
POV. Xiu Qixuan.
"Dia termasuk kedalam rombongan perdagangan selatan kami."
Sebuah suara dari arah belakang bergema cepat memasuki indra pendengaranku.
"...dia?"
Bahkan didalam hati, aku tidak dapat lagi menyebut ataupun memanggil namanya dengan leluasa tanpa rasa sakit.
Seorang pria berdiri didepanku dengan menguarkan aroma maskulinitas dari kulitnya yang sedikit menggelap terbakar nyengatnya sinar matahari gurun pasir.
Tidak ada yang berubah sedikitpun dari ketampanannya, kecuali sepasang manik matanya yang meredup hampa, punggungnya yang lebar dan kokoh terasa menyusut rapuh tanpa pancaran kepercayaan diri.
Dia yang selalu menyenangkan sekaligus menyebalkan. Sekarang tidak lagi dapat kukenali. Tidak ada sirat kejahilan yang kekanakan darinya, hanya terdapat noda serius yang dingin dalam jejak wajahnya.
"...Kangjian!" Suaranya bergema memanggil sang pendamping dengan melambaikan jari tangannya.
Mereka sedang berbicara dengan salah satu prajurit yang sebelumnya menahanku masuk. Aku tidak dapat sedikitpun fokus untuk mendengarkan hal yang sedang mereka perbincangkan.
Karena gelombang ingatan tidak menyenangkan yang menerpa cepat seperti cahaya menusuk kepalaku. Rasanya seperti ledakan yang terus-menerus menggelegar dalam pikiranku.
Itu menyakitkan dan membuatku pening.
"—na!"
"...Nona!" Suara familiar milik Kangjian memanggilku keras dengan tangannya yang menyentuh bahuku.
Aku tersentak kaget dan tanpa sadar menepis tangannya dengan kasar. Kedua kaki-ku yang membeku lemas dengan gerak reflek melangkah mundur.
Jantungku berdenyut tidak karuan dengan jari tanganku mencengkeram erat tudung jubahku yang mengerut kusut. Tubuhku bergetar dengan menunduk dalam berusaha menyembunyikan wajahku.
Aku takut, sangat takut kehilangan kendali akan kewarasan diriku dan memilih berlari kearahnya.
Dalam ingatanku penuh dengan wajah kesakitan Xiao Bao yang berlumuran darah merintih diatas pangkuanku.
"Aiyaa, maafkan saya jika itu mengejutkan Anda."
Kangjian berkata dengan sopan berusaha membuatku nyaman. Aku melihat kakinya yang bergerak diatas tanah melangkah untuk mendekat.
"Lebih baik anda bekerja sama, Nona."
Suara Kangjian kembali berbisik pelan di telingaku penuh ancaman yang menuntut.
Dari balik tudung jubah, sekilas aku melirik kearah prajurit yang sedang memandangi kami tajam.
Aku mengerti dan mengangguk tanpa bersuara mengikutinya masuk kedalam rombongan pedagang selatan.
Itu berlangsung mulus memasuki pintu kota pelabuhan berkat bantuan mereka.
Aku menarik tali kekang dan menggiring kuda kesayanganku untuk berjalan mengikuti gerbong perdagangan mereka.
Nanbao yang tertutup sepertinya mengalami beberapa kemajuan dan membuka diri secara perlahan. Dilihat dari mereka yang melakukan perdagangan kecil sampai di utara. Mungkin Xiu Huanran juga ikut andil dalam kemajuan mereka di selatan.
"Seperti perkiraan Tuan Muda. Mereka sedang menjalani tugas pencarian rahasia dari penguasa kota. Pelabuhan diperketat karena itu." kata Kangjian melaporkan gagasannya.
"Cari tahu apa yang ingin mereka temukan. Jika itu merugikan pihak kita— segera laporkan padaku."
"Ya, saya mengerti."
Samar-samar aku mempertajam pendengaran untuk mendengarkan perbincangan mereka.
"Dan, gadis itu terlihat mencurigakan."
Aku segera menurunkan pandangan ketika mendengar suaranya yang rendah melirik tajam kearahku.
"Ah, saya akan segera memeriksa dan memisahkannya dari rombongan ketika tiba di alun-alun pelabuhan." balas Kangjian dengan tenang menatapku.
"Baguslah kalau kamu paham."
Syukurlah, sepertinya mereka tidak mengenaliku. Aku mengerti bahwa mereka secara tidak sengaja menggunakanku yang sedang terdesak di gerbang pelabuhan untuk mencari tahu situasi di dalam kota.
"Yaa, Tuan Muda kami memang seperti itu Nona."
Tiba-tiba Kangjian sudah berada di sebelahku dengan ocehannya yang tidak bermutu.
Aku hanya terdiam mencuri pandang kearah sosok pria yang menunggangi kuda dengan kecepatan rendah memimpin rombongan didepan sana.
"Mohon dimengerti. Dia memang selalu bereaksi menyebalkan terhadap orang asing." kata Kangjian dengan santai mengajakku berbicara.
Aku tersenyum remeh, itu mengingatkanku pada pertemuan pertama dengannya.
