
Langit biru terbentang luas sejauh mata memandang ini adalah ketika cuaca cerah berawan. Tapi hari musim panas tetap membuat tubuh lembab dan tak nyaman oleh keringat. Begitu pula yang dirasakan sosok yang sedang telungkup malas diatas ranjang.
Dalam kamar yang tidak begitu luas. Dia melamun dengan kosong. Kipas kecil di genggaman tangannya bergerak membuat tiupan angin untuk mencari kesejukan.
Dia memang terlihat sedang bersantai. Namun, siapa yang mengira bahwa sebenarnya otak di dalam kepalanya itu tidak pernah berhenti bekerja keras. Sungguh jika ada efek animasi di sini, kita bisa melihat bahwa asap hitam sudah mengepul di kepala cantiknya.
Terlihat juga berkali-kali dia menghembuskan napas kasar. Seolah-olah begitu penuh beban.
"Nona, apakah anda ingin berendam saja dan mendinginkan kepala anda sekarang?" Suara halus yang tertata sopan tiba-tiba datang menyadarkannya. "Saya akan menyiapkan air untuk anda jika ingin." Tambahnya.
Gadis yang telungkup itu menoleh. Sekilas bayangan muram terungkap dari wajah cantiknya kala dia terduduk bangun menatap sang pelayan.
"Xiao Rou," panggilnya.
Dengan cekatan, "Ya, ada sesuatu yang anda butuhkan?" Xiao Rou menjawab.
"Kamu tampak lesu dan pucat. Apakah pekerjaan yang selama ini aku berikan sudah begitu memberatkanmu?" Xiu Qixuan melontarkan kalimat pertanyaan tulus yang perhatian.
Xiao Rou mengungkapkan ekspresi terkejut yang aneh. Memang itu adalah fakta ketika kita melihat wajahnya lebih pucat dengan mata sayu yang memiliki lekukan hitam di bawah kantung matanya. Dia terlihat begitu letih. Ah, tidak—dia juga tampak penuh beban.
Xiao Rou memandang sang majikan dengan tatapan serius yang berkabut tidak jelas, siapa yang tahu apa yang dia pikirkan?
Dibutuhkan beberapa detik untuk dia menjawab, "Nona sangat perhatian, pelayan ini sangat tersentuh. Musim panas membuat waktu tidur saya sedikit terganggu oleh kelembabannya. Jadi, anda tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tampak sepele ini." Jelasnya dengan lugas.
Dalam afeksi ini Xiu Qixuan terdiam sejenak. Dia memandang Xiao Rou, dan berkata: "Kau tahu? Aku ini gadis bodoh karena tidak bisa merapihkan kerutan di gaunku, dan juga tidak pandai merapihkan rambutku. Jadi, Xiao Rou..." Xiu Qixuan memiringkan wajahnya dan tersenyum lebar dengan matanya yang berair membentuk lengkungan lembut, ketika dia melanjutkan. "...Jaga dirimu dengan baik karena selama aku hidup, aku berada dalam perawatanmu dan akan selalu merepotkanmu."
Xiao Rou tertegun. Dia merasa ada sesuatu tak kasat mata yang tersangkut di tenggorokannya membuat jejak rasa tercekat yang samar.
•••••••••••••••••••
Hari Kompetisi Pemilihan Permaisuri Pangeran.
Matahari di langit yang menyala itu kalah terang dengan sinar menawan para gadis yang bermekaran bagai bunga musim semi.
Di semua sudut para gadis memoles indah tubuh dan wajah mereka. Menawarkan kecantikan yang terbaik untuk di lihat mata. Ini adalah hari yang sangat mereka nantikan. Hari Kompetisi Pemilihan Permaisuri Pangeran yang akan berlangsung selama lima hari.
Terdapat seorang gadis aneh yang bergumam sendiri di pojokan, "Baiklah, mari lakukan secukupnya untuk tereliminasi di awal." Dia mengepalkan tangan berusaha menanamkan itu dalam hati secara berulang.
Teman di sisinya tertawa terbahak-bahak seolah itu adalah sesuatu yang sangat lucu untuk didengar, "Kau tidak perlu berusaha sekeras itu, Qixuan. Bukankah sudah pasti kau akan tereliminasi ketika tangan kasarmu tidak bisa dipakai untuk melukis dan menyulam?" Ujarnya mengejek.
