
POV. Xiu Qixuan
Matahari tepat diatas kepala, cahaya teriknya menerpa tubuhku yang kelelahan sekaligus mengantuk.
Mereka semua sangat tidak perhatian, membangunkan-ku saat matahari saja belum terlihat dari ufuk timur.
Sima Junke, Aisin Tianyi, dan prajurit Nanbao tidak terlihat kelelahan— menurut mereka perjalanan ini sangat pendek karena Kota Ping'an dengan Ibukota Nanjing hanya membutuhkan waktu tempuh beberapa hari saja. Tetapi menurutku—perjalanan ini sangat panjang dan melelahkan, aku belum pernah mengendarai kuda-ku sendiri selama ini. Bokong-ku kebas dan pingul-ku pegal.
Saat ini aku memakai pakaian khas wanita Suku Nanbao, Kangjian memberikannya padaku—mungkin atas perintah Sima Junke sang atasan.
Diantara pasukan Nanbao tidak terdapat seorang-pun wanita karena memang ini adalah perjalanan militer, entah darimana Kangjian mendapatkan baju yang ku-kenakan ini.
"Cepatlah, XuanXuan." Ucap Aisin Tianyi dengan keras kearahku yang berada jauh dibelakangnya.
Aisin Tianyi memiliki sifat yang menyenangkan layaknya Xiao Taoli, sangat cocok untuk kujadikan penyokong saat tiba di Ibukota Nanjing. Tetapi pria itu tidak sepolos dan seterbuka Xiao Taoli, mungkin karena dirinya adalah seseorang yang memiliki kekuasaan.
Itu memang keseharusan, jalan berpikir seorang pemimpin memang tidak boleh mudah ditebak dan terbaca oleh orang lain karena kalau terlalu naif dia akan cepat dijatuhkan oleh musuhnya.
Aku dan Aisin Tianyi menjadi lebih dekat sejak dia tahu bahwa aku mencuri banyak buah-buahan ditenda miliknya saat kemarin diriku menumpang makan dan membodohi-nya.
"Tidak tahan lagi, aku sangat lelah!" Jawabku lesuh tak bersemangat.
Keringat membanjiri tubuhku karena matahari yang sangat terik—juga pasir yang berterbangan terbawa angin. Aku sangat tidak terbiasa dengan ini!
Ucapan yang sebelumnya dilontarkan Yao Yunmei sangat benar bahwa Suku Nanbao terletak di dataran dengan cuaca ekstrim. Badai pasir dapat kapan saja terjadi.
Semakin menuju keselatan semakin panas dan gurun pasir semakin terlihat jelas. Menurut info yang kudapatkan dari Kangjian bahwa setelah melewati Ibukota Nanjing terdapat lautan dan pelabuhan untuk para nelayan Suku Nanbao.
Memang Suku Nanbao memiliki daerah kekuasan yang kecil tetapi mereka cukup damai dan dapat melindungi daerah mereka sendiri dengan fokus akan rakyat mereka. Tetapi, aku bertanya-tanya untuk apa mereka memulai perang? Aku akan mencari tahunya nanti.
Tanpa sengaja kedua kaki-ku memukul atau sedikit menghentak di perut kuda yang ku tunggangi. Membuat kuda yang ku kendarai berlari kencang, aku berusaha menarik tali kekang kuda tersebut tetapi malah membuatku tidak dapat mengendalikannya.
'Ngikk' Ringkikan kuda nyaring terdengar keras dan suara tapak kaki berlari kencang menerobos pasukan didepanku.
"Argghh, Hei kalian. Menyingkir!" Teriakku panik kearah mereka dan berusaha mengendalikan dengan menarik tali kekang kuda-ku.
"XuanXuan—" Teriak Aisin Tianyi berusaha mengejarku.
"Gadis bodoh," Ucap Sima Junke yang masih dapatku dengar. pria ini memang pemarah dan selalu dalam suasana hati yang buruk, hanya kemarin saja dia terkena sihir apa menjadi sedikit baik.
Kuda ini semakin marah dan tak terkendali,
'Crash,' Tali kekang kuda-ku terputus
'Aku sangat ceroboh,'
Kuda ini berlari sangat kencang menjauh dari Pasukan Nanbao , tubuhku terguncang keras dan hampir terjatuh.
"Kuda gila!" Rutukku kesal—ini mengingatkanku akan kejadian sebelumnya di Hutan Guang.
Usaha terakhirku adalah dengan memeluk leher kuda tersebut agar tidak terguling jatuh.
Tubuhku semakin terguncang sangat keras, peganganku pada leher kuda tersebut terlepas dan tubuhku terpelanting dari atas punggung kuda.
"Aarghh," Teriakku dengan menutup kedua mataku.
Sial, Daratan Ca Li ini sungguh tidak bagus karena kejadian menyebalkan selalu menimpaku!
'Grapp' Sebuah lengan kokoh memegang kemudian menarik pinggangku agar terduduk diatas kuda miliknya.
Kedua kelopak mataku masih tertutup tetapi aku dapat mendengar suara langkah kaki kuda berlari dan guncangan ditubuhku.
