
Bulan menggantung diatas langit, sinar lembutnya menemani sepasang kekasih yang sedang menikmati kehangatan akan kebersamaan mereka yang terjadi dari atas altar bintang.
Altar bintang begitu sunyi dan sepi, orang lain lebih memilih untuk berpesta didalam aula besar dan merayakan segala bentuk kegembiraan.
Sima Junke masih mendekap erat tubuh Xiu Qixuan, sesekali dia mencium pucuk kepala gadis itu, menyesap aroma memabuk yang begitu memikat.
Tidak ada setetes airmata yang mengalir hanya ada kelegaan dan perasaan yang membuncah hebat, mereka memejamkan kedua kelopak matanya dan menikmati semua perasaan hangat yang melegakan dengan menyalurkan kerinduan dan menghilangkan kekhawatiran lewat dekapan yang semakin erat.
"Xuan'er, aku mencintaimu." Ucap Sima Junke yang mengalir merdu seperti musik lembut yang mengalun indah.
Membuat jantung berdetak lebih kencang dan perasaan semakin membuncah hebat dari gadis didekapannya.
Xiu Qixuan semakin mempererat pelukannya dan berucap pelan, "Aku tahu, kau br*ngs*k membuatku menunggu lama." Dengan mendengus kesal.
Entah apa yang membuatnya masih begitu enggan untuk mengakui bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama.
Tetapi jawabannya itu membuat Sima Junke terkekeh pelan, kemudian dia berbisik tepat ditelinga gadis itu, "Ya, pria br*ngs*k ini terlalu gila karena mencintaimu." Ucapnya dengan godaan.
Suara dan napas pria itu begitu menggelitik, membuat Xiu Qixuan menghindar dengan cepat melepaskan pelukan mereka dan melangkah mundur.
"Kau jangan berlebihan, ya." Peringat Xiu Qixuan dengan tajam.
Perilaku Xiu Qixuan yang sangat waspada membuat Sima Junke tertawa keras dan memandang gadis itu dengan sorot geli, "Oh, kau takut?" Ucapnya kemudian melangkah mendekati gadis itu.
Dengan gerak reflek Xiu Qixuan melangkah mundur saat melihat Sima Junke semakin mendekatinya dan seringai menggoda terhias diwajah tampan itu.
Merasa ada yang salah, Xiu Qixuan mengerjapkan matanya dan saat kesadarannya pulih, dia segera berdiri tegak menantang dengan angkuh kearah Sima Junke.
"Kau dengar baik-baik, ya. Aku—Xiu Qixuan tidak takut dengan apapun." Ucapnya dengan bangga menunjuk dirinya sendiri.
Sima Junke tertawa terbahak-bahak, gadis ini selalu menyenangkan.
Tawanya itu membuat Xiu Qixuan mendengus kesal dan menatap tidak suka kearahnya, setelah beberapa saat tawanya itu mereda, Sima Junke menghampiri Xiu Qixuan dan berucap lembut, "Angin malam sangat kencang didataran Nanbao. Lihat, kau tidak memakai pakaian tebal sengaja merusak tubuhmu, eum?"
Xiu Qixuan kembali melembut setelah mendengar perkataan penuh perhatian itu, dia kemudian memasang senyum manis yang begitu menggemaskan.
Saat Xiu Qixuan ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara tidak asing menyapa untuk mengintrupsi mereka, "Oh, sepertinya kau sudah menyelesaikan urusanmu. Baiklah, sekarang waktunya kita pergi." Ucap Xiu Huanran dengan kedatangannya yang begitu misterius.
Tubuh Xiu Qixuan menegang saat melihat sosok kokoh nan kuat berdiri beberapa langkah dari mereka. Dengan pakaian hitam dan pedang yang berada digenggamnya menimbulkan kesan semakin dalam dan tak terprediksi.
Sima Junke dengan cepat memasang kewaspadaan dan menghalangi pandangan Xiu Huanran kepada Xiu Qixuan dengan tubuh tingginya dia menutupi gadis itu.
"Siapa kau? Sangat berani menyelinap!" Sentak Sima Junke dengan kasar.
Xiu Huanran hanya memandangnya acuh tak acuh, dia mengedikan bahu dan berucap, "Kau dapat bertanya kepada gadis dibalik tubuhmu itu," dengan singkat dan tidak perduli.
Xiu Qixuan melangkah dan berdiri disamping Sima Junke, ekspresinya begitu datar nan suram, "Er'ge, ini belum tengah malam." Ucapnya mengingatkan kesepakatan awal mereka.
Xiu Huanran mendengus dan memasang wajah tak berdosa, dia berucap, "Aku lupa tidak melihat waktu," dengan tak acuh.
Panggilan Xiu Qixuan kepada pria didepan mereka membuat Sima Junke mengerutkan kening dan bergumam pelan, "Er'ge?"
"Ya, benar. Aku kakak keduanya, aku datang untuk menjemputnya." Ucap Xiu Huanran memandang tajam kearah Sima Junke.
