Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Tekad Yang Menekan Keegoisan



'Ugh..' Ringisnya dengan hidung berair yang memerah. Suara gesekan dari jubah yang dikenakannya terdengar ketika gadis itu tergesa berbalik badan untuk menyembunyikan wajah sakit yang tak pantas diperlihatkan kepada seorang Kaisar.


"Eum.. maafkan ketidaksopanan hamba, Yang Mulia." Suaranya yang berdecit gugup menahan udara canggung. Penyebutannya yang kembali formal terkesan menarik batasan.


Sesuai peraturan tidak tertulis bahwa seluruh orang yang berhadapan langsung dengan Kaisar harus menunjukan penampilan terbaik mereka yang dapat diartikan sebagai bentuk menghargai dan menjaga martabat Kekaisaran. Bagaimana bisa ia bersin tepat di depan wajah seorang Kaisar? Itu sama saja menunjukan wajah berpenyakit yang melanggar.


Xia Qian Che memandangi punggung kurus yang membelakanginya itu dengan kilatan senyum yang terlihat samar, "Kita tidak berada di Istana, jadi tidak perlu penyebutan seperti itu." Ucapnya.


Xiu Qixuan mengangguk, tak ingin berbicara lebih jauh karena kelelahan dan juga kepalanya yang memberat pening. Ia beranjak berdiri untuk menghampiri sebuah batu besar yang berada dalam sudut goa. "Kalau begitu aku akan beristirahat sebentar." Ucapnya dengan singkat.


Ketika ia beranjak, rambut panjang yang menjuntai itu tersibak memperlihatkan luka goresan cukup dalam di kulit lehernya yang halus. "Tunggu!" Suara Xia Qian Che terdengar keras untuk menahan langkahnya yang bergerak maju.


Xiu Qixuan segera berbalik dengan sedikit memiringkan wajahnya memasang raut penuh tanya.


Di depan sana terlihat Xia Qian Che yang beranjak untuk menghampiri dengan raut wajah kaku yang serius. Pria itu perlahan melangkah dan berdiri tepat dihadapan Xiu Qixuan yang mengernyit bingung.


Jari-jari kokoh itu perlahan terulur untuk menyentuh goresan luka yang menghitam dengan lembut nan ringan. "Lukamu?" Suaranya datar tetapi menyembunyikan sirat kecemasan dikilat matanya.


Merasakan sensasi tak nyaman, Xiu Qixuan segera melangkah mundur untuk menghindari sentuhan yang lebih jauh.


"Ah, ini hanya goresan kecil. Tidak perlu di khawatirkan." Ucap Xiu Qixuan dengan ringan tangannya meraba luka tersebut. Itu adalah goresan luka dari pedang iblis Mozi.


Ia sudah menekan pendarahan dengan kekuatan aura kehidupannya tetapi tidak mudah untuk langsung menyembuhkan luka dari kekuatan iblis.


Demam yang melanda tubuhnya saat ini, juga dapat diperkirakan karena esensi aura kehidupan ditubuhnya menolak keberadaan esensi iblis dari luka tersebut layaknya sistem imunitas yang melawan virus.


Helaan napas panjang tedengar ketika Xia Qian Che memandangi wajah gadis itu dengan raut tak biasa. "Pakailah!" ia melemparkan sehelai sapu tangan dengan suaranya yang ikut memerintah.


Xiu Qixuan menangkap lemparan sapu tangan tersebut dengan gerakan reflek. Tanpa berbicara apapun karena sudah malas, ia tak menolak dengan segera mengikatkan sapu tangan itu untuk membalut lukanya.


Disisi lain, Xia Qian Che melangkah kesudut goa yang terdapat sebuah batu besar. Ia melepas jubah berbulu miliknya dan membentangkan diatas senderan bebatuan tersebut.


Setelah mengikatkan sapu tangan untuk membalut lukanya, Xiu Qixuan kembali terpana ketika melihat tingkah Xia Qian Che yang tak biasa.


Disini begitu dingin terlihat disepaniang sudut dinding goa yang membeku seperti es. Xia Qian Che dapat mati kedinginan dengan melepaskan jubah, kan?


Bibir gadis itu perlahan mengait keatas untuk berbicara tetapi tersela lebih dulu karena suara Xia Qian Che yang terdengar.


"Kamu beristirahatlah disini." Perintahnya dengan lembut.


Melihat gadis itu tak memberikan respon dan malah menatapnya dengan pandangan skeptis penuh keraguan, membuat Xia Qian Che sedikit mengerti untuk kembali bersuara, "Dipeperangan lebih dingin, ini bukanlah hal yang besar." Ucapnya dengan meyakinkan penuh sirat acuh tak acuh.