Aku membuka kelopak mataku dan menolehkan wajah. Terlihat Sima Junke dibelakang tubuhku, deruan nafasnya terdengar jelas ditelingaku—tubuh kami sangat dekat.
Dia menyelamatkanku!
"Bodoh dan ceroboh!" Ucapnya tajam
"Terimakasih," Jawabku singkat karena sedang berusaha mengendalikan rasa terkejut yang sebelumnya menerpa, bayangkan saja—bagaimana kondisi tubuhku kalau benar terpelanting jatuh dari atas kuda yang berlari kencang.
"Aku tidak memuji-mu," Balasnya keheranan.
"Heum," Sima Junke hanya berdeham menjawab ucapan terimakasihku.
"Aku lelah, tidak ingin mengendari kuda lagi." Ucapku mengajaknya berbicara.
"Lagipula tidak akan ada lagi seseorang yang mau memberikanmu kuda," Jawab Sima Junke dengan sarkas.
Aku tahu dengan jelas maksud ucapannya, tidak ingin memberiku kuda lagi karena aku membuat satu kuda militer yang harganya cukup mahal—terlepas dan menggila.
"Kau benar-benar! selalu membuat kepala-ku pening," Gumam Sima Junke yang masih dapatku dengar.
"Aku tahu. Ayah dan kedua kakak lelaki-ku juga bilang begitu," Jawabku dengan lugas.
"Tetapi aku tidak bermaksud," Gumamku pelan berpura-pura sedih dengan menundukan wajah berusaha menarik simpati-nya agar dirinya tidak terus marah karena makanan enak dan tenda megah berada dibawah kendalinya.
Aku tidak ingin pindah dari tenda megah yang sebelumnya aku tempati!
Sima Junke hanya menghela napas panjang, sepertinya berhasil—dia tidak melanjutkan keluhannya padaku.
"Dimana A Tian? Kita tidak kembali ke rombongan?" Tanyaku menolehkan wajah melihat kebelakang berusaha menemukan rombongan pasukan.
"Sepertinya kau cukup dekat dengan Aisin Tianyi," Ucap Sima Junke tidak sesuai konteks.
"Kami berteman," Jawabku dengan cepat.
"Memanggil namanya dengan begitu intim," Ucap Sima Junke dengan datar. Pria ini masih berusaha melanjutkan topik pembicaraan mengenai hubunganku dengan Aisin Tianyi.
Apakah dia cemburu? tapi tidak mungkin.
Aku malah mengira dia berusaha mencobai-ku karena curiga aku mendekati Aisin Tianyi dengan maksud lain.
"Memangnya kenapa? Hanya nama panggilan—yang terpenting adalah tidak melibatkan perasaan," Jawabku dengan enteng.
Sima Junke terdiam tidak membalas kembali ucapanku.
"Kita tidak kembali ke rombongan?" Tanyaku sekali lagi padanya— memastikan dia ingin membawaku kemana, karena hanya berduaan saja dengan pria yang selalu merengut ini sangat tidak menyenangkan.
"Kita akan menunggu mereka didepan sana," Jawab Sima Junke
******
Beberapa hari kemudian kami sampai di Ibukota Nanjing milik Suku Nanbao.
Kota ini terletak diantara gurun pasir dan tebing-tebing bebatuan tinggi. Dan gerbang masuk kota ini berada tepat dibawah tebing yang menjulang tinggi.
Menurut informasi, mereka membangun perkotaan dibawah tebing karena menghindari badai pasir yang sering merusak kota.
Hiruk-pikuk suasana perkotaan dan pasar yang ramai terdengar nyaring. Aku melihat beberapa unta yang menjadi kendaraan para pedagang pasar.
Aiyaa, ini seperti sedang liburan ke mesir! Aku belum pernah ke mesir tetapi sering melihat negara bergurun pasir itu disalah satu platfrom video.
Aku menolehkan wajah kesana-kemari dengan antusias. Para pedagang dan rakyat yang sedang berbelanja berbaris memberi hormat kepada rombongan kami.
"Diam! Jangan membuatku malu, atau kau akan-ku turunkan disini untuk berjalan kaki." Bisik Sima Junke penuh ancaman ditelinga-ku.
Pria itu memperingatkanku yang sangat antusias ini—tanpa sadar sejak tadi aku mengangkat salah satu lenganku dan melambaikan kearah rakyat Suku Nanbao.
Aku tersenyum canggung dan dengan cepat menurunkan lenganku. Memasang wajah datar untuk bersikap lebih elegan.
Sepanjang perjalanan sejak kuda yang aku tunggangi menggila, Sima Junke memberiku tumpangan diatas kudanya. Padahal sebelumnya aku sudah meminta tumpangan kepada Aisin Tianyi tetapi Sima Junke dengan ucapannya yang menyebalkan memintaku untuk bersamanya.
"Gadis bodoh ini selalu membuat kekacauan, biarkan aku yang mengawasinya dan memberinya pelajaran. " Ucap Sima Junke saat itu.
Humph, berdalih ingin mengawasi padahal bilang saja ingin dekat denganku!
END POV.
••••••••••••
Cemburu bukan sih babang junke? jiahh, sepertinya ada yang terkena pesona barbar xuan nih awokawok:-D