Hantaman keras seperti batu besar menghimpit dadanya, Sima Junke sesak karena ketakutan.
Dia menarik tangan Xiu Qixuan dan meraih tubuh gadis itu agar jatuh kedalam dekapannya kemudian memeluk gadis itu dengan begitu posesif. Xiu Qixuan terkejut tubuhnya membeku melihat reaksi yang begitu besar dari pria yang sedang memeluknya.
Xiu Huanran menyeringai tajam dan bergumam pelan, "Menarik,"
Kemudian Xiu Huanran memegang erat gagang pedangnya dan bersiap mengeluarkan pedang itu dari sarung penutup, terlihat jelas ketajaman yang dapat membunuh seseorang.
"Tidak ada yang bisa menghalangiku, kau mengerti?" Ucap Xiu Huanran dengan tajam menyiratkan ancaman
Xiu Qixuan yang melihat Xiu Huanran sudah hampir kehilangan kesabaranpun, mendorong tubuh Sima Junke dengan keras.
"A Jun, maaf." Ucapnya pelan menunduk tidak berani menatap wajah Sima Junke.
Sima Junke tersentak kaget melihat respon Xiu Qixuan dengan cepat kekecewaan menyerbak didalam hatinya, pandangan pria itu begitu sendu dan sayu.
Xiu Qixuan berbalik untuk melangkah menghampiri Xiu Huanran, tiba-tiba Sima Junke dengan menggila berlari dan memukul wajah Xiu Huanran.
Situasi itu begitu cepat membuat Xiu Qixuan tak bergeming saat melihat pukulan Sima Junke mendarat diwajah kakak keduanya.
Xiu Huanran yang awalnya terkejut, langsung membalas dengan memukul kasar dan keras kearah perut Sima Junke.
Tubuh Sima Junke masih begitu lemah, karena otot tubuh yang belum pulih sejak terbaring diranjang selama tiga minggu lamanya.
Tetapi dia berusaha keras menghindari pukulan dan membalas pukulan, pergulatan itu cukup sengit dikarenakan Sima Junke tidak ingin mengakui kekalahan. Seteguk darah sudah dia muntahkan, dan banyak luka lebam sudah tercetak ditubuhnya. Sedangkan, Xiu Huanran masih berdiri kokoh dan segar untuk bertarung.
Sampai akhirnya Xiu Qixuan dengan panik berlari untuk menghentikan mereka, 'Bukk,' Pukulan keras mendarat tepat dirahang gadis itu, dia menggantikan tempat Sima Junke untuk menerima pukulan.
Tubuhnya tidak bergeser sedikitpun hanya wajahnya yang menyamping sesuai arah pukulan tersebut. Lebam kebiruan tercetak jelas diwajah cantiknya.
"Xuan'er," Teriak Sima Junke dengan khawatir berusaha mendekati gadis itu, tetapi tubuhnya tidak dapat berbohong, tubuhnya limbung dan terjatuh.
Xiu Huanran melihat Sima Junke dengan pandangan meremehkan dan berucap, "Sangat lemah,"
Xiu Qixuan yang mendengar itu menolehkan wajah untuk menatap kearah Xiu Huanran, sorot ketidak-sukaan tercetak jelas dikedua bola matanya, "Er'ge, kau melupakan sesuatu. Semua kehidupan didunia ini memiliki jalannya masing-masing, kau tidak bisa selalu memaksakan kehendakmu untuk orang lain." Ucapnya tenang tetapi tajam.
Ucapan Xiu Qixuan begitu berani dan membuat Xiu Huanran menjadi masam, adik perempuannya melawannya karena lelaki tidak berguna ini.
"Kau tidak akan mengerti, kau selalu saja begitu naif dan lemah karena mengandalkan perasaan." Sentak Xiu Huanran dengan amarah.
"Ya, kau benar! karena manusia yang tanpa perasaan akan menjadi mayat hidup." Balas Xiu Qixuan dengan tajam.
"Dan aku tidak selemah yang kau pikirkan," Lanjutnya dengan menantang.
Mereka memiliki kesamaan yang begitu keras kepala dan egois saat memiliki pendapat. Saat ini mereka tidak berada dilaut yang sama(1), menimbulkan perdebatan yang begitu intens satu dengan yang lain.
"Baik, buktikan kalau kau tidak seperti apa yang kupikirkan dan tidak hanya mengandalkanku saja." Ucap Xiu Huanran dengan suara rendah penuh ancaman mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan kepada Xiu Qixuan.
Seakan mengerti maksud dari ucapan dan tindakan terselubung kakak keduanya itu, Xiu Qixuan tersenyum tipis dan merentangkan tangan kanannya, sebuah pedang dengan cahaya yang berpendar indah muncul didalam genggamannya.
•••••••••••••
Tidak berada dilaut yang sama: Memiliki pikiran dan pendapat yang berbeda dan tidak berkesinambungan.
Jangan lupa like , koment, vote dan hadiahnya ya readers-ku.
Stay Safe & Healthy💖