Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sudut Perkotaan Jelang Pergantian Tahun



Hiruk-pikuk keramaian jalan kota selalu menyenangkan untuk dirasakan. Pada saat ini, bulir salju yang terhenti dilangit tidak turun ke daratan. Hanya menyisakan sedikit embun membeku samar yang menggantung di sepanjang atap bangunan pertokoan.


Semua orang keluar dari tempat peraduan mereka untuk berpergian menyusuri sudut jalanan ibukota dengan antusias berbelanja segala jenis perlengkapan menyambut pergantian tahun.



Terlihat sebuah kereta kuda sederhana yang memiliki ukuran kecil perlahan terhenti disalah satu blok jalan kota. Sosok ramping dengan jubahnya yang berkibar tertiup hembusan angin itu melangkah turun dibantu oleh seorang pelayan pendampingnya.


Dia tidak sendirian karena kedua sosok kembar mungil yang begitu menggemaskan ikut terlihat saat mereka meloncat turun dari dalam kereta kuda. Dengan langkah kaki kecilnya mereka begitu bersemangat dan segera menghampiri sosok kecantikan yang sedang berdiri untuk menunggu.


"Jangan bertingkah sembrono. Ingatlah, sekarang kalian tidak berada di Istana." Suaranya yang lembut mengalir tegas penuh peringatan.


"Ya, muqin. Kami mengerti!" Serentak mereka berkata dengan begitu riang yang polos.


"Haduh, jangan memanggilku begitu!" Dengan mata yang berkobar seperti nyalanya api, ia memijat pelipisnya suntuk.


Pengasuh atau seorang momo dari kedua balita mungil inilah yang mengajari untuk memanggilnya dengan sebutan itu karena mereka sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Tetapi, dia tetap saja merasa tidak nyaman!


Wajah mungil tersebut balik menatapnya polos penuh binar cerah yang cemerlang. Kemudian mereka menarik lengan baju milik sosok kecantikan tersebut dengan sedikit paksaan, "Muqin, ayo pergi. Tunggu apa lagi?!" Suara balita tampan yang berdecit penuh semangat.


Punggung mereka yang perlahan menjauh dan menghilang dengan memasuki pusat keramaian.


"Tunggu, kalian ini—, yaampun, hey jangan berlarian!" Suara peringatan penuh kelembutan yang tegas itulah yang menemani kedua sosok mungil tersebut sepanjang mereka menyusuri sudut jalan.


Pada saat ini, Xiu Qixuan sedang melakukan tugasnya sebagai pengajar. Kalian pasti sedang bertanya-tanya, apakah berbelanja dan berjalan-jalan juga termasuk jenis yang harus dipelajari?


Berterimakasihlah pada Xiao Leng yang sudah mewakilkan kita untuk bertanya tentang sudut pandang sang tokoh utama. Tetapi, berbelanja juga merupakan suatu seni, yaitu seni menawar dan bernegosiasi. Menghitung keuntungan dan kerugian dari barang yang dibeli, bukankah begitu?


"Nona, apakah ini baik-baik saja? Dengan status penuh kemuliaan mereka tidak seharusnya berkeliaran dijalan seperti ini, kan?" Tanya Xiao Leng dengan berbisik pelan penuh keraguan dikedua bola matanya.


"Tidak apa. Mengapa kau begitu cemas?" Balasnya dengan mengerling ringan. "Pangeran Mahkota dan Tuan Putri harus memiliki kemampuan dalam bermasyarakat dan bersosialisasi dengan kaum kecil. Mereka juga harus berbaur dan melihat sendiri dunia luar yang begitu luas." Jelasnya.


Jari telunjuk Xiu Qixuan perlahan terangkat dan mengarah kepada sosok Xia Zhishu yang sedang membeli rangkaian bunga dari seorang nenek tua. "Lihatlah!" Ucapnya.


Xiao Leng segera mengalihkan pandangannya pada sang Tuan Putri kecil tersebut dengan alis sedikit terangkat menunggu penjelasan selanjutnya.


"Zhishu yang begitu kecil dan naif." Suaranya mengalir jernih tanpa riak. "Dan Zhiwen yang begitu sembrono tetapi pintar. Mereka berdua memiliki hati selembut kapas."


"Benar, bukankah itu hal yang wajar? Mereka masih anak-anak." Balas Xiao Leng dengan berkerut.


Xiu Qixuan balas meliriknya tajam penuh dengusan yang suram, "Sayangnya, kedua bocah kecil itu adalah anggota kekaisaran. Dimasa depan tidak tahu seberapa banyak darah musuh yang akan mereka tumpahkan." Suaranya sedikit bergetar.


Helaan napas terdengar keras dari balik celah bibir merahnya kemudian perlahan ia lanjut berucap, "Istana memang memiliki lahan yang luas dan penuh kemewahan. Tetapi, tidak ada bedanya dengan sejenis sangkar bertakhta-kan emas." Dia menatap kosong kearah kedua sosok mungil tersebut.


"Xiao Leng, aku ingin mereka tumbuh dengan baik. Tanpa memikirkan trik dan perselisihan politik. Seperti anak seusia mereka seharusnya sedang bermain. Bukan berada diruang baca dengan tumpukan buku sastra kuno." Ucapnya pelan dan nyaris berbisik sendu. Giginya bergemeletuk penuh sirat ketidaksukaan.


