
Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa wajah sepasang pria tampan dan gadis cantik itu.
Diatas langit, bulan bersinar cerah dan bintang bertabur indah tetapi berbeda dari perasaan dan pikiran sepasang manusia itu tidak secerah dan seindah kedua benda langit yang menemani mereka.
Bulu mata indah nan lentik milik gadis cantik itu mengerjap selama beberapa kali, dia berusaha untuk tetap sadar tetapi karena sudah tidak tahan lagi, ia meletakkan dagu-nya diatas pundak pria tampan yang sedang menggendongnya.
Gadis cantik itu sangat pucat dengan kepala-nya yang pening karena kehabisan banyak darah yang sebelumnya mengalir dikakinya yang terluka parah.
Pria itu membawa sang gadis kesayap timur, api yang sebelumnya membumbung tinggi itu mengecil menyisakan asap yang mengepul.
Keriuhan memang masih terjadi diantara banyaknya penjaga dan pelayan yang berdatangan membantu memadamkan api.
Sesampainya disayap timur seorang pria menghampiri mereka dengan memasang wajah panik dan berakhir kebingungan.
"Tuan Muda, kami sudah berhasil memadamkan api dan akan mencari tahu mengenai kejadian ini. Tetapi Nona Xiu—" Ucap Kangjian dengan panik dan menunduk sedih diakhir kalimatnya.
Sepertinya kedua mata pengawal pendamping Sima Junke itu terhalang oleh kabut asap, dia tidak melihat gadis yang jatuh tak sadarkan diri dipunggung Sima Junke. Dia malah mengira Nona Xiu -nya hangus terbakar api didalam bangunan.
"Bodoh. Kirim beberapa orang ke oasis barat untuk mengurus penjahat yang berani mencelakai Xuan'er. Pastikan untuk mengintrogasinya dengan teliti." Perintah Sima Junke dengan mendengus melihat kelakuan bodoh Kangjian.
Kangjian mendongakkan wajah dan mengusap kasar kedua matanya, kemudian ia memasang wajah tersenyum sumringah saat melihat jelas wajah Xiu Qixuan.
"Aiyaa, Nona Xiu. Kau baik-baik saja," Ucap Kangjian melangkah mendekat untuk memegang bahu Xiu Qixuan tetapi Sima Junke melangkah mundur membuat Kangjian hanya menggenggam udara kosong ditangannya yang terulur.
"Dia tidak baik, dan kau masih tidak melakukan tugasmu?" Tanya Sima Junke dengan tajam menatap Kangjian.
"Aiyaa—aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Jawab Kangjian tergagap dan kemudian berbalik melangkah dengan cepat.
"Panggilkan dukun untuk mengobati Xuan'er." Teriak Sima Junke keras kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk membawa Xiu Qixuan kedalam bangunan yang menjadi tempat tinggalnya.
Kangjian dengan cepat bergegas untuk menyelesaikan tugasnya, didalam benaknya itu terlintas bahwa Sima Junke dan Xiu Qixuan sedang bersama dimalam hari—yang membuat Kangjian terkikik geli membayangkan hal apa yang sedang terjadi diantara pasangan itu.
Kangjian tidak tahu saja bahwa pasangan itu baru bertengkar hebat karena meragukan satu dengan yang lain.
Tetapi kalau dipikirkan lagi oleh Kangjian. Nona Xiu ini terlalu sial, selalu terluka karena baru saja kemarin dukun dipanggil untuk mengobatinya dan sekarang dipanggil kembali. Atau Tuan Muda -nya yang terlalu sial menderita kerugian besar akan propertinya yang hangus terbakar.
********
Beberapa jam kemudian.
Sima Junke memasuki kamarnya dengan wajah suram, sebelumnya pria itu baru saja mengintrogasi penjahat wanita yang berani mencelakai Xiu Qixuan.
Tidak begitu terkejut saat mengetahui dalang dibalik aksi penjahat itu. Zhai XinXin, gadis itu terlalu naif dan bodoh.
Mengira dengan membayar organisasi gelap diwilayah Nanbao semua rencananya akan berhasil untuk melenyapkan Xiu Qixuan.
