Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kecurigaan Tertanam



Meja-meja yang tersusun rapi dan indah dalam aula berserakan, dan cawan arak yang sebelumnya membentuk porselen halus jatuh ke tanah membentuk fragmen berantakan dengan noda darah menggenangi lantai, mengejutkan untuk dilihat.


Menurut aturan istana, perjamuan yang diselenggarakan Kaisar untuk para pejabat pengadilan harus dihindari. Para penjaga hanya diatur untuk menjaga pintu dari luar.


Penjaga istana, mereka mendengar kicauan keributan yang gaduh. Bergegas ke aula untuk melakukan penyelamatan. Tetapi, situasi awal sedikit tidak menguntungkan.


Pintu aula terlalu kecil untuk pasukan mereka yang beranggotakan banyak. Apalagi ketika pintu berhasil diterobos, para kasim juga pelayan segera berhamburan dengan berlari tunggang-langgang keluar menyelamatkan diri tanpa berpikir panjang bahwa itu menghambat gerak pasukan yang ingin masuk untuk melakukan penaklukan.


"Nona?!"


"Ah." Tersentak Xiu Qixuan dengan mengerjap linglung.


Suara Xiao Leng yang lagi dan lagi menyadarkannya. Cengkeraman kuat di bahu membuatnya kembali jatuh kedalam lubang kenyataan.


'krrtt..' Ia menggigit bibirnya dengan jari-jari tangan yang terkepal erat diatas dagu.


"Anda tidak apa-apa, Nona? Penjaga istana sudah tiba, kita harus menyingkir kesudut yang lebih aman." Ucap Xiao Leng dengan tenang, bahkan terlalu datar ketika mata gadis pelayan itu memandangnya lurus.


'Haa..' Xiu Qixuan menghela napas kasar. lalu, mengangguk.


Pilihan yang baik. Mereka harus memberi ruang besar untuk pasukan sebanyak itu. Bergegas lebih kepojok dalam sudut aula yang bercahaya remang untuk menghindari benturan kekerasan ataupun semburan noda darah.


Sejak tadi, Xiu Qixuan tenggelam dalam rasa masam dan gelisah. Dia tidak mengerti, sungguh terasa menjengkelkan baginya karena langkah sebesar ini tidak pernah terpikirkan.


Xia Qian Che, lelaki itu adalah pribadi yang tidak terprediksi dan tidak akan pernah bisa dibaca oleh siapapun.


Kesepakatan yang terjalin diantara mereka, apakah itu mungkin?


Dilihat dari bagian manapun, tanpa bantuannya yang memberikan seluruh informasi, Xia Qian Che seorang diripun sebenarnya memiliki kemampuan untuk menangani segala urusan ini.


Situasi dengan cepat dikendalikan oleh pasukan penjaga istana. Pada akhirnya, hanya menyisakan aula yang berantakan. Lebih dari selusin pembunuh terbaring di tanah. Semua orang memiliki luka yang tak terhitung jumlahnya.


Para Menteri dan Nyonya merangkak keluar dari tempat persembunyian mereka masing-masing, memasang wajah pucat pias yang panik.


Beberapa Nona muda yang lembut tersentak dan pingsan, saking terkejut dan takutnya oleh pemandangan yang mengerikan ini.


Seluruh pintu aula ditutup. Tidak ada yang dapat meninggalkan perjamuan sebelum melakukan pemeriksaan identitas secara menyeluruh.


Meskipun beberapa dari mereka terluka dan membutuhkan perawatan, pengobatan akan dilakukan sementara dalam aula dengan para medis yang disediakan oleh pihak istana.


Xia Qian Che, Kaisar itu secara tegas memerintahkan pejabat departemen kriminal untuk segera melakukan penyelidikan. Juga secara khusus menugaskan untuk mencari tahu arti perkataan dari pembunuh tersebut mengenai kehancuran Desa Hou diperbatasan kekaisaran.


Rombongan akrobat dikumpulkan dari rakyat biasa, selalu ada jejak tersisa, apalagi istana adalah tempat yang tidak dapat dimasuki jika tidak melakukan penyelidikan identitas yang cermat.


Suara raungan wanita yang memberontak terdengar, "Lancang! Lepaskan aku!!!" Itu adalah teriakan Ning Xiaoyin yang berusaha melepaskan cengkeraman penjaga istana yang ingin membawanya.


"Nona Ning, mohon pengertiannya. Ikutlah dengan kami kepusat penyelidikan. Kaisar sendiri yang memerintahkan kami." Suara pria setengah baya yang terdengar tenang menguarkan pancaran kebijaksanaan.


Dilihat dari lambang pakaian yang dikenakannya, ia adalah pejabat departemen kriminal.


'Bukk..' Ning Xiaoyin menepis kasar dan berlari cepat untuk melemparkan diri kedekapan Xia Qian Che yang sedang sibuk berbicara dengan salah satu menterinya.


"Yang Mulia. Sayakan tidak bersalah—," Ia membenamkan wajahnya yang memerah dengan banjir airmata seolah sangat tersiksa.


