Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sebuah Bayangan & Kebencian



Satu Bulan Kemudian.


Dedaunan berwarna keemasan dan yang tidak dapat bertahan jatuh tertiup angin, cahaya samar dari matahari musim gugur menyejukan hati juga tubuh manusia.


Pada saat ini adalah akhir musim gugur, waktu berlalu begitu cepat membawa perubahan yang menyakitkan bagi seseorang.


Dibawah sana seorang gadis cantik menangis tidak berdaya dengan mendekap tubuh bocah kecil yang sudah membeku. Darah masih menyembur keluar dari tubuh kecil itu, dagingnya terkoyak membentuk luka menganga lebar.


Tubuh gadis cantik itu bergetar hebat, sebuah amarah akan ketidakberdayaan, sebuah cinta yang berubah menjadi kebencian.


Perlahan wajah cantik itu mengangkat, tatapannya tajam dan liar menatap kearah sosok pelaku yang berdiri tegak di depan sana dengan tangan juga pedang panjang yang berlumuran darah.


Ekspresi gadis itu tampak sangat tenang, tetapi saat ini jari-jarinya menyusut di lengan bajunya yang tidak terkendali, dan suaranya seperti benih terjerat di tanah, berjuang dan akhirnya mengambang keluar. "A Jun, aku masih mempercayaimu hingga detik terakhir dimana kamu membunuh Xiao Bao." Ucapnya sedingin es.


Dengan perlahan dan sedikit terhuyung dia beranjak melangkah untuk mendekati pria tampan yang hanya berdiri menatapnya datar.


Dia menatap sendu kearah pria itu dan terus melangkah dengan terseok ringan, "Kau sudah berhasil sejak saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Kau sudah berhasil sejak saat kau berjanji untuk selalu memperlakukanku dengan baik. Dan kau sudah berhasil sejak menghadang panah iblis untukku."


"Bahkan jika wanita itu berkata bahwa tujuanmu selama ini adalah hanya menginginkan Kitab Seni Beladiri Xitian dariku, aku masih tidak akan mempercayainya." Lirihnya.


"Tetapi apa yang kau lakukan?! Kau memperlakukan Xiao Bao lebih buruk daripada seekor tikus yang tidak punya tempat untuk mati!" Teriaknya dengan tajam penuh amarah.


"Sima Junke, aku membencimu!" Pernyataan itu membuat sesak di dada yang tiada banding, seolah tersambar petir pria tampan yang berdiri tegak itu mematung dan mengerjap linglung.


Tubuh gadis itu terhuyung hebat, 'Bruk,' dia meluruh terjatuh dengan tangan yang terus mencengkeram erat sesak di dadanya.


Napasnya memburu hebat seakan pasokan udara tidak dapat masuk kedalam paru-parunya, wajahnya seperti selembar kertas putih yang pucat.


Dia mendongakkan wajah dan menatap pria yang berdiri tegak itu dengan mata berembun menahan kesedihan, "Aku membencimu hingga kedasar tulang. Dahulu aku berhutang sebuah nyawa padamu, hari ini sudah terbayar semua. Setelah ini kita tidak berhutang apapun lagi." Ucapnya dengan tercekat memukul-mukul dadanya karena sesak yang tak kunjung menghilang.


"Hanya saja perasaan menjengkelkan ini begitu dalam, tidak bisa diputuskan begitu saja. Betapa bodohnya, saat aku masih berharap kau kembali, padahal sangat jelas kau melakukan kekejaman ini dengan kesadaran penuh." Lanjutnya dengan terkekeh tajam dan mengandung kesedihan yang tak tertahankan.


"Aku pasti tidak akan berbuat seperti itu padamu, aku tidak akan meninggalkanmu dan akan baik padamu seumur hidup. Heh, bukankah saat ini kalimat itu terdengar menjengkelkan?" Dengan seringai geli yang dipaksakan.


Airmata yang tertahan itu kembali mengalir deras, saat kenangan demi kenangan berputar, suara yang menguntaikan kalimat lembut masih terukir jelas di dalam benak.


Napas gadis itu semakin menipis, dadanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata, ribuan jarum seperti menghancurkan paru-paru dan juga jantungnya.


