Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sudut Belakang Tebing



Kawanan burung camar terbang bebas diatas langit biru, menemani langkah dua sejoli yang sedang menikmati kebersamaan.


"Apakah masih jauh letaknya?" Tanya Xiu Qixuan dengan mengedarkan pandangannya dijalan setapak ini.


Terlihat banyak ilalang yang tertiup mengikuti arah angin dan bebatuan kokoh yang tertutup lumut.


"Mengapa? kau lelah?" Tanya Sima Junke dengan penuh perhatian.


Xiu Qixuan dengan cepat menggelengkan wajah dan menjawab, "Tidak,"


Dia tidak akan membuat keluhan apapun lagi, jujur saja sebenarnya dia sedikit trauma dengan kejadian di dalam penginapan.


Tetapi karena tidak ada banyak orang disini, Xiu Qixuan melepaskan pengait kain sutra yang menutupi wajahnya.


Kemudian dia menggenggam lengan kokoh Sima Junke dan menariknya pelan untuk melanjutkan langkah mereka.



Pada saat ini mereka sedang berjalan menuju tebing yang Sima Junke maksudkan sebelumnya.


Mereka berniat menjelajahi seluk beluk tempat disekitar Laut Nanhai untuk mengisi waktu berlibur dan menghilangkan penat.


Hari masih terbilang cukup pagi, membuat suasana lebih nyaman untuk melangkah.


Sesampainya mereka dibawah tebing yang memang benar seperti bukit kecil.


Xiu Qixuan melangkah lebih dulu untuk melewati jalan setapak dan mendaki perlahan, sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena dia samar-samar mendengar suara teriakan dan rintihan disudut belakang tebing.


Gadis itu memutar arah dan menatap dalam Sima Junke, dia seakan bertanya dalam diam apakah Sima Junke juga mendengarnya.


Tidak mungkinkan hari masih begitu pagi dan sudah muncul hantu yang bergentayangan.


Sima Junke mengangguk kepala seolah dia dapat mengerti kode pertanyaan yang diberikan Xiu Qixuan, kemudian dia menarik lengan gadis itu agar mendekat padanya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi di belakang tebing dengan melangkah cepat mereka berjalan memutar menuju arah belakang tebing.


Semakin melangkah kedepan, semakin terdengar teriakan rintihan dan makian. Hanya tinggal beberapa langkah lagi dari sumber suara, akhirnya Xiu Qixuan dan Sima Junke dapat melihat sesuatu yang membuat mereka sangat murka.


Terlihat beberapa anggota bandit mengepung pasangan ibu dan anak dengan tampang menyeramkan. Dan seperti musuh yang selalu bertemu dijalan sempit, mereka adalah teman seanggota dari bandit yang sebelumnya berniat melecehkan Xiu Qixuan.


Tangan Xiu Qixuan mengepal erat, dia terlihat sangat marah melihat perlakuan itu. Apalagi ada seorang anak kecil yang berusia sekitar tujuh tahun mengerut ketakutan. Benar-benar kejam!


"Aku sudah memberikan semuanya kepada kalian, hartaku dan tubuhku. Tetapi tolong biarkanlah anakku pergi," Teriakan keras dari sang ibu yang terisak penuh nelangsa.


Dia sudah kehilangan semuanya sejak semalam, tetapi para bandit ini tidak membiarkan anaknya yang berusia tujuh tahun untuk melangkah pergi.


"Tidak bisa, anakmu itu setidaknya berharga beberapa tael perak." Sentak marah seorang anggota bandit yang melangkah memisahkan ibu dan anak itu dengan gerakan paksa yang kasar.


Tetapi sang ibu tidak ingin melepaskan dan malah sangat kukuh mempererat dekapannya pada sang anak yang juga sudah ikut menangis.


Kalau mereka terpisah anaknya yang malang ini akan dijual keperdagangan budak.


