
Suara deburan ombak terdengar dari kejauhan dan kawanan burung camar ditepi pantai terlihat begitu memikat diantara birunya langit dan lautan.
Sosok kecantikan itu melepaskan kaitan kain sutra yang menutupi wajah cantiknya. Dia menghirup dengan rakus aroma asin air laut yang terbawa hembusan angin.
"Bagaimana? Perasaanmu sudah lebih tenang?" Suara bariton seorang pria mengintrupsinya dari arah belakang.
Dia membalikan badan dan balas tersenyum manis kemudian dengan cepat bergegas menghampiri seorang pria yang sedang sibuk menyiapkan bahan makanan di dalam sebuah bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu.
"Sejak kapan perasaanku dapat terusik dengan seorang badebah? Humph, lihat saja kalau aku bertemu dengan rekan-rekan penjahatnya. Akanku kuliti sampai ketulang," Ucapnya dengan mendengus geram.
"Aku akan membantumu kalau begitu," Balas sang pria terkekeh kecil karena menurutnya wajah geram gadis itu sangat menggemaskan.
'En,' Dia balas berdeham dan mengangguk, kemudian melongokan wajahnya untuk melihat sang pria yang sedang memindahkan kayu bakar kedalam tungku agar segera dinyalakan.
"Kau ingin membuat apa?" Tanyanya kepada pria di depannya.
"Apakah kau dapat memasak? Kau ingin membantuku?" Pria itu menolehkan wajah sekilas dan malah balik bertanya.
"Tidak," Jawab sang gadis begitu santai dan tak berdosa.
Sang pria hanya menggelengkan wajah dengan maklum dan menyorotkan pandangan geli, gadis ini selalu saja tidak akan sungkan saat berbicara mengenai sesuatu yang memang tidak dia ingin lakukan.
"A Jun, kita kesini untuk berlibur dan menikmati keindahan. Kenapa kau melakukan hal yang merepotkan dirimu sendiri? Kita dapat memesan makanan, bukan?" Ucap Xiu Qixuan dengan realistis.
"Ya, tetapi akan membutuhkan waktu untuk kita berpergian kepelabuhan atau kepasar Nanhai." Jawab Sima Junke yang masih sibuk berjongkok menyalakan api.
Bangunan tempat mereka berada saat ini adalah milik keluarga Sima, yang letaknya memang lebih luas dan juga terpencil dari sudut keramaian. Ketenangan akan di dapatkan ditempat ini, Xiu Qixuan merasakan seperti berada dipulau pribadi saja.
Sebelumnya mereka menemui seorang pria paruh baya yang bertugas mengurus dan membersihkan bangunan saat tidak ditempati oleh keluarga Sima.
Tetapi, pria paruh baya itu hanya tinggal sebentar dan langsung pergi karena sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah menyiapkan semua kebutuhan sang majikan.
Helaan napas terdengar dari sosok kecantikan itu dan dia berucap, "Baiklah, aku akan membantumu." kemudian dengan cepat mengambil bahan sayuran dan berjongkok untuk mencucinya dengan air dari dalam gentong penyimpanan.
Sebuah lengan kokoh menghentikannya, Xiu Qixuan mendongakkan wajah dan memasang ekspresi bertanya.
"Biarkan aku yang mengurusnya, kembalilah kekamarmu untuk berganti pakaian dan beristirahat karena nanti aku akan membawamu menjelajah." Ucap Sima Junke dengan lembut.
Xiu Qixuan semakin memperdalam senyumnya yang begitu manis, 'En,' Jawabnya patuh dengan kecepatan penuh berlari keluar dari area dapur.
Area dapur berada terpisah dari bangunan utama, karena letaknya berada disamping bangunan luar dan terbuka kita dapat langsung melihat pemandangan lautan.
Sima Junke hanya terkekeh kecil dan menggelengkan wajah melihat kelakuan gadisnya.
Xiu Qixuan sudah berada diambang pintu luar area dapur, dia berbalik dan menatap Sima Junke, kemudian dia berucap, "Kau jangan membakar dapur," dengan penuh ledekan dan pandangannya yang seperti meremehkan kemampuan memasak Sima Junke.
"Tidak akan," Balas Sima Junke dengan geli
*******
Xiu Qixuan keluar dari ambang pintu bangunan dengan merentangkan kedua tangannya seperti sedang merenggangkan tubuh, 'Hoam,' Dia menguap begitu lebar. Sepertinya gadis ini baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"Tidur begitu pulas dan mendengkur seperti babi kecil," Cibir suara di depan sana membuatnya langsung mempelototkan kedua bola matanya.
