Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kau Peduli Padaku!



'Brukk,' Tuoba Lie jatuh berlutut dan memukul dahinya kelantai dengan cara bersujud selama beberapa kali.


"Saya tidak berani," Ucap Tuoba Lie berulang-kali dengan gemetar takut saat melihat Sima Junke yang marah besar padanya.


Keputusan yang Tuoba Lie ambil sangat salah, tidak menyangka dirinya kehilangan kendali sampai menjadi begitu gegabah untuk menangani Xiu Qixuan yang ternyata memiliki perlindungan dari Sima Junke.


'Dug.Dug,' Suara benturan dari dahi Tuoba Lie yang memukul lantai terus terdengar, dahi pejabat itu sudah memar dan sedikit mengeluarkan darah.


Nyonya tua hanya terdiam tidak memiliki niat sedikitpun untuk membantu Tuoba Lie keluar dari situasi ini. Tentu saja, wanita tua itu tidak dapat berucap terlalu banyak dan juga ini adalah kesalahan Tuoba Lie yang begitu gegabah dalam menangani gadis kecil.


Tuoba Lie ini terlalu memandang tinggi diri sendiri—yang membuatnya tidak terima bila harga dirinya diturunkan oleh seorang gadis kecil, padahal gadis kecil itu juga tak perduli padanya dan tidak memiliki niat tersebut.


Xiu Qixuan mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali, dia menolehkan wajah dan kedua bola matanya memandangi dengan intens Sima Junke yang tepat berada disisinya.


Gadis itu terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi diwajahnya yang penuh tanya dan terkesan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Sima Junke saat ini sedang membantunya membalas dendam! Tuoba Lie ini memang lebih mengesalkan daripada Zhai XinXin.


Menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum senang—menikmati Tuoba Lie yang menderita dibawah tekanan Sima Junke.


Tidak menyesal membuat kesepakatan dan menjadikan Sima Junke sebagai penyokongnya selama di Nanbao. Pria ini dapat diandalkan!


Tuoba Lie tidak membuat pembelaan, dia hanya memohon untuk diampuni kesalahannya. Pejabat tua ini sangat cerdas karena tidak memilih menyanggah ucapan Sima Junke.


Kalau Tuoba Lie menyanggah itu akan membuat dirinya lebih sulit melepaskan diri dari jeratan kesalahan. Ucapan yang dilontarkan Sima Junke begitu jelas dan tepat mengenai sasaran yang memang terjadi sebelumnya.


Xiu Qixuan menolehkan wajah melihat ekspresi suram milik Nyonya Tua. Sepertinya penderitaan Tuoba Lie harus disudahi lebih cepat karena sang Nyonya Tua sudah tidak senang.


Kalau Nyonya Tua tidak senang itu akan menghambat jalannya rencana dan membuat segala jalan Xiu Qixuan semakin rumit dibuat oleh wanita tua itu.


Menghela napas karena tidak rela, Xiu Qixuan menolehkan wajah kesamping tepat diarah keberadaan Sima Junke. Gadis itu mengulurkan salah satu lengannya kearah lengan kokoh milik Sima Junke yang masih mengepal erat, ia menautkan kelima jari lentiknya secara perlahan kedalam rongga jari pria tersebut.


Sima Junke yang sedang menatap tajam Tuoba Lie—langsung memalingkan wajahnya saat ia merasakan sebuah lengan lembut menggenggamnya.


"A Jun, ini hanyalah kesalah-pahaman. Pejabat Tuoba sangat setia kepada Nanbao, dia mengabdikan diri seumur hidupnya untuk kemakmuran Nanbao." Suara lembut dan penuh pengertian menggelitik indra pendengarannya.


"Itulah yang menyebabkannya mewaspadaiku karena diriku ini adalah orang luar dan terlihat mencurigakan." Lanjut Xiu Qixuan menatap dalam kedua bola mata Sima Junke. Gadis itu sedang berpura-pura, saat sebelah matanya mengedip untuk memberi kode agar Sima Junke menimpali ucapannya.


"Siapa yang berani mencurigaimu?! Mencurigaimu sama dengan mencurigaiku," Timpal Sima Junke dengan membara setelah melihat kode untuk memulai peran yang diberikan oleh Xiu Qixuan.


Ucapan Sima Junke terdengar keras diruangan itu membuat gemetar ketakutan ditubuh Tuoba Lie semakin menjadi.


"Aku mengetahui bahwa kau adalah orang yang penuh belas kasih, jadi biarkanlah untuk kali ini." Ucap Xiu Qixuan dengan menolehkan wajah kearah Tuoba Lie.


"Xuan'er, kau terlalu mudah memaafkannya. Betapa baiknya dirimu," Balas Sima Junke dengan sangat tidak rela.


"Nona ini tidak memaafkannya, tetapi jangan sampai tidak melihat apa yang penting karena mata anda terhalang oleh hal sepele." Ucap Xiu Qixuan dengan lugas mengingatkan.


