
"Berdirilah," Ucap Sima Hong, pria tua itu terlihat sangat senang atas perkenalan dan kehadiran Xiu Qixuan.
Berbeda dari sang suami, Aisin Fei tersenyum suram—aura yang mengeliling wanita tua itu terlihat menggelap akan kemurkaan yang berusaha dia pendam.
"A Jun, kemarilah!" Panggil Aisin Fei melambaikan salah satu lengannya memperintahkan agar Sima Junke mendekat.
Sima Junke terdiam dan pria itu malah mendekatkan diri kepada Xiu Qixuan. Melirikkan matanya untuk memberi kode kepada gadis cantik disampingnya.
Xiu Qixuan dengan ketenangannya yang luar biasa, hanya tersenyum manis untuk merespon Sima Junke yang sedang gelisah.
"Cucu menantu, kau sangat cantik. Kemarilah biar kakek tua ini dapat melihatmu dengan jelas," Ucap Sima Hong dengan suara keras memanggil Xiu Qixuan.
Bingo! ini yang Xiu Qixuan tunggu sejak tadi. Sima Hong adalah seorang kakek tua pada umumnya—dia memiliki hati yang hangat dan selalu mendukung pilihan cucu tersayangnya.
Xiu Qixuan mengetahui itu dari beberapa sumber informasi, Xiu Qixuan juga membuat skema agar dapat menarik hati Sima Hong dan menilainya sebagai gadis yang cocok untuk sang cucu.
Dirinya membuat skema briliant, pagi tadi secara sengaja Xiu Qixuan pergi kepeternakan agar bertemu Sima Hong. Pria tua itu memilih aktivitas paginya untuk mengurus hewan ternak.
Xiu Qixuan pergi kepeternakan dan secara sengaja ataupun tidak—dirinya menarik perhatian Sima Hong kemudian mereka menjadi dekat dengan berbincang-bincang hangat dan Xiu Qixuan berusaha membantu menggiring keluar hewan ternak untuk dibawa berjalan-jalan.
Melihat cucunya memperkenalkan gadis baik yang pagi tadi bertemu dengannya, Sima Hong tidak dapat menahan rasa senangnya.
Sima Hong memang tidak mendukung pilihan sang istri yang merebut kekuasan dari tangan Aisin Tianyi. Pria tua itu sudah tidak dapat mengenali sang istri sejak anak mereka—Sima Xiahou wafat. Saat tahu cucunya ingin dijerat dalam rencana mengambil kekuasaan berkedok pertunangan, dirinya tidak setuju dan sangat khawatir. Kehadiran Xiu Qixuan seperti angin segar bagi dirinya.
"Jangan menambah kekacauan," Sentak Aisin Fei dengan pandangan penuh ancaman kepada Sima Hong.
"Nyonya tua, pengumuman pertunangan adalah suatu hal membahagiakan. Bagaimana bisa berubah menjadi kekacauan?" Ucap Xiu Qixuan dengan nada penuh kebingungan tetapi senyum lembut masih terpasang diwajah cantiknya.
"Lancang! Kau tidak memenuhi syarat untuk berbicara denganku," Ucap Aisin Fei dengan sangat murka membuat suasana disekitar mereka menjadi hening dan memberat.
Xiu Qixuan tetap tidak gentar, merespon dengan senyum miring meremehkan. 'Ckk, Nenek tua ini ternyata lebih buruk dari Chu Yu. Emosinya tak terkendali.'
Aisin Fei melihat jelas senyuman meremehkan yang dilontarkan Xiu Qixuan padanya. Wanita tua itu sedikit tersentak kaget, keberanian gadis ini patut diapresiasi.
"A Jun! Pikirkan baik-baik, gadis itu adalah tahanan perang yang cepat atau lambat saat mengetahui dirinya tidak cukup berguna—akan segara kita bunuh." Ucap Aisin Fei memberi pengertian kepada Sima Junke.
Tubuh Sima Junke menegang saat sang nenek membahas untuk membunuh Xiu Qixuan.
Pria itu mengaitkan lengannya pada jari-jari lentik milik Xiu Qixuan— berusaha untuk memberikan ketenangan, padahal kekhawatirannya sangat salah besar! Gadis yang dia khawatirkan terlihat sangat santai merespon ucapan sang nenek.
