ketua dapat sejenak beristirahat dan bersantai." Ucap Xiao Leng dengan tersenyum hangat.


Xiu Qixuan mendengus samar. "Sepertinya sudah lama aku lupa caranya untuk benar-benar bersantai." Balasnya.


"Hah, sudahlah. Jangan banyak omong kosong." Lanjutnya lagi dengan melengos dingin.


Dulu ia hidup untuk menikmati setiap detik napas kehidupan. Tetapi, entah sejak kapan ia hidup untuk menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan.


Bahkan disetiap langkah akan terasa berat, ia tidak punya waktu untuk banyak hal. Permintaannya hanya satu, yaitu ingin cepat kembali pulang ketempat dimana ia seharusnya berada.


•••••••••••••