Tanpa gadis itu sadari, jari-jari kokoh milik pria itu mengepal erat seperti ada perasaan yang membuncah hebat dan ingin dikeluarkan tetapi tertahan oleh sesuatu kekuatan tak kasat mata.


Dengan gerak reflek dari alam bawah sadar, pria itu satu langkah mendekat sebelum akhirnya langkah itu terhenti, Kedua tangannya mencengkeram erat surai rambutnya 'Nging..' bunyi nyaring memekak di dalam kepala seperti ada seseorang yang mengendalikan segala tindakan dan tidak mengizinkan dirinya untuk melangkah mendekati gadis cantik yang jatuh kesakitan itu.


"Sayang, sudah berbicaranya? Apa dia masih tidak percaya?" Suara merdu seorang wanita terdengar dari arah samping yang mendekap lengan kokoh milik pria itu.


"Xiao Chun.." Panggil pria itu dengan menolehkan wajah linglung.


Wanita yang di panggil Xiao Chun itu memiliki postur tubuh indah dengan pesona vulgar tetapi elegan, dia tersenyum memikat ketika menatap Sima Junke.


'En,' Jawab Sima Junke mengangguk patuh. "Lakukanlah sesukamu." Lanjutnya dengan lembut.


Xiu Qixuan mengepalkan jari-jarinya saat melihat interaksi manis mereka, dia menatap wanita itu dengan tajam seperti ingin menerkam mangsanya.


Xiao Chun melambaikan tangannya dan berucap, "Seseorang... bawa dan ikat gadis ini," memerintah tegas.


Dua orang pria yang berpakaian seragam dengan cepat menghampiri Xiu Qixuan yang memberontak. "Lepaskan!! Sampai matipun aku tidak akan memberikannya pada jalang sepertimu!" Teriaknya dengan kebencian ketika kedua bawahan Xiao Chun menyeretnya.


Perasaan ketidakberdayaan seperti ini adalah suatu hal yang dapat


mengubah seorang manusia yang bersifat mulia menjadi penuh dendam kebencian.


Xiu Qixuan, gadis itu, dia tangguh dan menolak untuk tunduk bahkan jika kekuatan internalnya tiba-tiba tak bisa digunakan sejak terbangun dari koma. Dia tidak mengetahui bahwa saat langit memberikan tanggung jawab besar kepada seseorang, langit akan melatihnya dengan penderitaan terlebih dahulu.


•••••••••••••


Disisi lainnya.


Dibawah kesuraman dan kegelapan ruangan besar bawah tanah, sosok misterius nan tampan itu terduduk diatas kursi takhta dengan malas menutup kedua matanya.


"Lapor ketua, Xiao Chun sudah melumpuhkannya." Ucap Ban Xia dengan hormat.


Kedua mata setajam mata pisau itu perlahan terbuka, dia melirik tajam kearah Ban Xia yang mengganggu ketenangannya.



"Hmm, sangat baik." Jawabnya singkat.


Xiu Qixuan, gadis itu, dia sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat, cara kejam seperti ini juga adalah bentuk toleransi karena tidak membunuhnya.


Perlahan sosok misterius nan tamoan itu beranjak dan segera memakai jubah hitam miliknya. "Ban Xia, bergegas untuk ke Sekte Tujilin." Perintahnya dengan tajam kemudian mengepak lengan bajunya dan berlalu pergi.


Sosok misterius itu tersenyum miring, dia memang tidak bisa berdiri disamping gadis itu karena mereka ditakdirkan disisi yang berbeda.


Tetapi dia adalah sebuah bayangan yang tak terpisahkan dan akan selalu berakhir mengikuti arah langkah kemana gadis itu pergi.


Ban Xia mengikuti dan mematuhi perintah atasannya, dia dapat merasakan bahwa ketua-nya memperlakukan gadis itu dengan cara yang berbeda.


Mengapa harus bermain dan menunggu terlalu lama untuk menyerap kekuatan internal gadis itu? Ketua-nya juga dengan sukarela turun tangan dan pergi menuju Sekte Tujilin dengan membawa topeng giok kematian. Cara seperti ini terlalu berbeda dari tindakan mereka biasanya.


Biasanya mereka akan langsung membunuh ditempat untuk menyerap akar kekuatan spritual jenis Yin atau Yang dari para ahli beladiri.


••••••••••••••