Tetapi anak itu tidak mengerti apapun, dia hanya akan menangis jika ibunya menangis, dia mungkin hanya mengetahui bahwa mereka semua orang jahat yang mencoba menyakiti ibunya.


Semua anggota bandit itu sudah sangat geram, dan salah seorang dari mereka dengan gerakan cepat menodongkan pedang panjang yang melengkung membentuk sabit, senjata khas Nanbao.


Xiu Qixuan menggeram pelan kemudian dengan gerak cepat menghentakan genggaman Sima Junke dilengannya.


Gadis cantik itu dengan kecepatan kilat berlari maju, 'Splash,' Pedang yang bercahaya tiba-tiba muncul dilengannya.


Semilir angin membuat rambutnya yang segelap malam itu berkibas indah, gerakannya yang begitu anggun seperti seorang dewi perang yang terbang diatas langit dengan pedang di dalam genggamannya.


Sima Junke tertegun dan tersentak kaget, sebelum akhirnya pria itu ikut melangkah untuk menyusul Xiu Qixuan. Gadis ini bukankah terlalu gegabah, pikirnya.


'Srett.. Brukk..Trang..' Lengan bandit yang menondongkan pedang itu terputus dan jatuh ketanah berpasir.


Hening.


Mereka semua tidak ada yang bereaksi karena terkejut. Bahkan bandit yang lengannya terputus saja tidak dapat bereaksi, kejadian itu begitu cepat ketika dia kehilangan satu lengannya.


Sebelum akhirnya sebuah suara indah milik seorang gadis mengalun, "Lebih baik dibuang jika tidak memiliki guna, sampah."


Semua orang yang berada disitu menolehkan wajah menatap sesosok kecantikan berdiri anggun dan elegan.


Seketika teriakan kesakitan terdengar sangat nyaring, bandit yang lengannya terputus itu sudah pulih kesadarannya dan merasakan kesakitan.


"Siapa kau?!" Raungan marah terdengar dari rekannya.


Ibu dan anak itu semakin mendekap erat, mereka meringsut ketakutan. Apalagi saat melihat satu lengan yang terputus dan darah yang mengalir akan membuat siapapun menderita ketakutan.


Sima Junke menyusul dan sekarang sudah berdiri disebelah Xiu Qixuan, pria itu juga sudah menyiapkan pedangnya dan berwaspada. Seolah menunggu respon lawan untuk melakukan aksinya.


"Xuan'er, biarkan aku yang membereskan semuanya. Kau bantulah ibu dan anak yang malang itu," Perintah Sima Junke berbisik pelan ditelinga Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan menggelengkan wajah dan berucap, "Mari bersama, baik?" dengan keras kepala


Helaan napas terdengar keras sebelum akhirnya Sima Junke membalas, "Baik, berhati-hatilah jangan sampai terluka." dengan suram.


"Tidak akan," Jawab Xiu Qixuan dengan lembut.


Para bandit itu menggeram marah karena tidak di tanggapi oleh dua sejoli ini, mereka dengan cepat membentuk formasi lingkaran pengepungan. Meninggalkan rekannya yang terluka itu untuk membereskan Xiu Qixuan dan Sima Junke.


Xiu Qixuan mempererat genggaman pedang dilengannya dan pandangan tajam itu mengedar seperti menatap seekor mangsa buruannya.


Punggung Sima Junke dan Xiu Qixuan saling berbenturan mereka seperti saling menjaga dari belakang untuk bertarung.


Pedang bercahaya indah itu mengayun mengikuti gerakan dan intruksi sang majikan.


Xiu Qixuan melangkah dengan sangat ringan menerobos pengepungan dari lima orang bandit yang berusaha menebas tubuhnya.


Begitupun Sima Junke yang sudah kembali dalam kondisi pulih untuk bertarung, gerakan pria itu sangat tegas dan menyeramkan memotong tubuh para bandit menjadi beberapa bagian. Dia seperti seseorang yang kerasukan iblis meluapkan dendam dan amarah, tanpa sedikitpun berkedip untuk membunuh musuhnya.


