
Entah sudah berapa menit keheningan ini terjadi sejak mereka memasuki kereta kuda. Wajah Xiu Qixuan menghitam sempurna, dia menatap Su Yiyang dengan tatapan mematikan seolah-olah ingin melahap gadis itu dengan bara api. Tapi, Su Yiyang yang ditatap hanya terdiam memalingkan wajah dengan kikuk.
"Nona Besar Xiu, jangan marah! Ini kesalahan saya." Jiajia berkata gemetar dengan menundukkan wajahnya gugup. Dia memilih melindungi majikannya dari kemarahan Xiu Qixuan.
Mendengus remeh, Xiu Qixuan berujar tajam: "Jangan melindunginya, Jiajia! Dilihat dari aksi beraninya, Yiyang kita ini tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun." Dia menyilangkan tangannya di depan dada menampilkan arogansi seorang yang berkuasa.
Mendengar perkataannya, Su Yiyang mendelik tak senang. Dia mengembungkan wajahnya kesal. "Kau sendiri mengapa keluar untuk melindungiku dengan cara yang tidak bagus?!" sahutnya.
Berdecih. Xiu Qixuan mengerutkan wajah, bibirnya bergerak mengeluarkan cercaan yang menekan Su Yiyang: "Terus apa yang harus kulakukan? Melihatmu tetap bertingkah dan membahayakan kita semua?! Cara itu yang paling bagus untukmu!"
Su Yiyang terdiam sesaat, Ia mendengus tak mau kalah. "Dengan cara membiarkan ayahku ikut terlibat untuk menghukumku sendiri?! Yang benar saja, sialan?!" teriaknya gusar. Dia kemudian menoleh tajam ke samping, "Kau juga, Xiao Rou! Mengapa bertindak seperti itu tadi?!" semburnya.
Wajah Xiao Rou meringis, tak enak. Tapi, dia menjawab dengan dedikasi yang begitu lugas: "Nona Su, boleh marah. Namun saya tidak akan meminta maaf, karena itu adalah tugas saya untuk mematuhi perintah Nona Besar sebagai bawahan dari keluarga Xiu."
Mengatupkan rahang. Su Yiyang mendengus dan memalingkan wajah, dia kehilangan kata-kata untuk memaki.
Xiu Qixuan tersenyum puas, ketika melihat dedikasi Xiao Rou yang memukul Su Yiyang.
Su Yiyang ini benar-benar pembuat onar sungguhan. Perilakunya yang keras kepala dan tak tahu aturan membuat Xiu Qixuan bertanya-tanya bagaimana cara Keluarga Su mendidik anak ini?
Dalam benaknya, Xiu Qixuan merasa terberkati dengan kehadiran Yao Yunmei yang mengajarkan banyak hal padanya sebagai wanita bangsawan.
Jika, tidak—ia mungkin akan memiliki perilaku lebih parah dari pada Su Yiyang saat ini. Yao Yunmei pernah berkata seperti ini padanya: "Bangsawan tidak bisa hidup semaunya. Walaupun kamu tidak serakah dan tidak memiliki niat ambisi. Orang di sekitarmu tidak akan membiarkanmu begitu saja, Xuan'er."
Xiu Qixuan menaruh itu dalam hatinya.
•••••••••••••••
Sebelumnya...
Kombinasi yang aneh dan membuat kepala pening ini benar-benar menguras tenaganya. Berhadapan dengan tiga pangeran sekaligus di satu waktu membuat Xiu Qixuan sangat berhati-hati. Apalagi... Shen Wanqi yang kekanakan itu!
"Menurut saya hanya itu cara yang adil dan dapat menenangkan pangeran kesembilan tanpa membuat lebih banyak keributan di istana yang akan mengganggu kaisar."
Xiu Qixuan menajamkan pendengarannya untuk mendengar Xiao Rou yang sedang berbicara serius di sudut jalan dengan Shen Zongshun, Pangeran Kelima.
Shen Zongshun merenung sejenak untuk berpikir. Dia menatap Xiao Rou yang sedang menyamar dan menganggukkan kepala, mengerti. "Ya, Nona Besar bijaksana! Kita akan melakukan cara itu." salutnya.
Xiao Rou tersenyum tipis. Dia sedikit membungkuk dan berkata sopan: "Terima kasih atas bantuannya, Yang Mulia Pangeran Kelima."
"Tidak perlu sungkan!" Jawab Shen Zongshun lembut.
Selesai berbicara, mereka bergerak melangkah kembali ke dalam kombinasi perkumpulan aneh ini.
"Adik kesembilan. Kau ingin menghukum Nona Su bukan?" Shen Zongshun bertanya lurus tanpa basa-basi.