Semua gadis di sini adalah mereka yang terbaik dalam segi latar belakang dan bakat. Dan, mereka sudah mendapatkan pendidikan layak untuk menjadi wanita istana. Bahkan dalam kelas pengantin, mereka sudah mempelajari teknik kamar tidur yang di maksudkan untuk menyenangkan suami.
Namun, semua ini hanyalah lelucon bagi Xiu Qixuan yang memiliki tujuan lain berada di istana. Dia ingin menguliti Shen Zhenning hingga ke akar. Sungguh semoga dia bisa menahan diri ketika bertemu kaisar biadab itu.
"Ini namanya tahu diri ketika aku tak bisa melukis dan aku tidak berniat melakukan apa pun." Celoteh Xiu Qixuan dengan memelintir alasan yang masuk akal. Kemudian dia balas mengejek Su Yiyang yang membawa banyak bunga di tangan. "Daripada kau yang berusaha keras! Untuk apa juga macam-macam bunga tidak berguna ini kau bawa?!" Cemoohnya.
Gaun sutera dengan bordiran kuning muda dan hijau cerah membungkus tubuh molek Su Yiyang dengan halus. Rambutnya yang tertata rapih berhias batu dan mutiara giok kasturi yang indah. Pada saat ini, Su Yiyang tampak memancarkan kehangatan yang periang dari sosoknya yang sedikit berperilaku sesuai martabat. Dia memegang beberapa tangkai bunga yang mekar di pangkuannya.
"Tch! Kau ini tidak bisakah berbicara yang baik-baik saja padaku?" Su Yiyang mendecih dengan memaki kesal. "Bunga ini adalah sumber inspirasiku untuk melukis nanti tahu!" Protesnya.
Dia melanjutkan dengan mengeluh, "Aku harus bertahan sampai putaran terakhir. Kalau tidak aku harus melepas margaku sebagai Su dan menjadi biarawati di kuil!" Celotehnya dengan masam.
Giliran Xiu Qixuan yang tertawa terbahak-bahak saat mendengar penderitaannya. Dia menepuk bahu Su Yiyang dengan prihatin. "Khehehe... yang sabar kawan. Kau pasti tidak bisa!" Kikiknya geli.
Menepis lengan Xiu Qixuan dengan kasar, Su Yiyang mendelik kesal. "Sialan kau!" Ujarnya.
Mengangkat bahu tak acuh, Xiu Qixuan membalas. "Padahal aku ingin berbaik hati menawarkanmu pekerjaan untuk menghasilkan uang jika kau di buang oleh keluargamu nanti."
"Hei! Aku juga ingin menyerah dan kabur saja. Namun, aku masih sayang mahar dan warisanku!" Ujar Su Yiyang dengan mengerucut kusam.
Benar-benar hanya dua kawan sejoli inilah yang bisa saling memahami satu sama lain. Bisa-bisanya Su Yiyang lebih memikirkan warisan yang ditinggalkan di bandingkan keluarga inti.
Su Yiyang tiba-tiba bergumam ketika melihat sosok lembut Duan Maiqiu yang berjalan mendatangi mereka. "Eh, Qixuan bodoh. Apa kau tidak merasa Si Merah itu akhir-akhir ini jarang terlihat di sekitar kita?" Ujarnya.
Menoleh. Xiu Qixuan membalas dengan kerutan yang tampak merenung. "Benarkah? aku tidak memperhatikannya." Gumamnya berbisik pelan.
Su Yiyang memasang wajah yang menggebu-gebu ketika dia berkata. "Anak pendiamlah yang biasanya melakukan banyak masalah. Jadi, aku akan terus mengamatinya."
Mengenakan gaun satin merah muda dengan sulaman benang emas dan taburan berlian yang tampak kontras dengan kulit pucatnya. Sosok Duan Maiqiu terlihat sangat cantik ketika dia seperti peri tanah yang lembut. Rambut merah yang tertata dengan sanggul sederhana itu dihias oleh batu zamrud yang di polesi emas platinum. Anting mutiara menggantung di telinganya itu berdering dan terayun mengikuti arah gerak tubuhnya. Dari ujung kepala sampai kaki semua terlapis kemewahan seorang Duan yang terhormat.
Ketika seperti ini, semua orang akan menatap Duan Maiqiu penuh dengan keirian. Mereka akan merasa menjadi bebek yang tidak dapat di sandingkan dengan seekor angsa.
••••••••••••••••••