
Xiu Qixuan dan Sima Junke berdiri saling berdampingan didepan aula besar bersama dengan ratusan orang pejabat dan bangsawan Nanbao untuk menunggu kedatangan pengantin, hiruk-pikuk keramaian musik dan juga tarian terdengar begitu nyaring menambah kegembiraan.
Warna-warni cerah dan berkilauan saat diterpa cahaya matahari dari setiap orang yang hadir, pakaian yang mereka kenakan harus menunjukan status kedudukan mereka sebagai salah satu dari sekian orang penting diwilayah Nanbao, menjadikan pakaian yang dikenakan terkesan begitu mewah dan mahal.
Semua orang berbaris rapih disamping kanan dan kiri kemudian membentuk atau memberikan jalan ditengah untuk iringan sepasang pengantin.
Sebuah altar kecil juga berdiri kokoh disamping barisan yang berisi tarian dan musik. Altar itu juga akan digunakan untuk ritual akhir dalam prosesi pernikahan.
Xiu Qixuan dan Sima Junke berada dibarisan dekat dengan pintu masuk aula besar agar menjadi orang pertama yang memberikan penghormatan dan menyambut kedatangan dikarenakan status kedudukan Sima Junke yang tinggi dibanding yang lain.
Tiba-tiba gong berbunyi nyaring menandakan kedatangan iringan pengantin wanita. Aisin Tianyi berada diujung barisan mengenakan pakaian kebesaran Kepala Suku, dia berada disana untuk menyambut pengantin wanita dan mereka akan melangkah bersama menyelesaikan semua prosesi ritual.
Zhai XinXin memacu kudanya dan turun dengan penuh wibawa. Pengantin wanita diwilayah Nanbao tidak menaiki gerbong kereta kuda, tetapi mereka akan mengendari kuda mereka sendiri untuk melambangkan suatu kegigihan dan kekuatan Suku Nanbao.
Xiu Qixuan berusaha menjinjitkan kakinya dengan terus melongokkan wajah penasaran, orang-orang ini menghalangi pandangannya. Atau dirinya yang terlalu mungil dibandingkan orang-orang Suku Nanbao yang tinggi nan gagah.
Sima Junke yang melihat itu hanya dapat menggelengkan wajah, dia menundukkan tubuh untuk meraih hiasan pot batu berbentuk kotak disamping dinding aula kemudian meletakannya dibawah kaki Xiu Qixuan.
"Naik keatas batu itu dan kau dapat melihat lebih jelas," Ucap Sima Junke dengan tersenyum pengertian.
Xiu Qixuan tersenyum senang dan mengangguk kemudian menuruti ucapan Sima Junke, dia terlihat sangat tidak sabar seperti sedang menunggu sebuah atraksi saja.
'Ah,' Teriakan tertahan Xiu Qixuan karena terkejut tubuhnya limbung tergelincir jatuh. Hiasan batu itu terbuat dari tanah liat dan licin saat ditapaki oleh sepatu kulitnya.
'Hap,' Sima Junke meraih pinggang rampingnya dan berbisik pelan ditelinganya, "Hati-hati, jangan mengacau."
Xiu Qixuan hanya melirik tajam dan mendengus, kemudian dia tetap menapaki kakinya diatas batu yang seharusnya menjadi hiasan. Sedangkan Sima Junke juga tetap memegang pinggang ramping Xiu Qixuan untuk menopang tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.
Posisi mereka sekarang membuat orang disekitar mereka yang melihat menjadi tersenyum malu dan memaklumi, lihat saja Sima Junke yang begitu posesif memeluk pinggang Xiu Qixuan.
Tetapi Xiu Qixuan tidak memperhatikan itu, gadis ini hanya terfokus pada Zhai XinXin yang mengenaikan pakaian dan riasan mewah.
Pakaian itu berwarna merah terbuat dari lapisan benang sutra dengan aksesoris emas dan permata, juga cambuk kuda yang terbuat dari kulit pohon waru kering dengan gagangnya yang terbuat dari emas yang dicairkan dan batu permata merah sebagai hiasan.
Perlahan Zhai XinXin berjalan dengan membawa kesan berwibawa dan elegan, Aisin Tianyi mengulurkan lengan untuk menggenggam dan dibalas dengan manis olehnya. Mereka saling bergenggaman tangan dan melangkah beriringan.
Para tamu yang membuat barisan dikanan dan kiri melemparkan dedaunan kuning disetiap langkah pengantin dan kedua pengawal yang terus mengikuti dibelakang tubuh pasangan pengantin akan membuat jejak dengan alat seperti garpu taman untuk mengumpulkan dedaunan itu. Tarian dan musik semakin terdengar keras seiring langkah pengantin.
Xiu Qixuan mengerutkan kening dan menolehkan wajah menatap Sima Junke yang sedang berada disamping mendekap tubuhnya kemudian dia dengan antusias bertanya, "Apa yang mereka lakukan? Mengapa musik dan tarian diatas altar semakin terdengar keras dan membara?"
Sima Junke dengan tersenyum lembut dan telaten menjelaskan, "Dua orang itu akan mengukir jejak langkah kaki dijalan yang dilalui bersama dan meninggalkan kenangan mereka untuk memberitahu agar tetap berjalan lurus. Sedangkan, untuk tarian dan musik yang semakin terdengar keras sebagai bentuk penghormatan juga menolak bala penderitaan dan mendatangankan berkat langit kepada pasangan pengantin."
