
Suara aliran air terjun yang mengalun membuat irama berdentum layaknya musik pemikat yang begitu merdu ditelinga.
Ini pemandangan yang indah, melihat kicauan kawanan burung mengelilingi sebuah Pagoda Tiga Tingkat yang berada di tengah-tengah antara aliran air dan bebatuan tinggi.
Di dalam ruangan lantai dua Pagoda tersebut. Aroma herbal lebih menyengat kuat daripada harum bunga musim semi yang sedang bermekaran diluar.
Xiu Qixuan terduduk tenang di bantalan kursi, sudah cukup lama dia memusatkan pandangannya pada Guru Biyan yang terduduk di seberang meja.
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Guru Biyan masih merengut jengkel karena kebunnya yang kotor. Sedangkan, Xiu Qixuan yang sudah meminta maaf menjadi tidak enak hati untuk memulai percakapan.
Tiba-tiba Guru Biyan bangkit mengambil sesuatu dari dalam laci. "Terimalah ini sangat memenuhi laciku." Sebuah surat tanpa segel diberikannya kepada Xiu Qixuan.
"Surat untuk saya?" Sudut mata Xiu Qixuan terangkat ketika menerima surat tersebut dan bertanya dengan formal.
"Ya, seorang pria dari selatan menitipkannya untukmu. Apakah kau tidak mengenalinya? Dia datang menemuiku dua tahun yang lalu, berkata bahwa dia mengenalmu sebagai muridku." Guru Biyan bertanya dan dengan lugas menjelaskan.
"Awalnya aku tidak menerima bocah itu karena terus mendesakku untuk melatihnya Ilmu Xitian. Tetapi, dia begitu gigih melawan panas dan hujan diluar gerbang pembatas yang kubuat selama berbulan-bulan." Guru Biyan berkata dengan sedikit menggerutu.
Mendengar perkataan tersebut, Xiu Qixuan sudah dapat menebak dan mengenali siapa yang dimaksud oleh Guru Biyan.
Karena hanya orang itulah—tempat Xiu Qixuan berbagi cerita sebelumnya. Walaupun, Xiu Qixuan setengah berbohong mengenai siapa yang mengajarinya Ilmu Xitian. Mungkin orang itu masih mengingat semua perkataannya untuk digunakan.
"Aku bertanya padanya untuk apa memiliki ambisi seperti itu. Dia hanya tersenyum dan menjawab, 'Agar dapat bisa kembali berdiri dengan pantas di sebelah kekasihku.' Hoh, kisah masa muda memang begitu menarik." Guru Biyan kembali berkata dengan jengkel yang dangkal. Ia tidak memperhatikan raut wajah Xiu Qixuan sudah berubah muram.
Xiu Qixuan menggigit bibir bagian bawahnya dan berkata dengan suara rendah; "Ya terimakasih sudah menyimpannya, Guru."
"Humph..." Guru Biyan hanya mendengus dengan tak acuh.
Melihat cangkir teh milik Guru Biyan yang sudah kosong. Xiu Qixuan segera berinisiatif untuk mengisinya kembali.
Tubuhnya sedikit membungkuk maju dengan tangan terulur kedepan memberikan cangkir tersebut kepada Guru Biyan. Tanpa disengaja, lengan pakaiannya tersingkap dan gelang giok biru miliknya menyembul terlihat keluar.
Kejengkelan penuh gerutu di wajah Guru Biyan seketika meredup, ia berdeham menerima cangkir teh sembari melirik sekilas gelang giok biru tersebut.
"Perhiasanmu menjadi cukup nyentrik jika dipadukan dengan pakaian berburu seperti itu." Guru Biyan berkata dengan tenang sembari menyesap teh secara perlahan.
"Apa?" Xiu Qixuan memiringkan wajahnya yang mengerjap bingung.
Dia mengikuti arah pandangan Guru Biyan yang sekilas menatap pergelangan tangan kirinya. Ketika mengerti apa yang di maksudkan.
Xiu Qixuan tersenyum simpul dan berkata; "Ya, walaupun begitu aku tidak berniat melepaskannya." Ekspresi di matanya sedikit berubah. "Karena ini satu-satunya yang tertinggal dari tempatku berasal."
Mendengar perkataannya, ekspresi wajah Guru Biyan terdistrosi oleh emosi yang aneh. Dia menghela napas dengan kasar sembari matanya yang tenggelam menatap kearah Xiu Qixuan.
"Guru?"
Xiu Qixuan yang bingung akan reaksi tersebut segera memanggilnya.
"Pada akhirnya, dia tetap memberikannya padamu." Mata Guru Biyan merenung dengan kalimatnya yang ambigu.
"Guru mengenal bibiku?" Xiu Qixuan menatap Guru Biyan dengan nada yang tidak sabaran untuk bertanya. "Gelang ini adalah pemberian bibiku." Dia mengangkat tangan kirinya menunjukkan gelang tersebut.
