
"Xiu Haocun berada di desa untuk menemani Komandan Teng dari Kekaisaran Mo yang melakukan inspeksi militer dadakan karena kawanan bandit berkeliaran menjarah pedagang yang melalui jalur perbatasan."
"Hari ketiga sesaat setelah kedatangannya, Xiu Haocun kembali melihat Wen Liu di antara kerumunan warga desa. Wanita itu terlihat begitu mencolok di antara kerumunan orang. Wajahnya lebih berbinar daripada saat sebelumnya ketika dia tertawa dan bermain bersama anak-anak kecil di lapangan desa. Itu terlihat ceria dan alami."
Guru Biyan menjeda sejenak untuk melihat perubahan di raut wajah Xiu Qixuan yang mengeras tajam.
Gadis kecil ini ternyata lebih sulit untuk di tangani daripada Qiaofeng. Wataknya keras dengan pikirannya yang sulit untuk di tebak. Entah, apa reaksi yang akan dia keluarkan ketika mengetahui akhir kisah tersebut.
Guru Biyan mengatupkan bibirnya kembali untuk bersuara; "Seolah-olah mereka memang hadir untuk satu sama lain. Penculikan terjadi oleh kawanan bandit di desa tersebut. Wen Liu adalah salah satu relawan yang berpartisipasi mencari anak-anak asuhnya. Sedangkan, Xiu Haocun adalah pemimpin militer yang akan melakukan tugas untuk rakyat."
Mata Guru Biyan dalam menatap tenang kearah Xiu Qixuan yang menunduk kaku; "Itulah ketika kedekatan mereka bermula. Seperti bunga yang jatuh mengikuti arus, mungkin sosok Wen Liu adalah kelopak bunga yang paling merah."
"Dan, siapa bilang air yang mengalir tidak ada niat untuk tetap tinggal. Wen Liu memiliki niat itu untuk cintanya. Dia memang melalui banyak badai dalam hidup tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang di miliki ketika menikah dan menggendong bayi dari sosok pria yang sangat menganggumkan."
Xiu Qixuan mengangkat pandangan datar dan berkomentar dingin; "Sejak awal aku tidak bisa mengerti. Hidupku sudah di dasari oleh kebohongannya."
Mata Xiu Qixuan tertutup oleh kabut setipis awan kebencian. Buncahan rasa tidak terima karena sudah di bodohi tersimpan dalam hatinya yang terbelah. Hanya Farah -lah yang Xiu Qixuan kenali dan akui sebagai sosok ibu, tidak ada yang lain.
“Karena sulit untuk menjadi jelas di dunia yang kacau balau, nak.” Mata Guru Biyan menerawang kosong. "Ini adalah akhir yang tak terduga..."
***Kediaman Utama Xiu di Ibukota, delapan belas tahun yang lalu***.
*Warna-warni kemerahannya senja berkilauan di atas langit biru. Semilir sejuk angin dengan bunga-bunga indah yang bermekaran di sepanjang jalan meninggalkan aroma samar*.
"*Nyonya, tunggu sebentar! Anda tidak bisa pergi begitu saja. Medan perang sangat berbahaya untuk Anda*..."
"*Suamiku dalam bahaya. Bagaimana bisa aku hanya berdiam diri*?"
"*Saya yakin Tuan Besar dapat menanganginya. Tuan Besar adalah Jenderal yang hebat di peperangan. Beliau akan sangat khawatir jika Nyonya menempatkan diri dalam bahaya. Tolong ingatlah anda sedang membawa nyawa lain*..."
*Di sepanjang koridor terlihat perdebatan antara seorang majikan dengan pelayan pendampingnya*.
*Itu adalah Wen Liu dengan bagian perutnya yang membesar terlihat bahwa dia sedang berjalan tergesa-gesa memakai mantel hijaunya dan keluar mengambil seekor kuda*.
*Pelayan pendampingnya, Li momo terlihat berwajah cemas dengan keringat dingin berusaha menahan kepergiannya*.
"*Nyonya kedua kemungkinan besar berbohong kepada Anda. Dia hanya ingin membuat Anda berada dalam bahaya. Wanita itu licik seperti ular. Mohon anda tidak bertindak gegabah!" Li momo berkata dengan khawatir. Dia berusaha meyakinkan melalui kata-katanya*.
*Wajah Wen Liu menggelap. Dia mengangkat pandangan dengan tajam berkata; "Apakah kamu mengira aku sebodoh itu tidak bisa membedakan kebohongan dan kebenaran*?"
*Li momo tersentak, dia tertekan oleh pancaran amarah yang dikeluarkan oleh Wen Liu*.
***Ngikk***
*Tanpa banyak berkata lagi, Wen Liu segera menaiki pelana dan menendang sisi badan kuda untuk memacu kedepan*.
*Sebelum pergi menjauh, Wen Liu sempat berkata kepada Li momo; "Jaga baik-baik Rui'er dan Huan kecil. Aku mempercayakan mereka padamu*."
*Bulan terakhir musim semi, di dunia ini tidak ada hal yang tanpa alasan. Wen Liu bertindak seperti itu karena mengetahui kejelasan berita yang dia terima*.
*Mungkin memang benar Wen Liu tidak mempercayai Chu Yu, tapi, Wen Liu mempercayai arti sebuah kata perasaan*.
*Chu Yu memang terobsesi pada suaminya. Tetapi, sebuah obsesi berkembang karena dasar perasaan kasih sayang nya yang berlebihan.Wanita itu tidak mungkin berbohong mengenai keselamatan Xiu Haocun*.