Xiu Qixuan mengangguk mengerti dan mengalihkan pandangan lagi untuk melihat Zhai XinXin dan Aisin Tianyi yang sekarang sedang melangkah melewati kerikil bebatuan yang tersusun dijalan.
"Batu sebanyak itu harus dilangkahi untuk apa?" Tanya Xiu Qixuan lagi.
"Untuk mewakili bahwa akan ada turun dan naik didalam kehidupan pernikahan yang harus mereka lalui." Jelas Sima Junke dengan sabar.
"Mengapa kau tertawa?" Tanya Sima Junke dengan mengerutkan kening bingung.
Xiu Qixuan mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan seolah ingin membeberkan rahasia besar, "A Tian tidak menyukai tradisi ritual yang rumit, lihatlah dia menyembunyikan wajah jeleknya."
Sima Junke semakin mempererat dekapan dipinggang Xiu Qixuan, dia mendengus tidak suka dan dengan cemberut berucap, "Jangan perdulikan dia lagi."
'Cup,' Xiu Qixuan mengecup pipi Sima Junke kemudian menatap wajah pria itu dengan tersenyum manis dan berucap, "Tidak perlu cemburu padanya, baik?"
Sima Junke tidak bereaksi dia tertegun seperti terhipnotis dan kesadarannya berada diawang-awang.
Xiu Qixuan sudah begitu berani dan tidak canggung bertindak intim, gadis ini berpikiran lebih terbuka daripada gadis lainnya dari Kekaisaran Shen. Dia memang lebih cocok berada di Nanbao, tetapi hal ini malah membuat Sima Junke merasakan kekhawatiran, didalam benaknya pria itu merasakan seperti harus meningkatkan kewaspadaan dan dengan ketat menjaga gadisnya.
"Terikat perjanjian darah untuk berjalan bersama dan saling mendampingi dengan sehidup semati!" Teriakan keras itu mengintrupsi dua sejoli yang sedang kasmaran ini.
Xiu Qixuan menolehkan wajah dan melihat pasangan pengantin itu sudah berdiri diatas altar saling berhadapan kemudian seorang panatua akan mengampiri membawa pisau kecil, cawan dan sebuah botol antik.
Zhai XinXin dan Aisin Tianyi bergantian melukai tangan mereka untuk meneteskan darah keatas cawan yang sama.
Darah pasangan pengantin tercampur, semua orang dapat menyaksikan panatua itu menaburkan sebuah serbuk bunga untuk mengharumkan dan juga membekukan darah, sebelum darah menjadi beku dengan cepat panatua itu mengalirkan tetesan darah kedalam botol antik.
Setelah itu panatua itu mengangkat botol antik yang terisi darah beku milik pasangan pengantin untuk menunjukan kepada para hadirin.
"Dengan ini adalah bukti bahwa langit dan bumi memberkati pasangan kekasih yang ditakdirkan!" Teriak panatua itu sangat keras.
Semua orang balas bersorak gembira termasuk Xiu Qixuan yang berbinar dan bertepuk tangan dengan antusias ikut memeriahkan.
Rona kegembiraan terpancar diwajah pasangan pengantin itu, dan mereka membuat postur memberi hormat khas Nanbao kemudian melangkah menuju aula besar.
Saat berada diambang pintu masuk aula besar, pasangan pengantin membalikan badan dan berdiri dengan pancaran wibawa. Mereka menatap kearah depan.
Barisan itu masih tertata rapih disamping kanan dan kiri, Sima Junke berada disamping kanan yang menjadi pemimpin barisan dan disamping kiri ditempatkan oleh Zhai Dawai sebagai pemimpin barisan karena statusnya yaitu seorang Petinggi juga mertua Kepala Suku.
Sima Junke mengangkat tubuh Xiu Qixuan dan menurunkannya dari atas batu hiasan dengan perlahan agar gadis itu tidak jatuh. Kemudian saat sudah memastikan Xiu Qixuan berdiri tegak dan nyaman, dia dengan cepat menggerakkan tangan kanan dan membentuk postur menyilang meletakan tangannya diatas dada kiri.
"Memberi penghormatan kepada Kepala Suku dan Nyonya Besar, semoga diberkati keturunan dewa." Ucap Sima Junke dengan keras membentuk penghormatan.
"Hormat kepada Kepala Suku dan Nyonya Besar, semoga diberkati keturunan dewa!" Ucapan serentak itu menggema didepan aula besar saat mereka mengikuti intruksi untuk memberi penghormatan.
Sejak saat ini secara resmi Kepala Suku Nanbao adalah Aisin Tianyi dan Nyonya Besar adalah Zhai XinXin. Saat berada diwilayah Nanbao, semua orang akan memberi mereka penghormatan dan mematuhi perintah.
Yu Chuchu sebagai mantan Nyonya Besar tidak menghadiri acara sakral ini, membuat orang bertanya kemana perginya wanita penting berkedudukan tinggi tersebut. Sedangkan, tidak ada yang menanyakan kemana perginya sang Nyonya tua Aisin Fei, orang hanya akan mengira bahwa Nyonya tua masih bersedih dan tidak rela Aisin Tianyi dinobatkan secara resmi dan sah.
•••••••••••••••
Kalian yang kmrn nyariin author dikoment bener-bener menjadi penyemangat haha, author lgi merenung nyari referensi untuk ritual pernikahan Suku Nanbao, btw ini ada beberapa yang dapat dari referensi tetapi kebanyakan sisanya imajinasi author sendiri yaa😂 jangan dibawa serius:)