
Langit gelap di penuhi awan tebal, itu menutupi setengah bagian bulan cerah yang menggantung di langit, sinar lembut bulan bagai kain kasa perak yang menutupi daratan.
Dalam ruangan besar, tempat semua kemuliaan di kumpulkan. Satu sosok mengenakan mahkota naga dengan jubah kuning yang memancarkan seperior keagungan seorang penguasa itu sedang terduduk dengan postur acuh tak acuh di atas kursi takhta yang terbuat dari ukiran emas dan giok langka.
Cahaya surealis dari lampu lentera mengusir kegelapan malam. Istana Taichu, tempat tinggal Kaisar, sangat terisolasi dari kegelapan dengan kecemerlangan yang berbeda di dalamnya. Di tempat ini, orang akan merasakan tekanan dari gemerlap kemewahan duniawi yang tersisa.
Tubuh Shen Zhenning tinggi dengan bahu lebar yang masih tampak kokoh, di masa mudanya, dia adalah pria tangguh yang menawan. Hidup sebagai seorang Kaisar menambahkan kualitas yang menakutkan padanya, menyebabkan perasaan takut dan segan timbul pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Tatapan matanya begitu tajam memancarkan kemegahan ketika kedua alisnya yang melengkung itu ikut bertaut kala ia berbicara pada sosok berjubah yang menunduk gemetar.
"... Selama ini kamu pasti bersenang-senang menikmati peranmu sebagai bawahan yang kompeten." Tangannya perlahan memutar cangkir arak yang indah di genggamannya, seolah-olah dia sedang mempertimbangkan suatu nyawa dan kehidupan orang lain.
Sosok kecil yang menggenakan jubah untuk menutupi identitasnya itu seketika tersentak menggigil—kala mata tajam sang kaisar terangkat menatap lurus seakan ingin mengguliti hal-hal yang membuatnya terganggu.
"... Tapi, aku mulai kehabisan kesabaran dan waktu." Suara Shen Zhenning bergumam rendah namun dapat membuat orang sesak oleh atmosfer dingin yang di buatnya.
Prangg...
Shen Zhenning melemparkan cangkir arak ke dinding. Membuat gema menakutkan yang mengancam.
Kasim Teng yang berdiri hikmat di samping sang kaisar tersebut hanya terdiam memperhatikan dengan mata tak menentu.
"Detail yang kamu berikan selama ini tidak berguna!" Teriaknya menunjukan kemarahan. "Aku masih bermurah hati padamu karena satu informasi mengenai tambang giok di wilayah barat daya. Jika ingin menebus lehermu, kau harus melakukannya dengan baik sampai akhir!" Shen Zhenning mendecih dengan wajahnya yang menghitam.
Shen Zhenning selalu curiga dan sensitif. Di dalam hatinya—dia banyak menyimpan rasa waspada pada pemberontakan. Dia sangat mencintai kekuatan dan kekuasaan.
Jenderal Besar Xiu, Xiu Haocun, adalah sosok yang sangat dia waspadai. Kaisar mungkin memerintah dunia. Tetapi, sang jenderal lah yang bertempur dalam peperangan. Dunia mungkin di perintah oleh kaisar. Tetapi apa yang orang tidak tahu adalah hal itu juga berasal dari jenderal.
Karena semua ketakutan itu, Shen Zhenning menghabiskan banyak sumber daya untuk mengirimkan mata dan telinga yang terampil, namun beberapa kali itu di gagalkan oleh ketelitian Xiu Huanran. Sampai akhirnya, sang kaisar ini menemukan celah, ia berhasil menempatkan satu sosok transparan dan terlihat tidak berbahaya di sampul depan.
Mata dan telinga yang dapat menembus jantung sang nona karena pengkhianatan.
••••••••••••••••••
Saat tengah malam, pelataran sudut istana menjadi sunyi dan hanya terisi para prajurit penjaga yang berkeliling melakukan patroli.
Angin malam berhembus menusuk kulit, di bawah pemetaan bulan sabit yang sedikit meredup. Keempat gadis muda menggunakan mantel gelap sedang berjalan menyusuri jalan setapak yang terpencil.
Mereka melewati celah pintu penghubung yang tampak lapuk karena termakan usia. Ini gelap. Oleh karena itu salah satu dari mereka mempimpin dengan memegang lentera sebagai penerang jalan.
"Kemana kalian akan membawaku?" Suara lembut berdering jernih, menuntut penjelasan.
