Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kristal Kecil & Kuil Emas



Setelah beberapa lama berlalu tetapi tidak mendapatkan petunjuk lebih. Terlalu menjengkelkan saat kepercayaan diri Xiu Qixuan sebelumnya meningkat dan kembali dijatuhkan.


Dengan kekesalan yang kembali meningkat, gadis itu memasang gerakan bersiap ingin menendang batu kerikil. 'Auwwsss,' Ringisnya ketika selesai mengayunkan kakinya yang sekarang berdenyut nyeri.


"Xuan'er, kau tidak apa?" Tanya Sima Junke dengan khawatir meraih lengan Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan tersenyum canggung dan menjawab, "Tidak apa." kemudian dia menepis lengan Sima Junke untuk segera berjongkok melihat sesuatu yang sebelumnya dia tendang menonjol keluar dari dalam tanah dan juga terhalang oleh rerumputan liar.


Perlahan jari-jari lentiknya mengais tanah dan rerumputan itu. Sima Junke yang awalnya mengernyitkan kening bingung ikut membantu bersama dengan Xiao Bao.


"Apa ini?" Gumam mereka bersamaan ketika melihat kristal jernih dan bersinar.


Pasangan itu saling bertatapan untuk berkomunikasi, kemudian dengan kekuatan yang terbilang sudah sangat besar mereka berusaha menarik kristal kecil nan jernih itu.


'Hooshh..Brukk...' Napas mereka terengah-engah dan jatuh terduduk karena tidak berhasil mengambil kristal itu dari dalam tanah. Kristal itu seperti berakar di dalam sana.


Xiu Qixuan dan Sima Junke saling menatap, tiba-tiba tawa keras mengalun renyah, mereka seperti sedang menertawakan kebodohan ini.


Gadis cantik itu menolehkan wajah untuk menatap bocah kecil yang berdiri disampingnya kemudian dia berucap dengan penuh semangat, "Xiao Bao, bantu jiejie untuk mengangkat ini. Baik?" karena sepertinya mereka memerlukan bantuan sekecil apapun.


Sebelumnya Xiao Bao hanya membantu menggali tanah untuk menemukan kristal kecil ini.


Beberapa saat kembali berlalu, ketiga orang itu seperti hampir mati kelelahan hanya untuk mengangkat kristal kecil dari dalam tanah. Mereka sudah mencoba beberapa cara terlebih lagi Xiu Qixuan yang banyak akal menjadi kehabisan akal untuk saat ini.


Xiu Qixuan yang terduduk diatas tanah dengan keringat yang mengalir membasahi tubuhnya itu menatap tajam seperti ingin menghancurkan kristal kecil tersebut.


"Baiklah ini cara terakhir yang aku pikirkan," Gumamnya pelan mengulurkan jari telunjuknya dan mengalirkan sedikit aura kehidupan.


Hening.


Tidak terjadi apapun, membuat Xiu Qixuan semakin cemberut dan segera menarik kembali lengannya.


"Xuan'er, kita harus beristirahat terlebih dahulu." Ucap Sima Junke yang berada tepat disamping tubuh Xiu Qixuan, pria itu mencetuskan ide yang pengertian karena hari ini berlangsung begitu melelahkan sampai melewatkan makan siang.


Xiu Qixuan mengangguk dan segera beranjak, "Ayo.. Xiao Bao," Ucapnya dengan meraih lengan mungil bocah kecil itu.


Mereka berjalan saling beriringan, tepat dilangkah keempat untuk menjauh, kristal kecil yang tertanam ditanah itu bergetar dan bercahaya menyilaukan.


'Crack...Crack..' Perlahan Kristal itu pecah dan terbagi menjadi beberapa bagian.


Suara gemuruh terdengar keras menulikan telinga manusia, angin kencang menyapu lebatnya pepohonan, tanah bergetar hebat dan menimbulkan retakan diberbagai tempat, banyak pepohon besar jatuh menimpa tanah, gempa sebesar ini membuat perubahan disekitar mereka dengan sangat cepat dan begitu tiba-tiba membuat siapapun dapat mati tertimpa ataupun terkubur hidup-hidup.


Xiu Qixuan dengan cepat mendekap Xiao Bao agar tidak terpisah, gadis cantik itu berusaha melindungi bocah kecil ini.


"A Jun..." Teriaknya keras mengedarkan pandangan mencari keberadaan Sima Junke dibalik kepulan kabut dari tanah yang terbawa angin.


'Splash,' Pedang miliknya yang bernama Xue Yue itu dengan cepat muncul didalam genggamannya.


