Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Ledakan Warna



Aroma hangat dan nyaman menyelimuti pelataran aula. Di dalam ruangan, suasana begitu hening yang khusyuk. Tepat di depan adalah posisi tinggi yang di tempatkan untuk Permaisuri, dan yang duduk disebelahnya adalah Puteri Mahkota. Yang duduk di barisan samping bawah adalah Wei Guifei dan Shang Shufei.


Waktu lima batang dupa sudah berlalu. Hanya tersisa waktu satu batang dupa lagi bagi para gadis untuk menyelesaikan lukisan mereka (1).


Dalam menit terakhir, Xiu Qixuan telah selesai, ia menyikat kembali kuas yang sudah dia gunakan untuk melukis. Mata bulatnya memandang datar pada gambar kuncup bunga dan daun yang tampak sangat membosankan. Dia jelas tidak berusaha untuk mendapatkan penilaian yang baik.



Saat dupa di depan sudah terbakar habis, di ikuti suara Kasim senior yang melengking memberitahukan waktu telah usai. Beberapa pelayan istana bergegas datang, mereka dengan hati-hati mengambil lukisan dari para kandidat untuk di kumpulkan.


Takk...


Pssh!


Batu yang menampung tinta itu tumpah membanjiri kertas, jelas menodai gambar untuk menjadi kacau. Menyerapnya menjadi jelek.


"Maafkan, hamba. Nona. Sungguh yang rendah ini bersalah! Saya pantas mendapatkan hukuman mati...!" Suara pelayan istana di sampingnya terdengar memekik dan tersedak penuh ketakutan.


Xiu Qixuan tetap tidak menunjukan reaksi apa pun. Dia hanya memandang datar tanpa menunjukan minat sedikitpun untuk marah.


Pada saat ini, dengan jelas semua perhatian berpusat padanya karena suara pekikan pelayan tersebut begitu kencang mengundang banyak pasang mata.


Menghela napas gusar. Xiu Qixuan melambaikan tangan dan berkata begitu tenang: "Tunggu di situ, aku memerlukan sedikit waktu!" Kemudian dengan cepat dia mengambil semua warna tinta yang masih tersisa dan satu persatu menuangkannya secara abstrak kedalam lukisan.


Pelayan istana yang bersalah itu mengungkapkan rasa terkejut, tak bergeming.


Helan Qianyu yang berada di barisan kursi depan menunjukan minat ikut campur ketika dia berkata pada Permaisuri. "Yang Mulia, anda harus mempertimbangkan, ini pelanggaran. Tidak adil dalam penilaian ketika waktu telah usai!" Ujarnya.


Ekspresi Permaisuri menukik serius. Dia mengangkat sebelah jemari lentiknya, menyuruh Helan Qianyu menutup mulut. Mata phoenixnya hanya tertuju pada Xiu Qixuan, dalam diam dia memberi penilaian akan ketenangan yang di miliki gadis itu.


Tidak butuh waktu lama, beberapa detik kemudian Xiu Qixuan sudah beranjak dari kursinya meninggalkan lukisannya pada pelayan istana untuk di kumpulkan.


Dia datang dan ikut berbaris dengan penuh hormat. Tapi, sebelum itu dia membungkuk seperti busur dan berkata: "Putri subjek ini dengan sungguh-sungguh meminta Yang Mulia untuk memaklumi kekacauan yang sudah saya perbaiki."


Permaisuri menekan penasaran di hatinya dan berdiri, dia memandang Xiu Qixuan dengan tersenyum puas. Di sisi lain, Wei Guifei dan Shang Shufei memperhatikan semua kejadian dengan seksama. Entah siapa yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan?


••••••••••••••••••


Matahari siang di langit biru menyorot terang. Hembusan angin membawa kepulan debu yang berterbangan membuat mata mengerjap perih.


Dengan menghirup udara segar yang datang dari pelariannya di luar. Xiu Qixuan berjalan penuh kepuasaan, wajahnya menunjukan kegembiraan yang tampak.


