Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Si Gagak Merah



Udara dingin di malam hari yang mendung ini membuat lantai aula leluhur terasa beku. Duduk bersimpuh sejak empat jam yang lalu, Xiu Qixuan tidak bisa merasakan kedua kakinya, kebas.


Wajahnya menghitam oleh amarah. Bara di sekitar matanya menyembunyikan teror yang mengerikan. Jari-jemarinya tampak terkepal erat membentuk tinju. Dengan nafasnya yang terdengar lebih kasar.


'Terlibat dalam kemarahan pangeran, itu sangat konyol! Ayahmu memintaku untuk menjadi wali asuhmu selama berada di ibukota. Dan, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Namun, melihatmu bergaul dengan tidak bijaksana, betapa sia-sia penampilan indah yang kamu miliki! Ini memalukan ketika kamu kehilangan nilai-nilai sentimental menjadi seorang istri.'


Senyuman sinis terpampang nyata di sudut bibirnya, kala ia mengingat kembali ceramah kolot Xiu Lingze yang menjengkelkan. Sang bibi itu memperintahkan untuk menguncinya di dalam aula leluhur agar melakukan intropeksi diri.


Saat tadi, setelah mengantarkan Su Yiyang kembali ke Kediaman Su. Xiu Qixuan langsung bergegas menuju ke halamannya untuk beristirahat, tetapi, dia tertahan oleh sosok-sosok yang suka sekali mencari masalah.


Helan Qianyu, Fan Jingran, dan satu gadis lagi—Yao Chiyun. Ketiga gadis berbakat dan populer ibukota, mereka datang ke Kediaman Utama Xiu untuk bermain bersama. Itu hal yang biasa mereka lakukan karena mendapatkan izin untuk bertindak leluasa dari Xiu Lingze.


Ah.. Sebenarnya Xiu Qixuan tidak peduli, asalkan mereka tidak mengganggu dan menginjakkan kaki di halaman pribadinya. Tapi, mereka malah bertingkah dengan mengadukannya yang terlibat dalam keributan kepada Xiu Lingze. Mulut busuk mereka lebih cepat dari pada panah cahaya.


Sang nenek, Lu Ningya, dia tidak banyak membantu karena menyerahkan semua pendidikan Xiu Qixuan pada Xiu Lingze.


Dia bisa saja memberontak atau kabur dengan mudah melewati penjaga yang menjaga pintu dan mengawasinya dari pintu aula di depan. Tapi, saat ini dia dalam mode sebagai nona biasa yang lemah. Xiu Qixuan cukup pintar untuk mengetahui agar menggunakan kekuatan bela dirinya sebagai kartu as saat dia benar-benar terpojok.


Dalam keheningan, lentara yang menggantung tiba-tiba bergoyang kuat membuat pandangan di beberapa sudut gelap tampak kabur, semilir angin terasa tidak alami membuat hawa teror yang menakutkan.


Pupil Xiu Qixuan berkedut, matanya menelisik ke sekitar dengan rasa waspada. Dia merasakan kehadiran seseorang.


Bruk


Bruk


Bruk


Beberapa penjaga di depan aula terjatuh. Dari balik celah pintu kepulan asap obat mengepul, dari aromanya itu adalah obat bius yang menjaga seseorang tetap tertidur selama enam jam.


Reaksi Xiu Qixuan cukup tak acuh, ini mengejutkan ketika dia masih begitu tenang dalam posisi duduk bersimpuh yang sama.


Swoosh


Angin menusuk kulit wajahnya, membuat Xiu Qixuan tampak berkedip samar, segera setelah itu aroma maskulin tercium dekat.


Tepat berjarak sejengkal di hadapannya, sosok berambut merah berjongkok rendah, ia memiliki guratan wajah tampan tapi terasa sangat mengganggu ini sedang melengkungkan senyuman lebar sampai kedua matanya membentuk bulan sabit.


Terlalu dekat, sampai Xiu Qixuan bisa merasakan hembusan napasnya yang beraroma lemon segar. Ini sangat tidak nyaman!


Segera setelah itu, jari telunjuk Xiu Qixuan terulur dan mendorong kasar dahi si rambut merah untuk menjauh.


Xiu Qixuan mendongak, menatap ke atas ke mata si rambut merah, dan mulutnya berkedut keras. "Jangan dekat-dekat!" dumelnya.


"Heh, apa kabar Qi Qi? Sepertinya tidak baik, ya." Seringai si merah, mengejek.


Mendecih, Xiu Qixuan menjawab malas dengan gerutu: "Tch, kalau tidak penting pergi sana!"


Bukannya tersinggung, si merah malah terkikik geli, dia segera menyilangkan kedua kakinya dan ikut terduduk menghadap Xiu Qixuan.


Si gagak merah, Duan Bian Jian, sahabat terdekat Xiu Huanran. Dia adalah putra tidak sah Keluarga Duan yang lahir dari seorang selir. Walaupun begitu, dia adalah putra satu-satunya Keluarga Duan yang tersisa. Banyak intrik yang sudah Keluarga Duan lalui, membuat beberapa anggota keluarga itu berjatuhan. Duan Bian Jian bertahan hidup tanpa melalui intrik tersebut karena sang ayah mengirimnya keluar dari ibukota. Dia mendapat sebutan gagak merah karena obsesinya pada benda mahal yang berkilau. Benar-benar seperti seekor gagak.


