
Pada malam hari, ini sudah waktu yang tepat untuk bersiap tidur. Tapi, Xiu Qixuan masih sibuk untuk makan. Sepertinya hari berlalu terlalu padat dan singkat, dia tidak bisa sesantai biasanya.
Para pelayan berdiri di sampingnya. Xiu Qixuan melambaikan tangan menyuruh mereka untuk mundur.
"Jika tatapan bisa membunuh orang, mungkin aku sudah mati berkali-kali." Xiu Qixuan melirik sekilas pada satu sosok yang terduduk bersandar di dekat bilik ruangan, dia menyindirnya. "Matamu bisa buta jika terus menatapku seperti itu, Da'ge."
Dia adalah Xiu Jierui, jelas pria itu datang untuk mengomel. Beberapa hari ini dia begitu di sibukkan dengan urusan militer—berpergian melakukan penijauan wilayah perbatasan, dia terlambat mengetahui urusan internal yang sedang terjadi di dalam keluarganya.
Meskipun Xiu Jierui tidak bicara. Pedang yang berada dalam genggamannya jelas mengancam untuk menakut-nakuti.
Tanpa rasa bersalah, Xiu Qixuan tetap melanjutkan niatnya untuk makan. Dia mengambil sepotong ikan dengan sumpit, lalu mengunyahnya.
"Lihat kelakuanmu!!"
Suara Xiu Jierui tiba-tiba menyentak keras, membuat jantung Xiu Qixuan melompat terkejut.
Xiu Qixuan menghela napas segera menaruh sumpit, dia berdeham untuk kembali meringis berkata; "Jadi, apa yang membuat Da'ge -ku datang kemari?"
"Jadi, apa yang berada di pikiran adik perempuanku ini ketika menerima dekrit kaisar tanpa perwakilan wali?" Xiu Jierui membalikkan pertanyaan dengan nada pedas.
Wajah cantik Xiu Qixuan menyusut, dia menatap Xiu Jierui tanpa rasa takut dan berkata teguh: "Ayah tidak memiliki keberanian untuk menerimanya. Dan, aku memiliki banyak alasan untuk menerimanya."
Kekhawatiran masih melekat dalam mata Xiu Jierui. Dia sejenak terdiam memperhatikan dan mendengarkan.
"Walaupun tidak ingin. Kita tidak bisa menolak titah Kaisar. Bagaimana pun juga aku akan tetap pergi ke Ibukota. Dunia ini adalah tempat yang kejam. Kita manusia harus lebih bijak. Bukankah begitu, Da'ge?" Secara alami Xiu Qixuan menjelaskan dengan tenang.
Sudut bibir Xiu Jierui terangkat, dia tersenyum tipis dan tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba, Xiu Jierui bangkit dan datang menghampiri sisi Xiu Qixuan. Dia berjongkok kemudian tangannya mengelus lembut pucuk kepala Xiu Qixuan.
"Aku sama sekali tidak ingin berdebat denganmu, Xuan'er." Xiu Jierui berkata begitu hangat. "Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan. Jika, ada sesuatu yang salah dan rusak. Ingatlah bahwa kau mempunyai kami, keluargamu." Dia memandangi Xiu Qixuan dengan lekat kemudian melanjutkan. ".... Kamu bisa mengadu padaku, atau pada Huanran. Kami yang akan membereskannya untukmu. Mengerti?" Seperti seorang saudara yang benar-benar mengkhawatirkan saudarinya, matanya mengandung kebijaksanaan dan perhatian.
Xiu Qixuan tertegun sejenak. Dia tidak bisa menahan nafas lega dan rasa harunya mendengar dukungan dari sang kakak pertama. Di dalam benaknya dia memuji Xiu Jierui, pria ini sudah seperti ayah kedua baginya yang penuh perhatian dan dewasa.
Xiu Qixuan mengerjap menatap wajah Xiu Jierui dengan tersenyum cerah. "Ya, aku mengerti. Da'ge, terimakasih. Beruntung ini kamu bukan Er'ge yang sukanya memerah marah." ucapnya dengan humor.
Xiu Jierui menepuk pelan pucuk kepala Xiu Qixuan, dia terkekeh kecil ketika beranjak sembari berkata; "Saat ini ayah sedang berada di barak militer. Dia akan pulang tiga hari lagi. Jadi, temuilah dan bicara dengan baik padanya." Xiu Jierui melanjutkan dengan nada lebih serius. "Bagi ayah dan kakak laki-lakimu ini, kamu masih terlihat seperti anak kecil yang bingung dan tidak berpengalaman. Jadi, Xuan'er—yakinilah kami."
Kedua kaki Xiu Jierui bergegas melangkah menuju pintu keluar. "Aku akan kembali. Mei'er pasti sudah menungguku." Wajahnya berseri-seri ketika membicarakan Yao Yunmei. Kemudian segera setelah itu punggungnya benar-benar menghilang dari balik pintu.