"Kamu akan melihatnya." Sosok yang membawa lentera itu menjawab dengan datar.
"Tch, kita suda hampir sampai. Ayo!" Su Yiyang mendecih. Dia menyipit sinis pada Yao Anran, namun kedua tangannya fokus memegang erat Duan Maiqiu yang sedikit kesulitan berjalan melewati ranting pepohonan.
Mereka berjalan agak menanjak, dan sedikit masuk kedalam hutan yang berada di gunung belakang yang tidak jauh dari istana kekaisaran. Di sini tenang dan sunyi, hanya terdapat suara hewan berbentuk serangga kecil yang berbunyi memenuhi kegelapan.
"Sudah sampai!"
Langkah mereka terhenti dan segera berdiri di samping Xiu Qixuan yang memegang lentera.
Yao Anran mengedipkan matanya, berpikir untuk memastikan. "Apa ini?!" Ia tergagap kaku, menghela napas. "Haa, yang benar saja!" Yao Anran menggelengkan wajah, tidak tahu harus berkata apa lagi.
Duan Maiqiu tampak menaruh minat pada hal-hal yang berada di depan sana. "Ma-sak, i-ikan?" Dia tersenyum sumringah menatap pada Su Yiyang.
Su Yiyang berjalan maju, dia merentangkan kedua tangan seolah-olah sedang menyambut tamu. "Tadaa.... Berkemah dengan api unggun untuk para gadis cantik!" Ujarnya dengan bodoh.
Di depan sana, tersedia kayu yang terbakar menghasilkan bara api kecil dengan panci terisi air mendidih di atasnya. Ada tiga batang pohon yang sengaja di posisikan melingkar untuk dijadikan alas duduk mereka.
Xiu Qixuan terduduk di salah satu batang pohon yang menghadap langsung dengan bulan, setelah dia duduk—yang lain segera mengikutinya. Dia membuka buntalan kain yang berisi banyak bumbu dapur dan ikan yang sudah terpotong. Sedangkan, Su Yiyang menunjukan ikan yang masih tersisa di dalam vas bunga pada Yao Anran dengan ekspresi bangga.
"Kapan kalian menyiapkan ini semua?" Yao Anran bertanya dengan memiringkan wajah, perlahan-lahan dia sedikit menikmati moment perkemahan yang gila tersebut. "Ini melanggar peraturan malam." Tambahnya.
Mengedikan bahu tak acuh, Su Yiyang menoleh pada Xiu Qixuan. "Memangnya kapan kita pernah mengikuti aturan?" Sahutnya dengan cengiran yang begitu menyebalkan.
"Aku meminta pelayanku menyiapkan semua ini dengan membayar petugas dapur. Karena kepala koki istana begitu teliti, kami tidak bisa menggunakan dapur seenaknya untuk memasakan." Xiu Qixuan menjelaskan dengan singkat untuk menjawab pertanyaan Yao Anran. Tanpa menoleh dia beranjak memasukan ikan kedalam panci untuk di rebus. Duan Maiqiu juga ikut membantu di sisinya.
Memandang Xiu Qixuan dengan tatapan menyelidik, Yao Anran mengeluarkan gumaman: "Ya, ini juga tidak terlalu buruk. Tetapi—"
"Kau tidak perlu khawatir. Pelayan dan pengasuh tuamu tidak akan terbangun, mungkin mereka juga bisa saja akan tidur sampai larut siang. Bukan hanya kamu—namun bawahanku, Yiyang dan Nona Duan juga." Xiu Qixuan tiba-tiba menoleh dan memotong perkataan Yao Anran dengan begitu tenang.
Itu berarti bahwa dia sudah memberikan obat atau sesuatu yang membuat pelayan dan pengasuh tua melepaskan sejenak pandangan dari mereka.
Dengan gerakan mata penuh kecurigaan yang tampak minimalis, Yao Anran mengerutkan dahinya. "Nona besar, anda tidak merencanakan sesuatu dengan semua ini bukan?"
Atmosfer di sekitar mereka menjadi lebih berat ketika kalimat tersebut di lontarkan.
Dalam hal mengenai ini, Yao Anran tidak bisa untuk tidak curiga. Dia belum bisa mengerti isi kepala Xiu Qixuan, karena itu Yao Anran akan selalu berpikiran lebih dalam lagi mengenai semua tindakan yang dilakukan gadis itu.
••••••••••••••••••••••••
A/N: Ada yang tahu? Kira-kira siapa tuh pengkhianat yang lagi sama Kaisar Shen Zhenning?