
Salju tebal menyelimuti ranting dan dahan pepohonan. Bunga prem musim dingin mengakar indah, keindahan yang menakjubkan membuat manusia jatuh kedalam pesonanya.
Ini adalah taman yang luas di dalam Kediaman Hao Ning. Dibawah langit redup musim dingin, sesosok kecantikan yang halus dan elegan terduduk dibangku taman untuk menikmati kesendirian.
Kedua matanya terpejam kemudian dengan rakus ia menghirup aroma harum bunga yang memabukan nan menenangkan. Seolah sedang membuang segala bentuk kepenatan yang mengganjal dalam hatinya.
"Xuan'er..." Suara bariton milik seseorang memanggilnya diiring dengan langkah tapak kaki yang semakin mendekat.
Perlahan kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang kejernihan di bola mata yang dalam dan gelap, lebih gelap dari malam, begitu gelap sehingga seberkas cahaya tidak bisa terlihat. Pandangannya terasa begitu asing sampai tidak bisa dikenali lagi. Dia seperti berubah dalam semalam.
Tidak memiliki secercah kehangatan dan keceriaan yang biasanya selalu dia pancarkan. Begitu terasingi seakan dia tidak pernah terjerat oleh kehidupan duniawi.
Mo Ji Gui berdiri dihadapan gadis itu, dia tersentak dan mengerjap bingung. Tetapi dengan kelihaiannya pria itu segera mengatasi perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba melanda hatinya.
"Ekhm.. Mengagetkanku saja, kukira kau menghilang." Ucap Mo Ji Gui dengan berdeham ringan berusaha menetralkan kecanggungannya.
Xiu Qixuan beranjak berdiri kemudian membungkuk dengan keluwesan memberi salam hormat sesuai etiket antara hubungan guru dan murid. "Guru terlalu banyak berpikir. Maafkan ketidaksopanan murid ini yang sudah merepotkanmu." Suaranya sangat lugas, kata-katanya berbenturan seperti batu giok dan es.
Mo Ji Gui tercengang, merasakan sebuah jarak yang membentang luas. Ketidakmungkinan tersirat untuk memperjelas hubungan yang terjalin diantara mereka.
"Budi besar ini harus segera dibalaskan tetapi Xuan'er terlalu semberono. Mungkin dalam kehidupan selanjutnya Xuan'er baru mampu untuk membayarnya. Jika guru merasa keberatan—," Terjeda Xiu Qixuan karena Mo Ji Gui tiba-tiba mencengkeram pundaknya dengan sangat erat.
"Berhenti, jangan melanjutkan perkataan semacam itu!" Sentak Mo Ji Gui dengan tajam. Pandangan pria itu bergetar hebat dan sangat membara menatap lurus kearah Xiu Qixuan, seperti hewan ganas yang sedang menatap mangsanya.
Mo Ji Gui seolah mengetahui dengan jelas arah pembicaraan yang ingin Xiu Qixuan lontarkan. Gadis itu seperti ingin memaksanya untuk mengakhiri hubungan mereka karena alasan tidak berbakti dan tidak dapat membalas budi. Jelas Mo Ji Gui tidak akan pernah mengizinkannya!
Hati Xiu Qixuan tersentak tetapi ketenangan yang tak terjelaskan diraut wajahnya menutupi rasa terkejut tersebut. Dengan cepat gadis itu melepaskan kedua tangan Mo Ji Gui yang tersampir diatas pundaknya kemudian melangkah mundur untuk sedikit menjauh.
"Xuan'er, mengerti." Ucap Xiu Qixuan dengan tenang dan kesungkanan yang sopan.
Hening.
Hanya suara tiupan angin musim dingin yang membawa aroma keharuman dari bunga prem yang bermekaran.
Mereka saling bertatapan dengan sangat intens dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya Xiu Qixuan memecah keheningan yang memberat ini.
"Angin musim dingin membuat tubuhku merasa tidak nyaman. Sepertinya harus segera kembali untuk menghangatkan tubuh. Xuan'er, pamit." Ucap Xiu Qixuan dengan lugas kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Sosok kecantikan yang dingin itu berjalan menjauh, dia seperti keindahan yang keluar dari dalam lukisan. Mo Ji Gui memandanginya dengan raut wajah kehilangan. Kemudian pria itu berucap keras membuat langkah gadis cantik itu terhenti dan mematung, "Xiu Qixuan, tidakkah kamu ingin menjelaskan sesuatu kepadaku?" Suaranya penuh aura superioritas luar biasa seperti seseorang yang berasal dari kalangan bangsawan kelas atas.
