Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Uang Saku dan Peluang



Sima Junke memalingkan wajahnya untuk menatap sebal Xiu Qixuan, sudah tidak tahan lagi. Gadis ini benar-benar!


"Omong kosong apa yang kamu katakan?" Dengus Sima Junke


"Aku hanya berucap kebenaran," Jawab Xiu Qixuan dengan polos, tidak menghiraukan kekesalan Sima Junke.


"Kau ini benar-benar —," Ucap Sima Junke yang terjeda.


"Benar-benar cerdas dan cantik," Sergah Xiu Qixuan dengan senyum tak berdosa.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menangani-mu." Gumam Sima Junke mengeluh dan menghela napas panjang frustasi.


"Pufftt, haha. Ya langit, kau tidak harus sefrustasi itu padaku. Tenang saja, aku tidak akan menggangu-mu terlalu lama di Nanbao," Ucap Xiu Qixuan terkekeh geli saat melihat ekspresi wajah Sima Junke yang terlihat putus asa karena tidak dapat membalas ucapannya.


Gadis itu spontan berkata bahwa dirinya tidak akan tinggal terlalu lama di Nanbao. Membuat perasaan Sima Junke menjadi tidak tenang, pria itu terdiam tak berniat mengatakan apapun.


Xiu Qixuan hanya berniat mengoda Sima Junke karena rasa penat dan kebosanannya selama di Nanbao.


Ji Gui, Yao Yunmei, Xiao Taoli ataupun Xiao Rou—keempat orang yang biasanya menjadi korban kejahilannya itu tidak berada disini membuat gadis itu melampiaskannya kepada Sima Junke.


Mereka melangkah beriringan dengan tangan yang saling menggengam erat. Xiu Qixuan ikut terdiam, gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba lengan kecil dan jari lentik yang terbebas milik Xiu Qixuan mengadah seperti meminta sesuatu kepada Sima Junke.


"Kenapa?" Tanya Sima Junke dengan kebingungan, pria itu mengerutkan alisnya menatap lengan Xiu Qixuan yang mengadah.


"Aku meminta beberapa tael perak ataupun emas," Jawab Xiu Qixuan tidak sungkan meminta uang.


"Untuk apa? Bukankah kau bagian dari kakakmu yang adalah seorang pembisnis, seharusnya kau memiliki sedikit kekayaan." Ucap Sima Junke dengan tak acuh.


"Bodoh! Kau lupa? Aku ini sebelumnya tawanan perang yang miskin, aku tidak membawa sedikitpun hartaku saat kau membawa paksaku kemari." Jawab Xiu Qixuan dengan sedikit membara.


"Lagipula aku belum bertemu Er'ge. Perjanjian baru saja ditanda tangani dan aku baru akan mengirim pesan untuknya—agar dia memperintahkan bawahannya mengirim barang perdagangan dan membantu toko yang akan segera dibangun." Lanjut Xiu Qixuan setengah berbohong.


Karena gadis itu sebelumnya sudah bertemu kakak keduanya tetapi dia melupakan untuk meminta uang saku kepada Xiu Huanran.


"Ayolah, jangan begitu pelit padaku." Ucap Xiu Qixuan dengan memasang binar penuh permohonan dikedua bola matanya.


Sima Junke menghela napas panjang berusaha untuk tetap berkeras hati, pria itu tidak ingin kalah sekali lagi kepada Xiu Qixuan. Dia ingin sedikit memberi pelajaran kepada gadis ini agar kekesalan dihatinya yang belum mereda ini sedikit terendam.


"Tidak," Tolak Sima Junke dengan tegas tak berperasaan.


"Ayolah, aku sangat bosan dan hanya ingin berbelanja dipusat ibukota Nanjing." Bujuk Xiu Qixuan mengguncangkan lengan Sima Junke.


"Kalau kau bosan, kau dapat membantu dipeternakan bersama kakek ku—biasanya itu cara dia menghilangkan bosan." Ucap Sima Junke memberi saran dengan tampang tak berdosa.


Memberhentikan langkah dan melepaskan genggam tangan mereka, Xiu Qixuan berbalik kemudian berdiri berhadapan dengan Sima Junke—dia berusaha untuk menghadang langkah pria itu.


"Tetapi aku bukan kakek-mu! Itu bukan caraku menghilangkan bosan. Lagipula bukankah pepatah mengatakan—jika kamu memberikan uang saku kepada orang lain, mereka juga akan memberimu peluang." Ucap Xiu Qixuan dengan mengerut sebal menghentakan kedua kakinya ketanah.


"Peluang seperti apa yang kau dapat berikan?" Tanya Sima Junke memandang Xiu Qixuan dengan pandangan geli berusaha menahan senyumnya.