Xia Qian Che mengernyitkan kening tidak suka. Dengan kasar ia segera mendorong bahu Ning Xiaoyin menjauh. "Perhatikan tingkah Anda!" Sentaknya marah.


"Tapi—," Tejeda Ning Xiaoyin.


"Yin'er!!" Suara tegas milik seseorang terdengar kencang. Itu adalah Ning Jing.


"Ayah." Senyum penuh harapan mengembang diwajah cantik Ning Xiaoyin.


Sejak tadi, Ning Xiaoyin kehilangan tempat terdekatnya untuk bergantung. Ibu Suri sudah pergi lebih dulu meninggalkan aula karena kesehatannya yang kurang baik jika tetap berada ditempat seperti ini.


Kebetulan sekali, ayahnya datang. Dia tidak ingin pergi kepusat penyelidikan yang seperti penjara. Atau di introgasi layaknya tahanan.


Ning Jing menangkup kedua tangannya hormat dan membungkuk untuk berkata, "Mohon maafkan kelancangan putri saya, Yang Mulia."


"Keluarga Ning selalu mematuhi perintah keagunganmu. Maka dari itu, putri saya sebagai penanggung jawab acara akan bersedia ikut untuk menaati proses penyelidikan." Lanjutnya


"Ayah?!" Ning Xiaoyin menolehkan wajah kaget.


Xia Qian Che menyipitkan mata tajam dengan senyum tipis, "Baiklah. Lagipula, Nona dari Keluarga Ning memiliki niat baik yang sayangnya dikacaukan. Kalau masalah ini dapat di selesaikan tanpa kecurigaan, zhen akan memberikan kompensasi besar."


Perkataannya seperti benang tipis yang membuat sirat tersembunyi. Itu berarti, ia dengan sabar menunggu untuk melihat hal apa yang akan dilakukan Keluarga Ning kedepannya untuk lepas dari kecurigaan.


Dengan seluruh kejadian ini, Ning Jing paham betul bahwa Kaisar sedang menargetkannya. Tetapi, dia tidak akan menunjukan kepintaran didepan Kaisar.


Maka dari itu, yang dapat ia lakukan sekarang adalah berpura-pura bodoh dan kurang mengerti. Licik memang.


"Terimakasih, Yang Mulia." ucap Ning Jing membungkuk dengan hormat.


'En.' Jawab Xia Qian Che dengan malas. Ia melirik sekilas kesamping dan menemukan Xiu Qixuan yang ikut membantu memberikan pengobatan bagi para tamu yang terluka.


Merasakan tatapan milik seseorang, Xiu Qixuan menoleh dan balas menatapnya dengan manik yang kelam.


Tanpa berkata apapun lagi, Xia Qian Che mengepak lengan bajunya dan berjalan pergi meninggalkan aula.


Samar-samar ia masih dapat mendengar raungan tidak terima Ning Xiaoyin dan bentakan amarah Ning Jing.


Kedua ayah dan anak itu berdebat setelah sang Kaisar pergi dari dalam aula. Ning Jing dengan tegas mempersilakan pejabat departemen kriminal untuk membawa putrinya agar menaati proses penyelidikan.


*********


Disisi lain, Xiu Qixuan merapihkan kotak obat yang dibawa oleh tabib istana. Ia beranjak setelah selesai membalut luka pasien dan menghampiri Xiao Leng yang berada tidak jauh.


"Xiao Leng, sudah selesai?" Tanyanya dengan lembut.


"Ah.. Iya, Nona." Jawab Xiao Leng dengan cepat beranjak menghampiri sang majikan. Gadis pelayan ini juga ikut memberikan pengobatan kepada korban yang terluka.


Xiu Qixuan mengangkat pandangan dan memindai area dalam aula dengan tatapan dingin. Ia melihat kearah beberapa mayat yang di bungkus dan dibawa pergi oleh petugas istana.


Ini sudah memasuki waktu tengah malam, dan seluruh keadaan sudah kembali dalam kondisi stabil.


Sebagian para tamu yang selamat akan melakukan pemeriksaan identitas dan mereka yang tidak memiliki identifikasinya kecurigaan diperbolehkan untuk kembali ke kediaman masing-masing.


"Ada apa Nona?" Tanya Xiao Leng ketika melihat sang majikan termenung dengan tatapan berkedut berat menatap kearah salah satu mayat yang terbujur kaku.


Xiu Qixuan menolehkan wajah dan tersenyum lembut. "Tidak apa. Hanya menemukan pengetahuan baru yang sedikit menarik." Jawabnya ambigu.


Dia baru saja mengerti beberapa hal dan pada saat ini, ia perlu konfirmasi tegas dari orang yang bersangkutan.


"Xiao Leng, pergilah lebih dulu dan tunggu aku di kereta kuda. Ada hal yang harus kuurus sebelum kembali." Perintahnya.


Xiao Leng mengerutkan keningnya ragu, tetapi, ia hanya dapat mengangguk dan mematuhi perintah.


••••••••••••••