Siapa yang menyangka bahwa Xiu Qixuan dapat lolos dari maut dan malah membalas dengan membunuh rekan penjahat yang ingin mencelakainya.
Saat memasuki kamarnya Sima Junke melihat wajah tenang seorang gadis cantik yang terbaring diatas ranjangnya.
Pria itu melangkah mendekat dan terduduk disisi ranjang memandangi dengan dalam wajah cantik yang menyenangkan didepannya.
Sima Junke sedikit merebahkan dirinya disisi Xiu Qixuan ia menopang kepala dengan tangan kokohnya. Pikiran pria itu termenung dengan masih memandangi wajah Xiu Qixuan.
"Ayo cepat bangun. Aku janji akan baik padamu. Tidak memperdulikan lagi, kau ini siapa dan apa niatmu." Gumam Sima Junke berbisik pelan dengan suara magnetisnya.
Ya, Sima Junke yakin—sangat yakin, berusaha untuk yakin bahwa Xiu Qixuan tidak berkaitan dengan dendamnya pada ketiga sekte kekaisaran.
Xiu Qixuan masih terlelap tak sadarkan diri, pelayan sudah membantu mengganti pakaiannya dan dukun sudah mengobati lukanya. Menurut perkiraan, dia akan segera terbangun beberapa jam lagi saat matahari sudah terbit dari ufuk timur.
Entah apa yang berada dipikiran Sima Junke, pria itu tidak dapat menahan kantuknya dan ikut terlelap disamping Xiu Qixuan.
Kalau orang luar melihat ini, semua hal yang berkaitan dengan reputasi Xiu Qixuan di Kekaisaran Shen akan hancur.
********
Langit yang cerah dengan angin yang berhembus membawa pasir, berterbangan. Matahari sudah berada sejak tadi diufuk timur dan perlahan terus menaik.
Xiu Qixuan membuka kelopak mata indahnya dan dia menolehkan wajah kesamping saat merasakan napas milik seseorang menggelitik indra pendengarannya.
Xiu Qixuan tersentak tetapi tidak menimbulkan suara saat melihat Sima Junke begitu tenang dalam tidurnya.
Tidak ingin mengganggu pria tampan itu, Xiu Qixuan perlahan berusaha menyingkir dan berjalan teratih keluar setelah melewati sisi ranjang.
Xiu Qixuan belum menemukan sesuatu yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sima Junke akan ilmu Xitian yang dia gunakan.
Menjadikan ia menghindar untuk sementara waktu sembari memikirkan jawaban terbaik.
Xiu Qixuan ingin menjawab jujur, tetapi bagaimana jika Sima Junke memaksa untuk memiliki Kitab Seni Beladiri Xitian?
Sebelumnya Xiu Huanran sudah berpesan padanya untuk menjaga dan menyembunyikan Kitab Xitian.
Melangkah keluar sedikit teratih dari bangunan tempat tinggal Sima Junke untuk melihat bangunan tempat tinggalnya yang terbakar.
Xiu Qixuan meringis bukan karena sakit dikakinya tetapi sakit dihatinya karena memikirkan barang belanjaan sebelumnya juga ikut hangus terbakar.
Sementara itu Sima Junke juga ikut terbangun dan saat tidak melihat Xiu Qixuan disisinya—pria itu merasa kehilangan, panik ia bergegas untuk mencari.
Betapa lega dirinya saat melangkah keluar dari pintu, ia dapat melihat bayangan tubuh Xiu Qixuan.
"Xuan'er," Panggil Sima Junke dari arah belakang melangkah mendekati Xiu Qixuan.
Bahu Xiu Qixuan sedikit menegang sebelum akhirnya rileks kembali, ia tidak berpikir bahwa Sima Junke akan terbangun dari tidur secepat ini.
"Lukamu belum mengering dan kau bertindak sembrono berjalan sendiri keluar ruangan." Ucap Sima Junke dengan lembut.
Xiu Qixuan berbalik untuk memandang Sima Junke dengan penuh tanya. Ada apa dengan pria ini? Berubah menjadi begitu lembut, padahal sebelumnya ingin membunuh dirinya dengan belati tajam.