"Kalau Pejabat Tuoba membuat kesalahan lagi, aku tidak akan menghentikanmu untuk menghukumnya." Lanjutnya


Menatap tajam Tuoba Lie yang masih berlutut, mereka saling bertatapan dan Xiu Qixuan melanjutkan ucapnya dengan kekejaman yang kental. "Atau aku sendiri yang akan menghukumnya dikemudian hari,"


Xiu Qixuan sengaja menghalau suaranya agar tak didengar Nyonya Tua dengan sedikit kekuatan istimewanya disaat kalimat terakhir dia ucapkan.


Karena ucapan itu hanya ditujukan kepada Tuoba Lie untuk mengalahkan musuh tanpa menodai pedang—serang psikologis akan Xiu Qixuan tanamkan kedalam diri Tuoba Lie.


Pejabat itu akan selalu gelisah dan ketakutan saat berusaha menanganinya dengan cara licik.


Getaran terlihat dipancaran bola mata Tuoba Lie, entah mengapa tubuh tua-nya menjadi lebih gemetar ketakutan saat Xiu Qixuan menatapnya. Gadis ini sungguh tidak mudah!


Menghela napas panjang kemudian Sima Junke berucap, "Baiklah sesuai permintaanmu."


"Pejabat Tuoba, karena toleransi dari Xuan'er—aku akan membiarkanmu untuk kali ini. Tetapi, aku tidak mengetahui bagaimana pemikiran nenek-ku."


"Nenek, apakah kau akan mentoleransinya karena ia juga melalaikan tugas yang kau berikan?" Tanya Sima Junke tidak melupakan untuk bertanya kepada Nyonya Tua yang memiliki otoritas lebih tinggi diatasnya.


Sima Junke tidak akan melangkahinya, dia tetap membiarkan semua keputusan berada ditangan Nyonya Tua. Pria itu juga ingin melihat bagaimana Nyonya Tua bertindak jika menyangkut Pejabat Tuoba yang merupakan orang setia disisinya.


"A Jun, nenek tua ini sedang dalam kondisi pemulihan dan butuh banyak istirahat. Semua keputusan untuk menangani-nya berada ditanganmu," Jawab Nyonya Tua dengan lemas tak bertenaga.


Sangat cerdas! wanita tua itu menghindar dari pertanyaan dengan mudah, dia tidak menjawab akan mentoleransi dan ia juga tidak menjawab untuk menghukum Pejabat Tuoba.


Karena kalau Nyonya Tua mentoleransi—itu akan terlihat jelas bahwa dirinya tidak tegas kepada bawahannya dan memperlihatkan dia lebih berpihak kepada Pejabat Tuoba dibanding sang cucu. Tetapi kalau ia menghukum Pejabat Tuoba akan merasa tidak puas akan tindakannya.


******


Setelah itu diskusi perjanjian perdagangan yang menjadi tujuan utama mereka akhirnya berlanjut selama beberapa jam.


Proposal yang ditulis Xiu Huanran sangat membantu banyak. Tuoba Lie dan Nyonya Tua tidak dapat menolak dan mencari celah lagi. Semua sempurna dari segala aspek keterangan dalam proposal pengajuan perdagangan tersebut.


Xiu Huanran tidak dapat bertemu dalam waktu dekat, lagipula Nanbao sangat terisolasi dan tidak mudah menemukan lokasi ibukota Nanjing diantara tebing bebatuan. Begitulah kalimat yang diucapkan Xiu Qixuan kepada mereka.


Padahal mereka tidak tahu saja, Xiu Huanran dapat menemukan lokasi Nanjing dengan cepat dan mudah—bahkan peta wilayah saat ini sudah didapatkan oleh kakak keduanya itu.


•••••••••


Gemerincing suara ornamen batu giok yang bertabrakan dengan kerah baju terdengar bagus dan berirama.


Menemani langkah sepasang kekasih yang keluar dari bangunan besar tempat peristirahatan Nyonya Tua Suku Nanbao.


Surat perjanjian perdagangan sudah ditanda tangani oleh kedua belah pihak yang terkait, membuat senyum kesenangan tidak lepas dari sudut bibir gadis cantik yang melangkah keluar dari dalam bangunan bersama seorang pria tampan disebelahnya.


Rambut panjang indah yang menutupi bahu milik gadis cantik itu berayun dengan langkahnya yang terlalu cepat mendahului sang pria tampan disebelahnya.


'Grap,' Pria itu menahan lengan sang gadis agar melangkah bersisihan dengannya.


Tidak berucap apapun dan memasang wajah seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya. Itu membuat sang gadis tersenyum masam dan sedikit kesal.


"Hei kau—! Ada apa dengan tampangmu itu?!" Ucap Xiu Qixuan dengan cemberut melihat wajah datar dan tak acuh milik Sima Junke.


"Oh, atau Nona ini harus berterimakasih karena kau sudah membantuku?" Lanjutnya sekali lagi dengan menaikan sudut alisnya memandang penuh tanya.


"Tetapi kurasa bantuanmu tadi terlalu—," Gumam Xiu Qixuan pelan dan terjeda.


'Ekstrim,' Lanjutnya didalam hati.


Sima Junke memalingkan wajahnya, sebenarnya pria itu sedang berusaha tetap tenang untuk menghadapi Xiu Qixuan setelah tindakan tak masuk akalnya barusan.


