Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Tamu Mesum?



Angin malam berhembus dingin meniupkan rambut yang terikat halus bak gulungan sutera hitam. Tubuh ramping yang nyaris terjatuh itu berangsur membeku ketika sebuah lengan kokoh melingkar erat diatas pinggangnya. Kedua mata jernihnya yang berkelip indah seperti bintang diatas langit perlahan-lahan terangkat.


Hembusan napas hangat dari sosok didepan sana menerpa wajahnya begitu dekat memperlihatkan garis rahang yang tidak biasa dengan bentuk mata elegan milik ketampanan yang menawan.


Sosok itu sedang menatapnya gelap seperti bayangan dimalam hari, seperti mutiara hitam yang bersinar saat diterpa cahaya. Begitu dalam yang dingin mengeluarkan jeratan keanehan.


Xiu Qixuan sejenak tertegun sebelum ia kembali mengerjap waras. "Umm.. Saya berterimakasih Tuan." Bibirnya melengkung membuat senyuman manis yang canggung. "Sudah bisa dilepaskan?" Lanjutnya dengan lembut dan sopan melirik lengan kokoh yang masih melingkar di pinggangnya.


Guratan wajah tampan yang memikat hati itu perlahan semakin mendekat maju dengan tatapan dalam yang menyelidik. "Kamu tidak mengenali ku?" Suaranya rendah namun tajam menyembunyikan kemuraman.


Salah satu lengan Xiu Qixuan buru-buru terangkat dengan kuat menahan agar pria tampan itu tidak mendekat kearahnya. Dengan gerakan reflek tubuhnya melengkung untuk menjauh kebelakang tetapi lengan kekar itu semakin mencengkeramnya erat.



Dalam keterkejutan dengan dahi yang mengerut kencang, Xiu Qixuan merasa kebingungan dan tanpa mengatakan apapun ia balas menatapnya datar. Apakah ini trik baru untuk menggoda wanita?


Seringai ejekan mulai terbentuk diwajah cantiknya ketika ia memikirkan bahwa sudah bertemu beberapa bajing*n sejak masuk dalam rumah bordil tetapi tidak pernah terpikir bahwa akan bertemu jenis pria bejat yang tanpa malu ini.


'Bukk...' Dengan kekuatannya yang hampir setara ribuan ton batang besi. Xiu Qixuan menendang keras milik vitalitas pria yang sedang berdiri dihadapannya itu tanpa menunjukan sedikitpun belas kasih.


Tubuh kekar pria itu seketika menjauh dan meringkuk mengeluarkan ringisan yang tertahankan. "Sshhh.. Kau!!" Sentakan amarah dengan mata yang membelak tajam tidak mempercayai jenis keberanian yang sudah ditunjukan oleh seorang gadis bermartabat.


Sudut mulut Xiu Qixuan sedikit terangkat menyembunyikan hinaan dan ejekan dalam lirikan. Dan tiba-tiba dia melangkah kedepan, membuat anting-anting perak ditelinganya bergetar.


Langkahnya terhenti tepat disamping kanan pria tampan itu untuk perlahan berbisik dengan dingin, "Saya lebih suka menjual jenis keindahan daripada memilikinya. Tuan, matamu belum buta jadi pahamilah!"


Dia menghempaskan lengan bajunya dan dengan tajam melirik Xiao Leng yang mematung dibelakang. "Humph.. Xiao Leng, Ayo pergi!" Dengusnya.


Kemudian juga Xiu Qixuan melirik sekilas pelayan Rumah Bordil Banhua Lin yang terdiam kaku, "Sampai sini saja, kamu urus tamu mesum itu!" Perintahnya dengan datar. "Layani dengan baik sepertinya dia sudah tidak tahan lagi." Suaranya yang ringan tanpa tahu malu ia begitu santai mengeluarkan jenis topik yang tabu ini.


"Ya, mengantar kepergian Nona!" Ucap pelayan rumah bordil itu dengan membungkuk hormat.


Setelah itu Xiu Qixuan berjalan meninggalkannya dengan langkah tegas penuh keangkuhan memancarkan pesona elegan yang tajam.


Xiao Leng segera bergegas untuk menyusul dengan kedua bola mata yang menyembunyikan humor kering saat melihat kelakuan absurd sang majikan.


Sosok pria yang sedang meringis dengan mengerut aneh itu tercengang tidak bereaksi, ia seperti kehilangan fungsi otak untuk mencerna situasi dengan hanya terdiam memandangi punggung ramping Xiu Qixuan yang perlahan menjauh.


"Tuan, tidak apa-apa? Biarkan saya membantu." Pelayan rumah bordil yang ditinggalkan oleh Xiu Qixuan itu mengeluarkan rayuan khusus dengan cepat mendekatkan tubuhnya.


Seperti merasakan bahaya yang sedang mendekat, seketika kewaspadaan pria itu meningkat drastis dengan kesadarannya yang setengah pulih—dia mendongakkan wajah untuk berucap, "Enyahlah!!" Suaranya dingin penuh tekanan yang mematikan dengan tatapan tajam mengkilat bak mata pedang.


Tanpa mengatakan apapun lagi pelayan rumah bordil itu berlari pergi meninggalkannya dengan gemetar ketakutan.


Tiba-tiba dari balik kegelapan malam muncul sesosok bayangan hitam yang mendekat dan jatuh berlutut dihadapannya.


