Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Retakan Kelahiran



Flashback on.


*****************


Hari terakhir di Musim Gugur Dua Puluh Tiga Tahun yang lalu, Sekte Xitian.


Suara guntur menggelegar diatas langit dengan kilatan petir yang menyilaukan. Angin yang berhembus kencang membawa tetesan air hujan yang mengguyur deras.


Hujan di musim gugur membasahi seluruh tanah Pegunungan Kong yang tertutup oleh kabut setebal awan. Kuil Emas yang berada diatas puncak lereng bukit menjadi pusat kegemparaan dari proses kelahiran sosok mahluk mungil yang keberadaannya sudah menentang hukum langit.


Pada saat ini, sekelompok murid senior yang cukup berkompeten dari balai pengobatan medis yang didirikan oleh Sekte Xitian terlihat tergesa-gesa dengan keringat dingin yang terus mengalir membasahi punggung mereka.


Kegelisahan terlampir nyata diwajah mereka yang sudah ikut memucat putih. Diatas ranjang terlihat kecantikan yang bercahaya redup sedang terbaring lesuh. Layaknya sekuntum bunga yang sebelumnya bermekaran indah, perlahan dibiarkan layu dan mati begitu saja.


Dia memiliki rambut perak yang menjuntai indah, —seindah nyalanya warna bulan purnama dilangit malam. Postur tubuh dan wajah cantiknya yang ramping nan sehat perlahan menyusut kurus dan tirus, disetiap bagian hanya tersisa lekukan bentuk tulang, kecuali satu bagian— yaitu perutnya yang semakin membulat besar.


Kulitnya yang halus semakin hari semakin pucat memberikan kesan yang begitu rapuh. Tetapi, mata ungunya yang bersinar seperti batu permata langka itu memiliki tatapan liar yang tajam.


Amarah dan kebencian tercetak jelas dalam ketidakberdayaan dan rasa sakit yang di alaminya.


'Arghh...' Suara jeritan kesakitannya bergema keras memenuhi ruangan kamar disudut paling dalam Kuil Emas.


Kedua tangannya terikat oleh kurungan rantai besi yang tergantung dikedua sisi tiang penyangga ranjang, ia hanya dapat menggigit bibirnya sampai mengeluarkan tetes airmata darah untuk menyalurkan rasa penderitaan tersebut.


Manusia disekitarnya hanya membantu seperlunya saja karena mereka hanyalah sekelompok murid yang tak pernah bertugas membantu proses jalannya persalinan.


Mereka berlalu-lalang cemas dengan sekedar menyeka peluh diwajah sebagai bentuk semangat atau mengisi kembali wadah perunggu yang sudah ternoda oleh darah dengan air bersih yang dihangatkan.


"Benar-benar, deh. Pemandangan ini sungguh mengerikan. Aku sudah tidak tahan lagi." Salah satu diantara para mahluk fana tersebut berbisik dengan memasang wajah menahan mual. Itu adalah gadis muda polos yang tak berpengetahuan.


"Pergilah, kau bisa menyingkir dan jangan menggangu!!" Rekan seniornya memberikan cukup peringatan.


'Argghhh...' Suara jeritan kembali terdengar keras dan begitu pilu, —amat sangat penuh keputusasaan seperti lolongan seekor hewan sekarat yang merangkak mencoba usaha terakhirnya untuk meloloskan diri.


Karena rasa simpati dan tidak tega, seorang murid senior yang diperkirakan masih berumur pertengahan dua puluhan dengan tahi lalat dimata, melangkah maju untuk menjangkau keberadaannya.


"Dewiku yang Agung, kau tidak boleh menyerah disini!!" Sebuah untaian kalimat yang membimbingnya untuk kembali jernih, menyadarkan bahwa intensitas sucinya yang berharga.


Dia menyesal karena mempercayai dan juga mengasihi leluhur dari mahluk fana yang mengkhianatinya itu dengan sepenuh hati. Tetapi, bagaimanapun bentuk penyesalan yang sekarang dirasakannya, —ini adalah hasil yang harus dia terima.


Semua hasil dari kesalahan yang harus di tuai ketika dia memilih untuk turun ke dunia fana menggunakan tubuh fisik surgawi.


Mungkinkah, ini yang dimaksud dengan sebuah karma?


"Tenang dan hembuskan napas secara perlahan." Mahluk fana itu kembali berbicara dan membimbingnya dengan lembut. "Dan—, sekarang doronglah yang kuat!!" Tiba-tiba suasana kembali berganti menjadi memberat tegang ketika suara tersebut berganti menjadi teriakan yang menghentak keras.


'Arghhhh...' Erangan jeritan kesakitan terdengar meraung panjang dengan satu tarikan napas tersendat yang semakin menipis.


Manusia yang membimbingnya tersebut segera membantu untuk mengeluarkan sosok mahluk mungil yang sebelumnya masih bergelung nyaman dalam rahim.


Beberapa saat kemudian, 'Owee..owee..' Suara tangisan bayi menggema dengan cepat memenuhi hampir setiap sudut ruangan.


Hening.


Setiap orang yang berada di ruangan tersebut terpana ketika melihat sosok mahluk kecil dalam dekapan rekan mereka.


Itu adalah bayi mungil yang sehat dengan rambut tebal berwarna perak yang bersinar seperti kilatan mata pedang tajam dimedan perang.