"A Tian!" Panggil Xiu Qixuan keras dengan tangan yang melambai kearah Aisin Tianyi.


Aisin Tianyi yang mendengar itupun memberhentikan langkah untuk melihat siapa yang memanggilnya, dan saat melihat Xiu Qixuan—dia tersenyum manis membalas dengan ikut melambaikan tangannya.


Xiu Qixuan menurunkan lengannya dan melipat kedua lengannya didepan dada, kemudian memandang malas kearah Sima Junke yang terdiam melihat interaksi kecilnya dengan Aisin Tianyi.


"Humph, aku menarik kembali perkataanku barusan. Tidak membutuhkanmu," Dengus Xiu Qixuan dengan angkuh berjalan untuk menghampiri Aisin Tianyi.


"Kau ingin kemana?" Tanya Sima Junke dengan suaranya yang memberat.


Xiu Qixuan diam tak menjawab dan malah melanjutkan langkahnya.


"Sangat berani—berhenti disana! Atau aku akan mengurungmu dan menjadikan kau tetap menyandang gelar tawanan perang Nanbao seumur hidupmu." Ancam Sima Junke dengan penuh kekejaman.


Cih, bukan Xiu Qixuan namanya kalau takut dengan ancaman yang baginya hanya kerikil kecil.


Tidak menghiraukan Sima Junke sedikitpun, Xiu Qixuan tetap melanjutkan langkahnya menuju Aisin Tianyi diujung samping jalan.


Sima Junke mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat, menghela napas panjang—dia tidak dapat menangani Xiu Qixuan dengan cara kejam karena itu dapat membuat Xiu Qixuan semakin memberontak.


"Baiklah, Aku akan memberimu beberapa tael emas dan perak." Ucap Sima Junke yang membuat Xiu Qixuan dengan cepat memberhentikan langkah dan memutar tubuh berbalik mengarah padanya.


"Tetapi, aku akan ikut menemanimu berbelanja di pusat kota." Lanjut Sima Junke dengan menaikan kedua alisnya.


Xiu Qixuan tersenyum lebar dan melangkah cepat kearah Sima Junke. Kemudian dia berucap dengan penuh semangat, "Baiklah, ayo bersiap untuk berbelanja."


Sima Junke tidak mengetahui bahwa gadis itu memiliki rencana jahat untuk membuat Sima Junke kelelahan menemaninya berbelanja dan juga ia akan menghabiskan uang milik Sima Junke untuk berbelanja sebanyak mungkin.


Tanpa mereka sadari sejak tadi disepanjang jalan, para pelayan dan pengawal yang lewat akan berhenti untuk melihat interaksi menggemaskan itu. Beberapa pelayan dan pengawal yang menganggur itu tertawa melihat interaksi pasangan populer saat ini di Nanbao.


Kemudian Sima Junke dan Xiu Qixuan melanjutkan langkah mereka yang tertunda sebelumnya. Entah karena indra pendengaran mereka yang lebih tajam dari orang biasanya, mereka dapat mendengar dua pelayan yang sedang bergosip disamping jalan.


"Sepertinya Tuan Muda memang benar sudah jatuh cinta kepada Nona itu. Tetapi, bukankah terlalu mengejutkan? Atau Tuan Muda memiliki tujuan lain mendekatinya."


"Nona itu agak menyihir dengan pinggang ramping miliknya. Belum lagi dengan kulit seputih salju yang jarang ditemukan di Nanbao kami. Jika aku adalah Tuan Muda, aku akan memilihnya juga."


"Kau benar, tetapi tetap saja Nona itu terlalu lembut—sangat tidak cocok dengan Tuan Muda kami dan lebih tidak cocok dengan Nanbao kami. Nona Zhai lebih bagus,"


"Ya, Nona itu juga terlihat mencurigakan."


Begitulah isi percakapan penuh bisikan diantara kedua pelayan yang terdengar oleh mereka, Xiu Qixuan menunduk sedikit untuk mengambil batu kerikil kecil ditanah dan mengarahkan kepada dua pelayan itu.


'Tukk,' Batu-batu itu tepat mengenai dahi kedua pelayan itu yang sekarang memerah, mereka langsung menunduk menyembunyikan wajah saat Xiu Qixuan dan Sima Junke berjalan melewati mereka.


Sima Junke mengetahui tindakan Xiu Qixuan yang mencoba memperingati kedua pelayan itu dengan batu kerikil. Senyum tipis terpampang diwajah tampannya, gadis ini terlalu perhitungan—pelayan pun tidak akan dia dilepaskan kalau sudah menggangunya.


••••••••••••