
Aula Feng Xian He yang dimiliki oleh Sang Phoenix kekaisaran dipenuhi dengan aroma tertentu—ini adalah aroma cendana yang sengaja diendapkan bercampur wewangian dupa untuk seseorang melakukan doa.
Permasiuri merupakan orang yang sangat spiritualis. Dia bisa menjadi hamba yang taat untuk itu. Terkadang dia tidak akan segan untuk memanggil Guru Taois dengan tujuan melakukan pembersihan atau meminta ramalan keberuntungan. Seperti yang dilakukannya saat ini.
"Dari yang saya amati. Ada perubahan nasib pada Yang Mulia Puteri Mahkota." Seorang pria berumur yang mengenakan jubah Pa Kua simbol delapan diagram berbicara dengan nada yang rendah hati, jari-jemari tangannya bergerak seperti sedang menghitung sesuatu dalam benaknya.
Wajah Permaisuri mengerut, kedua alis yang digambar dengan indah dan halus itu mengencang ketika ia membalas dari atas kursinya. "Apa itu?"
"Salah satu Nona muda di antara kandidat permaisuri pangeran kali ini memiliki nasib yang lebih besar sebagai phoenix...," Guru Taois itu memandang Permaisuri dengan hormat. "Bagaimanapun Puteri Mahkota Rui tidak akan mulus menjalani hidupnya untuk mendampingi Putera Mahkota sampai ke atas takhta." Tambahnya begitu lugas.
Mendengar itu, mata Permaisuri meruncing tajam dengan wajahnya yang merah padam. Sejak awal dia marah karena merasakan kegagalan kala menyaksikan wanita yang dia pilihkan untuk mendampingi sang putra sampai keatas takhta malah menjadi pemberat bagi jalan putranya yang mulus. Dan, ketika mendengar langsung Guru Taois mengatakan kalimat tersebut, Permasuri jelas akan semakin berencana menyingkirkan Puteri Mahkota Rui.
"Siapa identitas gadis yang memiliki nasib phoenix itu?" Suaranya seperti lonceng besar ketika dia melontarkan pertanyaan dengan penuh ketajaman yang dingin.
Guru Taois menggeleng. Ia segera menjawab, "Saya tidak yakin untuk memberitahukan itu. Anda harus menemukan telur phoenix itu sendiri, Yang Mulia."
Tepat pada saat ini, seorang pelayan senior tiba-tiba berlari memasuki ruangan, dia berkata dengan nada tergesa-gesa: "Yang mulia Permaisuri!" Dia membungkuk hormat ketika sampai di hadapan Permaisuri. "Pelayan dari Istana Taichu datang dan memberitahu kami untuk segera menyiapkan anda, Yang Mulia Kaisar akan datang bermalam di Aula Feng Xian He." Ujarnya.
Wajah marah Permaisuri seketika padam digantikan oleh kerutan bingung yang dengan pandai dia sembunyikan, "Antarkan tamu!" ia mengibaskan tangan segera memerintah seorang pelayan untuk mengantar Guru Taois kembali.
Setelah Guru Taois pergi. Permaisuri beranjak dari duduknya dan berjalan menatap keluar jendela, hujan baru saja reda meninggalkan rintik dan embun di dahan yang beku.
"Ini bukan hari untuk Kaisar bermalam ditempatku." Permaisuri berbicara dengan datar. "Apa yang akan kau pikirkan ketika melihat seekor serigala memakan rumput?" Dia bertanya tanpa menatap pada para pelayan setia yang mengikuti langkah kakinya. "... Itu aneh ketika melihat seseorang bertindak diluar kebiasaannya." Tambahnya.
"Mungkin Kaisar hanya merindukan kehangatan anda Yang Mulia." Seorang gadis pelayan muda menanggapi dengan naif berniat menyenangkan hati sang majikan.
Alih-alih tersenyum. Permaisuri malah mendengus dengan seringai kecut.
Bagi Permaisuri yang telah mengikuti Shen Zhenning untuk waktu yang lama, dia sangat mengenali Kaisar itu sendiri.
Shen Zhenning tidak akan melakukan sesuatu untuk hal yang dangkal dan sepele, merindukan kehangatan istri sahnya dan mengubah jadwal bermalam itu hanya akan menjadi omong kosong besar yang dia lakukan jika dunia berakhir.
Kaisar kekaisaran Shen itu memiliki hobi mengkoleksi semua jenis apapun yang terlihat tidak biasa dan menarik perhatiannya, bahkan seorang budak berambut pirang yang dikirim dari benua barat pun tidak segan dia jadikan Selir berstatus untuk melahirkan anaknya, padahal dia hanya ingin bereksperimen dengan melihat salah satu keturunannya memiliki ras campuran dari benua yang berbeda. Dengan mengetahui hobinya itu saja, sangat tidak masuk akal kalau Shen Zhenning bisa kesepian dan merindukannya.