"Nyonya Tua, tenanglah! Aku pastikan itu tidak akan terjadi, karena diriku ini sangat berguna untuk kalian pergunakan." Balas Xiu Qixuan dengan yakin dan penuh percaya diri.
" Tidak ada seseorang yang ingin dimanfaatkan oleh musuhnya. Jalang kecil sepertimu berusaha membodohiku," Dengus Aisin Fei dengan pandangan meremehkan.
"Nyonya tua, apakah kau tidak tahu darimana diriku berasal?" Tanya Xiu Qixuan dengan tenang.
Para pejabat tinggi yang menghadiri perjamuan terlihat berbisik satu dengan yang lain—ucapan Xiu Qixuan mengingatkan mereka mengenai identitas asli gadis cantik itu di Kekaisaran Shen.
"Menggunakanku, kau dapat membuat Xiu Haocun tidak bergeming saat penyerangan." Lanjut Xiu Qixuan membawa nama ayahnya.
'Maafkan aku, Ayah.' Ringis Xiu Qixuan bergumam berulang-ulang dalam hati.
Kalau hal ini didengar oleh sang ayah ataupun kedua kakaknya, dia akan dicap sebagai anak tidak berbakti.
"Kau menjual nama ayahmu, secara tidak langsung kau mengkhianatinya." Ucap Yu Chuchu, giliran wanita itu yang menyudutkannya.
"Aku tidak mengkhianatinya," Jawab Xiu Qixuan dengan wajah polos membuat mereka yang berada diperjamuan mengerutkan kening bingung. Apa maksud gadis ini? Apakah kejiwaannya terguncang dan menjadi bodoh?
"Aku tidak pernah bilang akan membantu kalian untuk menjatuhkan ayahku," Lanjut Xiu Qixuan
"Kau—berhenti bermain-main! Seseorang bawa gadis ini ke penjara bawah tanah," Ucap Aisin Fei dengan murka karena merasa dipermainkan. Wanita tua itu baru saja menimbang pilihan untuk membiarkan gadis ini dekat dengan cucunya tetapi sepertinya dia salah.
Prajurit berpakaian militer membawa pedang panjang memasuki ruang perjamuan, berusaha untuk membawa Xiu Qixuan tetapi dengan sigap Sima Junke menghalangi.
"Siapa yang berani?!" Ucap Sima Junke dengan tajam—menjaga tubuh Xiu Qixuan dari prajurit itu agar tidak membawa gadisnya.
"Nyonya tua, emosimu sangat tak terkendali. Aku hanya mencobaimu, dan kau sangat murka." Ucap Xiu Qixuan yang masih tetap tenang.
"Baiklah, sekarang aku akan serius. Aku akan memberimu penawaran," Lanjut Xiu Qixuan dengan menatap dalam kedua bola mata Aisin Fei.
Tanpa disadari Xiu Qixuan meminjam kekuatan pesona miliki Baijin Hu agar mempermudahnya mengendalikan jawaban Aisin Fei.
"Bagaimana kalau aku menawarkan agar kalian menjalin perdagangan besar dengan Xiu Huanran sang pedagang kaya yang memiliki koneksi luas. Kakak keduaku itu sangat mengasihiku, dia pasti akan segera menyetujuinya." Lanjut Xiu Qixuan memiringkan wajah polos.
Para pejabat tinggi menganggukkan kepala dan saling berbisik mengenai tawaran tersebut. Mereka terlihat sangat tergiur dengan tawaran Xiu Qixuan.
Sekali lagi Xiu Qixuan menggunakan nama anggota keluarganya, Xiu Huanran tidak mungkin marah padanya-kan? Bukankah secara tidak langsung Xiu Qixuan memberi jalan kepada sang kakak kedua agar memperluas koneksi dan bisnis di Suku Nanbao yang tidak pernah terjamah oleh Kekaisaran lain.
Xiu Qixuan membuat jalan agar sang kakak kedua memiliki sedikit kendali di Suku Nanbao, agar perjalanan jauhnya ini tidak berujung sia-sia. Kalau Suku Nanbao ingin memulai oerang kembali, Xiu Huanran akan dengan mudah memiliki informasi berharga untuk membantu Kekaisaran Shen. Terlalu cerdas!
