
"Saat itu Nanjing tidak berada dibawah tebing-tebing, kami masih bermukim ditemani luasnya padang pasir."
"Tiba disatu malam, bibiku—Aisin Fei untuk melahirkan. Malam itu terasa dingin dan juga suram, padang pasir yang harusnya selalu menerima curah hujan sedikit menyiptakan suatu keanehan. Suara guntur menggelegar dilangit, kilatan petir menerangi malam, dan hujan turun begitu deras." Lanjutnya dengan terus menatap kearah Sima Junke
"Angin kencang membawa badai pasir yang berterbangan, menewaskan ratusan jiwa. Ditengah kepanikan, Bibiku juga berjuang keras di dalam ruangan untuk melahirkan anaknya. Beberapa penjaga mengelilingi bangunan dan dengan berbagai cara—mereka berusaha menahan minimal sedikit saja hantaman badai pasir yang menghancurkan itu."
"Beberapa jam berlalu dan keadaan semakin memburuk, diluarsana semakin banyak pengawal yang berjatuhan. Badai pasir hampir menghancurkan bangunan yang ditempatinya untuk melahirkan. Sampai tiba dititik terakhir, tangisan bayi meraung keras mengisi ruangan, bayi itu berhasil dilahirkan dan badai pasir yang menggila seketika berhenti. Keadaan menjadi sunyi dan lenggang. Hal aneh dan menggemparkan terjadi ketika bayi itu dilahirkan dengan membawa sebuah cincin hitam berhias merah."
"Ibu sang bayi jatuh tak sadarkan diri, dan berakhir dengan organ dalamnya yang rusak. Dia tidak akan dapat memiliki seorang anak lagi. Sejak mengetahui itu, dia lebih berhati-hati untuk menjaga bayinya. Bahkan rumor buruk mengenai sang bayi tidak sedikitpun dia biarkan lolos."
"Ada yang menyebut bayi itu pembawa bencana, keesokan harinya orang itu ditemukan tewas atau menghilang. Semua orang menjadi tidak berani membicarkannya, sampai akhirnya terjadi revolusi Ibukota Nanjing yang dicetuskan oleh Kepala Suku yang memerintah saat itu."
"Cerita dan rumor mengenai bayi itu menghilang seiring berjalannya waktu, dan tertutup oleh cabang generasi baru."
Sima Daiyu bercerita dengan jelas dan perlahan membuat seseorang yang mendengarkan tersedot kedalamnya. Bahkan Manchu Suyi saja tidak mengetahui bahwa ibunya pandai bercerita.
Mereka mendengarkan dengan seksama dan jatuh kedalam keheningan.
Pantas saja Aisin Fei begitu kacau ketika mengetahui Sima Xiahou meninggal, sosok Sima Xiahou sangat penting seperti dia sudah memberikan setengah nyawa-nya pada anak itu.
"Bibi, dapatkah kau menjelaskan detail seperti apa cincin tersebut?" Ucap Sima Junke dengan tenang.
Pria itu tidak terlihat terkejut lagi karena saat ini dia sepenuhnya dapat mengendalikan diri juga situasi.
"Cincin itu selalu Xiahou simpan dibalik kerah bajunya, sulit untuk mengetahui lebih jelas." Jawab Sima Daiyu dengan mata yang seperti menerawang jauh.
Sima Junke menghela napas panjang, terlihat dia penuh kekecewaan. Benar yang dikatakan oleh bibinya, bahkan seorang Paman Kun yang selalu bersama ayahnya tidak mengetahui jelas bentuk detail cincin itu.
Senyum melengkung samar diwajah Sima Daiyu saat melihat ekspresi kecewa Sima Junke kemudian dia dengan ceria berucap, "Tetapi tenang saja, Bibi-mu ini terlalu lihai dalam mencuri pandang."
Sima Junke mendongakkan wajah dengan binar senang seperti mendapat sebuah pencerahan yang berlebih.
"Saat itu Sima Xiahou kecil tertidur pulas, dan aku mengeluarkan kalung yang berliontin cincin itu dari balik kerah bajunya untuk dilihat." Ucap Sima Daiyu dengan ekspresi riang.
Kemudian matanya menyipit dan tangannya membuat gestur bentuk ketika menjelaskan, "Aku dapat mengingat jelas bentuknya karena saat itu hinaan keluar dari mulutku. Bentuk cincin itu sungguh aneh, berwarna hitam disekelilingnya dan berhias batu membentuk seperti kuku-kuku merah panjang atau seperti sebuah lava merah yang keluar dari gunung berapi."
Manchu Suyin tidak tahan lagi untuk berbicara yang tidak penting, "Ibu cerita ini seperti sebuah karangan saja," Ucapnya tidak percaya.
Tidak ada yang menjawab gadis muda itu, karena mereka tidak berniat sedikitpun untuk membuat Manchu Suyin percaya.
"A Jun, ada satu rahasia yang kini hanya milikku seorang." Ucap Sima Daiyu dengan lirih.