Perlahan Xiu Qixuan balas berucap tanpa sedikitpun berbalik atau menolehkan wajah, "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua harus berjalan semestinya. Mo Ji Gui, kamu tidak bisa." Suara awal yang tersendat menjadi dingin yang menusuk tulang.
Setelah mengucapkan kalimat tajam nan dingin tersebut, Xiu Qixuan kembali melangkah dengan sirat ketegasan untuk meninggalkan Mo Ji Gui seorang diri dalam keadaan perasaan yang terguncang hebat.
••••••••••
Tiga Hari Kemudian
Terlihat sebuah kereta kuda perlahan melaju dijalan. Itu pada saat bulan menghiasi langit. Deretan lentera bergoyang dibawah atap, pejalan kaki tidak terlihat dijalan.
Di dalam kereta, Xiu Qixuan menundukan kepalanya dan terlihat sangat tenang tetapi meremas erat roknya untuk menyembunyikan kegugupan. Sedangkan, sosok keanggunan yang tampan itu terdiam dan terus menatapnya dengan pandangan dalam yang teduh.
Pada saat ini, mereka sedang dalam perjalanan untuk kembali ke Kota Ping'an di Kekaisaran Shen. Xiu Qixuan meminta kepada Xiu Huanran untuk mempercepat waktu perjalanan pulang. Mengenakan alasan tidak masuk akal yaitu ingin menemani Yao Yunmei melahirkan. Padahal seorang gadis muda yang belum menikah tidak akan diperbolehkan untuk masuk kedalam ruangan bersalin.
Xiu Qixuan tidak menyangka bahwa Mo Ji Gui mengikutinya untuk kembali dan sepanjang perjalanan mereka berada dalam kereta kuda yang sama. Sedangkan, Xiu Huanran memilih untuk menunggangi kuda. Begitu menjengkelkan!
Dia sedang berusaha menghindar dari jenis pria yang penuh kasih ini, tetapi sepertinya langit tidak mengizinkannya untuk membuat suatu batasan yang jelas.
Jalanan bergelombang membuat gerbong berderak dan terguncang tidak nyaman. Xiu Qixuan kehilangan keseimbangan tubuhnya membuat dia terpelanting kedepan. 'Greb,' dengan cepat Mo Ji Gui menarik tangannya membuat tubuh mereka saling berbenturan.
"Hati-hati," Ucapnya.
Pria ini begitu dekat sehingga ketika berbicara, napasnya dengan lembut menyapu rambut dan telinga milik Xiu Qixuan.
Tubuh Xiu Qixuan menegang. Dia mencubit dirinya sendiri untuk tetap menjaga kewarasan dan mencoba yang terbaik untuk menahan emosinya.
"Terimakasih atas bantuannya, Guru." Balas Xiu Qixuan dengan kaku menjauhkan dirinya.
Mo Ji Gui tidak membiarkannya menjauh dan mencengkeram erat pinggul gadis itu untuk jatuh kedalam pangkuannya. Xiu Qixuan menggeliat tidak nyaman dan berucap tajam, "Guru, lepaskan. Ini tidak pantas."
"Xuan'er, kau salah jika berpikir aku tidak berani bertindak seperti ini padamu." Ucapnya tajam dengan matanya yang terbakar seperti api. Perlahan dia menundukan kepalanya dan membenamkan diceruk leher Xiu Qixuan yang terus menggeliat untuk melepaskan cengkeramnya.
"Jika aku meminta Keluarga Xiu untuk tangan anda. Anda tidak akan dapat menolak lagi, bukan?" Suaranya serak dan dalam. Menyiratkan suatu emosi dan hasrat memiliki yang selama ini tertahankan.
Semuanya menjadi kabur untuk Xiu Qixuan, gadis itu nyaris kembali tercekat oleh keadaan. "Mo Ji Gui, jangan merendahkan dirimu dihadapkanku. Atau aku akan membencimu." Ucapnya dengan tajam dan suram.
Itu seperti sebuah guntur pengingat bagi Mo Ji Gui, pria itu seketika menegang dan buru-buru melepaskan jeratannya.
Dia segera menjauh dan menundukkan wajah dengan memijat pelipisnya pelan. "Maaf.. aku—," Terjeda Mo Ji Gui.
"Orang yang kehilangan kendali diri akan sangat mudah untuk dijatuhkan." Peringat Xiu Qixuan dengan menatap lurus kearahnya. Gadis itu dengan raut wajah dingin segera merapihkan riasan dan pakaiannya yang kusut berantakan karena ulah memalukan tersebut.
••••••••••••
Meminta tangan seorang nona dari keluarganya: Mengajukan lamaran pernikahan.
Xuan bertumbuh karena melewati cobaan dan rintangan sebelumnya. perlahan berubah menjadi lebih kuat, lebih tenang, lebih terkendali dan lebih teguh.