Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Topeng Menyedihkan



Daun kuning di hari musim panas. Sentuhan angin lembut menerpa wajah. Air danau di depan mata memiliki riak yang jernih dan dalam.


Permen buah dengan bungkusan warna-warni di tangannya memberikan suatu kehangatan tersendiri. Rasanya aneh, tidak pernah dalam hidupnya dia mendapatkan sesuatu dari orang lain.


"Pangeran sudah bekerja keras!" Suara Ban Xia terdengar puas dari arah belakang. Dengan suara gemerisik dari langkah kakinya, dia segera berdiri di samping.



Menarik senyum simpul, Ban Xia kembali berkata: "Saya tidak berpikir ini sudah berhasil menarik target kita." Ekor matanya bergerak untuk melirik sekilas pada bungkusan permen yang memenuhi kepalan tangan Shen Yuan Zi. "Tapi, di lihat anda yang menerima suatu bentuk perhatian darinya—menunjukan bahwa target sudah memiliki pemikiran tersendiri terhadap situasi anda yang berpenampilan menyedihkan."


Shen Yuan Zi dengan kosong menanggapi: "Ya, menyedihkan." Dia menunduk dan tersenyum dingin melanjutkan dengan nadanya yang semakin menusuk dalam, "Tanpa perlu berpenampilan untuk menipu seperti ini pun, aku memang sudah menyedihkan sejak awal 'kan, Ban Xia."


Kata-katanya menyadarkan Ban Xia untuk tidak berbicara lebih banyak lagi.


Diujung mata Shen Yuan Zi hanya ada kesedihan juga penderitan yang tiada akhir. Ban Xia meringis kelu karena ternyata dia tiba-tiba merasa lebih terbiasa menangani sosok Mozi yang kejam.


"Kapan ini berakhir?" Shen Yuan Zi bergumam lemah memandang hampa ke danau yang beriak. "Manusia yang seperti monster ini hidup di balik topeng penyamaran, dari awal memang sudah penuh dengan sampah busuk." Setelah mengatakan itu dia berbalik dengan membawa momentum kesepian yang tajam.


Ban Xia mengatupkan bibirnya, dia dengan rendah berkata dari balik punggungnya: "Pangeran, jangan lunak. Gerbang malapetaka harus tetap di buka jika anda memang ingin mengakhiri semua penderitaan anda."




*Di malam sebelumnya*...



Angin dingin bersiul masuk melalui dinding loteng yang sudah lapuk. Suasana begitu sunyi dan gelap di dalam terlihat tanpa kehidupan.



**Ctarzz**.



Seseorang memantik api untuk menyalakan lentera yang tampak lusuh sebagai penerangan.



"Pangeran, kita harus mulai bergerak secara perlahan. Saya akan menjelaskan rencana untuk menarik perhatian target agar mendekati anda." Ban Xia berkata serius dengan memandang punggung lebar dari sosok yang sedang terduduk di pilar rapuh jendela.



Seperti terlarut dalam buaian cahaya bulan. Shen Yuan Zi tidak kunjung menanggapinya.



Melanjutkan kalimatnya, Ban Xia menghela napas dan berkata perlahan: "Kita akan melakukan sihir kamuflase. Anda harus mengubah sedikit dari penampilan di tubuh anda." Dia melanjutkan dengan melirik otot yang terbentuk maskulin di tubuh indah Shen Yuan Zi. "Karena jika seorang pangeran yang selalu di perlakukan tidak layak dan terkurung di istana dingin dapat berpenampilan terawat seperti ini rasanya sangat aneh." ujarnya masuk akal.



Shen Yuan Zi berdecih dengan tajam berseru. "Tidak mau!" Dia mengeluarkan pancaran permusuhan pada Ban Xia. "Kau lakukan saja sendiri. Aku tidak ingin keluar dari pintu istana ini!"



Dia berkata dengan getaran takut seolah-olah dinding lapuk istana dingin inilah yang selama ini menjadi tempatnya untuk berlindung dan bersembunyi dari menyeramkannya dunia luar.



Lidah Ban Xia terasa kelu, dia sudah kehabisan kata-katanya selama dua hari membujuk Shen Yuan Zi.



Ban Xia selalu dapat diandalkan. Tetapi, sekarang dia harus mengeluarkan kartu ancaman terakhirnya untuk membujuk Shen Yuan Zi agar bekerja sama.



