
Para orang berjubah itu tidak menjawab mereka hanya ditugaskan untuk menangkap juga mencobai kemampuan rombongan kecil ini oleh sang ketua. Nona ini terlihat lemah tetapi memiliki gumpalan warna keemasan yang begitu kuat mengalir didalam nadinya.
"Baiklah, mulai saja. Xue Yue!!" Ucap Xiu Qixuan dengan keras merentangkan tangannya, 'Splash,' pedang bercahaya miliknya seketika muncul.
Derap langkahnya menyapu dedaunan kuning musim gugur, gemerincing dari aksesoris yang dikenakannya menimbulkan suara derak indah, pedang tajam dilengannya berdenting nyaring, rambut segelap malam itu menjuntai panjang tertiup angin, tubuh rampingnya meliuk dan memancarkan sebuah pesona mematikan.
Para orang berjubah itu jatuh kedalam pesona mematikan, beberapa yang lemah terkena goresan pedang sebelum akhirnya tersadar dan segera mengeluarkan kemampuan masing-masing.
Dentingan pedang terdengar keras, gadis cantik itu mengayunkan pedang dengan gerakan mematikan, kalau hanya ahli beladiri biasa mungkin tubuh mereka akan terpotong menjadi beberapa bagian. Sayangnya, mereka adalah seseorang manusia berkekuatan iblis dan aura iblis mengalir dalam tubuh mereka.
Hanya beberapa diantara mereka yang membawa senjata fisik seperti pedang ataupun panah, sisanya hanya bertangan kosong karena kekuatan iblis mereka diatas rata-rata untuk dapat mengeluarkan bola atau panah iblis hitam.
Xiu Qixuan kebingungan untuk menangani mereka, dia hanya dapat mengeluarkan kekuatan seni beladiri dari senjata fisik, bukan mempelajari cara membentuk dan mengeluarkan kekuatan spritual untuk dipakai bertarung seperti sihir. Ini rumit!
Semakin lama gerakan dan kecepatannya melambat, dia tidak dapat membunuh dan hanya dapat memberikan goresan-goresan kecil dengan mengalirkan kekuatan spritual ataupun aura kehidupan yang berlawanan dari aura iblis kedalam pedang, itu membuatnya menggeram frustasi dan kelelahan.
Sima Junke yang juga ikut bertarung terlihat tenang, pria itu lihai menyembunyikan emosi jika berhadapan dengan lawan. Sejauh ini pria itu dapat bertahan walaupun menderita banyak goresan luka.
"Membosankan sekali, mereka sangat lemah. Mengapa ketua tidak melepaskan kekuatan spritual selemah ini dan masih ingin mengumpulkannya kedalam topeng giok kematian. Gadis kecil itu bahkan tidak sebanding dengan Xiao Chun." Ucap salah satu dari para orang berjubah itu, dapat terlihat jelas bahwa dia adalah orang yang menjengkelkan.
"He Binbin tutup mulutmu!!" Sentak salah satu rekannya.
"Humphh..." Tanpa sengaja orang yang disebut He Binbin itu melihat Xiao Bao yang terduduk diatas kuda. Sejak awal para rekannya tidak berminat menyentuh anak sekecil dan selemah itu.
Sebuah bola api berwarna hitam keluar dari telapak tangannya, 'Woossh..' dia melemparkan dengan asal bola api itu kearah Xiao Bao dan menyebabkan kuda yang ditunggangi anak kecil itu meringkik terkejut.
Xiu Qixuan menolehkan wajah ketika mendengar suara itu, tubuh Xiao Bao melayang dan bersiap terpelanting keras.
"Xiao Bao!!!" Teriaknya berlari dengan sekuat tenaga tanpa memedulikan bahwa ini adalah arena pertarungan yang tidak mengizinkan dia lengah.
He Binbin tersenyum miring melihat punggung ramping Xiu Qixuan berlari menjauh untuk menyelamatkan bocah kecil itu.
Gadis cantik itu melompat menggunakan ilmu peringan tubuh untuk meraih tubuh kecil Xiao Bao, 'Greb...' Dia menarik dan mendekap tubuh bocah kecil itu.
Pada saat ini, cahaya dingin dan tajam tiba-tiba menembus udara. Cahaya yang mendekat dengan cepat sebenarnya adalah panah hitam dengan ujung merah gelap yang aneh.