Wajah susunya yang memerah bulat begitu menggemaskan dengan kedua alisnya menukikan lengkungan dalam itu memiliki warna yang sama dengan rambut peraknya.


Juga kelopak mata yang dihiasi sepasang bulu lentik dan panjang perlahan-lahan mengerjap terbuka menampilkan sepasang mutiara hitam yang berair jernih.


"Sang dewi melahirkan seorang putra langit!" Ucap rekan yang menggendong bayi tersebut memecahkan keheningan.


Ketika perkataannya selesai, ruangan menjadi sedikit riuh oleh beberapa dari mereka yang berbisik.


'Srett... Eh?' Tiba-tiba sekilas ketika bayi tersebut berkedip, matanya memancarkan perubahan sinar, mutiara hitam terganti dalam sekejap dengan sepasang bola permata ungu yang berbinar polos.


Itu berlangsung hanya sekilas tanpa ada yang menyadari. Ah, ternyata terdapat satu orang bijaksana yang terperanjat menyaksikan kejadian tersebut dan memilih untuk tetap diam.


Manusia dengan rasa simpati tinggi yang membantu jalannya proses akhir persalinan, dialah yang sekarang sedang menggendong dan melihat sekilas pemandangan menakjubkan dari sinar mata ungu surgawi yang langka milik sang bayi setengah dewa tersebut.


Semua orang sibuk untuk menghela napas lega sampai mereka tidak menyadari kondisi keadaan sang dewi yang terbaring lemas perlahan berubah aneh.


'Urghh..' Suara rintihan pelan terdengar membuat mereka menolehkan wajah menuju asal suara.


"Ah!!" Mereka terperanjat kaget dan segera melangkah mundur ketakutan saat melihat kondisi tubuh sang dewi yang terbaring diatas ranjang.


Bahkan rekan mereka yang baik hati tersebut ikut menjauh dengan mendekap sang bayi mungil.


Tubuh kurus sang dewi mengeluarkan benturan dari kekuatan magis yang aneh. Jari tangan kirinya terpasang sebuah cincin, itu adalah cincin hitam berhias merah.


Tiba-tiba sebuah pola hitam menakutkan tergambar dan segera menjalar seperti ular melilit di sepanjang kulit lengannya.


'Krek..' Retakan demi retakan perlahan terlihat diatas hiasan batu merah dari cincin hitam tersebut.


Cincin yang menyimpan setetes darah murni dari keturunan Raja Yama.


Setelah melahirkan, aliran kekuatan sang dewi terus melemah dan memberontak tak stabil di dalam tubuh fisiknya yang tertahan oleh mutiara hitam laut surgawi tersebut. Dan, membentur celah pada cincin yang akhirnya membuat kekuatan iblis murni dari darah Raja Yama yang tertidur perlahan merespon untuk bereaksi keluar.


Merasakan suatu kekuatan asing yang sangat kontras menjalar masuk kedalam pusat meridiannya, —membuat aliran aura surgawi yang mengakar ditubuhnya segera membentuk pertahanan diri untuk melawan.


'Whoosshh..' Tiupan angin kencang berhembus menerpa ruangan kamar tidur yang tertutup. Beberapa orang terjatuh pingsan oleh hantaman keras. Barang-barang yang sebelumnya tersusun rapih ikut terbang berserakan. Kepulan kabut asap menghalangi penglihatan.


Hanya terdengar suara raungan yang bergema pilu dari atas ranjang. Angin kencang terus berhembus membuat kacau seluruh isi ruangan.


'Owee...oweee..' Sang bayi mungil ikut menangis tidak nyaman dalam dekapan.


Tiba-tiba sebuah ledakan cahaya putih dan bayangan hitam terbentuk membuat pusaran benturan energi diatas ranjang. Ini begitu menusuk dan terasa sangat menekan kekuatan manusia biasa sampai sulit untuk berdiri tegak dan membuka kelopak mata.


Samar-samar terlihat tubuh Dewi agung Yinxi yang tak sadarkan diri dikeliling oleh cahaya dan bayangan tersebut, perlahan terangkat melayang di udara kosong. Rantai besi yang mengikat tangannya terlepas tak berbentuk menjadi kepingan sampah.


'Crack..' Suara retakan cincin yang sekarang sudah hampir hancur sepenuhnya menjadi kepingan butiran bagian yang jatuh berserakan tertiup angin.


Tetapi, sebuah permata berwarna merah darah terbentuk dari gumpalan batu cincin tersebut dan melayang tinggi diudara.


Suara tangisan sang bayi mungil semakin mengeras ketika melihat pancaran sinar pekat dari nyalanya permata berwarna merah darah tersebut.


"Cup..Cup.. Jangan menangis. Semua baik-baik saja, bayi kecil!" Sosok manusia yang sedang menggendongnya berusaha untuk menenangkan.


Tangisan bayi yang masih merah oleh darah persalinan dan hanya diselimuti kain tipis tersebut tiba-tiba terhenti.


Hening....


Seketika angin yang berhembus kencang menghilang. Dan, kepulan kabut semakin menipis samar. Menampilakan ruangan yang berantakan dengan beberapa orang rekan tergeletak tak sadarkan diri.


'Akhh..' Tiba-tiba suara teriakan dari rekan yang sebelumnya sedang mendekap sang bayi terdengar. "Bayi itu—," Jarinya menunjuk kesatu arah dengan jatuh gemetar ketakutan.


••••••••••••••