
Mereka berjalan di sepanjang lorong menuju aula tengah, Xiu Qixuan melihat ratusan jenis burung dalam sangkar tergantung menciptakan kicauan melodi lembut dan merdu.
Tanpa perlu menerka-nerka pun dia mengetahui bahwa ini adalah hewan peliharaan yang diperlakukan dengan sangat mewah oleh majikannya.
Tidak berhenti berjalan, Xiu Qixuan tetap mengikuti langkah Xiu Lingze yang membawanya. Mereka berjalan lurus menuju aula tengah.
Sesampainya di sana, seorang penjaga menarik sekat pintu saat dia melihat mereka mendekat. Ia berkata dengan ceria menyapa; "Nyonya Fan. Nona Fan. Dan, Nona Besar Xiu!"
Xiu Qixuan balas mengangguk samar dan tersenyum pada penjaga itu sebelum memasuki ruangan.
Dengan mata tak acuh, Xiu Qixuan menarik pandangannya sekilas menatap kearah ruangan yang memancarkan kemewahan.
Lantai ruangan ini terbalut karpet sutra halus berbentuk pola bunga dan dedaunan. Disetiap sisi atas kepala mereka terdapat lentera segi delapan yang berpendar indah dan pilar-pilar terbuat dari kayu cendana hitam.
Bahkan furniture seperti meja dan kursi terbuat dari pahatan bunga tradisional dengan bahan kayu pir merah. Ini semua sangat mahal dan sulit untuk tidak dipandang. Sepertinya orang-orang Ibukota sangat pintar dalam menghabiskan uang mereka.
Di dalam ruangan, Lu Ningya duduk ditengah, dia memakai jubah sutra hijau dengan sulaman angsa membentuk pola pemberkatan. Kepalanya dihiasi giok dengan bulu cerpelai yang menggantung mengikuti arah geraknya.
Xiu Qixuan dengan gemulai maju kedepan. Memasang sebuah senyum, dia membungkuk hormat pada Lu Ningya yang duduk tinggi ditengah ruangan. "Xuan'er memberi salam pada nenek."
Jenderal Besar Xiu sebelumnya, Xiu Sheng Chi, meninggal di usia setengah baya. Selir utamanya, Lu Ningya, merawat ketiga anak dengan terampil tanpa membeda-bedakan. Namun, Xiu Hongyi, putra kandungnya meninggal secara tidak wajar. Lu Ningya sangat tertekan, sehingga dia tidak pernah meninggalkan kediaman utama, dan tetap tinggal untuk menemukan kedamaian.
Alih-alih merawatnya, Chu Yu menantu perempuannya malah memutuskan untuk ikut pergi ke Kota Ping'an, secara alami Lu Ningya tidak menyukai itu. Dia merasa ketidaktaatan Chu Yu sudah menjatuhkan nama baik Xiu Hongyi yang sudah tiada. Jadi, sejak saat itu komunikasi mereka terputus. Dan, Lu Ningya baru menerima kabar lagi sebulan yang lalu dari Xiu Haocun, putra tiri nya.
Dengan sedikit tak acuh, Lu Ningya melambaikan tangan dan berkata; "Bangkit." Ia melanjutkan dengan mengangguk lembut. "Baguslah, kalau kau sudah sampai."
Tiba-tiba, Xiu Lingze datang menghampiri Lu Ningya. Dia tersenyum dengan melemparkan tatapan meneliti kearah Xiu Qixuan. "Ibu, kamu pasti senang bertemu cucu perempuanmu yang lain. Lihatlah, dia bersikap sangat baik bukan?" ujarnya.
Mendengarkan. Xiu Qixuan mempertahankan senyuman lebar di wajah cantiknya. Air mukanya tetap patuh dan penuh hormat. Tidak terkontradiksi sama sekali.
Tasbih ditangan Lu Ningya bergerak samar dan dia hanya mengangguk. Lu Ningya menatap Xiu Qixuan dengan getaran tak acuh, untuk beberapa alasan dia terlihat menekankan ketidakperduliannya. Jika, itu gadis lain—mereka mungkin akan tertekan oleh tatapan tersebut tetapi tidak bagi Xiu Qixuan yang terlihat begitu tenang.
Xiu Lingze sekilas menatap Xiao Rou yang berada di belakang Xiu Qixuan. Dia mengangguk dan berkata; "Ini tidak terlihat bagus jika kamu hanya mempunyai satu gadis pelayan peringkat pertama di sisimu." Ia melanjutkan penuh perhatian, "Aku akan mengirimkan beberapa gadis pelayan besok untuk kau pilih."
