Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Guncangan Binatang Besar



Dua Hari Kemudian...


Langit cerah menyilaukan, dalam cahaya pagi yang redup, kabut menyelimuti puncak Gunung Kuang yang berdiri seperti pena, ini pegunungan yang tenang dan indah.


Gunung perbatasan di utara kekaisaran, Gunung Kuang yang luas, di bawah pemetaan matahari dan bulan, terlihat seperti pohon giok yang berdiri kokoh di Daratan Ca Li. Puncak gunung ini mulia dan memiliki struktur pendakian yang rumit.


Dua ekor kuda terlihat berlarian menyusuri hutan pegunungan dengan kecepatan stabil membawa penumpang di masing-masing punuk mereka yang merupakan seorang pria dan wanita muda.


Mereka adalah Xiu Qixuan dan Xiu Huanran yang sudah hampir mencapai setengah perjalanan menuju puncak gunung.


Matahari terus merangkak naik keatas kepala seiring kuda yang mereka tunggangi berlari kencang menyusuri rimba hutan yang lebat.


Ngikk


Tiba-tiba, Xiu Huanran yang berada di depan menarik tali kekang kuda nya secara mendadak membuat kuda tersebut meringkik nyaring dan berhenti berlari.


Xiu Qixuan pun yang berada di belakangnya secara reflek ikut menarik tali kekang kuda untuk menghentikan benturan.


"Kenapa tiba-tiba berhenti?!"


Xiu Qixuan berteriak dengan memanjangkan leher untuk melihat kedepan dengan wajah berkedip penasaran.


Pasalnya, mereka saat ini berada di jalan setapak yang berada diantara tebing curam bebatuan tinggi.


"Berbalik, kita tidak dapat lewat. Longsor menutupi jalan." Xiu Huanran menjawab dengan memberi perintah untuk kembali menuruni tebing.


Memang benar saja, didepan sana longsoran bebatuan menutupi seluruh badan jalan dengan tanah di sisi sekitarnya membentuk banyak retakan. Sangat berbahaya jika tiba-tiba ketika melintas dan tanah tersebut runtuh.


"Tapi bukankah ini satu-satunya jalan menuju pintu masuk kuil di puncak gunung." Xiu Qixuan berkomentar dengan berat menghela napas cemas.


Sebelumnya, kemarin mereka mengunjungi Desa Kui terlebih dahulu. Kepala Desa disana mengenali mereka dan menyambut dengan hangat. Bahkan rumah yang dulu di tempati oleh Qiaofeng itu sudah dibangun kembali menjadi kabin musim panas yang ternyata atas perintah Xiu Huanran.


Tetapi, pada saat ini tujuan utama mereka adalah menemui Guru Biyan di kuil suci yang terdapat di puncak gunung Kuang.


Kuil tempat Guru Biyan berada sangat tertutup bagi orang luar. Bahkan, sulit bagi Xiu Huanran berkunjung. Hanya Qiaofeng yang leluasa keluar dan masuk pintu puncak kuil tersebut.


Warga desa setempat hanya mengirimkan persembahan panen yang mereka kumpulkan dengan di wakilkan oleh Kepala Desa mereka masing-masing untuk berdoa setiap tahunnya.


"Kita hanya bisa menunda perjalanan. Ayo, kembali ke Desa terlebih dahulu!" Xiu Huanran berkata dengan menendang sisi perut kudanya dan memutar tali kekang ke kiri, sekarang ia berbalik menjadi berhadapan dengan Xiu Qixuan.


Helaan napas tidak rela terdengar berat dari celah bibir Xiu Qixuan. Matanya yang jernih menaut suram dengan kerutan cemberut.


"Jangan memasang ekspresi seolah-olah langit akan runtuh. Kita bisa kembali lagi, aku akan memanggil pekerja untuk memperbaiki jalan ini secepatnya." Xiu Huanran berkata dengan tenang membujuk.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" tanya Xiu Qixuan dengan masam mendengus.


"Sebulan. Ah, tidak. Aku bisa membuatnya menjadi tiga minggu saja." Xiu Huanran mengangkat jari-jarinya dengan mata menerawang seperti sedang menghitung perkiraan.


Mendengar perkataannya ekspresi Xiu Qixuan semakin mengeras jelek. "Tiga minggu katamu?!" ulanginya dengan geram.


"Dua minggu, aku bisa mempercepatnya menjadi dua minggu untukmu." Xiu Huanran berkata dengan sedikit tergagap karena tertekan oleh ekspresi menyeramkan sang adik.


Xiu Qixuan memejamkan mata dengan menghela napas pasrah. "Ya, baiklah. Ayo kembali. Tidak ada yang bisa kulakukan juga." jawabnya


Kemudian Xiu Qixuan memutar tali kekangnya untuk berbalik arah, "Ayo pergi." Ia berkata sambil menendang kuda di tulang rusuk.


Kuda itu perlahan berjalan lurus ke depan atas perintah Xiu Qixuan.


Goarr


Tetapi, sebelum kuda tersebut berlari kencang. Tiba-tiba suara raungan hewan buas terdengar menyeramkan dari atas sisi tebing yang curam.


Itu sangat mengejutkan, membuat hewan-hewan kecil disekitar segera berlarian untuk bersembunyi.


Kuda milik mereka juga menjadi tidak terkendali. Dan, meringkik ketakutan.


"Kau baik-baik saja, Xuan'er?" Dalam kondisi tidak kondusif Xiu Huaran berteriak cemas untuk memastikan.