"He Binbin, apa yang kamu lakukan?!" Ucap salah satu rekannya mempelototi dengan tajam.
"Ban Xia, hanya lumpuhkan dan akhiri lebih cepat." Ucap He Binbin dengan ringan.
"Kau—," Ucap Ban Xia tercekat saat melihat pemandangan kejam didepan sana.
"Xuan'er!!" Teriak Sima Junke dengan tubuh penuh luka lebam pria itu berlari dan melindungi punggung ramping itu dengan ketat dari belakang.
Tidak peduli bagaimana dia bertarung, Sima Junke tetap akan menempatkan Xiu Qixuan dalam posisi aman. Tidak peduli sehebat apa gadis ini, Sima Junke hanya mengetahui bahwa Xiu Qixuan adalah gadis ceroboh sejak awal pertemuan mereka.
Tubuh Xiu Qixuan perlahan berbalik, gelombang tidak nyaman mendera hatinya. "A Jun..." Panggilnya lirih.
Tubuh kokoh itu tidak dapat menopang lagi dan perlahan meluruh jatuh, Xiu Qixuan secara naluriah menangkap dan mendekapnya, mata besarnya berair dipenuhi sentuhan kesedihan yang tak bisa dijelaskan.
"Mengapa kamu begitu bodoh?" dengan suara tangisannya yang tertekan.
Senyum diwajah Sima Junke bunga mekar. Melihat air mata di kedua mata Xiu Qixuan, membuatnya merasa terhibur. Tidak apa-apa mati seperti ini. Setidaknya dia mati dipelukan kekasihnya. Setidaknya dia tidak lagi harus menanggung rasa sakit kehilangan orang yang dia cinta.
"Aku tidak mengizinkanmu mati..." Ekspresi gadis cantik itu perlahan berubah, tidak ada isak tangis tertahan seperti sebelumnya, dia mengangkat wajahnya menatap kearah para orang berjubah itu dengan dingin. "Pergi." Ucapnya tajam.
'Swooshh..Boomm...' Cahaya ungu berbentuk perisai tajam melesat dan menjatuhkan para orang berjubah itu. Kekuatan internal yang begitu besar ini membeludak keluar mengoyak tubuh para orang berjubah.
Angin semakin berhembus kencang, membuat pepohonan berderak nyaring, dedaunan kuning berterbangan menyiptakan suasana suram yang membuat orang menggigil ngeri.
Para orang berjubah itu terseret dan mengalami luka-luka. Mereka tidak menyadari sejak tadi seseorang yang dipanggil ketua ikut menonton pertunjukan ini dari balik pohon besar.
"Menarik.." Seringainya tajam dan segera berbalik pergi. Kekuatan spritual dan aura kehidupan gadis itu, dia menginginkannya untuk ditampung kedalam topeng giok kematian.
Tetapi bukan saat ini, jelas bahwa dia masih ingin bermain tanpa menunjukan dirinya. Untuk membuat gadis itu mengerti bahwa cinta dapat menyebabkan kejatuhan karena dunia ini begitu kejam. Tunggulah kejutan yang akan diberikan olehnya.
Ban Xia akhirnya menyadari keberadaan sang ketua, mereka bertatapan sejenak dan dia memberi kode perintah untuk kembali.
Para orang berjubah itu mendengarkan perintah Ban Xia untuk bergegas kembali, meninggalkan ketiga orang yang menderita kerugian karena ulah mereka.
Xiu Qixuan tidak memedulikan para orang berjubah itu, dia dengan perlahan mengangkat tubuh Sima Junke dan membawa pria itu diatas punggungnya. Guratan ekspresi cemas terlihat jelas.
"Xiao Bao, ikuti langkah jiejie." Perintahnya dengan suara serak.
"Ya," Ucap Xiao Bao dengan pengertian mengikuti perintah.
Kedua kaki miliknya bergetar hebat, langkahnya terseok, jelas bahwa dirinya memaksakan diri untuk tetap bertahan. Betapa beratnya cinta membuat seseorang menyerahkan hidup mereka.
••••••••••••
Hihi sabar yaa, mereka ga semudah itu ketemu karena beberapa hal terkait latar belakang dan harus sesuai urutan peristiwa. tenang aja nnti ketemu 3-4 bab kedepan, author jg kejar target mau langsung up sebanyak itu. Jgn lupa dukungannya😉💖