"Itu sangat bagus! Istriku kau pasti menyetujuinya karena kau selalu mementingkan rakyat," Ucap Sima Hong secara tidak langsung pria tua itu membantu Xiu Qixuan karena kalimat yang dilontarkannya membawa nama rakyat yang harus diutamakan oleh Aisin Fei.
"Apa yang kau mau?" Tanya Aisin Fei mengenai yang juga tergiur dengan tawaran ini.
Xiu Qixuan menolehkan wajah untuk melihat Sima Junke, gadis itu memberikan kode dari tatapannya agar Sima Junke yang menjawab pertanyaan sang nenek.
"Restui pertunangan kami, dan terima Xuan'er menjadi menantu sah Suku Nanbao." Ucap Sima Junke memposisikan dirinya kembali disamping Xiu Qixuan.
"A Jun, kau—apa yang membuatmu memilihnya?" Tanya Aisin Fei sedikit tergagap karena wanita tua itu masih mengira cucunya hanya bermain mengenai pertunangan dengan Xiu Qixuan.
"Karena dia jernih bagai es dan bersih bagai giok(1)" Jawab Sima Junke mengalihkan pandangan menatap Xiu Qixuan dengan penuh kelembutan.
Ini adalah ajaran yang Xiu Qixuan ajarkan padanya saat mereka latihan tadi.
Xiu Qixuan tidak sengaja menolehkan wajahnya dan balas menatap Sima Junke, gadis cantik itu berusaha menahan tawa sampai membuat wajahnya memerah. Mungkin kalau orang lain yang melihat mereka—hanya melihat pasangan kekasih yang sedang kasmaran dan sang wanita yang merona malu.
"Tuan Muda selalu membatasi diri dengan wanita, tetapi hanya dalam kurun waktu dekat sudah menemukan gadis yang dicinta. Bukankah terlihat seperti gelombang yang menjulang kelangit dan membanjirinya(2)."
Suara wanita muda mengintrupsi mereka dari arah belakang. Membuat Xiu Qixuan dan Sima Junke menolehkan wajah agar melihat pemilik suara itu.
Wanita muda itu berdiri dari duduknya, terlihat sangat cantik dengan pakaian yang membalut tubuhnya membuat wanita itu nampak elegan dan berkelas.
"Maafkan kelancanganku. Zhai XinXin memberi hormat," Ucap wanita muda itu membungkuk memberi hormat— yang ternyata adalah Zhai XinXin sang Nona Keluarga Petinggi Zhai.
"Oh, tenyata adalah Nona Zhai." Ucap Sima Junke dengan acuh. Pria ini ternyata juga pandai mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Aku menyimpulkan ucapanmu sebelumnya sebagai pertanyaan mengenai aku mengumumkan pertunangan ini secara tiba-tiba." Lanjut Sima Junke dengan sangat acuh.
"Jika ada bunga yang mekar maka petiklah, jangan menunggu sampai bunga tidak ada yang kau petik hanya tangkainya. Mungkin dari kalimat itu dapat menjelaskan mengapa diriku dengan tiba-tiba menjalin hubungan dengan Xuan'er, karena aku tidak ingin kehilangannya dan kehilangan kesempatan yang diberikan oleh langit." Jawab Sima Junke dengan lugas menatap Xiu Qixuan lembut.
Xiu Qixuan menundukan wajahnya karena sedikit malu, gadis itu berusaha menahan diri untuk tidak terkekeh geli. Xiu Qixuan tidak suka kalimat ataupun hal yang berbau romantis!
••••••••
(1). Jernih bagai es dan bersih bagai giok: Tanpa celah
(2). Seperti gelombang yang menjulang kelangit dan membanjirinya: Sangat Aneh
Authornya pusing melihat kelakuan Xiu Qixuan yang selalu terlibat perdebatan. author yang buat dialog dan rancangan kalimatnya aja kesel bin mabok.
belum lagi part selanjutnya karena sih Zhai XinXin sepertinya tidak terima.
sedikit mengeluh karena membuat karakter Xuan dengan ciri khas seperti dibawah ini:
menyusahkan
suka bikin heboh sampai kepala pening.
kelakuan absurd bin abstrak.
over percaya diri
????
yang kelima ada yang bisa bantu jawab?:-D