"Nona berasal darimana?" tanya Kangjian.
Aku ingin menjawabnya tetapi suaraku tertahan masam ditenggorokan.
Kangjian mengerut kebingungan kerana sejak awal aku tidak pernah menjawab untuk berbicara.
Aku sedang mengedarkan pandangan kearah lain dan hanya balas mengangguk tak acuh.
"Bisu!?"
'Hikk..' Mataku memelotot tajam, Kangjian yang selalu santai mengeluarkan isi pikirannya tidak pernah berubah, ya.
Secara kurang ajar dia mengataiku bisu.
Aku hanya tidak mau berbicara dan membuat kalian mengenaliku, tahu!
'Ya, ya. anggap saja seperti itu. Aku BI.SU.' dengan melambaikan tanganku kearahnya membentuk isyarat penekanan.
Lagipula, mereka sudah memeriksa kartu identitas palsuku dengan lengkap dan teliti. Aku tidak harus menjawab pertanyaannya yang mencurigaiku itu, kan?
"Saya mengerti."
Kangjian tersenyum ramah. Dia tidak terlalu menuntut dan mencurigaiku. Tidak seperti atasannya yang sangat berwaspada itu.
'Aku harus pergi.'
Sekali lagi aku membentuk isyarat tangan sederhana yang dapat Kangjian mengerti.
"Anda ingin pergi sekarang?" tanya Kangjian mengkonfirmasi maksudku.
Aku dengan cepat mengangguk.
Kami sudah berada di perempatan kota yang menuju alun-alun dermaga pelabuhan. Aku harus segera pergi kearah timur jalan untuk sampai ke perumahan penduduk.
Kangjian terlihat ragu untuk melepaskanku.
Tetapi, aku dengan cepat menyerangnya dengan kelemahan yang rapuh milik seorang gadis tak berdaya.
Tubuhku yang kecil bergetar penuh permohonan dengan menunduk takut. Seolah-olah mengatakan bahwa aku ini tidak berbahaya yang membuatnya goyah.
Kangjian menghela napas berat dan berkata, "Baiklah, Nona Rongrong. Mohon berhati-hati."
Dia menyebutkan nama palsuku dengan penekanan yang mengartikan itu adalah peringatan bahwa dia akan mudah mencariku lagi jika aku berbahaya baginya.
Aku balas mengangguk kemudian membungkuk untuk mengucapkan sedikit rasa terimakasih kepada Kangjian.
Kemudian segera meloncat keatas kuda kesayanganku dan memacunya dengan cepat membelok kearah timur.
Sebelum pergi—mataku tidak lepas menatap punggung kokoh milik sesosok pria tampan yang memimpin rombongan tersebut.
Bahkan melihatnya dari kejauhan pun jantungku sudah berdenyut nyeri.
Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Selama ini keberadaanku tidak diketahui karena di tutupi oleh bayangan divisi rubah.
'Ngikk...' Suara kuda meringkik merdu ketika aku memecutnya. Derap langkah kaki kuda menjadi lebih cepat membuat angin berhembus tajam menerpa wajahku.
Aroma asin air laut terbawa oleh angin yang selalu terasa akrab mengingatkanku padanya.
Aku membenci ini.
Kami bertemu lagi ditempat penuh perairan dan kapal yang mengapung tinggi. Sama seperti saat kami pertama kali bertemu Xiao Bao dan berjanji bersama untuk merawat anak itu.
Sampai aku menjauh pergi, ia tidak menyadari keberadaanku didekatnya. Aku bersyukur tetapi mengapa itu terasa menyakitkan sampai aku tidak bisa bernapas karena sesak.
Disatu sisi, aku sangat marah karena dia tidak segera menyadari keberadaanku. Dan, disisi lain aku juga lega karena hal itu.
*********
'Tok..tok..'
Suara pintu terketuk dengan perlahan. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang kutemui di sepanjang jalan menuju kemari.
Akhirnya aku berhasil menemukan rumah kelima di jalan kecil Chongyue.
Rumah bata putih sederhana dengan gerbang kayu berwarna coklat yang sudah memudar karena termakan usia. Tetapi, di halaman dalam itu terasa sejuk dan nyaman.
'Kriet..' Pintu terbuka menampilkan seorang wanita berusia pertengahan dua puluhan.
"Seorang nona, yaa. Sedang mencari apa disini?" Suaranya bernada sopan dan ramah, tetapi, tatapan matanya menatapku penuh kewaspadaan tinggi.
Ketika dia mengusap lembut perutnya yang membesar. Aku tersentak menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang anak.
Keningku berkerut kencang, berpikir secara ambigu. Apakah aku salah alamat? Tidak mungkinkan wanita muda ini adalah salah satu wanita simpanan Rui Jizhang.
"Tidak nyaman berbicara disini. Bolehkah saya masuk, Nyonya? Saya tidak membawa senjata apapun untuk berniat jahat." kataku dengan sungguh meyakinkan.
Mata wanita muda ini berkedut ragu, tetapi, ia mengangguk dan mempersilahkanku masuk.
••••••••••••••