Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sebuah Kesalahpahaman



"Jiejie, bolehkah aku masuk?" Suara Xiao Bao dari arah luar pintu terdengar.


"Masuklah Xiao Bao!" Jawab Xiu Qixuan segera terduduk kembali.


Pintu terbuka dan terlihat sosok Xiao Bao berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah memelas menatap Xiu Qixuan yang sedang duduk bersandar di pilar ranjang.


"Kemarilah," Ucap Xiu Qixuan melambaikan tangan memanggilnya.


Xiao Bao menundukan wajahnya dengan ragu-ragu melangkah menghampiri Xiu Qixuan.


"Kenapa, eum? Xiao Bao mimpi buruk?" Tanya Xiu Qixuan dengan lembut menarik tangan Xiao Bao untuk ikut terduduk disebelahnya.


Xiao Bao mengangguk pelan.


"Aku merepotkan Jiejie lagi," Gumam Xiao Bao dengan pelan.


Anak ini memiliki pengertian yang lebih dalam akan situasi disekitarnya. Mungkin karena dia memiliki pengalaman pahit diusia yang begitu muda, membuat kemampuan berpikirnya lebih tanggap.


"Jangan berucap seperti itu." Peringat Xiu Qixuan dengan lembut mengelus wajah Xiao Bao.


"Baiklah, kita kembali ke kamarmu. Jiejie akan menemanimu," Lanjut Xiu Qixuan beranjak berdiri dengan menggenggam jari-jari kecil Xiao Bao membawanya kembali.


Memang selama beberapa hari ini mereka menjadi terikat dekat, dan Xiao Bao sesekali akan mengetuk pintu kamarnya ketika mimpi buruk melanda bocah ini.


Xiu Qixuan akan dengan sukarela menemani bocah itu sampai tertidur dan kemudian dia akan kembali ke kamarnya sendiri karena ranjang dirumah ini berukuran kecil hanya menampung satu orang saja disetiap kamarnya.


***********


'Kriett...' Xiu Qixuan menutup pintu kamar Xiao Bao dengan perlahan agar tidak menimbulkan banyak suara.


Gadis itu merenggangkan tubuhnya pegal dan menguap karena kantuk yang menyerang.


Hari sudah sangat larut hanya suara ombak diluar sana yang mengisi keheningan di dalam.


Xiu Qixuan berjalan menuju kamarnya, kemudian langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar Sima Junke yang tertutup rapat.


Dia menatap pintu kayu yang menjulang itu dengan tatapan sayu nan sendu.


Sekembalinya mereka sejak pertemuan dengan Paman Kun, Sima Junke menjadi pendiam dan sedikit linglung jika diajak bicara olehnya.


Mungkin pria itu terlalu bingung dan memiliki banyak pikiran juga pertanyaan dibenaknya. Pertanyaan sebelumnya sedikit terjawab tetapi muncul pertanyaan baru, begitu memuakan untuk dicerna.


Xiu Qixuan ingin berbicara padanya dan menemaninya, tetapi pria ini memiliki ego yang tinggi untuk terluka dihadapannya. Dia malah mendorong Xiu Qixuan untuk menjauh dan menyendiri untuk menata hati juga pikiran yang sedang kacau.


"Xuan'er, aku tidak apa. Jangan khawatir. Cepat kembalilah ke kamarmu," Usirnya saat itu.


Helaan napas panjang terdengar keras dari bibir Xiu Qixuan, dia masih menatap kearah pintu kamar Sima Junke agar memantapkan hati untuk mengecek keadaan pria itu.


Dengan perlahan dia melangkah dan memegang gagang pintu untuk membukanya.


Saat pintu terbuka memperlihatkan Sima Junke terbaring dalam tidurnya yang tenang.


Xiu Qixuan melangkah dengan perlahan dan berdiri dihadapannya untuk menatap wajah tampan ini.


