Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Dua Wanita Unggulan Di Hari Pengumpulan Poin Keluhuran



"Sial," Xiu Qixuan mendesis dingin.


Sepanjang jalan menuju balai pengobatan kekaisaran penuh dengan pelayan dan kasim kecil. (1) Meskipun mereka tidak bertuan, tetapi hal-hal aneh biasanya terjadi di dalam istana, dinding memiliki banyak telinga. Secara alami, Xiu Qixuan memilih untuk menjadi se-transparan mungkin di sini.


Menghindari pandangan dengan bersembunyi di satu sudut tembok terpencil, Xiu Qixuan secara perlahan menurunkan Duan Maiqiu dan membantu gadis itu duduk bersandar di sebuah batu besar yang tampak menjadi hiasan.


Duan Maiqiu berkedip polos. Wajahnya penuh dengan tanda tanya. Apakah Nona di depannya ini berubah pikiran?


Dengan tampang berkerut, Xiu Qixuan menyangga tangan di pinggang, kepalanya bergerak melihat ke sekitar. Dia tampak sedang berpikir keras. Aiyaa, sebenarnya dia paling benci untuk merepotkan diri sendiri seperti ini.


"Hei, Maiqiu!" Panggilnya.


Kedua mata Xiu Qixuan sedikit jatuh ke bawah, memungkinkan dia untuk melihat sekilas tepi rok Duan Maiqiu yang sudah kacau oleh robekan dan noda darah.


"Y-ya?" cicit Duan Maiqiu pelan, ia terintimidasi oleh perilaku lawan bicaranya yang tak biasa.


Terdiam. Xiu Qixuan kembali berpikir serius. Bagaimana kalau kita sembuhkan saja dengan aura kehidupan? Ah, ide buruk. itu adalah kebodohan yang dapat mencelaka-kan dirinya sendiri, tentu saja tidak akan dia berikan aura kehidupan kepada sembarangan orang.


"Di mana pelayan pendampingmu?" Suara Xiu Qixuan yang ketat, bertanya.


Selama beberapa detik, Duan Maiqiu menunduk menyembunyikan wajahnya. Kemudian dia menggeleng ragu sebagai balasan. Entah situasi apa yang dia alami, tapi, sepertinya itu buruk.


Menghela napas kasar, Xiu Qixuan segera berjongkok, Ia menepuk ringan pundak Duan Maiqiu dan menatapnya lembut. "Haa, kau ini membuatku kesal saja dengan tingkahmu yang hanya menunduk pasrah." Xiu Qixuan mendumel melanjutkan, "Lain kali cobalah bertingkah semaumu, karena buat apa bersikap baik bila semua orang buta."


Mendengarkan kalimat tersebut, Duan Maiqiu sontak mengerjap tertegun. Seolah-oleh hatinya menghangat karena ini terus terngiang dalam benaknya.


Tidak memperhatikan respon yang di miliki oleh Duan Maiqiu. Xiu Qixuan tiba-tiba kembali beranjak. Matanya menatap lurus ke satu sudut yang mengarah pada koridor jalan, ia melihat kemunculan sosok gadis yang tampak sedang terburu-buru.


"Tunggu sebentar di sini," Perintahnya cepat tanpa menoleh lagi pada Duan Maiqiu.


Kemudian Xiu Qixuan melangkah, tubuh kecilnya begitu terampil bak angin dan bayangan, bersembunyi dari pilar ke pilar dan ketika gadis yang menjadi targetnya berjalan melewati koridor tempatnya berdiri,


Grap!


Dia dengan gesit menarik lengan gadis itu dan membawanya ke tempat di mana Duan Maiqiu berada.


"Lancang! Siapa anda?! Dasar kurang aja—hmph"


Xiu Qixuan segera membekap mulut sang target. "Sst... jangan berisik, Anran. Ini aku." ucapnya dengan pelan kemudian secara perlahan menarik kembali tangannya.