"Ban Xia sudah lalai. Ketua, apakah Anda baik-baik saja?" Sebuah suara perlahan mengalir hormat menyembunyikan kecemasan karena sebenarnya ia menyaksikan semua kejadian menakjubkan juga mengejutkan itu dari kejauhan. Ban Xia tidak dapat menahan rasa pening yang menjalar saat menyaksikannya.


Hening.


Semilir angin musim dingin membuat suasana semakin membeku samar penuh kabut tekanan bagi seorang Ban Xia yang sedang menundukan wajah untuk menunggu tuannya mengucapkan sepatah kata.


Wajah Ban Xia mengerut ketika melihat tuannya berekspresi aneh yang linglung. "Ketua—," Terjeda Ban Xia karena tiba-tiba suara tawa keras mengalun begitu riang dan sangat cerah dengan kedua mata yang mengeluarkan embun samar.


"Ban Xia.. kau melihat semuanya, kan?" Tanyanya dengan riang. "Bukankah dia begitu menggemaskan ketika marah." Suaranya menyembunyikan getaran keinginan yang aneh.


Ban Xia tercengang, tidak mengerti.


"Akan menyenangkan jika kau membawanya dalam keadaan hidup untukku." Itu adalah sebuah isyarat khusus yang menyembunyikan perintah.


Sang Ketua Bintang Asura, Mozi. Terlihat begitu bahagia seperti menemukan harta langka surgawi. Dia jelas berubah pikiran untuk membunuh gadis itu. Mungkin ia menginginkan jenis hiburan dengan menjadikannya sebagai main baru.


Sifatnya memang selalu tidak menentu tergantung pengaruh esensi yang sedang mengalir ditubuhnya tetapi jelas bahwa dia tidak akan pernah menarik perintah. Ini adalah pertama kalinya dia mengubah dengan membiarkan seekor mangsanya hidup.


••••••••••


Matahari yang muncul dari balik sang cakrawalanya langit tertutup awan membuat pancaran cahaya yang muram dimusim dingin.


Dalam keriuhan dari para pelayan untuk membantu sang majikan merias wajah membuat ruangan kamar itu menjadi sibuk dipagi hari.


"Nona, duduklah yang tegak!" Seorang momo dengan tegas memberikan peringatan ketika melihat Xiu Qixuan memejamkan kedua matanya begitu lunglai.


Kelopak mata berbulu lentik itu perlahan terbuka memperlihatkan kesuraman untuk melirik momo yang memperingatinya dengan penuh ketidaksukaan.


Dia baru saja tiba di Kediaman Qi sekitar jam dua pagi, bagaimana mungkin saat jam enam pagi sudah harus bergegas lagi?


"Hufft.. tidak bisakah kalian membiarkan aku untuk beristirahat? Ibu dan anak itu kurasa memiliki jenis kekompakan yang menyebalkan!" Gumamnya dengan mendengus sebal.


Perkataannya membuat para pelayan yang hadir memekik kaget dan terburu-buru seorang momo meluruskannya, "Perhatikan perkataanmu, Nona! Ibu Suri dan Kaisar memiliki ikatan istimewa."


"Kau—, umphh!!" Sebelum Xiu Qixuan melanjutkan makian kekesalan. Xiao Leng dengan cekatan membekap mulut sang majikan yang saat ini memelotinya dengan tajam.


"Semalam Nona bermimpi buruk menjadikannya begitu emosional. Iyakan, Nona?" Ucap Xiao Leng dengan meringis kaku.


Inilah sifat asli dari seorang Xiu Qixuan yang lampau, kadang akan muncul ketika dirinya begitu lelah merindukan kehidupan yang dinamis.


Xiao Leng menundukan tubuhnya dan berbisik pelan ketelinga sang nona, "Ketua, bersabarlah sedikit. Memasuki istana juga tidak begitu rugi untuk kita melihat perkembangan langkah yang diambil oleh Tuan Niao." Nasehatnya yang menenangkan.


Setelah merasa bahwa Xiu Qixuan sudah mendapatkan kejernihannya kembali, Xiao Leng segera menurunkan tangannya untuk menjauh.


"Humph.. Kenapa diam saja? Cepat bantu aku merias!" Sentak Xiu Qixuan ketika melihat para pelayan yang mematung disudut.


Pada saat ini, Kaisar mengundang Xiu Qixuan secara pribadi untuk datang keruang baca. Padahal ini bukanlah jadwalnya memasuki Istana. Juga ruang baca merupakan tempat sakral yang dikhususkan untuk Kaisar berdiskusi dengan para menteri kepercayaan, bahkan bagi seorang permaisuri akan sungkan untuk mengunjunginya disana.


Biasanya Xia Qian Che akan memanggil Xiu Qixuan ketika gadis itu sedang bertugas mengajar kedua kembar naga dan phoenix, tidak pernah keagungan itu memanggilnya secara pribadi. Entah apa yang sedang terjadi.


Dalam kurun waktu singkat yaitu dua hari ini, Xiu Qixuan sudah berada dipuncak popularitas tertinggi dan menjadi topik pembicaraan hangat, semua orang berspekulasi tentang kedekatannya dengan anggota Kekaisaran.


••••••••••••••


ps: rambutnya hitam seperti yang dijelaskan dipart sebelumnya bahwa dia juga melakukan penyamaran agar tidak menarik perhatian.