"Nona Helan. Bunga plum di musim dingin dilukis menjadi hidup olehmu. Aku hampir bisa mencium aromanya!"


Melirik sekilas dan tidak menghentikan langkahnya untuk melewati sekumpul gadis yang sedang saling memuji itu. Xiu Qixuan berjalan menuju koridor utama untuk kembali ke Istana Dengshuo.


Sungguh dia sangat berterimakasih, lho. Pada pelayan istana tadi yang dengan sengaja atau tidaknya menumpahkan tinta kedalam lukisannya.


"Kenapa aku tidak kepikiran, ya? Kalau tahu begitu 'kan aku tidak perlu membuang tenaga sampai tanganku pegal." Xiu Qixuan bergumam pada diri sendiri. Dia terkekeh pelan seperti orang tak waras. "Yash! Pasti nilaiku nol!" Senangnya.


Dalam konteks ini, dia sedang membicarakan lukisan. Seharusnya dia tidak perlu bersusah payah mengambar bunga dan daun yang membosankan itu di awal. Seharusnya dia hanya perlu menuangkan tinta saja secara asal untuk menghasilkan karya seni abstrak yang orang daratan ini tidak mengerti.


Xiu Qixuan bersenandung karena merasa suasana hatinya menjadi lebih baik. Dia memang sengaja bergegas pergi kembali seorang diri, meninggalkan Su Yiyang, Duan Maiqiu dan Yao Anran yang masih berada di pelataran aula besar. Itu karena ada sesuatu yang harus dia lakukan.


Di bawah salah satu koridor penghubung jalan utama dengan Istana Timur, langkah kaki Xiu Qixuan berhenti, dia bersandar kosong dan memandangi langit seolah-olah dia sedang berpikir sembari menunggu seseorang yang akan melewati jalan ini.


Beberapa menit kemudian, wajah cantiknya menoleh kala mendengar suara langkah kaki yang membawa sedikit rombongan. Perlahan dia mengangkat dering suara yang jernihnya, dan menyapa dengan tersenyum lebar.


"Yang Mulia Puteri Mahkota!"


•••••••••••••••


Kembali ke kamarnya pada sore hari, Xiu Qixuan di sambut oleh Xiao Rou dan Chao Momo. Dia membanting dirinya diatas ranjang yang empuk. Matanya terkulai, lelah.


"Apakah anda melewati hari yang mudah, Nona?" Xiao Rou bertanya penuh perhatian.


"Apa anda melukis dengan indah, Nona Besar?" Chao Momo bertanya penuh rasa ingin tahu.


"Hmm...., bereskan saja semua barang kedalam kotak dan sisakan beberapa untuk dipakai." Xiu Qixuan berdeham pelan dan memberi perintah tak jelas tanpa membuka matanya yang masih terpejam erat.


"Nona, jangan bilang anda..." Ada jeda sedikit samar ketika Xiao Rou berbicara, melanjutkan. "benar-benar tereliminasi?" Cicitnya rendah.


Mendengar itu. Chao Momo membulatkan mulutnya, syok. Tubuh orang tua itu tampak bergetar oleh buncahan emosi. Sebelum Chao Momo benar-benar mengeluarkan ceramah dan nasehat yang menjadi senjata andalan nya. Tiba-tiba suara pintu kamar terketuk,


Tok-tok!


Xiao Rou segera membuka pintu.


"Ini adalah pemberitahuan penilaian anda, Nona!" Ujar Chao Momo membuat Xiu Qixuan dengan spontan bangkit penuh semangat untuk mendengarkan kemenangannya.


"Nona Besar Xiu, terima pesan!" Suara kasim senior melengking dengan gema yang serius terdengar dari pintu masuk.


Dengan penuh martabat, Xiu Qixuan membungkuk dan menjawab. "Puteri subjek ini mendengarkan pemberitahuan!"


Kasim senior itu membuka gulungan dan membacakan: "Permaisuri dan Kedua Selir memuji: Nona Besar Xiu melukiskan ledakan warna yang memperluas wawasan. Dan penuh pengendalian cerdas dalam penanganan yang rendah hati, anda dinyatakan sangat layak untuk melewati tahapan awal ini dan menjadi salah satu kandidat terpilih dalam penilaian berikutnya."