**Dua hari kemudian**...
"Berbalik dan coba berayun!"
Suara Yao Yunmei terdengar menekan tegas. Dia mengawasi dengan membawa tongkat panjang untuk memukul jikalau sang murid yang sedang di ajarkan melakukan kesalahan.
"Wajah apa yang kau perlihatkan itu. Tersenyumlah lebih alami..."
Sedikit sembrono, Xiu Qixuan ketahuan merengut.
'Pa.pa.' dua tepukan bergema pada bagian pinggulnya.
Xiu Qixuan menahan untuk meringis, dia menggigit bibirnya. Dia harus mempelajari etiket dasar dalam istana jika ingin ikut kompetisi pemilihan permaisuri pangeran.
Ini sangat melelahkan. Yao Yunmei membuat pengajaran yang begitu ketat. Padahal Xiu Qixuan yang tidak beretiket ini sebelumnya sudah pernah memasuki istana kekaisaran walaupun itu adalah milik Xia Utara.
"Angkat sedikit pandanganmu. Pegang tongkatnya secara lembut, ringankan bagian siku sampai jari dan coba berayunlah!!"
Mendengar itu, Xiu Qixuan secara patuh mengikuti intruksi. Senyumannya lembut terlihat lebih alami, gerakannya lebih halus membidik postur-postur yang anggun dan tegas.

"Hmm, tanpa di duga. Kamu cukup baik." Yao Yunmei berkata dengan mata menyipit tajam, dia memutari tubuh Xiu Qixuan yang kedua kakinya sudah bergetar kebas.
Xiu Qixuan berkedut dengan nada rendah hati balas berkata; "Terimakasih pujian kecilnya, Yunmei jiejie."
Tiba-tiba, suara tawa renyah milik Yao Yunmei berdering nyaring di telinga. Wanita itu tertawa begitu riang sampai mengeluarkan sedikit air dari kedua matanya.
"Kau sudah bekerja keras, Xuan'er. Aku menebak-nebak cibiran dan makian seperti apa yang sejak tadi berusaha kau tahan untukku." ucapnya menepuk bahu Xiu Qixuan dengan nada bersahabat. Dia kembali pada pengaturan sebagai kakak ipar perempuan yang lemah dan lembut. Bukan seorang guru etiket yang kejam dan sangar.
Melihat itu, Xiu Qixuan segera melemaskan tubuh dan bahunya yang kaku. Dia menghela napas panjang, begitu lelah.
"Kau sungguh kejam, Yunmei jiejie." Xiu Qixuan mendengus kasar, sedikit tidak terima.
Yao Yunmei terkekeh kecil, kemudian berkata dengan cerah; "Kalau begitu aku akan menebusnya."
Xiu Qixuan mengangkat kedua alisnya, bingung.
"... Kembali dan bersiaplah. Aku akan mengajakmu berbelanja. Kau harus mempersiapkan banyak hal untuk pergi ke ibukota, 'kan." Yao Yunmei berkata dengan penuh binar semangat.
Xiu Qixuan segera menjawab cepat. "Tidak perlu. Xiao Rou bisa menyiapkannya untukku." Dia menolak.
Yao Yunmei mendengus tidak setuju kemudian beralasan dengan sedikit mendesak; "Kalau begitu temani aku saja karena ada beberapa barang yang kurang dalam persiapan jamuan malam."
Xiu Qixuan terdiam hanya balas menatap Yao Yunmei dengan pandangan skeptis.
"Tidak ada penolakan lagi, cepatlah! Kita akan pergi dengan membawa Heng'er." Yao Yunmei segera mendorong pelan bahu Xiu Qixuan, ia memaksa.
Mendengar nama Xiu Yuheng disebutkan, Xiu Qixuan dengan cepat berubah pikiran dan segera bergegas untuk kembali mengganti pakaian.
Mereka akan mengadakan jamuan malam yang formal dan mewah untuk utusan, itu akan diadakan besok. Yaitu tiga hari setelah kedatangan rombongan tersebut. Ini sesuai pengaturan yang berlaku di kekaisaran.
Kasim Teng sebagai utusan perwakilan kaisar, dia tentu saja harus disambut dengan perjamuan yang layak. Karena jika tidak, Kediaman Xiu akan menuai banyak kritikan dan cibiran di kemudian hari.
Yao Yunmei sebagai Nyonya Rumah -lah yang harus menyiapkan segala pengaturan dalam perjamuan tersebut.
••••••••••••••
N/T:
Semua ada prosesnya. Plot cerita juga begitu. jadi kelarin konflik ayah dan anak dlu, kelarin bagian kota ping'an. Baru abis itu beberapa part lagi kita ganti latar ke Istana. bakal banyak yang tampan-tampan tpi bejat😂✌️ see u💕