Sepasang alis yang tebal melengkung menyerupai dua bulan sabit, dan bulu mata yang menjuntai bak sayap kupu-kupu. Kedua mata yang terpejam ini, Xiu Qixuan selalu menyukainya. Menyukai saat pancaran kehangatan dan kelembutan menerpa masuk kedalam hatinya, membuat jantung berdegup kencang.


Jari-jari lentik Xiu Qixuan perlahan mengulur dan mengusap lembut kening Sima Junke yang mengerut. Dalam tidurnya, Sima Junke juga tidak membiarkan pikirannya untuk beristirahat.


Tidak sengaja Xiu Qixuan melihat secarik kertas yang berada tepat disamping bantal Sima Junke.


Kertas itu adalah surat peninggalan yang berisi tulisan Sima Xiahou diakhir sebelum membunuh dirinya sendiri.


Dia mengalihkan pandangan untuk menatap sendu wajah Sima Junke yang tertidur pulas, lengannya yang masih terulur mengelus lembut surai rambut Sima Junke. "A Jun, kau terlalu memaksakan diri." Gumamnya pelan dan setelah itu berbalik untuk melangkah kembali ke kamarnya.


Setelah pintu tertutup dan kedua mata yang terpejam itu perlahan terbuka, memandang kearah pintu dengan sirat tertekan.


Gadis ini berjanji untuk menemaninya, dalam kenyataan yang begitu pahit dia memiliki tujuan lain. Menerima ketulusan dan niat hatinya untuk memanfaatkannya.


Sejak awal dirinya yang begitu bodoh untuk melihat jelas bahwa gadis itu tidak pernah berucap sepatah katapun tentang cinta.


Tetapi memangnya mengapa? Jika dirinya berpura-pura bodoh dan menutup mata juga telinga untuk tidak mengetahui kepahitan seperti itu.


Sima Junke tersenyum kecut, hatinya masam saat untaian kalimat melayang dibenaknya.


Ya, saat itu dia ingin menemui Xiu Qixuan dan ingin memeluk gadis itu erat-erat untuk menenangkan hati. Tetapi yang ditemukannya adalah sebuah kepahitan.


Sejak awal Xiu Qixuan sudah mengetahui keterikatannya dengan Sekte Xitian melalui pertarungan gadis itu dengan Paman Zhuting. Hal itulah yang membuat Xiu Qixuan masih bertahan disisinya.


Sima Junke mendengus geli dan sirat kesakitan terpasang diwajah tampannya. Dia melupakan satu hal penting bahwa Xiu Qixuan adalah gadis unik yang selalu memikirkan untung dan rugi.


*********


Dalam cahaya pagi yang redup dan kabut masih menyelimuti langit, bulan pudar dan dangkal masih terlihat. Sangat jelas ini masih sangat pagi untuk terbangun.


Sosok kecantikan itu berjalan keluar pintu kamar dengan sempoyongan dan kedua mata yang masih mengerjap kantuk. Dia terbangun karena bermimpi buruk mengenai pria asing yang kadang menyeramkan itu.


Mengapa dia memakai kata kadang? Karena sangat jelas bahwa pria itu berubah-ubah sifatnya, kadang seperti sesosok malaikat dan kadang seperti sesosok iblis di dalam mimpinya.


Xiu Qixuan mengedarkan pandangan kearah ruangan tengah, sepi dan hening. Dia mengerutkan kening ketika melihat pintu yang terbuka lebar kemudian matanya membelalak, apakah rumah ini kemasukan maling?


Buru-buru dia mengecek keadaan dan tidak ada apapun yang menghilang, membuatnya menghela napas lega.


Hanya Sima Junke yang menghilang, pria itu tidak ada disekitar rumah yang menjadi tempat peristirahatan mereka selama di Nanhai.


Xiu Qixuan mengambil jubahnya dan memakai dengan asal kemudian berlalu cepat keluar untuk mencari keberadaan pria itu. Tidak mungkinkah Sima Junke terlalu frustasi sampai ingin bunuh diri?


