
"Xiu Qixuan!"
Teriakan yang memanggil namanya membuat Xiu Qixuan menoleh seketika. Bibirnya berkedut menahan tawa kala melihat sosok antusias yang sedang melambaikan tangan padanya dari jendela kereta kuda yang terbuka.
Kereta kuda dengan ukiran corak perak keemasan membentuk lambang Keluarga Su perlahan berhenti. Para gadis memasang tatapan tidak mengenakan kala melihat sosok yang turun dari atas gerbong.
"Apa lihat-lihat?! Kalian bisa menyukaiku, tapi aku juga memiliki standar 'sih."
Memasang postur arogan dengan tangan menopang di pinggang, Su Yiyang mendelik ketus ke arah kerumunan yang sedang menatapnya tajam.
Rumor tentangnya yang sudah menyinggung salah satu pangeran mungkin sudah tersebar. Para gadis bangsawan itu tidak melihatnya sebagai musuh, mereka menganggap Su Yiyang sebagai produk gagal yang tak layak menginjakkan kaki di tanah beraspal ini.
Menatap sosok di bawah pohon cedar, Su Yiyang mencebik dengan memasang wajah lesuh membuat pengaduan seakan-akan habis menjalani siksaan berat.
Drap.
Drap..
Ketika tatapan mereka bertemu, kedua kaki Su Yiyang bergerak, Ia berlari menuju ke arah Xiu Qixuan yang sekarang memalingkan wajah berpura-pura tak kenal.
Bruk...
"Huaa, Qixuan!!" rengeknya, memeluk lengan Xiu Qixuan dengan erat.
Dengan mendengus maklum, Xiu Qixuan menyindiri seraya berusaha melepaskan kaitan jari-jemari Su Yiyang. "Tidak bertemu selama beberapa hari, kau semakin mengerti peraturan ya, Yiyang."
"Tch, kau tidak tahu saja ak—"
"N.o.n.a Su!"
Suara ketat seorang pelayan wanita tua terdengar penuh penekanan ketika dia melebarkan kedua bola matanya tajam memanggil Su Yiyang.
Mata Xiu Qixuan menyipit samar kala dia meneliti di balik lengan pakaian pelayan wanita tua tersebut terdapat penggaris kayu panjang yang seolah-olah sedang mengancam.
Melepaskan dekapan tangannya, Su Yiyang menoleh dengan patah-patah memasang senyuman manis. "Ah, Nona Besar Xiu. Apa pendapat anda tadi mengenai kutipan literatur sastra yang saya baca?" mencomot topik asal, Su Yiyang mengajak Xiu Qixuan untuk berdalih.
Mencubit pinggang Xiu Qixuan, dia mengais berbisik rendah dengan geraman. "Aku akan memberitahumu suatu rahasia yang baru kutemukan!"
Setelah mendengar kalimatnya yang menggiurkan, Xiu Qixuan segera mengangkat kepala, matanya tampak tenang, setelah dia tersenyum elegan dan berkata: "Benar-benar langka membuat hati nurani saya berdering tiada henti."
Bohong. Dia hanya membantu Su Yiyang untuk sementara lepas dari pengawasan pengasuh tua ini. Tentu saja, ia akan meminta imbalannya nanti.
•••••••••••••••
"Nona Besar, mau sampai kapan anda malas-malasan begitu?"
Chao momo berkomentar tajam ketika melihat sang gadis yang sedang telungkup di atas ranjang sembari memakan cemilan yang di sediakan oleh pihak istana.
"Kamu akan mengurus semuanya untukku, bukan? Jadi, aku akan beristirahat sekarang." Xiu Qixuan menanggapi dengan tenang.
Cahaya matahari lolos dari celah jendela, menyorot hangat kedalam kamar tidur yang berisi kan barang-barang mewah dari pengrajin terkenal. Beberapa furniture terbuat dari kayu merah yang langka. Ranjang yang nyaman dengan selimut yang lembut.
Jelas menunjukan kualitas istana kekaisaran yang agung dan tinggi. Istana Dengshuo menjadi tempat tinggal untuk para kandidat.
Ada beberapa bangunan halaman yang di bangun secara terpisah, itu berisi empat sampai lima kamar. Dan terdapat juga aula besar untuk mereka berkumpul saat waktu tertentu seperti jam makan.
Ini masih siang hari, tetapi, beberapa gadis sudah mulai sibuk mempersiapkan dan merias diri mereka untuk perjamuan malam bersama permaisuri dan para selir.
"Ada banyak hal yang dianggap tabu di dalam istana. Ketika saatnya tiba, anda harus membalas mereka yang sekarang meremehkan anda. Anda tidak boleh berdiam diri saja di sini, Nona."
Tok-tok!
Suara ketukan pintu mengintrupsi.
