
Sinar bulan menyusup menerangi sebagian hutan. Lapangan pekemahan yang luas, suara gemerisik terdengar dari salah satu semak belukar yang bergoyang kasar. Bukan karena angin, itu ulah seorang gadis kecil berpenampilan cukup nyentrik, dia melompat keluar dari balik semak-semak. Tidak ada orang yang melihat, tidak ada prajurit yang berpatroli lewat. Sungguh keberuntungan.
"Haa..., begitu menyiksa hanya diam di sana." Itu adalah Su Yiyang, ia menghela napas kasar sembari merunduk membersihkan sudut pakaiannya yang terkena noda tanah. Dia berkata itu menyiksa, tapi dia sempat hampir tertidur karena menunggu dengan bosan di balik semak belukar.
Gadis ini diam-diam menyusup di kereta keluarga nya untuk bisa melihat acara berburu. Namun, pakaian yang dikenakan berwarna pink mencolok untuk kategori penyusup yang seharusnya berpakaian gelap. Benar-benar deh, dia suka menonton keramaian. Entah bagaimana juga dia bisa lolos tak ketahuan.
Acara malam sambutan sedang berlangsung, membuat Su Yiyang hanya perlu bersembunyi saat melewati prajurit keamanan yang berpatroli.
Langkahnya begitu hati-hati, dia melihat kesekitar mencari sekiranya tenda yang di tinggali temannya, Xiu Qixuan.
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung kasar ketika seseorang menarik lengannya. Dia tersentak dan hampir berteriak memaki; "Sialan dari mana yan—...," Ketika kepalanya menoleh, mulutnya cepat kembali terkatup rapat.
"Hei, Su bodoh..." Suara tampan namun menyebalkan terdengar berdering dari sosok lelaki muda berambut cokelat pekat. Dia mencengkeram lengan Su Yiyang dengan sedikit kekuatan baru kemudian menghempaskannya dengan kasar.
Dengan muka kaku yang menahan sebal, Su Yiyang memberi salam dengan gestur patah-patah. "Saya memberi salam pada Yang Mulia Pangeran Kesembilan." Ucapnya dengan nada malas.
Shen Wanqi, Pangeran Kesembilan, menatapnya tajam dengan mendengus bertanya. "Sedang apa kau di sini?"
"Apalagi kalau bukan melihat keramaian...," gumamnya sendiri dengan menunduk agar lawan bicaranya tak mendengar.
Arghh!
Pekikan teriakan wanita yang bersahutan tiba-tiba terdengar dari arah tempat jamuan makan malam yang berjarak dua kilo dari tempat mereka berdiri. Itu cukup jauh namun bisa terdengar karena hutan yang sunyi.
Su Yiyang dan Shen Wanqi masing-masing mengangkat kepala dan saling menatap. Sepersekian detik mereka terdiam dalam pikiran sebelum akhirnya Su Yiyang yang terlebih dahulu tergesa-gesa menuju kearah sumber suara. Tak ingin tertinggal, Shen Wanqi menyusul berlari di belakangnya. Sepertinya Su Yiyang melupakan bahwa dia sedang menyusup di tempat ini.
••••••••••••••••••••••
"....Su gila. Cepat turun kau!" Shen Wanqi berseru keras dari bawah. Dia mendongak menatap dahan pohon besar yang memang berada tidak jauh dari tempat jamuan makan malam.
"Berisik...," Su Yiyang membalas tanpa melihat sedikitpun. Matanya terfokus menuju satu arah, dia memanjat pohon. Ini adalah tempat terbaik untuk melihat apa yang sedang terjadi di acara jamuan.
Dalam pandangan Su Yiyang, dia melihat Xiu Qixuan yang sedang berdiri menghadap Kaisar dengan lelaki berambut merah sedang berlutut. Bisa ditebak itu adalah Tuan Muda dari keluarga Duan.
Namun kening Su Yiyang mengerut ketika melihat arena bertarung di tengah lapangan tampat acara jamuan.
"Fuhuang memang selalu seenak hati. Arena itu disiapkan untuk para bangsawan yang berbakat dalam bela diri saling bertarung secara adil dan pemenangnya akan menjadi peserta berburu besok bersama kami Para Pangeran." Suara Shen Wanqi terdengar persis dari samping telinga, membuat Su Yiyang menoleh.
Pria ini ternyata ikut memanjat dan terduduk di dahan besar di sebelahnya, menjelaskan sembari menggerutu mengenai Pangeran Mahkota yang tak hadir dan Kaisar yang mengubah ritme banyak hal.
Tidak memedulikan lagi, Su Yiyang fokus dengan apa yang terjadi. Dia melihat Kaisar memberikan Xiu Qixuan sebilah pedang. "Xuan...," Ia tercekat berseru khawatir sampai tidak sadar tubuhnya condong kedepan.
Shen Wanqi dengan santai membalas. "Nona Besar Xiu meskipun banyak melanggar namun tindakannya dewasa dan cerdas, di banding itu seharusnya kau memikirkan saja nasibmu sendiri." Ujarnya.
