Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Patung Memukau



"Bentangkan layar!"


Seluruh langit bermandikan senja, anginnya meniup layar. Membuat kecepatan rendah untuk perlahan-lahan menggerakan deru kapal.


Kapal mewah yang di desain dengan presisi sangat indah ini terbuat dari kayu merah langka. Di setiap sudut penuh ukiran yang cermat, menunjukan pengeluaran biaya untuk kelompok pengrajin begitu tinggi.


Mereka yang melihat karya menakjubkan ini, menyipitkan setengah mata berkilau sembari tersenyum kecil. Jelas betapa senangnya mereka dapat menaiki sebuah kapal mewah milik keluarga kekaisaran.


Acara akan dimulai ketika langit sepenuhnya memudar gelap. Untuk saat ini, mereka diperbolehkan berada di geladak dan berkeliling menikmati pemandangan. Sedangkan untuk Kaisar, Permaisuri dan Para Selir berada di kabin pribadi atas yang terpisah dari keramaian.


Meninggalkan sumber kebisingan, Xiu Qixuan berjalan seorang diri melewati lorong kabin dan keluar untuk menuju geladak samping yang lebih tenang. Namun, kedua kakinya seketika memaku di depan salah satu benda yang begitu menarik perhatiannya. Sudut matanya terfokus tajam, dia sejenak merenung.


Di atas batang pohon kayu yang di poles, sebuah patung dengan tampilan lekukan wajah sampai leher seorang wanita menawan di buat sangat cermat. Yang menarik perhatian adalah di atas kepala patung itu terdapat sebuah monumen bangunan besar yang berlubang hancur dan hanya menyisakan atap seperti sayap seputih salju. Juga anting bulan di telinga dengan dua mutiara yang berbeda.


Ini seperti seseorang sedang merespresentasikan sosok Dewi Agung Yinxi. Monumen bangunan besar yang adalah Sekte Xitian, sayap seputih salju yang merupakan helai rambut peraknya. Dan, anting bulan dua mutiara yang adalah Mutiara Putih dan Hitam Langit Surgawi.



Kapal bergoyang secara mendadak membuat keseimbangan tubuh Xiu Qixuan menghilang. Gadis yang sedang termenung dalam itu seketika melonjak tersadar ketika dia sudah terjatuh membentur lantai dan terguling kebelakang.


Buk!


Bunyi gedebuk yang nyaring itu terdengar renyah di telinga. Menunjukan betapa hebat bokongnya terbentur.


"Aduh! Orang awam mana yang mengendarai kapal?!" Xiu Qixuan menggerutu dengan menahan pinggangnya yang berdenyut.


"Pffttt, haha! Bodoh sekali!"


Suara berat seseorang menertawakannya dari belakang.


Membuat Xiu Qixuan sontak berpaling untuk melihat sembari menahan perasaan jengkel. "Xuan'er menyapa kedua Yang Mulia!" Dengan dengusan samar, dia tetap memberi salam meski dalam posisi masih terduduk di lantai.


Dua orang pria tampan dengan memiliki masing-masing kepribadian menyebalkan sedang berdiri menatapnya dengan rasa geli seolah-olah melihat atraksi seekor singa berguling.


Shen Kaicheng, Pangeran Kedelapan, pria berpenampilan norak itu secara alami terus meledeknya. Sudut bibirnya berkedut menyembunyikan senyuman usil. "Kenapa tidak berdiri juga? Apa posisimu begitu nyaman? Atau bokongmu sudah melekat disana?" Celetuknya bertanya dengan menaik-turunkan kedua alis secara menyebalkan.


"Tch, dasar kepala jerami!" Mendecih pelan, Xiu Qixuan menyembunyikan gerutu dan segera beranjak menegapkan tubuhnya.


"Kau bilang sesuatu?" Shen Kaicheng bertanya kala samar-samar mendengar gumaman yang penuh makian itu.


Xiu Qixuan menggeleng dengan spontan mengibaskan kedua tangannya. "Tidak, Yang Mulia. Saya hanya masih terpukau dengan keindahan patung ini." Dia tersenyum sopan sekilas melirik kearah letak patung tersebut berada.


Kali ini, suara yang terdengar lebih halus datang dari pria lain di samping Shen Kaicheng.


"Patung itu memang sangat memukau, menyebabkan banyak orang kehilangan keseimbangan." Ada sedikit jeda kala dia melanjutkan dengan kekehan kecil seperti menahan ledekan. "Meski, kebanyakan yang jatuh itu pria." Ujarnya.