Xiao Rou yang berdiam kosong segera membuka pintu. Dia melihat siapa yang datang dan memberitahukan pada sang majikan: "Kasim istana datang untuk menemuimu, Nona."
Dengan segera beranjak untuk duduk, Xiu Qixuan melambaikan tangan memberi isyarat perintah. "Persilakan masuk!"
Chao momo mengambil jubah yang tergantung dan segera menyampirkannya pada bahu Xiu Qixuan. Dia merapihkan penampilan kusut gadis itu agar tidak terlihat memalukan.
"Hamba yang rendah ini memberi salam pada Nona Besar Xiu!" Suara sosok kasim tua terdengar melengking halus.
Dalam pengamatannya yang tajam, Xiu Qixuan segera menangkap pin kancing yang menempel di seragam yang dikenakan oleh kasim tua tersebut tepat di bagian bahu bertuliskan Dian Yong Shi. Jelas bahwa dia berasal dari Aula Dian Yong Shi milik Shang Shufei.
"Tolong berdiri, kasim." Nada suaranya lembut, dia berbicara dengan kemurahan hati dan menarik senyuman elegan yang tampak alami. secara mengejutkan, saat dalam mode serius—dia dapat memancarkan kharisma yang begitu kuat.
Kasim tua tersebut juga memiliki penilaian untuk menatapnya kagum. "Terima kasih, Nona." Kasim tua itu berdiri tegak.
Dia kemudian kembali berbicara, "Tuanku, Shang Shufei Niang Niang. Memanggil anda dan Nona Ketiga Yao secara pribadi untuk datang ke Aula Dian Yong Shi."
Dingin menyeruak cepat di antara kedua alis Xiu Qixuan. Pikirannya berputar jauh kembali mengingat situasi dua hari yang lalu di balai pengobatan setelah selesai mengobati Duan Maiqiu.
Tetapi, sebelum itu dia berkata dengan senyum sederhana yang terekspos paksa di wajahnya. "Aku mengerti. Kembalilah!"
"Saya akan mengambil cuti, saya pamit!" Kasim tua tersebut membungkuk untuk mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi.
Pintu kembali tertutup. Ruangan yang hening di hebohkan kembali dengan suara Chao momo.
"Ayo, Xiao Rou! Kita harus menyiapkan gaun dan set perhiasan untuk Nona." Chao momo bersuara riang dengan semangat menyeret tangan Xiao Rou menuju kotak besar berisi perlengkapan wanita.
"Jangan berlebihan! Sisakan untuk pesta nanti malam, kita hanya akan menemui Shang Shufei sebentar." Intruksinya tajam.
Entah mereka mendengar atau tidak, tetapi, tidak ada tanggapan apa pun yang membuat Xiu Qixuan kesal.
Mendecih malas, Xiu Qixuan beranjak keluar untuk mencari udara segar sembari menunggu kedua pelayan itu selesai memilih perlengkapan yang akan di kenakannya.
Kriett...
Suara deritan pintu yang terbuka dan hembusan angin sepoi-sepoi meniup ranting-ranting pepohonan musim panas yang mempesona mata. Kolam teratai yang terhubung dengan aliran utama berpendar menyilaukan kala di terpa sinar keemasan dari matahari hangat.
Xiu Qixuan melihat ke arah dua pintu bangunan di depannya. Dia mengintip sekilas ketika melihat salah satu diantara kedua pintu itu terbuka.
Sosok cantik berambut merah kecoklatan sedang terduduk di depan meja rias. Wajahnya pucat, namun, pelayan yang mendampinginya terlihat tak peduli. Dia masih harus mengikuti semua ini ketika kakinya sedang terluka. Menyedihkan!
"Nona sedang apa? Kemarilah, kami sudah menyiapkan semuanya."
Tiba-tiba, suara Xiao Rou terdengar mengintrupsi kebebasannya.
Menghela napas kasar, Xiu Qixuan berbalik kembali masuk kedalam kamarnya.
Entah bagaimana halaman paling belakang ini juga terisi oleh Duan Maiqiu, Yao Anran, dan Su Yiyang. Kalau untuk Su Yiyang tidak usah di bahas lagi, tentu saja dia akan mengikuti Xiu Qixuan kemanapun. Tapi untuk Duan Maiqiu dan Yao Anran, dua gadis itu juga malah ikut-ikutan bergantung padanya.
Mereka mengisi halaman paling belakang, dan sudut terkecil. Namun tidak ada keluhan apa pun, cukup aneh ketika kita menilai gadis-gadis inilah yang memiliki latar belakang keluarga besar. Seolah-olah mereka membuat klub tersendiri yang tak dapat terjamah siapa pun.
Yao Anran, gadis itu mungkin masih merasa cemas sekarang. Dia membuat kesalahan dua hari yang lalu di balai pengobatan. Dan, saat ini Shang Shufei memanggilnya, entah dengan maksud tertentu apa.
•••••••••••••••