Kalau kalian bertanya-tanya, apakah Permaisuri mencintai Shen Zhenning? jawaban yang pasti adalah, pernah dan itu dulu—untuk sekarang semua kasih sayang Permaisuri hanya tercurah pada kedua puteranya. Permaisuri hanya terfokus mempertahankan kedudukan yang sudah bertahun-tahun dia dapatkan susah payah dengan mengotori kedua tangannya ini.
•••••••••••••••••••••
"Jangan tidur dan mendengkur ketika sedang dirias, Nona!" Xiao Rou bersuara dengan sedikit menyentak sebal, kedua tangannya dia taruh dipundak Xiu Qixuan, memegangi tubuh gadis itu yang hendak terkulai jatuh tanpa daya.
"Hngh.., Xiao Rou." Dengan kelopak mata yang masih terpejam, suara serak Xiu Qixuan terdengar. "Bagaiamana kalau hari ini kamu menyamar menggantikan aku? Topeng kulit untuk penyamaran berhasil kuselundupkan di bawah kotak penyimpanan, kau pakai dan pergi ke penilaian menyulam sana!" Celotehnya jelek.
Dengan sengaja Xiao Rou menarik kedua tangannya dari bahu Xiu Qixuan.
Dug!
Seketika tubuh yang tidak memiliki daya itu terjun bebas kedepan. Dahi mulus Xiu Qixuan membentur kayu meja rias dengan hentakan keras, membuat gadis itu terperanjat bangun.
"Aduh, sakit! Xiao Rou..., kau jahat sekali!" Dia mengusap dahinya yang memerah sembari menggerutu kesal. Matanya sekilas melirik Xiao Rou tajam.
Xiao Rou memalingkan wajah, tak merasa bersalah. "Kalau saya yang menggantikan anda untuk menyulam yang ada nanti anda akan menerima pemberitahuan kemenangan lagi dan menikah di ibukota. Kita tidak bisa segera kembali ke Ping'an—begitukah mau anda, Nona?" Dia berbicara sembari berbalik mengambil kotak aksesoris rambut dan memilihkan untuk dipakai oleh Xiu Qixuan
Mendecih. Xiu Qixuan memutar bola matanya jengkel. "Tch, kau benar. Bisa gila kalau berlama-lama tinggal di neraka mewah ini!" Ujarnya. Xiao Rou tersenyum tipis, menatap sang majikan yang sedang menggerutu itu dari bayangan pantulan kaca perunggu.
"Beruntung aku tidak berbakat menyulam, 'kan. Kekurangan juga bisa memberi keuntungan tersendiri. Mau bagaimanapun, hasil sulamanku yang seperti medan perang itu akan menjadi nilai buruk." Celetuk Xiu Qixuan dengan berbinar percaya diri. Ini aneh melihat orang biasanya membanggakan kelebihan tapi kita melihat Xiu Qixuan begitu bangga dengan kekurangan. Bahkan dia tanpa ragu menghina hasil sulamannya dengan mulutnya sendiri.
Tepat pada detik berikutnya, Chao momo datang memasuki kamar dengan langkah tuanya yang tergopoh-gopoh. "Nona Besar! Nona Besar!" Dia memanggil dengan berisik.
Menoleh. Dengan kedua alisnya menyatu Xiu Qixuan menatap tajam pada Chao momo. "Ada apa?" Tanyanya.
Chao momo segera menjawab. "Penilaian hari ini memiliki perubahan. Anda tidak perlu menyulam tapi siapkan diri anda dengan seksama."
Belum sempat Xiu Qixuan membalas, suara Chao momo kembali terdengar melanjutkan.
"Kaisar memberi perintah khusus untuk itu. Beliau akan datang untuk ikut menilai langsung di sisi Permaisuri, kabarnya Yang Mulia Kaisar ingin melihat para calon menantu kekaisaran dari dekat. Ini kesempatan untuk anda menyenangkan hati Kaisar!" Chao momo berkata dengan menggebu-gebu penuh semangat. "Xiao Rou segera selesaikan riasan Nona. Sebentar lagi kasim istana akan datang memberitahukan perihal ini secara benar." Tambahnya memerintah.
"Dari mana berita itu berasal? Chao momo, anda menguping lagi?" Xiao Rou melontarkan pertanyaan skeptis yang penuh dengan dengusan jenggah.
Chao momo meringis kikuk kemudian melengos. "Saya hanya tidak sengaja mendengar berita ini ketika melihat Kasim datang mengetuk pintu kamar tempat Nona Helan dan Nona Fan tinggal." Ujarnya dengan maksud membenarkan.
Mendengar itu, Xiu Qixuan jatuh merenung dalam pikirannya yang mulai menerka-nerka keruh. Apa yang pihak istana rencanakan? Ah, tidak..., maksudnya adalah—Apa yang Kaisar badebah itu pikirkan dengan andil dalam semua ini?
•••••••••••••••••