Yao Anran, putri ketiga keluarga Yao. Saudari kandung dari Yao Yunmei ini sedang terburu-buru menuju aula samping tempat di mana kelas pengantin berlangsung.


"Kau mengagetkanku, Nona Besar." Meskipun terkejut, dia tidak sedikit pun kehilangan etiketnya. Suaranya halus menegur.


Xiu Qixuan menggaruk tengkuknya, canggung. Dia menyeringai jenaka.


Yao Anran seperti cahaya lilin lembut, sifat anggunnya begitu alami, entah bagaimana situasi ini terlihat seperti angsa berhadapan dengan bebek.


"Akh?!" Membulatkan kedua matanya, Yao Anran tersentak saat melihat kondisi Duan Maiqiu yang kacau. "Ada apa ini?" Dia bergetar melihat banyaknya noda darah. "Nona Duan, apakah anda baik-baik saja?" tanyanya terdengar tulus tanpa kepalsuan belaka.


"S,-aya b—"


"Nona Duan terluka. Kakinya robek terkena goresan batu tajam." Xiu Qixuan dengan cepat memotong untuk menjelaskan singkat.


"Kalau begitu Nona Duan harus segera mendapatkan perawatan. Mengapa kamu tidak segera membawanya ke balai pengobatan?" Cerca Yao Anran dengan serius. Tubuhnya bergerak maju mendekati Duan Maiqiu untuk memeriksa.


Mendecih, Xiu Qixuan memutar bola matanya malas. "Ini istana. Kau tidak lupa itu, 'kan?" Dia melanjutkan dengan ketus, "Aku tidak ingin mendapatkan perhatian apa pun di sini."


Duan Maiqiu mengangguk setuju. "I,i-itu b-be-nar!"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kelas kolot itu." potong Xiu Qixuan dengan datar.


Mendengar kalimatnya, Yao Anran langsung mendelik tak senang. Dia bangkit berdiri, "Kelas sudah di mulai. Kita terlambat dan harus segera menuju aula samping." ucapnya berubah pikiran.


Menarik kurva miring di sudut bibirnya, Xiu Qixuan terkekeh sinis penuh kesan meledek. "Haduh, kalian ini sungguh naif!" Dia melipat tangannya di depan dada, memasang ekspresi angkuh yang menyebalkan. "Tch, aku jadi merindukan Yiyang." decihnya.


Yao Anran merinding melihat tampang iblisnya namun di sisi lain dia juga amat sangat jengkel dengan kelakuan Xiu Qixuan yang seenak jidat.


"Tolong perhatikan perilakumu, Nona Besar Xiu. Dan, apa yang kau maksud 'kan di sini?" Yao Anran berkata penuh penekanan.


Dengan menggedikkan bahunya, Xiu Qixuan begitu santai menanggapi. "Aku hanya bertanya-tanya, Nona Ketiga Yao selalu serius mengikuti kelas. Tapi, mengapa Anda terlambat hari ini?" Alisnya menukik tajam, ia tersenyum ambigu dengan jemari telunjuknya terulur menujuk kedua gadis itu secara bergantian. "Satu terluka dan satu terlambat di hari yang penting seperti pengumpulan poin keluhuran. Tidakkah kalian berpikir ini aneh?"


Memasang wajah kecewa yang tampak berpura-pura. Xiu Qixuan berbicara dengan nada penuh simpati: "Padahal kalian ini cerminan wanita bangsawan sungguhan. Berasal dari keluarga terkemuka dan memiliki bakat yang tak sederhana. Tapi, kalian malah sia-sia berada di sini sekarang."


Dia menambahkan ketika teringat, "Ah, kalau aku sih hanya tersesat secara sukarela di sini bersama kalian."


Yao Anran dan Duan Maiqiu terdiam.