Terlihat sosok tampan yang dapat begitu memikat hati para gadis sedang terduduk santai menikmati secangkir arak diatas kain sutra sebagai alas.
Angin yang berhembus kencang meniup lengan pakaiannya yang menjuntai.
Setelah menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya, Xiu Qixuan melangkah dan menghampiri Sima Junke.
Dia mendudukan diri samping pria itu dan dengan tidak sungkan langsung mencomot buah-buahan.
"Sepertinya kau lebih mengetahui cara menikmati hidup daripada aku," Cibir Xiu Qixuan dengan memakan buah-buahan dan menikmati pemandangan lautan di depan mereka.
Suara kekehan terdengar keras sebelum akhirnya Sima Junke menjawab, "Aku belajar banyak darimu, dimanapun tempatnya dan apapun keadaannya kita harus menikmati hidup, bukankah begitu?"
Xiu Qixuan menolehkan wajah dan menatap Sima Junke dengan kebahagian yang terpancaran dimatanya, "Benar, sangat bagus kalau kau mengerti itu." Ucapnya dengan lengan yang bergerak cepat menyodorkan buah kedalam mulut Sima Junke.
Mereka berbincang hangat dan terlihat begitu bahagia karena kehadiran dalam kehidupan masing-masing.
Xiu Qixuan seperti mengisi ruang kekosongan hati. Dan Sima Junke seperti dihadirkan untuk menemani perjalanan dari sebuah cerita.
Begitu layak untuk sebuah pertemuan, saat berpisah mungkin tidak akan ada penyesalan diantara keduanya.
*******
Keesokan harinya
Matahari perlahan muncul dari ufuk timur, angin sejuk dipagi hari berhembus menerpa pasangan kekasih yang sedang menikmati keindahan lautan.
"Disebelah utara tepatnya dibelakang bangunan kita ini, terdapat sebuah tebing istimewa yang terpencil." Ucap Sima Junke memecahkan keheningan.
"Apa yang disebut istimewa dari sebuah tebing?" Tanya Xiu Qixuan mendongakkan wajah menatap Sima Junke yang memang lebih menjulang tinggi darinya.
Sima Junke mengulurkan lengannya dan merapihkan rambut Xiu Qixuan yang sedikit berantakan tertiup angin, "Tebing itu seperti bukanlah sebuah tebing, malah menyerupai seperti sebuah bukit yang subur." Jelasnya
"Lalu mengapa kau tidak menyebutnya bukit saja?" Tanya Xiu Qixuan dengan ringan
"Tidak bisa, kalau terlihat perbedaan penyebutannya itu akan memancing banyak orang karena hanya sebagian orang tertentu -lah yang mengetahui keberadaan dan letak tebing itu," Jelas Sima Junke dengan lugas.
Xiu Qixuan mengangguk mengerti dan tersenyum penuh penasaran, "Kau akan membawaku kesana, bukan?" Tanyanya
"Tentu, sehabis sarapan—kita akan langsung berangkat." Jawab Sima Junke dengan mendekatkan dirinya untuk mendekap tubuh Xiu Qixuan dari samping.
'En,' Jawab Xiu Qixuan mengangguk dan dengan tidak canggung menyenderkan kepalanya dibahu Sima Junke.
"A Jun, dimana ternak mutiaranya?" Tanya Xiu Qixuan dengan masih memandangi birunya lautan.
"Di dekat pelabuhan," Jawab Sima Junke dengan singkat.
"Kau harus memberikan banyak mutiara yang mahal padaku," Ucap Xiu Qixuan seperti membuat perintah.
Sima Junke terkekeh kecil dan mempererat dekapannya dipinggang ramping Xiu Qixuan, "Sesuai permintaanmu, sayangku." Bisiknya pelan yang menggelitikan hati Xiu Qixuan.
'Blush,' Pipi Xiu Qixuan seketika merona merah, dia tersentak karena terkejut ketika mendengar panggilan itu.
Dengan gerakan reflek Xiu Qixuan mendorong tubuh Sima Junke agar menjauh, detak jantungnya tak karuan ini sangat menyebalkan.
"Humph, jangan menggodaku." Dengusnya kesal memalingkan wajah berusaha menyembunyikan pipinya yang bersemu malu.
Sima Junke tertawa terbahak-bahak, dia sangat senang berhasil menggoda Xiu Qixuan.
•••••••••••••
Ilustrasi from pinterest