"Ya, jangan khawatir." Xiu Qixuan menjawab dengan tenang yang terkesan acuh tak acuh. Ia lebih terfokus mengendalikan kuda kesayangannya yang bergetar ketakutan dengan cara mengelus surai lehernya.


Kalau dirinya yang dulu, mungkin dia sudah terpental jatuh dari atas tebing ini. Tetapi, sekarang jauh berbeda karena dia lebih mahir dan terlatih.


Beberapa saat berlalu, tidak ada yang terjadi. Suasana disekitar menjadi begitu hening dan sunyi. Ini terasa lebih mencekam karena hutan yang tadinya ramai oleh kepakan sayap burung dan tupai pengerat yang meloncat-loncat menjadi kosong.


"Darimana raungan besar itu berasal?" tanya Xiu Qixuan menatap sekitar dengan memasang kewaspadaan.


Boom


"Hati-hati, Xuan'er." Teriaknya


"Ugh.." Debu yang membawa pasir mengepul disekitar membuat mereka terbatuk-batuk sesak dengan mata yang berair perih.


Kuda milik Xiu Qixuan terseok-seok tak terkendali dan terguling membuat gadis itu juga ikut membenturkan diri ketanah.


Setelah dua menit berlalu, kepulan asap pasir itu memudar secara perlahan. Xiu Qixuan mengerjapkan mata berusaha menajamkan indra penglihatannya.


Xiu Qixuan jatuh terduduk menghadap kearah longsoran jalan dan dalam pandangannya terlihat Xiu Huanran di depan sana yang sama kacau dan berantakannya.


Belum sempat dirinya berbicara, hawa dingin yang menakutkan menjalari tulang punggung.


"Grrr..."


Suara geraman hewan buas yang terdengar begitu dekat dari sisi belakang membuatnya bergidik. Pucuk kepalanya juga terasa hangat oleh suatu udara asing.


Xiu Qixuan menolehkan wajah dengan patah-patah sedikit mendongak.


'Sial...' benaknya merutuk ketika matanya berbenturan dengan manik semerah darah milik hewan berbulu dan berkaki besar.


Binatang besar, yang tampak dua kali lebih tinggi dari ukuran manusia normal, menghembuskan napas dari hidungnya. Itu cukup besar untuk dipercaya bahwa itu adalah monster, bukan binatang.


Xiu Qixuan berusaha mempertahankan pikirannya yang bingung dan segera mengukur jarak dirinya dengan bintang tersebut.


Itu adalah beruang liar yang ganas. Terlihat menakutkan jika kita berpikir ini adalah musim semi waktu untuk mereka berburu setelah bangun dari hibernasi panjang di musim dingin.


Beruang itu cukup dekat dengan mulut terbuka lebar untuk segera menerkamnya. Tentu saja, Xiu Qixuan tahu seberapa cepat dia menghindar itu akan lebih berbahaya.


"Xuan'er, segera menjauh..." Suara gugup Xiu Huanran yang terdengar panik terdengar dari arah seberang.


"Grrr..."


Terganggu dengan suara tersebut, beruang itu menjadi menyalak cukup keras.


'Si bodoh ini, tidak bisakah dia lebih tenang?.' Xiu Qixuan berdecak dalam hati dengan meliriknya sekilas.


Xiu Huanran berdiri dalam diam berusaha perlahan-lahan mendekat dengan pedang yang mekar ditangannya. Wajahnya pucat dengan kerutan khawatir, keringat dingin juga terlihat mengalir membanjiri dahinya.


Melihat seseorang berusaha mendekati mereka, beruang liar tersebut tiba-tiba melompat kearah Xiu Qixuan.


"Eh, eh?"


"Xuan'er!!"


Ini terjadi begitu cepat, ketika kaki depan raksasa itu memotong angin kencang dan meluncur ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.


Tubuh Xiu Qixuan membeku ketika cakar itu mencengkeram erat punggungnya. Tetapi, yang aneh adalah ini tidak terasa remuk atau menyakitkan.


Seolah-olah bintang besar ini tidak berniat menyakitinya dan hanya bermain-main saja.


Tiba-tiba beruang berbulu itu berbalik dan dengan kilat berlari memanjat dasar tebing bebatuan menggunakan sebelah tangan, membawa tubuh Xiu Qixuan yang terombang-ambing.


Suara teriakan Xiu Huanran yang terdengar keras semakin samar-samar.


Wajah Xiu Qixuan pucat karena menahan rasa mual. Dia memberontak tapi beruang ini berlari begitu cepat sampai membuatnya pening dan tidak dapat berkonsentrasi mengeluarkan pedang magisnya.


"Hey, binatang besar. Kau ingin membawaku kemana?!" Xiu Qixuan berteriak dengan mengerutkan mata yang mengerjap sayup.


Sensasi hembusan angin kencang diatas tebing yang curam membuatnya semakin bergidik ngeri.


"Grrrr..." Beruang itu mengeluarkan suara geraman yang seolah-olah menjawab pertanyaan Xiu Qixuan dengan lebih bersahabat.


Xiu Qixuan yang mati lemas karena menahan mual hanya terdiam. Dia membiarkan beruang itu membawanya keatas tebing untuk menuju puncak gunung.


Tiga menit pun berlalu, dan guncangan mematikan yang membuatnya mual tersebut perlahan-lahan mereda.


Srukk


Beruang besar menurunkan tubuhnya diatas tanah bebatuan.


Mata Xiu Qixuan mengerjap dengan binar melihat sekitar.


Wow!


•••••••••••••