"Biarkan aku membantumu," Lanjut Sima Junke menyampirkan tangan kokohnya dipinggang Xiu Qixuan dan memapah gadis itu untuk kembali kedalam ruangan.
"Kau tunggu disini, aku akan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sarapan." Ucap Sima Junke setelah memastikan Xiu Qixuan terduduk dengan nyaman.
Sejak tadi Xiu Qixuan tidak mengeluarkan beberapa patah kata, gadis itu hanya diam melihat tindakan Sima Junke yang memperlakukannya dengan penuh perhatian.
Xiu Qixuan malah asik termenung untuk berpikir akan memulai percakapan yang serius dengan Sima Junke. Dia harus mempermudah jalannya dengan cara berkomunikasi.
Beberapa saat kemudian.
Berbagai macam makanan dihidangkan diatas meja kudapan. Ini lebih banyak dari porsi biasanya. Sima Junke terlalu boroskah?
"Xuan'er, kau mau mencicip yang mana lebih dulu? Aku sarankan yang ini—oh tidak atau yang ini." Oceh Sima Junke sangat heboh mengambil beberapa makanan dari meja kudapan untuk dihidangkan dimangkuk Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan menarik napas kemudian mengulurkan tangan untuk menghentikan tindakan Sima Junke.
Sima Junke mendongakkan wajah saat tangan Xiu Qixuan menghentikan tindakannya, ia melihat wajah Xiu Qixuan yang juga sedang menatapnya dengan dalam.
"Ada apa? Kau tidak menyukainya?" Tanya Sima Junke dengan tersenyum lembut.
"Tidak," Jawab Xiu Qixuan dengan datar.
Senyuman diwajah Sima Junke seketika surut tetapi pria itu dengan cepat menetralkan ekspresi wajahnya kembali. Tentu saja Xiu Qixuan melihat dengan jelas perubahan guratan ekspresi itu.
"Baiklah, kalau kau tidak menyukainya. Kau ingin sesuatu yang lain? Aku akan me—" Ucap Sima Junke terjeda, pria itu masih berusaha untuk membuat hubungannya dengan Xiu Qixuan menjadi baik kembali dengan tindakan penuh perhatiannya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini?" Sergah Xiu Qixuan dengan tatapan menyelidik.
"Bersikap seperti apa? Kau sedang terluka, aku hanya membantumu." Balas Sima Junke dengan masih sama lembutnya.
"Berhenti bermain-main. Bicarakan apa yang seharusnya kita bicarakan," Ucap Xiu Qixuan dengan tajam.
Seketika suasana diantara mereka menjadi hening dan terasa berat.
Sebelum akhirnya Sima Junke memecah kehening dengan suaranya yang memberat dan ekspresi datar menghiasi wajahnya.
"Baiklah, katakan padaku." Ucapnya. Katakan bahwa kau tidak berhubungan dengan mereka, katakan kau tidak berkaitan dengan dendam yang aku miliki.
Xiu Qixuan menarik napas dan kemudian menjawab, "Jika aku memberitahumu bahwa aku tidak berhubungan dengan Ketiga Sekte Kekaisaran ataupun Sekte Xitian—" Berhenti sejenak Xiu Qixuan menatap Sima Junke, dan perlahan bertanya. "Apakah kamu akan percaya?"
Xiu Qixuan mengatakan ini untuk melihat respon Sima Junke akan ucapannya barusan.
"Jika kamu tidak berhubungan dengan Sekte Xitian ataupun Ketiga Sekte Kekaisaran, bagaimana kamu mempelajari Ilmu Xitian?" Tanya Sima Junke tidak ada riak emosi diwajah tenangnya itu yang mengejutkan Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan tetap menatap lekat Sima Junke berusaha untuk melihat perubahan ekspresi walau sedikit, untuk mengetahui apa yang ada dipikiran Sima Junke. Sayangnya, wajah itu tetap tenang tak ber-riak.
"Kau tahu saat waktu kecil aku berguru diluar kediaman?" Tanya Xiu Qixuan sekali lagi.
Sima Junke mengangguk, mengiyakan bahwa dia mengetahui itu.