"Terima kasih perhatian anda, Bibi. Tapi, sepertinya saya cukup dengan ini. Orang-orang yang saya bawa dari Ping'an cukup terampil dalam mengurus banyak hal." ujar Xiu Qixuan tersenyum penuh rasa terimakasih, namun dia menolak untuk banyak alasan tersendiri.
Xiu Lingze terlihat tidak puas. Tetapi, dia tidak memaksa. "Baiklah, katakan saja jika kau butuh." Dengan menghela napas, dia melanjutkan berkata pada Fan Jingran yang berdiri disamping. "Xiao Jing, antarkan sepupumu ke halaman Faicheng."
Xiu Qixuan berlutut dengan sungguh-sungguh memberi hormat pada Lu Ningya. Setelah itu dia mengikuti Fan Jingran keluar.
Xiu Qixuan memusatkan pandangan pada bangunan di sekeliling yang sedang mereka lewati. Tiba-tiba suara pelan dari arah belakang terdengar. "Fan Jingran!"
Menoleh, langkah mereka terhenti.
Sosok ramping dan elegan dari seorang gadis cantik perlahan muncul. Dia mempunyai mata bulat yang elok dengan bula mata lentik yang begitu memikat, mengenakan pakaian biru muda dengan bunga teratai disulam di tepi ujung roknya. Pinggangnya di ikat oleh sabuk transparan menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya.
"Qianyu, mengapa kamu datang?" Fan Jingran bertanya dengan mengerjap terkejut polos.
"Kamu berhutang mengantarku ke toko buku." Sosok gadis ini menanggapi tak acuh. "Ayo, kita pergi!" ujarnya.
Xiu Qixuan menatap mereka dengan malas. Sungguh, sejak awal, dia dapat merasakan bahwa keberadaannya sangat transparan di kediaman ini. Seorang tamu bahkan tidak menyapanya.
"Nona Helan, saat ini nona kami harus mengantarkan Nona Besar Xiu ke halaman Faicheng terlebih dahulu." Seorang pelayan tua yang diutus untuk ikut mendampingi mereka berkata.
Helan Qianyu, popularitas gadis muda ini berada di puncak teratas pergaulan sosial ibukota. Dia adalah Nona muda Keluarga Helan yang merupakan menteri pembangunan peringkat tiga. Dia terkenal cantik dan berbudi luhur, keahliannya juga luar biasa. Hanya saja dia sedikit sombong dan memandang rendah orang.
Fan Jingran adalah teman terdekatnya yang diperlakukan layaknya bawahan. Sungguh membuat orang berdecak lidah!
Sepasang mata elok itu mengandung ketidakpuasan yang berusaha di sembunyikan, dia menatap kelam kearah Xiu Qixuan dan tersenyum penuh paksaan; "Hoh, aku menjadi tidak sopan karena bersemangat." Ia melanjutkan, "Nona Besar Xiu tidak keberatan untuk memaafkanku, bukan?" ujarnya.
Dengan melambaikan tangan, Xiu Qixuan tertawa dingin. "Jangan khawatir. Tapi mohon lain kali, datanglah secara resmi ke kediaman kami. Agar kami bisa mengatur jamuan untuk anda secara layak." sarkasnya.
Datang secara mendadak tanpa diundang. Gadis berpendidikan darimananya dia ini?
Dalam mata hitam kelam Xiu Qixuan, kilatan dingin melintas untuk mengintimidasi.
Dia sudah terlalu lelah karena perjalanan yang panjang. Untuk saat ini, mari kita biarkan ini berlalu.
"Jingran, kau bisa pergi. Terimakasih sudah mengantarku. aku akan melanjutkan ke halaman dengan dampingan para pelayan." Xiu Qixuan berkata dengan datar. Setelah itu dia melangkah meninggalkan mereka.
Berdiri disamping, Xiao Rou berbisik mengeluarkan omelan; "Nona, bukankah gadis itu terlalu sombong? Bahkan dia tidak menyapamu dengan benar." Ia melanjutkan dengan geraman kasar, "Sejak tadi orang-orang ini tidak menghiraukanmu."
Dengan ekspresi lembut, Xiu Qixuan terkekeh. "Bukankah ini bagus. Kita tidak perlu menanggani semacam gangguan dari ulah antagonis mereka."
•••••••••••••••••
N/t: sabar ya gais, ntr author crazy up. siapin poin dan koin:)