"Huanran mengirimku untuk membantumu di ibukota." Duan Bian Jian berkata santai.


Duan Bian Jian cekikan, dia gila karena merasa terhibur oleh Xiu Qixuan yang mengerucut masam.


Dengan membusungkan dadanya bangga, Duan Bian Jian berseru seperti seorang patriaki: "Tenang saja, Qi Qi. Semua akan kulakukan untukmu. Melewati ribuan badai dan membakar seluruh lautan, itu mudah..." Terdapat jeda yang terselubung sebentar, ketika dia melanjutkan dengan menaik-turunkan alisnya secara menyebalkan. "...Asal kau memberiku sebagian dari hasil tambang besi milikmu." cengirnya.


Xiu Qixuan berdecak sebal. "Bagaimana kau bisa begitu tak tahu malu?" hinanya.


"Apa itu malu?" sanggahnya yang berpura-pura bodoh.


Teringat sesuatu, bibir Duan Bian Jian berkedut. "Aiyaa, aku hampir melupakannya." dia merogoh saku di lipatan pakaiannya. Dan, menyerahkan beberapa tumpukan kertas dalam amplop. "Laporan mengenai situasi bencana di Kekaisaran Mo yang kau pinta. Dan, mengenai penggalian tambang giok di barat daya yang kau temukan beberapa bulan lalu." ujarnya. Ketika serius bekerja, dia tampak waras dan berwibawa.


Xiu Qixuan berdeham dan menerima. "Bagaimana penggalian tambang itu? Pasti berhasil, 'kan." Tangannya membuka amplop kedua dan membaca laporan tersebut singkat. Dahinya berkerut hitam, pupil matanya memiliki kedutan bingung ketika membaca kalimat demi kalimat ynag tertulis dalam laporan tersebut. "Apa ini? Bagaimana bisa? Gagal..." cicitnya.


Suara bariton Duan Bian Jian tiba-tiba terdengar rendah, dia berkata serius: "Ada tikus yang menggerogotimu, Xiu Qixuan."


Mendongak, Xiu Qixuan terdiam menatap dingin kedalam mata Duan Bian Jian.


"Temukanlah bahayanya sebelum menyerang jantungmu." Tambah Duan Bian Jian dengan wajah angkuh yang sok memberi nasihat.


"Tch, singkirkan wajahmu itu. Dan, sekarang pergilah!" Xiu Qixuan mendecih, tangannya bergerak menciptakan gumpalan angin dari kekuatan spritualnya untuk membuka pintu.


Swossh


Brak


"Cepat pergi! Kau mengganggu!" Usir Xiu Qixuan beranjak dengan kaki yang masih bergetar kebas dan mendorong punggung Duan Bian Jian keluar. "Dan bereskan ulahmu. Bangunkan para penjaga itu. Tutup mulut mereka, terserah—ancaman atau uang." Perintahnya tak peduli.


"Tentu saja, ancaman. Uangku itu sangat berharga." Celetuk Duan Bian Jian, saat sudah berada di luar—dia segera memutar tubuhnya untuk kembali menghadap pintu.


Brak


Tapi, Xiu Qixuan segera membanting pintu aula tersebut keras. Membuat Duan Brian Jian mengerjap kaget, dengan rahangnya terbuka tak percaya. Begini-begini dia ini idola para wanita karena ketampanan dan juga kekayaannya, banyak yang menginginkan untuk berlama-lama menghabiskan waktu bersamanya. Namun, Xiu Qixuan mengusirnya seperti kucing liar.


Tidak terima, Duan Bian Jian berseru keras dari luar dan mengeluarkan rajukan jeleknya: "Jika kamu seperti ini, aku tidak akan datang membantu besok! Aku benar-benar tidak akan membantumu, loh!"


"Baiklah. Lalu aku akan memberi tahu er'ge kalau kamu tidak melakukan pekerjaanmu untuk membantuku." Xiu Qixuan menjawab tak acuh dari dalam. Kemudian bayang punggungnya bergerak menjauh ketika dia melangkah kembali duduk bersimpuh di bantalan.


Bukannya Xiu Qixuan tidak tahu cara berterima kasih pada Duan Bian Jian. Tapi, saat ini suasana hatinya begitu buruk. Kalau pria itu masih berada di sini itu akan sangat menganggunya, dia tidak bisa kembali berpikir jernih.


Menatap serius laporan mengenai penggalian tambang giok yang dia temukan ketika memimpin divisi rubah. Wajah Xiu Qixuan berkedut suram, ini kegagalan yang aneh. Tikus yang menggerogotinya. Kata-kata Duan Bian Jian benar, terdapat mata-mata atau pengkhianat di sekitarnya.


Tertulis bahwa tambang giok di barat daya sudah lebih dulu berada dalam kepemilikan pihak istana Kekaisaran Shen.


Padahal letak tambang itu cukup terpencil dan sulit di temukan karena tidak ada pasukan pemerintah yang berpartoli. Hanya anggota divisi rubah yang saat itu bertugas bersamanya yang mengetahui letak pasti tambang giok tersebut.


Menarik napas singkat sebelum menghembuskannya perlahan. Xiu Qixuan mengusap wajahnya kasar, sepertinya Dewi Nuwa menghadirkan dia ke dunia ini untuk bekerja rodi.


••••••••••••••••


A/N:


[Jendela pengetahuan : Burung gagak sangat gemar mengambil benda-benda berkilauan.]