Shen Ruan Ye, Pangeran Ketujuh, pria bermonokel emas itu sedang menyeringai pada Xiu Qixuan. Dengan postur angkuh, menyilangkan kedua tangan yang memegang cangkir arak. Dia mengenakan pakaian formal yang indah, menambahkan pancaran menawan dari sosoknya yang tinggi. Ini aneh kala melihatnya yang begitu rapih, sebelumnya dia penuh arang dan keringat karena bekerja mengeringkan herbal.



"Mohon kedua Yang Mulia tidak mengambil hati atas sikap sembrono saya. Namun, sepertinya saya harus bergegas karena urusan mendesak di kamar kecil." Dengan gerakan cepat Xiu Qixuan membungkuk dan melangkah mundur, kemudian dia segera memutar dan berjalan dengan kecepatan kilat lewat geladak samping.


Dari arah belakang, suara Shen Kaicheng terdengar memekik. "Hei! Nona Bodoh! Kamar kecil berada di dalam! Kalau mau melarikan diri jangan terang-terangan begitu, dong!" Protesnya.


Tetapi, Xiu Qixuan tidak menghiraukannya. Gadis itu tetap melangkah dan menghilang secepat kilat.


Menghela napas lega ketika berhasil melepaskan diri dari jeratan dua pemangsa. Xiu Qixuan berjalan lebih santai, bibirnya masih menggerutu kesal karena begitu sial.


Dia menapaki anak tangga untuk kembali ke geladak depan, namun kala kedua kakinya sudah berada di atas. Yang menyambut adalah orang-orang sedang sibuk berbisik dan terfokus pada satu arah.


Kedua mata Xiu Qixuan menyapu dingin dan suram. Dia melihat kelakukan seorang bocah berambut cokelat yang sedang mempermainkan saudaranya.


"Kakak Ketiga, bukankah pakaianmu ini terlalu polos?" Shen Wanqi, Pangeran Kesembilan, pria puber itu melontarkan pertanyaan dengan menahan gelembung tawa di wajahnya. "Karena kamu terlalu cantik, bunga lebih cocok sebagai hiasan untukmu." Ini adalah pujian yang maksud sebenarnya adalah ejekan dan cacian.


Shen Wanqi perlahan berjalan mendekati sisi Shen Yuan Zi. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan bunga persik yang terangkai indah. "Lihat, aku membuat ini untukmu! Baguskan?"


Tubuh Shen Yuan Zi merespon kaku. Dia dengan begitu jelas menunjukan rasa tak nyaman. Meminta pertolongan namun tak ada yang perduli.



Shen Wanqi tersenyum lebar dengan mata berkilat menunjukan jejak penghinaan. "Benda ini disebut mahkota bunga. Semua orang akan tambah menawan jika memakai ini di kepala. Kakak ketiga ingin semua orang menyukai kakak, 'kan? Coba pakai ini!" Ujarnya dengan manipulasi yang membujuk.


Shen Yuan Zi tetap terdiam. Tubuhnya samar-samar bergetar, dia menunduk menyembunyikan wajahnya.


Tidak perlu di tebak pun semua orang dapat mengerti bahwa Pangeran Kesembilan yang gemar berulah ini sedang membuat kakak ketiga yang baru saja di temuinya menjadi terlihat lebih bodoh didepan banyak orang.


Dia menginginkan Shen Yuan Zi menampilkan lebih banyak kebodohan dan kedunguan. Itu seperti akan membuat dahaga-nya terpenuhi.


"Tck, kenapa diam?!" Shen Wanqi mendecakkan lidahnya dan berbicara kesal. "Kalau begitu aku akan memasangkannya untukmu." Dia berkata sembari menyeringai senang.


Tangannya terangkat untuk menaruh rangkaian bunga itu diatas kepala Shen Yuan Zi. Namun, tiba-tiba suara tajam seorang gadis menyela tindakannya.


"Saya sungguh kagum. Ini mengejutkan. Ternyata Pangeran Kesembilan memiliki kebiasaan langka seperti merangkai bunga alih-alih memegang pedang. Itu sangat indah."


Dari balik barisan orang, sosok gadis dengan tatapan cerdas itu berjalan penuh gerakan yang halus. Sudut mulutnya yang mengandung senyuman dangkal, menunjukan ketenangan dari rasa percaya diri.


••••••••••••••••••••


Kamar kecil: Toilet