"Humph.. Memangnya aku ini siapa—, berani sekali berpikir seperti itu padahal ayah mereka adalah seorang Kaisar yang agung." Dengus Xiu Qixuan dengan suram. "Lucu, ya?" Tanyanya penuh sirat geli dengan menolehkan wajah kearah Xiao Leng yang tertegun.


Mata Xiao Leng mengerjap dengan hembusan napas tertahan ia berpikiran tanggap, "Ya, kau benar Nona. Istana bukanlah tempat yang baik untuk merawat anak." Sungguh Xiao Leng sangat mengerti karena sejauh ini yang dia ketahui sudah begitu banyak kasus mengerikan terjadi dalam Istana Kekaisaran.


"Tetapi, apakah Nona sudah mendapatkan izin dari Kaisar karena membawa Pangeran Mahkota dan Tuan Putri keluar gerbang Istana?" Tanya Xiao Leng dengan serius.


Rombongan ini hanya terdiri dari tiga orang dewasa dan dua balita kembar, yaitu: Xiu Qixuan, Xiao Leng, Jin Momo, Xia Zhiwen, dan Xia Zhishu. Juga bertambah satu jika sang kusir masuk kedalam hitungan.


Tanpa pengawalan ketat mereka menyamar sebagai orang biasa dengan mengenakan pakaian sederhana.


Seringai penuh jejak yang aneh tercetak diwajah cantik Xiu Qixuan, "Belum tapi segera." Jawabnya ambigu.


Kerutan semakin terlihat di dahi Xiao Leng dengan alis yang bertaut.


Melihat hal tersebut kekehan samar perlahan terdengar dari Xiu Qixuan, "Tenanglah, mengapa hari ini kau lebih banyak berpikir?" Ucapnya. "Aku sudah mengirim pesan pada Kaisar yang kau sebutkan tadi itu. Dia juga pasti mengerti dan akan mengizinkan." Jelasnya penuh keyakinan.


"Lagipula kita sudah berada diluar, memangnya apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak sebodoh itu untuk menyeret kita kembali dengan menggunakan pasukan militernya, kan?" Suaranya yang tegas mengalir lugas dan masuk di akal.


*********


Dengan kedua kakinya yang menekuk, Xiu Qixuan berjongkok ditanah kemudian jari-jarinya perlahan terulur lembut memakaikan salah satu aksesoris rambut atas permintaan Xia Zhishu yang terus merengek meminta perhatian.


'Klik..' Jepitan sederhana terbuat dari serpihan perak yang berhias mutiara kecil itu tersampir indah.


"Shu'er kita bertambah cantik." Ucap Xiu Qixuan dengan tersenyum lembut. Lengannya terulur membelai pipi gemuk milik Xia Zhishu.


"Cantik seperti Muqin, kan?" Tanya Xia Zhishu dengan riang yang polos. Matanya begitu cemerlang membuat orang tenggelam dalam kasih.


"Iya, benar. Shu'er cantik sekali mirip dengan muqin! " Suara Xia Zhiwen dari arah samping yang menanggapi dengan bersemangat.


Senyuman hangat tersebut seketika luntur dari wajah cantik Xiu Qixuan, berubah menjadi raut datar menyembunyikan getaran samar. Pikirannya melayang jauh.


Setelah menarik napas panjang untuk menguraikan sedikit perasaan terikat. Xiu Qixuan perlahan beranjak berdiri, "Xiao Leng, Jin Momo!" Panggilnya melirik sekilas kearah belakang.


"Ya, Nona?" Jawab mereka dengan tanggap.


"Cuaca semakin dingin, Zhishu dan Zhiwen sudah terlalu lama berada diluar. Tolong bawa mereka kesalah satu restoran terdekat untuk menghangatkan tubuh. Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Kalian tunggulah disana!" Perintahnya dengan tegas penuh tekanan.


Tanpa banyak bertanya lagi, Xiao Leng dan Jin Momo segera mematuhi perintah dengan terampil memberikan pengertian kepada kedua balita kembar yang merengek ingin tinggal bersama Xiu Qixuan.


Kulit pucat milik Xia Zhishu dan Xia Zhiwen yang halus dan selembut sutera tersebut sudah memerah kedinginan. Sebenarnya Xiu Qixuan memberikan perintah yang sangat tepat untuk kesehatan juga keselamatan.


Beberapa saat kemudian setelah memastikan bahwa mereka sudah berjalan dan menghilang dipersimpangan jalan.


Xiu Qixuan merasa bahwa gerakannya menjadi lebih leluasa untuk mengambil tindakan karena hanya tersisa dirinya seorang. Dia berjalan kesalah satu jalan kecil disudut tengah blok yang sepi dan nyaris tidak terdapat orang lewat.


Langkahnya terhenti kemudian ia melirik kesekitar dengan tatapan setajam mata pedang yang dingin, "Jangan jadi seorang pengecut yang hanya bisa mengintai." Suaranya bergema tenang penuh udara sekelam malam.


Dibalik bayang-bayang sesosok asing berjubah gelap sedang bersembunyi dengan kelihaian yang terampil, dia memiliki kemampuan yang tidak dapat diremehkan. Tetapi, sungguh menakjubkan karena seorang Xiu Qixuan dapat menemukannya semudah membalikan telapak tangan.


••••••••••••


Muqin: Ibu (dalam konteks semi-formal yang tidak memakai embel2 kebangsawanan)