"Sudah sekarang tidurlah." Lanjutnya sembari menarik tangan Xiu Qixuan.


Merasakan sentuhan dingin dari kepalan tangan diatas dahinya membuat gadis itu menggeliat sadar tetapi dengan mata yang masih terpejam.


"Demamnya belum kunjung turun." Gumaman yang penuh keluhan itu terdengar pelan seiring helaan napas panjang. Itu adalah suara Xia Qian Che. Huh, mungkin dia tidak ingin direpotkan lagi saat perjalanan pulang mereka.


Beberapa saat kemudian kelopak mata Xiu Qixuan sedikit terbuka, gadis itu awalnya ingin memberitahu bahwa ini bukanlah hal yang patut dipermasalahkan, ia ingin mengatakan bahwa dirinya dalam kondisi baik untuk melanjutkan perjalanan.


Tetapi, keinginan awalnya untuk berkata menjadi mengambang dan perlahan menghilang ketika melihat sosok Xia Qian Che yang memancarkan kesan kesepian.


Dibawah bayangan kabut merah dari api kecil yang perlahan meredup. Sosoknya terlihat seperti lukisan ketidakberdayaan.


Punggung kokoh yang biasanya tegak lurus memberikan kesan arogan itu terganti dengan lengkungan sendu. Kepalan tangan yang biasanya selalu begitu kuat terlihat mengais tak berdaya menggenggam ukiran giok sederhana. Mata hitam yang tajam hanyut dengan sorot pahit penuh kerinduan.


Dia perlahan mendekatkan gantungan giok sederhana itu kewajah. Matanya terpejam saat bibirnya mengecup ringan ukiran giok tersebut.


Ketidakberdayaan akan pahitnya kerinduan perlahan menghilang ketika senyuman yang menyembunyikan kekuatan kembali merekah seperti bunga dimusim semi.


Seolah dengan mengecup peninggalan dari sosok yang di cintainya adalah sumber kekuatan untuk terus berpura-pura.


Karena semua hal tersebut selalu dia lakukan untuk mengenang wanita yang melahirkan kedua bayi mungil yang sekarang sudah tumbuh menjadi balita sehat nan cerdas, sosok Qiaofeng yang selalu hidup di dalam benak juga kenangan, dan sosok ibu bagi kedua anaknya.


Dalam diam Xiu Qixuan terenyak, rasa bersalah yang membawa penyesalan perlahan meluap membuat hatinya seperti tertusuk ribuan jarum tak kasat mata.


Perasaan seperti ini membuatnya kembali mengingat kejadian pertama saat dirinya yang begitu bodoh tiba di Daratan Ca Li dalam kondisi kebingungan. Qiaofeng -lah yang menyelamatkan dirinya dengan mendorongnya kealiran sungai.


Wanita rapuh yang baru saja melahirkan dengan cara paksa, tanpa sedikitpun keraguan memaparkan diri untuk menyembunyikan keberadaan seorang gadis asing yang tak dikenali.


Seorang gadis asing yang perlahan menggantikan intensitas tempatnya dari dunia ini. Seorang gadis asing yang tak tahu diri mencoba menghapus jejak keberadaannya. Xiu Qiaofeng yang malang berakhir sebagai bentuk pengorbanan.


Sedangkan, gadis asing itu malah berlari ketakutan dan gelisah jika dikait-kaitkan dengannya. Ia menghindar untuk mencari tahu, ia menghindar untuk memberi tahu.


Sampai saat ini ia memilih untuk menutup kedua mata mengenai jasad Xiu Qiaofeng yang menghilangkan. Ia memalingkan wajah ketika hal itu berkaitan dengan mereka berdua.


Mata Xiu Qixuan perlahan-lahan kembali mengerat terpejam seiring kesadarannya yang meredup ketika ia bergumam dalam hati.


'Qiaofeng, aku yang tidak tahu diri ini sedikit iri padamu. Pria yang selalu mencintaimu membuka mataku untuk segera memperjelas siapa kamu dan siapa aku. Walaupun begitu menakutkan untuk mengakui bahwa kita orang yang berbeda karena sudah melakukan kesalahan dengan menipu semua orang disekitarku.' Batinnya.


Sebuah tekad yang menekan keegoisan dan rasa takut itu sendiri. Sebuah tekad untuk mencari tahu dan mencari bukti keberadaan dari jejak sosok yang selalu ia manfaatkan selama ini.


••••••••••••••


ps: yg kangen a jun dapat bersabar karena bakal lama huhu kita selesai dlu bagian xia utara, yaw.