"Saat itu aku berada di Nanjing dan ayahmu tiba-tiba memberiku tugas untuk mengantarakan sebuah surat kepada Aisin Boyu. Aku tidak dapat mengerti dan terus bertanya dimana Kun Qi Bo karena hal itu seharusnya adalah tugas Kun Qi Bo." Jelas Sima Daiyu sirat penuh penyesalan.
"Ternyata di dalam surat itu adalah perjanjian yang dibuat oleh Xiahou untuk Aisin Boyu. Disana tertulis jelas bahwa Aisin Boyu harus berjanji tidak boleh lagi mengganggu atau menyentuh Keluarga Sima sejak kematian Xiahou yang mungkin sudah mereka sepakati." Lanjutnya dengan sedikit bergetar.
"Aku—," Terjeda Sima Daiyu.
"Bibi, aku mengerti." Ucap Sima Junke dengan tersenyum lembut nan menenangkan. Dia tahu bahwa Sima Daiyu ingin mengucapkan banyak kalimat penyesalan seperti yang sebelumnya dilakukan Paman Kun, dan Sima Junke tidak ingin mendengar ucapan jenis itu lagi.
Beberapa jam berlalu begitu cepat, Sima Junke membawa Xiu Qixuan dan Xiao Bao untuk segera kembali.
Awalnya Sima Daiyu sangat gigih menawarkan tempat tinggal untuk mereka menginap, tetapi Sima Junke menolaknya dengan lembut memberi pengertian bahwa mereka harus bergegas kembali ke Nanjing untuk esok hari.
Tentu saja, Sima Junke berbohong mengenai tujuan. Kebenarannya adalah mereka ingin melakukan perjalanan jauh ke Sekte Xitian.
************
Keesokan harinya.
Cahaya matahari perlahan menyembul dari ufuk timur, angin segar pagi hari menerpa wajah menyejukan hati.
Telihat sepasang pria dan wanita yang bersiap di depan sebuah rumah tepi pantai, mereka dengan serasi mengenakan pakaian berburu sederhana untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai kuda.
"Kau yakin kita akan melakukan perjalanan hari ini?" Tanya Xiu Qixuan untuk memastikan.
"Ya, apakah kau merasa keberatan?" Ucap Sima Junke balik bertanya.
"Memang ini terlalu mendadak, tetapi aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja bagaimana dengan Xiao Bao? Apakah kita akan menitipkannya pada Kangjian saat melewati Nanjing?" Tanya Xiu Qixuan dengan kekhawatiran mengenai anak itu.
Sebelum Sima Junke dapat menjawab, seseorang sudah menghentikannya lebih dulu.
"Tidak!!! Jiejie, kau tidak boleh meninggalkanku. Kau sudah berjanji," Teriak Xiao Bao dari arah belakang mereka.
Bocah kecil itu terlihat histeris dan menangis dengan keras. "Aku ingin ikut denganmu Jiejie!!"
Xiu Qixuan terlihat kebingungan dan dia segera menghampiri Xiao Bao untuk menenangkannya.
Dia mengelus pelan punggung Xiao Bao dan mendekap tubuh mungil itu, "Xiao Bao, perjalanan jauh tidak bagus untuk kesehatan anak kecil. Dan juga akan berbahaya jika kami bertemu para bandit. Jiejie tidak ingin membahayakanmu, Mengerti?" Ucapnya dengan lembut memberi pengertian.
Xiao Bao melepaskan pelukan dan juga mengusap kedua matanya yang berair itu dengan cepat. Dia perlahan berucap dengan gigih penuh tekad, "Aku tidak takut apapun!! Jiejie, yakinlah bahwa aku akan menjadi kuat dan berani seperti yang kau katakan padaku. Dan saat itu terjadi aku tidak akan merepotkanmu lagi,"
Pandangan mata Xiu Qixuan bergetar hebat, anak ini—bagaimana mungkin berucap seperti itu, padahal dia terlalu kecil untuk mengerti sebuah kerumitan hidup.
Xiu Qixuan mengangkat wajahnya untuk menatap Sima Junke dengan pancaran sedih, "A Jun..." Panggil Xiu Qixuan lirih. Dia tidak dapat membuat keputusan mengenai hal ini.
Sima Junke menarik napas panjang dan tersenyum berucap dengan tegas, "Xiao Bao, buktikan pada kami mengenai ucapanmu. Jika tidak, Gege akan mengembalikanmu ke Nanhai."
Senyum perlahan merekah dari bibir Xiu Qixuan, dia mengacak rambut Xiao Bao dengan gemas. "Gege -mu sudah menyetujuinya, kau akan ikut bersama kami." Ucapnya.
"Yeay!!" Saat bersama dengan Xiu Qixuan dan Sima Junke, Xiao Bao akan begitu lepas juga riang seperti kebanyakan anak seusianya. Dia juga sangat cerdas dan tanggap dalam berpikir. Begitu layak untuk diajarkan banyak hal.
Xiu Qixuan memberi Xiao Bao sebotol racun aneh peninggalan Qiaofeng dan juga senjata gelang yang dapat mengeluarkan jarum karena hidup tidak dapat terprediksi jika kedepannya mungkin terjadi bahaya Xiao Bao dapat memiliki setidaknya sedikit pertahanan untuk melarikan diri.
••••••••••••••