Dia mengedarkan pandangan dan bergegas cepat saat melihat dari kejauhan seseorang berdiri diatas karang bebatuan tepi pantai.


Saat beberapa langkah hampir mendekat Xiu Qixuan berdiri mematung, dia melihat suatu pemandangan yang menakjubkan.


Dia mendengus tajam, hatinya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Keraguan kembali melanda hatinya, dia tidak boleh merasakan perasaan rumit seperti ini!


Fajar menyingsing membawa angin sejuk yang menerpa wajahnya. Tetapi dia tidak dapat merasakan kesejukan yang diberikan sang fajar, melainkan panas yang membakar hati.


Diatas karang bebatuan tepat ditepi pantai, sepasang pria dan wanita sedang berpelukan sangat erat. Terlihat begitu intim seperti sepasang kekasih yang baru saja bertemu.



Dengan jari-jari yang mengepal erat, Xiu Qixuan melihat adegan itu dengan wajah masam, pria ini mendorongnya pergi tetapi mempersilahkan wanita lain datang untuk memberi kehangatan dan ketenangan. Begitu lucu sampai ingin menangis dan meraung kesal!


Siapa wanita itu? Mengapa A Jun memeluknya?


Xiu Qixuan adalah tipe gadis yang tidak menyukai drama perselingkuhan dan kesalahpahaman, apalagi melabrak juga meluapkan amarah yang belum jelas.


Dia memilih berbalik pergi untuk tidak menggangu dan akan menunggu Sima Junke memberinya penjelasan.


Saat berbalik dia melonjak kaget karena Xiao Bao berada dibelakang tubuhnya.


"Jiejie!" Panggil Xiao Bao mendongak untuk memandang wajah Xiu Qixuan yang sedikit menunduk sendu.


"Xiao Bao! Kau mengagetkanku," Ucap Xiu Qixuan menghela napas panjang.


Xiao Bao melongokan wajah untuk melihat pemandangan dibelakang tubuh Xiu Qixuan yang terganggu oleh kehadiran mereka.


"Ayo, kembali!" Ucap Xiu Qixuan dengan cepat menarik tangan kecil Xiao Bao untuk bergegas pergi.


Sima Junke melepaskan pelukannya pada gadis asing itu, dia menolehkan wajah dan melihat punggung ramping Xiu Qixuan yang terburu-buru menarik lengan Xiao Bao pergi.


"Xuan'er!! Xiao Bao!!" Pria itu memanggil dengan meneriaki nama mereka berulang-kali, tetapi Xiu Qixuan tidak sedikitpun menghiraukan dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Jiejie, kau baik-baik saja?" Tanya Xiao Bao mendongak-kan wajah menatap Xiu Qixuan yang memandang lurus kearah depan.


"Aku selalu baik," Jawab Xiu Qixuan dengan datar tidak menolehkan wajah sedikitpun dan masih melanjutkan langkah cepatnya.


"Tetapi Jun Ge—," Terjeda Xiao Bao.


"Sudah sampai! Xiao Bao, kau dapat kembali ke kamarmu untuk merapihkan diri. Lihatlah tampang jelek bangun tidur ini," Ucap Xiu Qixuan berjongkok mengusap pipi bulat Xiao Bao dengan lembut.


Xiao Bao dengan patuh mengangguk dan berlari cepat menuju kamarnya, dia mengerti bahwa Jiejie -nya tidak ingin membahas hal ini padanya.


Xiu Qixuan beranjak dari posisi berjongkok setelah melihat punggung Xiao Bao yang menghilang dari balik pintu, dia menghela napas panjang dan berlalu cepat pergi kedalam kamar.


••••••••••••••


Kmrn author gabisa up grgr mabok kambing kaga bisa mikir🤣 Kalian gimana udh abis blum daging kurbannya?