"Ketua Mozi berpesan untuk saya menyampaikan kalimat ini pada anda." Wajah Ban Xia datar tapi bibirnya perlahan bergerak melanjutkan berkata dengan nada yang terjerat, dia menyalin kalimat Mozi sesuai perintah. "Kau terlahir untuk menyebabkan kesakitan, penderitaan dan kematian. Begitu adanya dahulu, sekarang maupun masa depan. Jadi, kau tidak bisa melarikan diri dan menjadi pengecut. Dasar bodoh!"



Tubuh Shen Yuan Zi tersentak dingin. Dia patah-patah menoleh dengan wajahnya yang tampak begitu keruh. Matanya bergetar karena perasaan tertekan.



Shen Yuan Zi terkekeh kecut, ia berujar dengan menghela napas kasar: "Haa... Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengikut rencananya kalau begitu, 'kan."




•••••••••••••••••



Kedua gadis muda yang mengenakan pakaian pelayan kediaman besar terlihat melangkah dengan gerakan teratur melalui koridor istana dalam, mereka menunduk dan sesekali berbisik.



"Kenapa kau terburu-buru membawaku pergi?" Su Yiyang berkata dengan mendelik geram. "Aku belum selesai dengan Pangeran Ketiga!" dengusnya berseru runyam.



Dengan malas, Xiu Qixuan menanggapi. "Kau tidak merasakannya, ya?" Dia melanjutkan dengan sedikit mengejek Su Yiyang, "Pangeran itu tidak nyaman denganmu yang berperilaku aneh."



"Ah.. apa termasuk aku juga, ya? Dia terlihat tidak nyaman bertemu orang." gumam Xiu Qixuan tampak berpikir di akhir kalimatnya.



"Hngh.. Terus apa yang kau berikan tadi padanya?" Su Yiyang bertanya dengan sebal.



"Sample permen buah yang akan segera rilis di toko." Xiu Qixuan menjawab singkat.



Su Yiyang menoleh. Raut wajahnya berubah cepat menjadi binar penasaran. Dia segera mengadahkan tangan dan berkata antusias: "Berikan juga padaku! Aku ingin mencobanya."



Dengan datar, Xiu Qixuan menjawab tak acuh. "Tidak ada sisa. Sudah aku berikan semua pada pangeran ketiga tadi."



Wajah Su Yiyang langsung menjadi gelap. Dia menggeram frustasi seperti orang gila. "Argh, kenapa kau memberikan semua itu padanya?!"



"Apakah harus memiliki alasan untuk memberikan permen kepada seseorang?" Xiu Qixuan berkata dengan menautkan alisnya. Ada sedikit jeda ketika dia kembali melanjutkan dengan suaranya yang jernih: "Itu karena dia sangat kurus, aku tidak membawa apa pun selain permen untuk di berikan padanya."



Su Yiyang terdiam, menyetujui. Tapi, dia tetap dalam mode merajuk karena kerutan masih terlihat di bibirnya yang mengerucut.



Xiu Qixuan dan Su Yiyang melangkah memutar untuk langsung menuju kereta kuda yang terparkir di gerbang samping. Karena dalam kesepakatan yang sudah mereka sepakati di awal perjanjian, mereka harus menunggu Xiao Rou dan Jiajia yang menyelesaikan kelas pengantin di dalam gerbong kereta.



Kusir kereta kuda yang membawa mereka hari ini adalah Xiao Taoli. Jadi, Xiu Qixuan tidak perlu khawatir jika ulahnya akan di ketahui oleh Lu Ningya ataupun Xiu Lingze.



Melihat sosok Xiu Qixuan dan Su Yiyang berjalan mendekat. Xiao Taoli yang sedang bersantai langsung meloncat dari kursi kemudi, dia kemudian bergegas menyiapkan tangga yang menjadi panjatan untuk membantu kedua gadis itu menaiki gerbong.



"Apakah Xiao Rou dan Jiajia belum kembali?" Xiu Qixuan bertanya dengan menundukan pandangan meraih tangan Xiao Taoli yang terulur untuk membantunya melangkah naik.



"Belum, Nona. Tapi, seharusnya sebentar lagi mereka datang." Xiao Taoli menjawab dengan nada halus.



••••••••••••••••