Srekk
Xiu Qixuan membuka kanvas lukisan dan menunjukkan kertas sketsa yang menggambar profile wajah Wen Liu yang dia dapatkan dari Xiao Rou.
"Semuanya terhubung seperti benang yang saling mengikat. Dan, aku disini tidak mengetahui mengapa itu terhubung." Xiu Qixuan kembali berkata dengan tenang tetapi terasa begitu menusuk dingin.
".... Wajah ini." Dia menunjuk dengan jarinya, "Aku sangat mengenalinya. Ibu kandungku di bumi memiliki fitur wajah yang sama persis dengan Nyonya Wen Liu." Xiu Qixuan menatap kedalam wajah Guru Biyan yang datar tanpa emosi.
Keheningan pekat memenuhi ruangan.
Mata Xiu Qixuan yang menggembara terjatuh pada lukisan. Ia meringis ketika bergumam pelan, "Ah.. kecuali keanggunan di dalam lukisan."
Karena mama-nya tidak memiliki kharisma yang anggun seperti itu. Jika mengingatnya kembali, semua sifat leluasa yang dimiliki sang mama itu sekarang malah terasa begitu menyenangkan.
Tanpa sadar Xiu Qixuan tersenyum simpul. Dengan pancaran mata yang menerawang jauh penuh kerinduan.
"Nak..." Suara lembut Guru Biyan memanggilnya.
Xiu Qixuan terlihat tak tergoyahkan, ia menatap Guru Biyan dengan begitu yakin berkata;
"Guru, aku selalu kebingungan. Bertanya-tanya mengapa harus aku yang terpilih untuk datang kemari. Walaupun sang dewi tertinggi sudah memberitahu dengan memberiku sebuah tugas. Itu tetap tak masuk akal karena tidak ada alasan untuk dia memilihku."
Ekspresi Guru Biyan memberat samar, tenggorokannya seperti tersendat oleh kerikil tak kasat mata. Dia menatap Xiu Qixuan dengan mata yang sendu seolah-olah mengasihani gadis kecil di depannya.
Guru Biyan menghirup napas panjang dan berkata; "Kau benar, Alesha. Dewi tidak pernah memilihmu untuk datang kemari." Bibirnya mengatup dengan wajah yang berkedut lemah. "Karena ini adalah takdirmu. Karena Daratan Ca Li adalah kampung halamanmu. Bagian sebenarnya dari dirimu. Kau hanya kembali pulang, nak."
Mata Xiu Qixuan menjadi tak berjiwa dan tak bernyawa, tatapannya mengembara ke mana-mana seolah mencari kejelasan. Dia meremas kuat gaun rok berburu nya yang sudah kusut.
Xiu Qixuan tertawa dengan dingin. "Takdir, huh? Aku tidak mempercayai kata itu. Dan, lebih tidak mempercayai lagi bahwa Daratan Ca Li adalah sebuah kampung halaman."
Bahkan jika pikirannya membeku, dia tidak pernah sekalipun memimpikan jawaban seperti itu dari Guru Biyan.
"Akan kuceritakan sebuah kisah." Guru Biyan tersenyum hangat untuk menguatkan. "Ini bermula dari sisa-sisa pecahan perang antara Bangsa Dewa dan Iblis diatas langit tertinggi yang membuat dimensi pembatas dunia para manusia menjadi rusak. Sejak awal dunia yang ditempati para manusia sudah terbagi menjadi banyak bagian. Salah satunya adalah Daratan Ca Li dan Bumi."
Xiu Qixuan menjadi sedikit emosional ketika mendengarnya. "Ha. Ha. Awalan sama yang memuakkan. Iblis dan Dewa, heh?" Ia terkekeh sarkas dengan mata yang berkabut.
"Dua puluh tujuh tahun yang lalu. Gerbang pembatas antara Daratan Ca Li dan Bumi tanpa sengaja terbuka diatas puncak Gunung Kong. Seorang wanita asing dari Bumi tersungkur melewati pembatas dan datang kemari."
Guru Biyan tidak menghiraukan kesarkasan Xiu Qixuan, dia cukup memaklumi sikapnya yang marah.
Wajah Xiu Qixuan semakin tidak wajar. Awan gelap mengelilingnya ketika dia dengan emosional bertanya; "Siapa wanita asing itu?"
Suara Guru Biyan bergetar untuk menjawab, "Wen Liu. Wanita itu di kenali sebagai Wen Liu. Tetapi, nama aslinya adalah Fines."
deg. Jantung Xiu Qixuan terasa seperti meledak sesak. Penglihatan nya di buat kabur oleh rasa terkejut. Dia berusaha mencerna dengan mempertahankan pikirannya yang bingung.
"Fines, wanita yang kau panggil Bibi. Itu adalah dia, Alesha."
•••••••••••••••
Selamat Hari Natal. Merry Christmas💕🎄