Tetapi, sangat sulit untuk itu—wajahnya memanas dan jantungnya membara. Apalagi gadis didepannya ini sangat tidak tahu malu tetap bertanya banyak hal.


"Terlalu apa?" Tanya Sima Junke dengan sedikit menantang.


"Kau menikmatinya juga, bukan? Jadi hentikanlah topik pembicaraan ini!" Lanjutnya dengan kekesalan yang sangat kentara jelas.


"Haha, iya. Kau benar, lagipula itu hanya ciuman biasa. Aku sudah sering—" Terkekeh Xiu Qixuan dan terjeda ucapannya saat Sima Junke mencengkeram lengannya dengan sangat erat sampai tulang kecilnya berbunyi.


"Aduh tulang kecilku, sakit—lepas!" Ringis Xiu Qixuan memberontak dan melepaskan genggaman lengannya dari Sima Junke yang hampir mematahkan tulang kecilnya ini.


Saat berhasil melepaskan genggam lengan Sima Junke—dengan cepat Xiu Qixuan mengelus pelan pergelangan lengannya yang memerah dan memasang wajah mengerut marah menatap tajam Sima Junke.


"Sering apa? Kau—! itu adalah hal yang tidak biasa. Bagaimana bisa seorang gadis berperilaku sepertimu?" Ucap Sima Junke tergagap saking tidak habis pikirnya dengan Xiu Qixuan.


Seorang gadis yang belum menikah begitu blak-blakan menyebut dan menanggapi tindakan yang intim dengan begitu santai tanpa penyesalan sedikitpun.


"Sering—Aiyaa maksudku adalah aku hanya sering melihatnya di— Ah tidak maksudku—aku," Jawab Xiu Qixuan yang juga ikut tergagap karena tidak mungkin dia menjawab bahwa itu adalah hal biasa didalam drama yang sering dia tonton saat berada dibumi.


Sima Junke berbalik melanjutkan langkah dengan tidak menghiraukan Xiu Qixuan. Ada rasa masam dan tidak nyaman dihatinya. Apakah gadis ini sudah biasa melihat atau merasakannya dengan pria lain?


Xiu Qixuan menepuk dahinya pelan, sepertinya ia salah berucap. Mengejar Sima Junke dan berjalan bersisihan disamping pria tersebut.


Gilirannya sekarang menggenggam dan mengaitkan kelima jarinya dengan kelima jari Sima Junke.


Menolehkan wajah cantiknya kearah pria tersebut yang sedang menatap lurus kedepan dan tidak menghiraukannya.



"Terimakasih karena sudah mempedulikanku," Ucap Xiu Qixuan dengan tulus.


"Aku tidak mempedulikanmu," Jawab Sima Junke masih berusaha untuk tidak menghiraukan Xiu Qixuan dengan tidak ingin menatap wajah gadis itu. Tetapi ia juga tidak ingin melepaskan genggam lengan Xiu Qixuan dari lengannya.


"Tidak usah berbohong, tindakanmu yang membantuku sudah mengatakan dengan jelas. Kau peduli padaku!" Tekan Xiu Qixuan dengan tidak mau kalah.


"Pertama kau menemaniku bertemu Nyonya Tua, yang seharusnya tidak perlu kau lakukan karena hal ini tidak ada dikesepakatan kita. Kedua, mengingatkanku untuk tetap berwaspada didepan para pelayan Nanbao. Ketiga, membantuku membalas dendam kepada Tuoba Lie. Dan jangan melupakan yang keempat adalah saat kau mengkhawatirkan dan mencemaskan aku yang sedang terluka."


"Bukankah itu cukup menjelaskan— bahwa kau peduli padaku? Aiya tentu saja karena Nona ini adalah gadis langka yang diberkati oleh dewi." Lanjutnya dengan percaya diri dan mengibas-ibaskan rambutnya untuk bergaya. Banyak tingkah!


"Sangat percaya diri—seperti kau yang biasanya." Balas Sima Junke dengan memutar bola mata malas, tetapi pria itu mengiyakan ucapan Xiu Qixuan didalam hatinya dan ia juga sedang mencoba menahan tawa saat tidak sengaja melihat tingkah menggemaskan dari gadis disampingnya.


"Tentu saja karena jika kejam, meskipun sedekat apapun juga tidak akan terlihat. Jika peduli, meskipun sejauh apapun juga tidak akan terhentikan." Jawab Xiu Qixuan dengan tersenyum manis.


Tindakan Sima Junke yang peduli padanya, meskipun berusaha disembunyikan dari jauh kepedulian akan tetap terlihat jelas dan tidak terhentikan. berbanding terbalik jika musuh yang kejam akan menyembunyikan niat aslinya dan meskipun dekat juga samar terlihat jelas.


"Jadi—jangan begitu gengsi didepanku. Karena Nona ini adalah orang yang berwawasan luas dan dapat dengan mudah membacamu," Lanjutnya lagi tak memberi kesempatan untuk Sima Junke menyanggah karena ia sudah membuat kesimpulannya sejak awal.


••••••••••••••••