Yang sebenarnya terjadi di acara perjamuan makan malam...,
Ia melanjutkan: "Yang Mulia, anda begitu adil membiarkan seseorang dengan bakat datang untuk menjadi peserta berburu besok bersama Para Pangeran. Tapi, saya tidak melihat Tuan Muda Duan layak dengan kehormatan tersebut. Saya tidak berbakat namun saya mengerti." Xiu Qixuan mengatakan satu bagian tanpa ragu-ragu. Kata-katanya tersusun rapih, terdengar lancang namun sopan.
Brukk!
Xiu Qixuan membanting tubuh rampingnya ketanah, dia berlutut dengan menangkupkan kedua tangannya. "Yang Mulia..., saya, Xiu Qixuan, meminta izin Anda untuk bisa berpartisipasi dalam kehormatan ini!" Ujarnya
Adegan ini..., seperti sudah direncanakan saja. Dia meminta pertandingan untuk bisa mengikuti kompetisi berburu. Meskipun statusnya calon menantu kekaisaran tetapi dia tidak ingin dipilih atau menjadi pilihan siapapun untuk menikah.
Duan Bian Jian membuat kesalahan dalam pertarungan tadi, pria itu memukul belati lawan dengan kasar. Membuat belati tersebut menghunus terbang hendak melukai ketujuh calon menantu kekaisaran. Namun, Xiu Qixuan menghadang serangan tersebut dengan bakat dan berani. Dan gadis itu meminta kompensasi yang tak diduga pada Kaisar.
Mendengar perkatan Xiu Qixuan, semua orang hampir menjatuhkan rahang mereka.
"Gadis konyol..., mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tak masuk akal?" Permaisuri Gao berseru marah. Penguasa harem dalam itu seperti tidak ingin bila seorang Xiu berakhir sebelum bisa dia manfaatkan.
Wei Guifei dan Shang Shufei mendecakkan lidah mereka menyayangkan dan mengasihani Xiu Qixuan yang kehilangan pikirannya. Mereka berpikir meskipun itu berani namun gadis ini terlalu gila 'kan? Tapi mereka semua salah—lebih tepatnya, gadis ini sudah menggila sejak awal.
Mata Kaisar gelap oleh intrik menunjukkan ketidaksenangan, dia terdiam memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berbicara: "Baik, sangat baik. Seorang Xiu memang selalu mengejutkan. Nona Besar Xiu..., kamu putri Jenderal kesayangan yang kupercayai menjaga perbatasan, tentu saja kamu berbakat. Tunjukan pada zhen!" Dia bangkit berdiri dan mengibaskan lengan pakaiannya, menarik bilah pedang dari seorang prajurit dengan gerakan agresif dan berjalan lurus kehadapan Xiu Qixuan.
Di belakang..., Permaisuri berdiri dengan wajah gelap berseru menyuarakan suara tak setuju; "Yang Mulia, ini tak pantas! Seorang gadis—,"
"Apa yang tak pantas? Menghargai bakat, memerintah rakyat dengan bijaksana. Entah itu seorang gadis sekalipun,... Tunjukan dan datang perlihatkan." Kaisar memotong dengan memberi tekanan yang berat, tak terbantahkan. Semua orang terdiam.
"Nona Besar Xiu.., setelah musim gugur lewat, musim dingin tiba. Mantel bulu rubah akan sangat langka, akan sangat bagus kamu memilikinya sendiri. Menangkan arena ini dan pergilah berburu besok." Perkataannya biasa namun terkesan ambigu sebelum dia memberikan sebilah pedang itu pada gadis bertubuh mungil di depannya.
Sinar bulan yang memantul membuat senjata mematikan tersebut berkilat tajam membuat bayangan cembung di depan wajah cantik itu. Xiu Qixuan menegapkan tubuh dan mengambil pedang itu tanpa ragu dari genggaman Kaisar.
Dia memandang Kaisar dengan waspada. Tercium bau yang sangat busuk dari wajah tua itu. Sesuatu akan terjadi di perburuan besok, rubah tua ini sudah menyiapkannya dengan hati-hati. Ini hanyalah awalan untuknya.
•••••••••••••••••••••••
Fuhuang: Ayahanda.
Zhen : aku, sebutan untuk Kaisar.
[Pangeran Pertama : Shen Minwei : Tidak bisa berjalan/cacat.
Pangeran Kedua a.k.a Pangeran Mahkota: Shen Changran
Pangeran Ketiga : Shen Yuan Zi : Bodoh/Rambut perak
Pangeran Kelima: Shen Zongshun : Wakil komandan penjaga ibukota.
Pangeran Ketujuh: Shen Ruan Ye : Bermonokel/Ahli pengobatan dan penelitian
Pangeran Kedelapan: Rambut pirang mata biru/suka hal2 mewah yg norak.
Pangeran Kesembilan: Rambut Coklat, senang membuat masalah.]