*Apalagi Chu Yu datang menemuinya dengan kondisi menangis dan bergetar ketakutan menceritakan hal yang sudah dia dengar tanpa sengaja*.
\*\*\*\*\*\*\*\*
*Awal musim panas yang berdarah terjadi di Kota Hu. Potongan tubuh tercecer di kerasnya tanah—mengeluarkan bau daging amis yang terbakar oleh darah membuat mual siapapun yang melihatnya*.
*Rumah-rumah penduduk terbakar menjadi kepingan abu. Tangisan pilu yatim dan janda yang ditinggalkan mencari jasad orang tua dan suami mereka*.
*Kesunyian kota yang mematikan membuat sesak dalam dada*.
*Di depan gerbang pintu kota yang sudah hancur. Sosok wanita berwajah pucat dengan perutnya yang membesar terlihat berjalan menarik tali kekang kuda*.
*Suara gemerisik terdengar dari gaunnya yang kusut tertiup hembusan angin*.
"*Haocun*..."
*Dia menelusuri jalan berdarah itu dengan terus meneriaki sebuah nama*.
*Kedua kakinya terasa kebas dan lemas, perutnya begitu sakit seperti di cengkeram dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Dua minggu Wen Liu melakukan perjalanan ratusan mil tanpa henti dalam kondisinya yang sedang hamil besar*.
*Tetapi, dia tetap berusaha melangkah untuk mencari sosok pria itu. Sosok suami yang mencintainya*.
"*Liu'er*—"
*Hembusan angin membawa sebuah suara familiar yang memanggil namanya*.
*Kejutan dengan cepat muncul di wajah Wen Liu. Dia mengedarkan pandangan dan meninggalkan kudanya untuk berlari mencari*.
*deg. Jantung Wen Liu berhenti berdetak. Tubuhnya mematung kaku*.
*Di depan sana, sesosok pria memakai zirah yang berlumuran darah terduduk pingsan dengan memegangi tongkat panjang—berusaha setengah mati mempertahankan lambang kekaisaran yang di banggakannya*..
*Lima anak panah bersarang di dalam tubuhnya. Dia sekarat karena dewa kematian belum kunjung menghampiri dan mencabut nyawanya*.
*Wajah cantik Wen Liu sudah ternoda oleh air mata. "Haocun..." panggilnya lirih*.
*Angin di sekitar menjadi lebih kuat, bayangan matahari berkedip-kedip di depan matanya itu tumpang tindih dengan kenyataan pahit berupa titik kemalangan*.
***Drap...Drap***...
*Wen Liu berlari kearah sosok tersebut. Pandangannya tidak teralih sedikitpun pada satu titik*.
*Dia terlambat. Dia terlambat untuk menyelamatkannya*.
***Srukk***...
*Wen Liu terjatuh di hadapan Xiu Haocun. Jari-jarinya kehilangan arah untuk meraih wajah Xiu Haocun yang sudah tidak dapat di kenali karena ternoda oleh darah dan bekas sayatan*.
*Kelopak mata Xiu Haocun perlahan bergerak dengan lemah. Pandangannya kabur tetapi masih dapat menangkap sosok bayangan seseorang di hadapannya*.
"*Haocun, Haocun..." Wen Liu menangis seperti hujan memanggil namanya*.
"*Apakah ini yang dimaksud mimpi sebelum kematian—" Xiu Haocun bergumam dengan matanya yang berkabut melankonis*.
"*Bodoh! anda tidak menepati janji untuk tidak terluka." Wen Liu berkata marah dengan isakan tangis. Kemudian dia melingkarkan kedua tangannya di leher Xiu Haocun untuk memeluk pria itu*.
*Xiu Haocun terkejut, kekhawatiran tiba-tiba menyeruak masuk melalui dadanya yang sakit. "Liu'er, maaf..." Ia bergumam lemah*.
"*Apa yang harus kulakukan?" Wen Liu terisak dengan hati terbelah tak karuan. Ia kebingungan, Aura Kehidupan tidak dapat dipakai dalam kondisinya sekarang*.
*Xiu Haocun tersenyum seolah tidak ada penyesalan apapun; "Jangan menatapku dengan mata sedih, Liu'er*."
*Pemandangan dan perkataannya jelas bahwa dia mengucapkan selamat tinggal yang membuat hati Wen Liu seakan dicengkeram, seakan ada ribuan jarum kecil yang menusuk ke dalam untuk membuatnya bernapas sesak*.
"*Aku ingin kamu bahagia. Tapi, aku malah membuatmu menangis. Liu'er, suatu hari kita akan bertemu lagi. Itu akan menjadi hari yang paling bahagia. Kita akan pergi melihat salju pertama bersama anak-anak, ya." Xiu Haocun menyandarkan dahinya diatas dahi Wen Liu. Mereka saling menatap dengan mata berkabut oleh airmata perpisahan yang mengalir seperti hujan*.
*Bibir Xiu Haocun kembali bergerak tetapi suaranya tidak terdengar jelas karena dia tidak lagi memiliki tenaga. 'Aku merindukanmu, Liu'er. Sekarang pergilah, tempat ini berbahaya*.'
***Brukk***...
*Setelah mengatakan itu, tubuh Xiu Haocun meluruh jatuh kedalam pelukan Wen Liu*.
*Pria itu menutup matanya menyisakan lubang yang menusuk tajam kedalam hati sang istri*.
*Waktu yang terus meringkuk dengan lembut diakhiri dengan sebuah kisah sepasang kekasih yang memecahkan keheningan di medan perang*.