Ekspresi suram terpasang jelas diwajah tampannya, sepertinya Sima Junke yang terkesan lebih murka akan kejadian pelecehan sebelumnya daripada Xiu Qixuan yang notabennya adalah korban.


Prinsip -nya adalah siapapun yang berniat menyakiti dan menyentuh orang yang dia cintai, tentu saja dia harus membalas seribu kali lipat penderitaan.


Hembusan angin bertiup dari gerakan indah tubuh Xiu Qixuan yang memutar, gadis itu membentuk serangan tipuan dan menebas musuhnya.


Gerakan yang seperti menari membuat seseorang akan terperangah melihatnya, tetapi mereka tidak menyadari dampak gerakan keindahan itu begitu mematikan.


Dengan kecepatan kilat beberapa anggota para bandit itu tergeletak tak bernyawa, membuat bandit yang lengannya terputus menjadi gemetar ketakutan.


Seorang ahli beladiri, pikirnya.


Bandit dengan lengan terputus itu memang berdiri tidak jauh dari pasangan ibu dan anak yang juga ikut gemetar ketakutan. Dia melihat pasangan ibu dan anak itu dengan tatapan tajam, dengan pikiran yang tak berfungsi baik. Bandit itu dengan gegabah mengambil pedang yang sebelumnya terjatuh diatas tanah berpasir dengan menggunakan salah satu lengannya yang tersisa.


Dia berpikir bahwa semua ini adalah kesalahan ibu dan anak itu yang berteriak keras menyebabkan sepasang ahli beladiri datang dan memusnahkan rekannya.


Dengan gerakan gemetar diantara suara petarungan rekan anggotanya dengan Xiu Qixuan dan juga Sima Junke. Dia menghampiri pasangan ibu dan anak itu, mengangkat pedang panjang dan mengayunkan untuk menebas keduanya.


Teriakan keras sang ibu yang terpekik kaget. Pada saat bahaya yang semakin mendekat, dia melemparkan dirinya di depan putranya dan pedang panjang itu membelahnya di pinggang.


Xiu Qixuan yang mendengar teriakan itu ditengah pertarungannya menjadi terbelalak kaget, disudut ekor matanya dia dapat melihat sang ibu meludahkan seteguk darah dan jatuh ke tanah, benar-benar tubuh yang terpotong menjadi dua di tempat.


Sang anak bergetar ketakutan dan memanggil-manggil ibunya, rasa bersalah mendera Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan dengan amarah yang begitu membara menebas tubuh para bandit yang tersisa dengan kecepatan dan keakuratan yang tiada banding, 'Brukk..brukk..' tubuh para anggota bandit tergeletak tak bernyawa.


Bandit dengan lengan yang terputus di depan sana juga tidak kunjung puas, dia mengangkat pedangnya lagi dan mengayunkannya untuk menebas tubuh sang anak.


'Jlebb..Prang..' Tubuh bandit dengan lengan terputus itu meluruh jatuh ketanah, dengan sebuah pedang yang bercahaya menembus dada nya dari arah belakang.


Xiu Qixuan sebelumnya berlari dan melemparkan pedangnya dengan kemurkaan penuh kearah bandit itu, tidak memberi sedikitpun ampun.


Sosok kecantikan itu penuh dengan peluh keringat, dia bergegas menghampiri anak lelaki yang sedang meraung keras memanggil ibunya yang sudah tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan.


Xiu Qixuan melangkah dengan sangat pelan dan menatap anak lelaki itu dengan pandangan sendu, dia merasakan perasaan bersalah yang teramat sangat.


Andai saja Xiu Qixuan tidak keras kepala dan sedikit saja mendengarkan perintah Sima Junke untuk menjaga mereka, mungkin anak ini tidak akan menjadi seorang piatu.