Seketika semua terasa senyap. Xiu Qixuan hampir menjatuhkan rahangnya, kepalanya terasa kosong kala dia hampir tertawa terbahak-bahak mendengarkan semua kalimat itu.


Suara pintu kembali tertutup.


"Uwaa....!" Xiu Qixuan terhuyung. Dia merendam teriakannya dengan mengigit bantal. Wajahnya memerah kesal, dahinya berkerut kencang dengan mata berair penuh amarah.


Buk-buk!


Tinjunya memukuli ranjang yang tak bersalah.


"Dasar sinting! Aku sudah kacau begitu tapi apa katanya.., cerdas? Ledakan warna?" Pekiknya kesal.


Xiao Rou dan Chao Momo hanya terdiam di pojokan menggelengkan kepala melihat majikan mereka yang sedang menggila.


"Huh, liat saja. Kupastikan kalian akan melupakan omong kosong ini! Dan mengirimku kembali pulang! Khehe..., sialan!" Seringainya dengan tertawa penuh kengerian membuat Xiao Rou dan Chao Momo merinding.


Tapi, sepertinya itu hanya mejadi angan ketika hari berikutnya...


"Permaisuri dan Kedua Selir menilai: Nona Besar Xiu adalah pemain bijak yang pandai mempermainkan lawan, memiliki kepekaan dalam strategi bercatur. Anda dinilai sangat sesuai untuk menjadi salah satu kandidat terpilih yang melewati penilaian berikutnya."


Dan, hari berikutnya.....


"Permaisuri dan Kedua Selir mengagumi: Nona Besar Xiu mengambarkan musik dan tarian yang membuat orang 10 tahun lebih muda karena tertawa, anda dinyatakan sangat layak untuk melewati tahapan kali ini dan menjadi yang bertahan dalam penilaian berikutnya."


Dan juga hari berikutnya lagi.....


"Permaisuri dan Kedua Selir takjub: Nona Besar Xiu menciptakan kaligrafi yang membuat orang merasa diberkati 100 tahun ketika melihatnya, anda dinyatakan sangat pantas untuk menjadi kandidat permaisuri pangeran dan akan melewati penilaian akhir besok."


Brakk!


Dengan kekuatan penuh, Xiu Qixuan melampiaskan semua emosinya dengan menggebrak meja membuatnya terbelah menjadi dua.


"Huaa...! Mereka benar-benar sinting! Dasar Gila! Urgh, mereka tidak ingin melepaskanku." Xiu Qixuan berteriak dengan suara terendam helai selimut, saat ini dia berguling-guling diatas ranjang dengan kedua kakinya yang mengepak ke langit-langit . "Padahal aku sudah menari pakai barongsai! Aku sudah membuat kalimat kaligrafi yang konyol! Tapi apa katanya? Membuat awet muda? Diberkati? Kagum? Takjub?" Dia terus menerus memaki. "Harusnya mereka mengataiku! Kasar, bodoh dan tak sesuai standar!" Celotehnya mengerucut kusam.


Xiao Rou dan Chao Momo meringis. Mereka mengorek telinga gatal karena setia mendengarkan makian dan ocehan Xiu Qixuan.


Besok. Besok adalah yang terakhir yaitu penilaian dalam keterampilan menyulam. Xiu Qixuan jelas tidak pandai, tapi, entah mengapa dia merasa para rubah tua istana itu tidak sedikitpun berniat melepaskannya.


•••••••••••••••••••


A/N: Gokil sih, Xuan haha! Sengaja author kasih time skip di sini.


Satu batang dupa: 5 menit


Lima batang dupa: 25 menit


Istana Timur: Tempat tinggal pribadi yang dimiliki Pangeran Mahkota dan Istrinya, Puteri Mahkota. Ada urusan apa gerangan, Xiu Qixuan dengan Puteri Mahkota?