
Semburat merah di horizon laut mulai terang, warnanya berpendar menakjubkan. Bagian atas matahari mulai terlihat.
Xiu Qixuan terduduk di pinggir ranjang membuka dua halaman terakhir dari sebuah jurnal yang ditulis oleh Rui Jizhang.
^^^Musim Semi hari ke-10 tahun 178, Kalender Kekaisaran.^^^
Aku melihat hal yang tak seharusnya kulihat. Mengetahui apa yang tak seharusnya kuketahui. Sejak awal, kami, Keluarga Rui sudah melakukan kesalahan dengan menerima uluran tangan dari seorang penguasa berdosa. Tahun-tahun yang berlalu kami bisa bertahan dengan aku yang menunduk patuh seperti anjing. Tetapi, kali ini aku tidak bisa hanya duduk diam dan melihat Si Pendosa melakukan sesuatu yang membahayakan seluruh daratan.
Sebuah ruangan yang tidak dapat ditembus karena dijaga ketat oleh kekuatan besar dari lingkaran magis. Sebuah pusaka belati peninggalan sang Dewi yang ternodai oleh manusia. Si Pendosa Gila mulai mengumpulkan budak yang terdiri dari para gadis perawan dan anak-anak untuk dijadikan pengorbanan.
Dia ingin membuat Pusaka tersebut mengakuinya sebagai majikan. Dia ingin menggunakan kekuatan Pusaka Belati tersebut untuk kesenangannya sendiri. Dia ingin memerintahkan dunia dengan ambisinya akan sebuah kekuatan besar yang tak seharusnya.
Si Pendosa yang menodai langit surgawi. Bencana tak terelakkan mungkin terjadi dimasa depan, hukuman bagi Kekaisaran kami.
Mata Xiu Qixuan bergetar hebat dengan bibirnya yang mengerut samar. Ini adalah tulisan yang di tulis langsung oleh Rui Jizhang pada musim semi tahun lalu.
Entah semengerikan apa yang dia lihat, sampai ia tidak tahan lagi untuk menjadi patuh.
Mungkin bagi orang yang tak mengetahui dasar dari seluruh cerita tragis penderitaan sang Dewi Agung Yinxi, tulisan dalam buku jurnal Rui Jizhang ini tidak akan menjadi berarti.
Tetapi, bagi Xiu Qixuan yang pernah bertemu dengan Dewi menyedihkan tersebut dan berbicara secara langsung. Itu akan menjadi sangat berbeda.
Kaisar Shen Zhenning sungguh tidak waras. Dia bukan manusia. Sampai saat inipun dia masih memiliki kekejaman yang tak ada hentinya.
Srek
Jari-jari Xiu Qixuan menyentuh halaman terakhir yang berisi sebuah gambar dengan sepenggal kalimat yang ditulis oleh Rui Jizhang.
Gambar yang berisi sebuah lingkaran magis dengan belati keemasan yang mengambang indah. Belati yang tidak dapat ditembus ataupun diraih oleh manusia biasa.
Dahi Xiu Qixuan mengernyit, pegangan pada belati tersebut samar-samar terasa familiar. Itu seperti gambar yang setengahnya terhapus di lembar perkamen yang diberikan oleh Sang Dewi padanya.
Belati malapetaka ini tercuri dan disembunyikan dalam kekuasannya. Begitu menakutkan kekuatannya. Kami tidak akan membiarkan Si Pendosa berhasil. Walaupun langkah ini membahayakan.
Sepenggal paragraf itu adalah kalimat terakhir yang ditulis oleh Rui Jizhang. Dia menekankan sebuah langkah membahayakan yang ia ambil.
Dan, itu benar saja ia tidak berhasil juga tidak dapat lepas dari cengkeraman kekuasan Kaisar Zhenning. Seluruh anggota Keluarga Rui berakhir sama tragisnya.
Semalaman penuh Xiu Qixuan menghabiskan waktu dengan membaca sebuah jurnal.
Matanya berair merah dengan kantuk yang menyerang sayup.
Setengah dari isi jurnal Rui Jizhang terdapat banyak catatan penting. Salah satunya adalah mengenai Pangeran Ketiga, Shen Yuan Zi.
Rui Jizhang sangat memperhatikan Pangeran Ketiga. Ah tidak, kita akan meralatnya, maksud dari memperhatikan adalah Rui Jizhang sangat mewaspadai dengan cara mengawasi penuh Shen Yuan Zi sejak pangeran tersebut masih berbentuk bayi mungil.
Ketika Kuil Emas runtuh, —Pangeran Ketiga Shen Yuan Zi dikirim oleh kekuatan terakhir yang dimiliki Sang Dewi untuk menuju dekapan ayahanda-nya dipelataran Sekte Xitian.
Menurut jurnal Rui Jizhang, Pangeran Ketiga Shen Yuan Zi memiliki jejak kecantikan surgawi dengan rambutnya yang berwarna perak seperti sinar penuh rembulan di musim panas.