Perlahan Xiu Qixuan berjongkok mensejajarkan dirinya kepada anak lelaki itu.


Dia mengulurkan lengannya berusaha meraih tubuh anak lelaki itu, tetapi tiba-tiba anak itu menghindar dan meringsut ketakutan dengan tubuh yang gemetar hebat menatap Xiu Qixuan.


"Anak baik, Jiejie tidak akan menyakitimu." Ucap Xiu Qixuan dengan tersenyum lembut, mencoba untuk berinteraksi dan menenangkannya.


"Ibu..." Gumam anak itu masih terisak menangis memanggil ibunya.


Xiu Qixuan kebingungan untuk menjawab, dia menarik napas panjang karena dadanya juga ikutan sesak.


Suara langkah terdengar, Sima Junke yang sudah menyelesaikan pertarungannya ikut berjongkok disebelah Xiu Qixuan dan memandangi wajah sendu gadis itu.


"Jangan merasa bersalah, baik?" Bisiknya pelan dan mengelus lengan Xiu Qixuan.


"Anak yang malang," Gumam Xiu Qixuan masih tetap terfokus pada anak itu.


Tiba-tiba tubuh anak lelaki itu limbung dan terjatuh, tangisannya seketika berhenti. Xiu Qixuan bergegas menghampirinya dengan sangat panik.


Dia membawa anak itu kedalam pangkuannya dan dengan cepat memeriksa keadaannya. Saat merasakan napas anak ini masih stabil, dia bergumam pelan, "Syukurlah..Syukurlah, dia tidak apa." dengan mata berkaca-kaca mengelus wajah anak lelaki itu dengan lembut dan penuh kasih.


Hatinya akan begitu lembut dan luluh jika sudah menyangkut kehidupan seorang anak kecil.


Sima Junke ikut menghampirinya, dan dengan cepat meraih tubuh anak itu kedalam gendongannya. Kemudian pria itu berucap, "Kita kembali, aku akan menyuruh orang untuk membereskan dan memakamkan mayatnya."


Xiu Qixuan menarik napas panjang, sebelum akhirnya dia berdiri dan mengusap wajahnya.


Dia menyusul dan mensejajarkan tubuhnya dengan Sima Junke yang sedang menggendong anak lelaki itu, "A Jun... anak itu—," Ucapnya ragu-ragu.


"Kau peduli padanya, bukan?" Tanya Sima Junke perlahan melangkah.


'En,' Jawab Xiu Qixuan dengan cepat mengangguk.


"Kalau begitu biarkan dia tinggal untuk sementara waktu," Balas Sima Junke dengan tersenyum ringan.


Xiu Qixuan melebarkan senyumnya, kemudian dia memandang wajah anak lelaki itu dan berucap sendu, "Aku harus menebus penderitaannya. Andai saja aku—," Terjeda


Sima Junke memberhentikan langkahnya dan menatap Xiu Qixuan dengan tajam, " Aku sudah bilang, ini bukan kesalahanmu!" Sentaknya marah.


Pria itu merasa saat ini Xiu Qixuan nyaris seperti dirinya yang tenggelam dalam perasaan bersalah karena kepergian Shi Peiyu sang ibunda. Berpikir dengan kata andai dan jika, terdengar sangat memuakan ditelinganya.


Xiu Qixuan tertegun menatap Sima Junke yang memandangnya tidak suka.


Helaan napas terdengar jelas, Sima Junke kemudian berucap lagi dengan lembut nan menenangkan, "Ini sebuah takdir yang tidak dapat diprediksi, kau dapat merasa bersalah dan tebuslah jika kau meinginkannya. Aku akan membantumu mencari keluarga anak ini dan mempertemukan mereka, baik?"


Xiu Qixuan memandangi wajah tampan itu dengan dalam dan sedikit bergetar, "Baik, sekarang kita akan merawatnya terlebih dahulu." Jawabnya dengan tersenyum manis.


••••••••••••••