Tubuh Yao Anran menegang. Ekspresi wajahnya tampak mengeras. Dia berkata ragu namun tetap begitu tenang: "Roda kereta kuda ku tiba-tiba rusak saat dalam perjalanan. Aku meninggalkan pelayan pendampingku untuk mengurus keperluanku di sana dan langsung bergegas kemari dengan menyewa kereta kuda sewaan." Nada suaranya tiba-tiba menjadi lebih terjerat rendah ketika dia melanjutkan, "Tidak ada yang aneh tentang itu." secara dangkal Yao Anran menyangkal.


Mencibir, Xiu Qixuan menyeringai tajam. "Hoh, tapi raut wajahmu tampak mengatakan sebaliknya."


Menarik napas singkat sebelum menghembuskannya perlahan. "Haa, baiklah begini saja. Ikut aku!" Dia kemudian menarik tangan Yao Anran untuk membawa gadis itu mengintip ke arah koridor sebelumnya.



"Lihat di sana!" Xiu Qixuan menujuk sosok pelayan dan kasim kecil di ujung jalan penghubung yang membentuk lengkungan. "Kasim itu adalah kakek berusia lima puluh tahun yang memegang sapu untuk membersihkan daun kering."


Yao Anran berkerut remeh dengan skeptis mencibir: "Aku tahu itu. Terus apa hubungannya kakek tua dengan semua ini?"


"Hei, diam dulu! Menganggu kesenangan orang untuk tampil keren itu termasuk dosa yang terkutuk, loh." Xiu Qixuan mendelik kusut, Ia tak senang pada Yao Anran yang memotong keseriusannya untuk tampil keren, padahal dia sudah menyiapkan diri agar dapat seperti seorang detektif kriminal sungguhan.


Yao Anran mendengus tertahan.


"Ekhm, baiklah. Akan aku lanjutkan." Xiu Qixuan segera berdeham serius untuk menetralkan suasana jenaka ini.


"Daun kering biasanya terbang dan berakhir berkumpul di sudut-sudut kecil. Namun lihatlah, kakek tua itu hanya terfokus pada sudut jalan yang lebar dan diam di ujung koridor penghubung. Lagipula yang lebih aneh adalah pekerjaan berat seperti menyapu itu biasanya di lakukan oleh kasim muda karena ketahanan fisik untuk istana yang begitu luas."


"... Dan gadis pelayan yang hanya berjarak beberapa langkah dengan kakek tua itu, tidak memiliki niat untuk pergi ke dapur ataupun ruang cuci, sejak tadi mata gadis pelayan itu hanya berkedut gusar seperti menunggu dan bersiap-siap akan sesuatu untuknya bisa bergerak." Jelasnya.


Dengan ringan, Xiu Qixuan berekspresi ganas. Dia terkekeh gila sembari mengetuk jari-jemarinya ke dagu: "Hoho, ini menarik. Susah ya menjadi wanita unggulan sepertimu."


Yao Anran bergidik merinding. Namun dia tetap mendengarkan Xiu Qixuan sampai akhir.


Menoleh menatap dalam ke arah Yao Anran, ia berbicara penuh penekanan: "Nona Ketiga Yao, kamu adalah incaran mereka."


"... Saat kau lewat, kakek itu akan terkena serangan jantung mendadak. Dan, gadis pelayan itu bertugas sebagai provokator yang akan mengendalikan situasi ke arah tujuan mereka untuk menahanmu lebih lama sampai penghitungan poin keluhuran berakhir." Nadanya mengandung kepercayaan diri yang begitu kuat, seolah-olah dia yakin dengan semua hal yang dia lakukan dalam hidupnya.


Sejak awal, Xiu Qixuan tidak pernah ragu-ragu untuk bertindak dan berpikir. Yao Anran jatuh tertegun dan balas menatapnya penuh minat. Hoho, apakah dia sudah tampil keren seperti detektif sungguhan sekarang—sampai membuat Yao Anran terpesona?


•••••••••••••••••••••••


A/N:


Pelayan & Kasim kecil biasanya hanya mengerjakan pekerjaan remeh dan berperingkat rendah. Maksud dari tidak bertuan adalah mereka tidak melayani hanya satu tuan secara pribadi.