"Guruku dapat menggunakan Ilmu Xitian karena dia pernah belajar di Sekte Xitian, dan aku sebagai murid ikut mempelajarinya." Jelas Xiu Qixuan tentu saja itu semua palsu, gadis itu berbohong.
"A Jun, jawab aku untuk terakhir kalinya. Apakah kau percaya padaku?" Tanya Xiu Qixuan dengan pelan dan sendu menatap Sima Junke.
Gadis itu merasa dilema karena sudah berbohong, ia bertanya seperti itu untuk membiarkan Sima Junke menjawab atau mem-validasikan lagi penjelasannya barusan.
"Aku percaya, selama kamu yang mengatakannya. Aku percaya." Jawab Sima Junke dengan tegas.
Entah Xiu Qixuan harus senang atau tidak mendengar jawaban Sima Junke. Merasakan perasaan mengganjal dihatinya karena berbohong. Dia tidak dapat jujur diurusan serumit ini.
"Mengapa?" Tanya Xiu Qixuan dengan pelan masih menatap dalam kedua bola mata Sima Junke.
Sima Junke beranjak dari duduknya dan ia berjalan mendekati Xiu Qixuan yang berada tepat disisi lain meja kudapan.
Kedua bola mata Xiu Qixuan mengikuti langkah pria itu dan terus memandangi kedatangannya, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Sima Junke.
Dalam sekejap Sima Junke berdiri disamping tubuhnya, Xiu Qixuan berbalik menyamping dan ikut berdiri untuk melihat pria itu.
Saat mereka kembali berhadapan, tangan Sima Junke terulur merapihkan rambut Xiu Qixuan yang menghalangi pandangannya untuk melihat lebih jelas wajah cantik gadis ini.
Xiu Qixuan tersentak kaget tangannya juga ikut terulur berusaha mendorong tubuh Sima Junke untuk menjauh darinya tetapi tatapan pria itu membuat pikirannya tak berjalan normal.
"Aku mempercayaimu, karena kamu adalah Xuan'er." Jawab Sima Junke dengan teguh mempercayai.
Suaranya begitu berbeda dari malam sebelumnya yang begitu dingin nan tajam, sekarang suara itu begitu lembut nan teduh menggelitik indra pendengaran membuat jantung berdetak lebih kencang.
"Lagipula kalau kau memang berasal dari Ketiga Sekte Biadab yang mencuri Kitab Seni Beladiri Xitian. Bagaimana mungkin dalam waktu beberapa bulan kamu sudah dapat mahir menggunakan Ilmu Xitian, itu akan tidak masuk akal." Lanjut Sima Junke menjabarkan bahwa penjelasan Xiu Qixuan sebelumnya sangat masuk akal—tidak memiliki celah yang mengharuskan ia mempercayai sepenuhnya.
"Kau benar," Balas Xiu Qixuan tersenyum pahit dengan memalingkan wajahnya yang memerah.
Sima Junke tidak mengetahui semua menjadi masuk akal untuk diri Xiu Qixuan yang berbeda ini, mempelajari Ilmu Xitian dibantu oleh kedua hewan suragawi tentu akan lebih cepat dan ajaib daripada orang biasa.
Tiba-tiba teringat sesuatu, Xiu Qixuan menolehkan wajah kembali untuk bertanya kepada Sima Junke. "A Jun, hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Sekte Xitian?"
••••••••••
Lagi ngobrol dari hati ke hati dlu nich, abis itu baru kita beri pelajaran ke sih Zhai ;)
Sabar ya readersku yang baik, aku mau banget ko crazy up, cmn takut hasilnya kurang memuaskan karena feelnya kurang dan juga terburu-buru. Jadi tungguin yaa, sebisa mungkin selalu up.
Btw, ini Xuan akan bantu A Jun selesain masalah pelik Nanbao terlebih dahulu pasalnya Kepala Suku yang baru belum dinobatkan.
Baru abis itu Xuan akan membuka tabir misteri ada apa sih sebenarnya dengan Sekte Xitian. Jadi tungguin aja.
Nah abis itu perlahan-lahan ia juga akan ga sengaja mengungkap (tentu saja dibantu oleh Xiu Huanran) tentang apa yang terjadi sebenarnya dengan Xiu Qiaofeng.
Peluk virtual dari jauh💖