Shen Wanqi menautkan sudut alisnya, bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Tapi, dia menjawab geram sembari melirik Jiajia dan Su Yiyang bergantian: "Ya, tentu saja. Gadis bermuka tebal dan pelayannya ini harus di beri pelajaran, 'kan."
"Yasudah, mereka akan di kenakan hukuman yang sesuai denganmu." Shen Zongshun berujar dengan begitu santai seolah-olah ini bukanlah sesuatu yang serius.
"APA?!" seru Shen Wanqi dan Su Yiyang secara bersamaan.
Shen Wanqi tidak percaya, dia menanggapi dengan skeptis: "Apa maksudmu yang membantuku, Kakak Kelima?"
Dan, Su Yiyang yang juga kebingungan ikut berbicara. "Tunggu sebentar, Pangeran Kelima. Nona Su—," Tejeda ia.
"Sebagai seorang pangeran—kita tidak bisa sembarangan menyentuh nona bangsawan apalagi langsung menghukumnya di istana. Jadi, kita akan menyerahkan hukuman untuk Nona Su pada Menteri Su." Ujar Shen Zongshun dengan tajam dan serius, tak ingin di bantah.
Perkataan Shen Zongshun masuk akal dengan membiarkan Menteri Su yang merupakan wali untuk menangani kenakalan putrinya sendiri.
Tubuh Su Yiyang membeku. Dia termangu, kaku.
"Apa maksudmu, Kakak Kelima?" Cerca Shen Wanqi tampak tidak setuju. "Aku sendirilah yang harus memberikannya hukuman!" dengusnya keras.
"Tidak bisa. Kau melanggar aturan dengan menahan seorang nona bangsawan tanpa persetujuan kaisar ataupun permaisuri." tegas Shen Zongshun dengan dingin. "Aku sudah memberimu cara yang bagus untuk membalas dendammu, adik kesembilan." Suaranya terdengar menekan berat, menciptakan atmosfir gelap. "Sekarang giliran jawabanmu, iya atau tidak sama sekali?"
Shen Kaicheng menyeringai penuh makna, dia menonton dan merasa sangat terhibur dengan ini semua. Xiu Qixuan yang berada di sempingnya hanya mendengus jengkel.
Terdiam sejenak, Shen Wanqi berpikir. Dia menatap penuh selidik ke arah Shen Zongshun.
Wajah Su Yiyang menghitam. Tubuhnya sedikit gemetar membayangkan reaksi ayahnya jika mengetahui dia bertengkar serius dengan seorang pangeran.
Shen Zongshun menoleh dan menatap Jiajia juga Su Yiyang secara bergantian. Bibirnya bergerak secara perlahan dia berbicara meyakinkan: "Lihat mereka!" tunjuknya.
"Tubuh mereka sudah bergetar gugup ketika kita membahas Menteri Su." Shen Zongshun tersenyum tipis.
Shen Wanqi langsung mengikuti arah tatapan Shen Zongshun, dan benar saja—dia menemukan Jiajia dan Su Yiyang sedang bergetar serius.
Ah, sepertinya benar—hanya Menteri Su yang dapat membuat nyali Su Yiyang menciut.
Menarik sudut bibirnya, Shen Wanqi terkekeh jahat. Tanpa berpikir lagi, dia menyetujui cara dari sang kakak kelima. Dia akan memanggil Menteri Su ke istana dan membiarkan pria tua itu tahu kelakuan putrinya saat di tempat perjudian.
Bulu kuduk Su Yiyang langsung berdiri, merinding. Dia berkeringat dingin. Melirik Xiu Qixuan dengan mata terkulai untuk meminta pertolongan, tetapi gadis itu hanya mengedikkan bahunya dan bereaksi tak acuh. Seolah-olah Xiu Qixuan dapat berkata dalam diam: 'Salahmu sendiri tidak mendengarkanku dulu tadi!'
Merasa situasi kembali dalam kendalinya. Xiu Qixuan menghela napas lega, wajahnya yang menunduk itu menyunggingkan senyum tipis.
"Apa yang membuatmu begitu senang sampai tersenyum?" Suara rendah dengan hembusan napas hangat Shen Kaicheng yang berbisik itu menggelitik telinga Xiu Qixuan.
Mendengus tajam, Xiu Qixuan segera bergerak menjauh. Ah, si penggoda ulung ini lagi!
•••••••••••••
A/N: Nnti author buat pengenalan karakter baru + pict ilustrasi nya untuk para pangeran, selir, dan menteri kaisar, biar kalian kenal sama mereka dan ga bingung.