Cahaya yang berpendar dari pedang Xue Yue menerangi mereka, membantu mencari keberadaan Sima Junke yang tertutup kepulan asap tanah.


'Brakk,' Salah satu pohon besar yang menjulang tinggi terjatuh dan menimbulkan hantaman yang sangat keras, ranting-ranting pohon besar itu patah berderak keras untuk segera berjatuhan.


Xiu Qixuan dengan gerak reflek memutar tubuhnya berbalik mendekap erat tubuh Xiao Bao untuk menghalangi sapuan hantaman tersebut melukai bocah kecil ini, punggung rampingnya bersiap terkena hantaman keras.


'Greb...' Tangan kokoh milik seseorang mendekap mereka dan dorong tiba-tiba seperti itu membuat mereka terguling bersama menjauh dari tempat hantaman pohon besar.


'Uhukk..Uhukkk..' mereka berakhir terbaring berdampingan dan terbatuk-batuk karena kepulan asap tanah.


Hening.


Membuat Xiu Qixuan mengedarkan pandangan untuk melihat Xiao Bao yang terbaring mengerjapkan bola mata terkejut.


"Xiao Bao kau tidak terluka, kan?" Tanya Xiu Qixuan menangkup pipi bulat Xiao Bao dan menelusuri keadaan bocah kecil itu.


"Aku baik-baik saja, Jiejie." Jawab Xiao Bao


"Syukurlah," Gumam Xiu Qixuan dengan segera mengalihkan pandangan kesebelah kirinya untuk melihat seseorang yang menolong mereka.


Kosong.


Keningnya berkerut saat tidak melihat siapapun disebelahnya, siapa yang sudah menolong mereka?


"Xuan'er!!" Teriak Sima Junke berlari dari arah depan menghampiri mereka.


"A Jun?" Gumamnya pelan. Gadis itu mengira bahwa sebelumnya Sima Junke yang sudah menolongnya tetapi sepertinya pikiran tersebut salah.


"Kalian tidak apa? Ada yang terluka?" Tanya Sima Junke meraih bahu Xiu Qixuan dan Xiao Bao secara bergantian dengan cemas.


Xiu Qixuan menjawab dengan menggeleng pelan, dia hanya diam memandangi wajah tampan yang kotor terkena kepulan asap tanah.


"Jiejie... Lihat disana!" Ucap Xiao Bao dengan antusias menunjuk kearah satu tempat.


"Kuil emas," Gumam Sima Junke dengan pelan ketika melihat tempat yang ditunjuk oleh Xiao Bao.


Bola mata Xiu Qixuan berbinar dan dengan cepat bergegas berdiri untuk melangkah ringan menuju bangunan megah yang menjulang tinggi. Sima Junke dan Xiao Bao berada disebelahnya, mereka berjalan beriringan.


Bangunan kuil itu sangat mewah nan megah dengan lapisan warna perak dan pintu yang terbuat dari emas. Ukiran-ukiran dibuat khusus dan secara mendetail seperti yang akan menempati atau mengunjungi kuil ini memiliki status terhormat dan disegani.



'Woahh..' Xiu Qixuan tidak dapat menahan kekagumannya.


Dia menolehkan wajah kearah Sima Junke, yang dibalas anggukkan oleh pria itu.


Gadis cantik itu menarik napas panjang dan kedua lengannya terulur untuk membuka pintu kuil emas.


'Bangg...' Tanpa hentakan sedikitpun pintu tersebut terbuka lebar untuk mempersilahkan mereka masuk.


Mereka saling berpandang dan bergegas masuk, Sima Junke menggenggam tangan Xiao Bao sedangkan Xiu Qixuan berjalan lebih dahulu satu langkah di depan.


Setelah mereka masuk pintu tertutup kembali dengan keras dan sangat rapat, membuat mereka menolehkan sekilas kebelakang.


Di depan mereka terdapat pilar-pilar menjulang tinggi dan kokoh dengan lantai porselen yang memantulkan cahaya silau bewarna ungu dan biru.



Kuil emas terlalu besar sampai dapat menyiptakan sebuah labirin yang menyesatkan jalan.


Dengan perlahan mereka melanjutkan langkah yang sebelumnya tertunda, sesekali mengedarkan pandangan untuk melihat keadaan disekitar. Beberapa kali tersesat ketempat dan jalan yang sama membuat kejengkelan meningkat pesat.


••••••••••••••••


aiyaa siapatuh yang nolongin, bund?