Tetapi, dia memiliki keterbelakangan mental karena sejak kecil ia dikucilkan juga dianggap sebagai bentuk keanehan.
Sang Kaisar Shen Zhenning juga ikut mengucilkan Sang Pangeran dengan cara meninggalkannya seorang diri terkunci di Istana Dingin.
Tak
Xiu Qixuan menutup sampul buku jurnal tersebut setelah menyelesaikan seluruh isinya.
Sekarang yang dapat Xiu Qixuan simpulkan adalah...
Shen Zhenning memiliki ambisi untuk menguasai kekuatan besar tersebut agar dapat memerintahkan seluruh daratan.
Tetapi, belati tersebut tidak dapat dikendalikan oleh manusia biasa yang hanya memiliki sedikit afinitas surgawi dengan cara menodai Sang Dewi.
Menjadikan Sang Kaisar yang tergila-gila akan kekuatan membuat persembahan dengan cara mengorbankan darah para gadis dan anak-anak.
'Huft..' Xiu Qixuan segera memijat pelipisnya pening. Kapal yang sedang berlayar terus membuat goncangan yang berirama. Sebelumnya, ia memiliki mabuk laut tetapi untuk beberapa alasan itu berkurang karena sudah terbiasa.
Dia harus berhadapan dengan penguasa yang tidak waras. Ini lebih sulit dari yang ia kira.
Jadi, kekacauan Daratan Ca Li yang dimaksud oleh Dewi Agung Nüwa itu bersumber dari belati tersebut dan ambisi Shen Zhenning?
Tugas utama Xiu Qixuan adalah harus segera menemukan letak disembunyikannya belati tersebut dan menghentikan kekejaman Shen Zhenning.
Sebelum itu, Xiu Qixuan harus menyelesaikan keresahan internalnya terlebih dahulu mengenai Qiaofeng dan Wen Liu.
Pada saat ini, kapal sedang menuju dermaga terdekat dari Gunung Kuang. Xiu Qixuan akan pergi ke Desa Kui untuk menapak tilas semua hal yang berkaitan dengan Qiaofeng.
Tok. Tok.
"...Nona ketua, ini Wan Pei!"
Sebuah suara lelaki muda terdengar dari arah geladak pintu depan.
"Masuklah, Wan Pei!"
kata Xiu Qixuan membalas dengan suara yang terdengar lesuh.
Segera setelah itu pintu terbuka dengan Wan Pei yang membawa lembaran surat dan cap dokumen penting. Sebuah lambang ular berkepala dua yang melingkari matahari diatas Gurun Pasir.
"Nona Ketua, sebuah proposal pengajuan kerjasama baru saja tiba. Mereka menawarkan harga yang sangat baik, tapi, saya rasa itu sedikit janggal karena beberapa barang yang dijual oleh mereka adalah langka."
Wan Pei segera menjelaskan dengan detail terkait dan langsung ke inti pembicaraan yang begitu serius.
Xiu Qixuan mengerjap aneh dengan tangan yang terulur mengambil lembaran dokumen yang tersegel cap tersebut.
"Hoh, itu aneh jika seorang Wan Pei merasa janggal." timpal Xiu Qixuan dengan seringai tajam menggoda sang bawahan.
Kemudian pandangannya kembali teralih menatap segel dari lembar dokumen tersebut.
"Sepertinya ini adalah kelompok organisasi perdagangan yang baru saja terbentuk. Karena aku belum pernah melihat segel ular seperti ini sebelumnya." gumam Xiu Qixuan dengan kerutan.
"Oh, itu adalah Organisasi Perdagangan Selatan. Anda tahu Suku Nanbao, bukan? Mereka adalah penghuni Gurun Selatan. Sejak ratusan tahun yang lalu hidup sebagai suku nomaden. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tinggal di tenda-tenda besar. Penguasa Gurun Pasir. Dan, penunggang kuda terbaik di Daratan Ca Li." Wan Pei menjelaskan dengan sedikit binar menggebu yang tidak biasa.
Dia selalu senang berceloteh didepan Xiu Qixuan untuk memperpanjang durasi diskusi mereka agar berjalan lebih lama.
Wan Pei adalah sarjana desa yang tidak dapat pergi ke Ibukota.
Ia hanya dapat pergi ke kota-kota kecil yang terletak di provinsi perbatasan seperti Kota Ping'an untuk mencari nafkah akan memenuhi keluarganya yang tak berkecukupan.
Kepintaran dan pengetahuannya yang tidak biasa membuatnya cukup diakui oleh Xiu Qixuan untuk di pekerjakan.
•••••••••••••••••
Something trouble in my phone. jdi dri kmrn gabisa up, karena gaenakeun kalo nulis pake hp yg lain.
Makasih yang sudah menunggu dengan setia. Good shine day for u all💖✨